The Villain Who Invests in a Witch to Survive - Chapter 182 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 182 · 4m baca

Chapter 182

by 清野清野凛

Bab 182: Balapan Besar

Ryan mengangkat kepalanya dan melihat ke atas.

Tidak ada yang bisa dilihat di sana.

Hanya cahaya abu-abu kabur itu, tanpa tahu dari mana asalnya atau seberapa tinggi letaknya. Cahaya itu jatuh ke tanah, ke sulur-sulur tanaman, ke tubuh orang-orang, menyeret semua bayangan mereka memanjang, sangat panjang, di belakang mereka.

Kubah batu tersembunyi di suatu tempat dalam kabut abu-abu itu, tak terlihat.

Tapi Ryan tahu kubah itu ada di sana.

Menekan di atas semua kepala mereka.

Beberapa hal tak bisa dilihat, tapi mereka tetap ada di sana. Menekanmu, menekan semua orang, menghancurkan napasmu, sementara kau bahkan tak tahu seperti apa rupa mereka.

Cahaya merah gelap masih berdenyut, sekali, lalu sekali lagi, seperti detak jantung.

Seperti detak jantung sesuatu yang hidup.

Ryan tiba-tiba bertanya-tanya apa sebenarnya yang ada di balik pintu itu.

Di mana Allen sekarang?

Si bodoh yang tersenyum dengan kilatan gigi putihnya, yang dengan mabuknya menggambar tanda-tanda rahasia di meja dengan garpu, yang pernah bicara tentang menikah masuk ke keluarga bangsawan—

Apakah dia masih hidup sekarang, atau sudah mati?

Atau apakah dia telah berubah menjadi butiran-butiran cahaya itu dan tercerai-berai, tak meninggalkan apa-apa?

Ryan tidak tahu.

Yang dia tahu hanyalah pintu itu masih ada, dan cahaya merah gelap itu masih berkedip, sekali, lalu sekali lagi.

Seolah menunggu sesuatu.

Seolah menghitung sesuatu.

Menghitung mundur.

Pada saat yang sama, di tempat lain.

Lautan Pepohonan.

Pohon-pohon raksasa keperakan abu-abu menancap ke langit satu demi satu, kanopi berlapis-lapis mereka menutupinya rapat. Sinar matahari merembes melalui celah-celah, pecah menjadi berkas-berkas tercerai yang tak terhitung jumlahnya, jatuh di lumut, di batang-batang pohon, dan di sulur-sulur tanaman yang saling bersilangan di segala penjuru.

Sosok bergerak melaluinya dengan kecepatan membutakan.

Begitu cepatnya hingga mata telanjang hampir tak bisa mengikutinya. Satu saat, dia ada di batang pohon itu; saat berikutnya, dia sudah melintasi puluhan meter dan mendarat di cabang menjorok lainnya. Jubahnya berkibar di belakangnya membentuk bayangan sisa, seperti burung yang melayang di puncak-puncak pohon.

Empat puluh atau lima puluh meter per detik.

Jika ini adalah dataran terbuka, dengan bantuan sihir, kecepatan seperti itu tidak akan terlalu mengejutkan.

Yang lebih aneh lagi adalah tempat dia mendarat.

Batang-batang pohon itu—ada yang cukup tebal untuk beberapa orang merangkulnya, ada yang tak lebih tebal dari pergelangan tangan; ada yang tumbuh melintang lurus, ada yang miring ke luar, ada yang tersembunyi di balik lapisan demi lapisan cabang. Tapi tak peduli seberapa sempit atau sudutnya aneh, saat dia menginjaknya, batang-batang itu tak bergoyang sama sekali. Mereka tampak seolah tercipta hanya untuk menopang pijakan kakinya.

Bukan dia yang mencarinya.

Setiap kali dia melompat ke udara, pepohonan itu sendiri tampak bergerak dengan niat. Yang perlu menjulur, menjulur. Yang perlu miring ke luar, miring ke luar. Mereka muncul di bawah kakinya tepat saat dia membutuhkannya. Cabang dan daun melakukan hal yang sama, berpisah saat perlu berpisah, terangkat saat perlu terangkat, seolah seluruh Lautan Pepohonan membantunya berlari.

Ilis berpikir bahwa inilah pasti rasanya pulang ke rumah.

Batang-batang pohon adalah jalannya. Daun-daun adalah tangannya. Angin adalah napasnya. Seluruh hutan mengatakan hal yang sama padanya.

Kau telah kembali.

Akhirnya kau kembali.

Dia mendarat di batang pohon yang lebar dan kokoh lalu berhenti.

Sinar matahari menembus kanopi dan jatuh melintasinya.

Rambut hitam. Mata ungu.

