Suara pekikan dan jeritan berbagai macam binatang mengguncang hutan.
Area terpadat di Kekaisaran Tianyu, yang sekaligus menjadi tempat paling berbahaya, adalah Pegunungan Allbeast. Siapa pun orang biasa yang menginjakkan kaki di sana sama saja dengan bunuh diri, bahkan para kultivator yang lebih kuat pun bernasib tidak jauh berbeda jika nekat pergi lebih dalam.
Konon, pegunungan itu menyimpan beberapa makhluk buas sejati yang paling unggul, yang cakar-cakarnya tidak dapat dikalahkan atau dihindari oleh kultivator mana pun.
Seiring berjalannya waktu, hal itu memberikan aura misteri yang sangat pekat pada pegunungan ini—misteri yang belum pernah terpecahkan sepenuhnya oleh umat manusia, meskipun orang-orang menjelajahinya dari waktu ke waktu.
Atau mungkin, pernah ada yang menjelajahinya, hanya saja mereka tidak pernah berhasil keluar dari wilayah tersebut untuk membawa kebenarannya.
Namun kini, seorang pria ber jubah hitam berjalan dengan santai semakin jauh ke dalam, hanya ditemani oleh lolongan dan geraman para binatang spiritual.
Pada akhirnya, selalu saja ada beberapa binatang bodoh yang memamerkan taring dan menerkam daging pria tersebut.
Seekor binatang spiritual berhasil mendekatinya, tetapi mata makhluk itu mendadak kosong, lalu terkulai mati.
Meski begitu, pria itu terus melangkah tanpa peduli, dengan senyuman yang menyeringai kejam.
Penyusup aneh yang muncul secara tiba-tiba itu mengusik seluruh binatang spiritual di Pegunungan Allbeast. Beberapa makhluk buas yang kejam mengerahkan keberanian untuk menantang penyusup ini, namun bernasib tidak lebih baik dari makhluk bodoh yang pertama.
Kejadian itu berlanjut hingga tingkat binatang spiritual tingkat 6. Baru setelah tiga ekor binatang spiritual tingkat 7 tumbang mati di kakinya, para binatang di Pegunungan Allbeast akhirnya mengenal rasa takut dan kekuatan iblis dari pria ini.
Seolah diberi aba-aba, para binatang itu kocar-kacir, burung-burung beterbangan melarikan diri, tidak menyisakan siapa pun kecuali sang penyusup di lingkungan liar tersebut.
Akhirnya, tanpa ada lagi binatang di sekitar yang menggeram, Raja sejati Pegunungan Allbeast turun tangan…
"Siapa kau? Beraninya kau menerobos masuk ke bagian dalam Pegunungan Allbeast?"
Diiringi auman yang menggema, pria itu mendongak ke atas dan melihat bayangan besar yang meluncur turun ke arahnya.
Seekor burung berkepala tiga menatapnya dengan penuh amarah. Di dahinya, terdapat nyala api biru yang berkedip-kedip.
Sambil tertawa mengejek, pria itu berkata, "Burung Gagak Berkepala Tiga, sudah lama tidak jumpa."
"Kau mengenalku?" Burung Gagak Berkepala Tiga itu tertegun.
Pria berpesona hitam itu mengangkat kepalanya dan menunjukkan senyumannya, "Sudah lupa padaku? Ingatkah saat kau membawa aku dan Sanzi kecil ke sini, untuk menemui Senior Kunpeng?"
"Tuan Zhuo?!"
Burung Gagak Berkepala Tiga itu terkejut, lalu mendarat sambil membungkuk, "Mohon maafkan aku karena tidak menyambutmu, Tuan Zhuo. Suatu kehormatan atas kedatanganmu. Aku hanya mendengar ada manusia yang membuat keonaran dan tidak tahu bahwa itu adalah kau."
Zhuo Fan melambaikan tangan, "Ha-ha-ha, tidak apa-apa. Aku hanya datang untuk menemui Kunpeng. Karena kau ada di sini, antarkan aku ke sana."
"Begini..."
Burung Gagak Berkepala Tiga itu tampak kebingungan, "Tuan Zhuo, seribu ampun, tapi aku harus memberitahu Tuan Besar terlebih dahulu atas kedatanganmu yang mendadak ini. Silakan tunggu di sini sebentar. Tidak ada binatang yang akan menyakitimu dengan perlindungan nyala api biru dari Tuan Besar."
Zhuo Fan mengangkat alisnya, mendengar nada meremehkan di balik ucapan itu.
Burung Gagak Berkepala Tiga itu memang terdengar sopan, namun itu hanyalah cemoohan yang disembunyikan. Arti dari kalimat 'perlindungan nyala api biru dari Tuan Besar' sebenarnya menyindir bahwa dirinya bukan siapa-siapa tanpa api itu.
[Kalau tidak begitu, bagaimana bisa kau masuk dengan mudah ke sini? Kau pasti sudah lama menjadi santapan binatang spiritual sekarang. Jangan besar kepala!]
[Dia jelas-jelas sedang mengejekku karena aku bisa datang ke sini hanya berkat kekuatan Kunpeng.]
[Dia sangat keliru…]
Zhuo Fan menyipitkan mata, "Burung Gagak Berkepala Tiga, aku sudah pernah menemui Senior Kunpeng sebelumnya, jadi mengapa harus mempersulit keadaan? Antar saja aku ke sana."