Dia berdiri di sana, bernapas pelan, dadanya naik turun. Keringat mengalir dari dahinya, menelusuri garis pipinya sebelum menetes jatuh. Dia mengangkat tangan dan mengusapnya.

Jika seorang penyihir tingkat tinggi melihatnya sekarang, mereka akan terpana tak berkata-kata.

Ini adalah Sihir Alam.

Bukan trik sederhana yang hanya memungkinkan seseorang berkomunikasi dengan pohon, tapi afinitas alami sejati. Ini bukan penyihir yang memerintah alam, tapi alam sendiri yang bergerak membantu penyihir. Batang-batang pohon itu bukan sekadar diinjak—mereka menjulurkan diri untuk diinjaknya. Cabang-cabang itu bukan didorong—mereka bergeser dengan kehendak sendiri untuk membiarkannya lewat.

Tingkat afinitas seperti ini tak bisa lagi dijelaskan sebagai sekadar keterampilan.

Itu adalah bakat.

Sesuatu yang terukir dalam garis keturunan itu sendiri.

Sistem magis benua ini rumit untuk dijelaskan, tapi pada dasarnya, juga sederhana.

Kebanyakan orang bisa mempelajari sebagian besar sihir elemen—api, petir, tanah, angin, air, es. Selama mereka bekerja cukup keras, mereka bisa melepaskannya. Ryan, misalnya, bisa menggunakan semua sihir elemen dasar. Saat dia butuh api, dia mengumpulkan elemen api. Saat butuh angin, dia memanggil elemen angin. Yang penting adalah kendalinya atas elemen-elemen itu dan dukungan kekuatan sihirnya sendiri.

Sebagian kecil orang terlahir dengan afinitas terhadap elemen tertentu.

Ambil Lillian, contohnya. Sihir esnya jelas lebih kuat daripada orang lain di tingkat yang sama, bukan karena dia bekerja lebih keras, tapi karena dia merasakan elemen es lebih tajam dan bisa berkomunikasi dengan roh-roh elemen es itu lebih mudah.

Atau ambil keluarga Eleanor. Mereka unggul dalam menggabungkan angin dan api, dan itu juga berasal dari afinitas yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Di atas itu ada sihir tingkat tinggi.

Sihir ruang adalah contoh paling jelas.

Kedipan, perpindahan, teleportasi, penguncian ruang—ini bukan sekadar dibangun dari menumpuk kekuatan elemen. Mereka membutuhkan persepsi terhadap ruang itu sendiri. Bukan sekadar melihat objek, tapi merasakan posisi pastinya dalam ruang tiga dimensi; bukan sekadar merasakan angin, tapi merasakan pergerakan udara, perubahan kelembapan, setiap gangguan kecil.

Persepsi semacam itu tak bisa dilatih menjadi ada.

Itu memilih penggunanya.

Itu seperti perbedaan antara pemanah biasa dan pemanah ahli. Orang biasa hanya melihat target. Penembak jitu ahli melihat angin, kelembapan, detak jantung, getaran otot sekecil apa pun. Sihir ruang sama. Itu membutuhkan pemahaman instingtif tentang dimensi ruang.

Bahkan lebih langka daripada sihir ruang.

Pemilik Afinitas Alam terakhir yang tercatat adalah seorang bijak yang mempelajari sihir kuno tiga ratus tahun lalu. Setelah itu, tak ada lagi.

Karena ini bukan sihir yang seharusnya dipegang manusia.

Adalah bangsa elf.

Di benua ini, pernah ada ras yang mampu berkomunikasi bebas dengan segala sesuatu di alam.

Elemen-elemen sihir yang melayang di udara—elemen api, elemen air, elemen angin, elemen cahaya, elemen gelap—mereka memiliki kehendak sendiri, bahasa sendiri.

Manusia membutuhkan mantra, rune, dan lingkaran sihir hanya untuk berkomunikasi dengan mereka dan membujuk mereka patuh.

Tapi bagi elf, elemen-elemen itu seperti teman lama, dipanggil dengan satu pikiran dan dibubarkan dengan mudah.

Tak perlu mantra.

Tak perlu lingkaran sihir.

Tak perlu ritual rumit.

Hanya satu pikiran.

Api membara. Es membeku. Angin menderu.

Di tangan mereka, hal-hal semacam itu tak berbeda dengan tanah liat dalam genggaman anak kecil. Mereka membentuknya menjadi apa pun yang mereka inginkan.

Betapa mulianya masa itu.

Jadi ketika umat manusia pertama kali menemukan bahwa elemen-elemen sihir yang melayang di udara memiliki kesadaran sendiri, mereka menamainya sesuai ras agung itu—

Untuk mengenang mereka.

Untuk menghormati mereka.

Untuk mengingat bahwa pernah ada ras yang mampu berbicara dengan segala sesuatu.

Gunakan ← → untuk pindah chapter