"Tidak bisa. Pegunungan Allbeast memiliki aturan. Untuk menemui Tuan Besar, semuanya harus dilaporkan terlebih dahulu. Kau hanya bisa menemuinya dengan izin beliau. Jika tidak, Tuan Besar akan menghukumku karena membawamu tanpa izin."
Ketiga kepalanya menggeleng, menunjukkan pendirian yang tegas.
Zhuo Fan menghela napas, "Repot sekali bolak-balik padahal aku toh akan menemui orang tua itu juga. Bagaimana kalau begini? Kau antarkan aku dan aku akan bertanggung jawab penuh. Katakan saja kalau aku yang memaksa."
"Kau?"
Burung Gagak Berkepala Tiga tertawa terbahak-bahak, matanya memancarkan tatapan merendahkan.
[Silakan saja, tadinya kuira manusia punya otak. Kenapa bicara bodoh sekali? Aku adalah binatang spiritual tingkat 9 yang hebat dan kau pikir bisa memaksaku?]
[Kau mungkin punya peluang dengan binatang spiritual lain berkat nyala api biru itu, tapi harta karun tersebut tidak akan mempan padaku. Aku juga memilikinya! Memaksaku? Lelucon macam apa itu, ha-ha-ha…]
Zhuo Fan sangat mengerti apa yang ada di dalam pikiran makhluk itu, lantas ia tersenyum.
Sementara mata kirinya memancarkan nyala petir hitam, melepaskan aura yang mengerikan.
Hu~
Seolah dihantam oleh sebuah gunung, Burung Gagak Berkepala Tiga itu terbanting ke tanah, nyala api biru di tubuhnya berkedip-kedip lemah sebelum akhirnya padam sepenuhnya.
Enam mata kecil makhluk itu membelalak kaget.
Api lembut terhebat, Api Kekacauan, milik penguasa para makhluk suci, pemimpin dari kelima makhluk suci agung, baru saja dipadamkan begitu saja.
[Bagaimana bisa?!]
Itu adalah salah satu dari lima kekuatan terhebat yang lahir dari kekacauan, jadi bagaimana mungkin bisa runtuh begitu saja?
Burung Gagak Berkepala Tiga menolak untuk percaya dengan apa yang terjadi, tetapi saat melihat kembali kobaran hitam yang menyala di mata Zhuo Fan, jantungnya berdegup kencang ketakutan. Rasanya seperti menatap kematian itu sendiri.
[Manusia ini memiliki kekuatan untuk membunuh makhluk suci!]
Burung Gagak Berkepala Tiga cukup cerdas untuk menyadari hal itu seketika, bulu-bulu di tubuhnya berdiri tegak dan keringat dingin mulai bercucuran.
Sambil menyeringai sinis, Zhuo Fan menginjak tulang punggung makhluk yang masih gemetar itu, "Sekarang kau bisa mendongakkan kepalamu tinggi-tinggi dan menyatakan kepada Kunpeng bahwa aku yang telah memaksa."
Ketiga kepala itu menggeleng ketakutan. Penguasa Pegunungan Allbeast yang berada di tingkat 9 itu kini merasa ketakutan setengah mati.
"Kalau begitu, ayo jalan." Mata kanan Zhuo Fan tertutup dan aura menakutkan itu pun memudar.
Tanpa rasa takut yang mencengkeram tulangnya lagi, Burung Gagak Berkepala Tiga perlahan bangkit berdiri dan terbang tanpa suara, membentangkan sayapnya yang sepanjang lima ratus mil saat ia meluncur membawa Zhuo Fan menemui Kunpeng.
Pria dan binatang itu tiba dalam waktu lima belas menit, dan gua yang familier itu kini tampak di hadapan mereka, bagaikan seekor binatang buas yang siap menelan mangsanya bulat-bulat.
Burung Gagak Berkepala Tiga mendarat di dekat pintu masuk, karena ia tidak boleh begitu saja membawa orang tanpa melapor, setelah sebelumnya ia sendiri telah melanggar aturannya.
Meski sebenarnya ia tidak punya pilihan, terutama ketika manusia itu jauh lebih kuat.
Burung Gagak Berkepala Tiga memberanikan diri dan berteriak, "T-Tuan Besar, Tuan Zhuo datang untuk menemui Anda!"
"Ayah datang?!"
Sosok pertama yang berteriak adalah seorang pemuda ceria, disusul oleh kilatan cahaya merah. Gu Santong melesat keluar dari dalam gua dan langsung memeluk Zhuo Fan, "Ayah, akhirnya Ayah datang juga!"
Ekspresi Zhuo Fan melembut dan tersenyum, "Sanzi kecil, Ayah datang bukan hanya untuk melihatmu, Ayahmu ini akan selalu berada di sisimu!"
"Benarkah?" Gu Santong bersorak gembira, "Baguslah, Ayah akan tinggal bersamaku! Hebat, Ayah memang..."
Tawa yang lantang menandai kemunculan Kunpeng dengan tubuh kekarnya yang turut berjalan keluar, "Ha-ha-ha, Bocah, apakah kau begitu santai hingga bisa mengunjungiku? Kau bahkan tidak memberikan sedikit pun petunjuk kalau mau datang. Kalau tahu, aku pasti sudah menyuruh burung gagak itu untuk menjemputmu."
"Terima kasih atas niat baikmu." Zhuo Fan mengangguk.
Kunpeng memang terdengar sopan, namun Zhuo Fan membaca adanya rasa dendam di dalam tatapan matanya.
[Raja macam apa yang membiarkan orang datang dan pergi sesuka hati…]
Chapter 848 · 5m baca
Back to Allbeast Mountain Range
by Night Owl
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter