Pemberontakan itu datang dan pergi sama cepatnya. Kendati demikian, kegagalan itu bukanlah karena kurangnya perhitungan dalam rencana Perdana Menteri, melainkan ketajaman luar biasa sang kaisar yang telah menyiapkan jebakan sejak awal.
Begitu "perayaan" itu usai, sang kaisar menyambut bangsa Quanrong dengan karpet merah sebagai tamu kehormatan. Tuoba Liufeng dan anak buahnya dengan senang hati memenuhi undangan tersebut sebagai bentuk penghormatan.
Melirik anak-anaknya yang tersisa, sang kaisar menghela napas. Tatapan asing di mata mereka mengiris hati seorang ayah tua.
"Putra Mahkota, Cong'er, Yongning!"
Kaisar memulai, "Apakah kalian berpendapat bahwa mengundang bangsa Quanrong untuk menghadapi Zhuge Changfeng adalah noda bagi kehormatan Kekaisaran Tianyu?"
"Itu tindakan yang keji dan berkhianat!" sentak Yongning.
"Apa yang diketahui anak manja sepertimu?" Kaisar murka. Yongning mendengus kesal lalu menghentakkan kakinya pergi.
Kaisar menggelengkan kepala, lalu beralih kepada putra-putranya, "Kalian berdua adalah calon pemimpin masa depan Tianyu. Apa pendapat kalian?"
"Ehm, Ayah Baginda, rencana itu begitu luar biasa sampai-sampai di luar nalar hamba," jawab Putra Mahkota sambil membungkuk.
Sang kaisar mengalihkan pandangannya kepada si pria gemuk, yang langsung terperanjat, "Ayah Baginda, dengan ketujuh keluarga bangsawan yang meracuni negara sejak awal berdirinya, semakin cepat mereka lenyap, semakin baik. Zhuge Changfeng dan Dugu Zhantian memiliki kekuasaan tetapi gagal menghadirkan kedamaian. Seandainya—hanya seandainya—tercium kabar bahwa Ayah menggunakan wilayah kita untuk melakukannya..."
"Maka dinasti Yuwen akan mendapati seluruh rakyat Tianyu menentang mereka. Kaisar Tianyu bahkan mungkin akan diganti. Oleh karena itu, informasi ini tidak boleh keluar dari tempat ini. Siapa pun yang terbukti bersalah akan dihukum gantung!"
Mata sang kaisar memancarkan kilat tajam seraya menghela napas, "Sementara aku tahu konsekuensi dari langkah seperti ini, apakah kalian tahu?"
Keduanya menggelengkan kepala, "Kami mohon Ayah Baginda memberi pencerahan kepada kami."
Kaisar mengelus janggutnya, "Tahukah kalian milik siapakah Tianyu ini?"
Keduanya membungkuk, "Ya, Ayah Baginda."
"Bukan, ini milik kaisar!" Sang kaisar menggeleng. "Hari ini ini milikku, tetapi setelah aku tiada, kekuasaan ini akan beralih kepada penerus berikutnya. Dengan kata lain, milik Klan Yuwen. Tapi mereka semua salah. Kita hampir tidak punya kendali atas apa pun. Tujuh Keluarga Bangsawan berpura-pura tunduk kepada kita, tetapi mereka menguasai separuh wilayah. Zhuge Changfeng dan Dugu Zhantian mengendalikan sisanya.
"Dalam hal itu, Klan Yuwen memiliki kekuatan paling lemah. Situasi ini semakin diperparah dengan posisi kaisar yang hanya bisa menjaga keseimbangan kekuasaan hingga akhir hayatku. Apakah ini yang dinamakan kekuasaan Klan Yuwen?"
Kedua putranya dicekam rasa takut, wajah mereka tampak suram.
Kaisar melanjutkan, "Setiap generasi kaisar dari Klan Yuwen selalu berjuang untuk mengembalikan Tianyu kepada penguasa sesungguhnya. Dan di masa ku, kesempatan itu akhirnya tiba—sebuah kesempatan yang tidak akan pernah kulepaskan, meskipun risikonya harus menggunakan bangsa Quanrong demi mencapai tujuan itu dengan mengorbankan sepersepuluh wilayah negara kita. Langkah ini telah melenyapkan ketujuh keluarga bangsawan serta kekuasaan kedua menteri tersebut, demi mewujudkan kekuasaan mutlakku seorang. Dalam hal ini, akulah pemenangnya!
"Putra Mahkota, Cong'er, apa yang menjadi milik kalian hanya akan benar-benar menjadi milik kalian jika kalian merebutnya dengan tangan kalian sendiri. Apa pun yang kurang dari itu tidak ada gunanya. Kekaisaran ini boleh saja bernama Tianyu, kalian mungkin saja kaisarnya, tetapi itu semua hanyalah omong kosong belaka."
"Kami berterima kasih atas ajaran Ayah Baginda!" Kedua pangeran membungkuk.
Kaisar menganggukkan kepala...
Dua minggu kemudian, di sebuah lembah yang tenang, kicauan burung dan suara alam bersahutan merdu.
Keheningan itu tak lama kemudian terusik oleh suara gemuruh begitu dahsyat yang membuat seluruh burung beterbangan panik.
Begitu debu mereda, sepasukan prajurit berpakaian hitam berbaris melewati lembah bagaikan seekor ular raksasa.
Setiap kali mereka melangkah, bumi bergetar; setiap kali kaki mereka menjejak, tanah seakan berguncang. Itulah kekuatan yang terpancar dari derap langkah satu juta orang.
Di barisan terdepan tampak seorang lelaki tua, tegar dan gagah, menggenggam bilah pedang dingin di sisi pinggangnya.
"Marsekal, ada tebing di kedua sisi yang tertutup pepohonan—posisi terburuk bagi kita. Mungkin ada penyergapan di depan. Sebaiknya kita mengirim pasukan pengintai."
Dugu Lin memberi saran.
Dugu Zhantian merenung sejenak, "Tidak seorang pun yang berani menyergap kita di Tianyu. Bahkan Zhuge Changfeng dengan kebijaksanaannya yang tak terbatas dan pasukannya yang sedikit pun tidak akan berani. Ibukota kekaisaran sedang kacau balau, dan kita tidak tahu berapa lama Yang Mulia dapat bertahan. Kita harus menerobos, entah ada penyergapan atau tidak. Tingkatkan kecepatan sepertiga. Kita harus mencapai ibu kota kekaisaran dalam bulan ini!"
"Dimengerti!"
Dugu Lin meneruskan perintah tersebut, dan tak lama kemudian pasukan itu telah mencapai bagian tengah lembah.
Ledakan besar mengguncang langit, dan kilatan cahaya aneh menampakkan sambaran petir yang menghubungkan langit dan bumi dalam unjuk kekuatan yang tak terkendali.
Api yang membakar menghujani lembah bagaikan naga-naga, menjebak pasukan dan merenggut nyawa ribuan prajurit yang menjerit kesakitan karena panasnya api.
Dugu Zhantian berteriak, "Ini jebakan! Kita disergap!"
"Marsekal, beri perintah!"
Wus!
Empat Harimau Tianyu sudah berdiri membungkuk di hadapan marsekal. Para prajurit tetap tenang meskipun ribuan rekan seperjuangan mereka tewas.
"Inilah keberanian Pasukan Dugu, tak gentar dalam kematian, tak terkalahkan dalam pertempuran."
Seppasang mata dingin menatap mereka dari balik pepohonan. "Dugu Zhantian, aku mungkin memenangkan pertempuran ini, tetapi ini sama sekali tidak memberiku kehormatan. Kendati demikian, aku tetap ingin menjadi orang yang menebasmu. Bersiaplah bertempur! Trik murahan ini tidak akan membuat si tua renta itu takut!"
"Dimengerti!" Hutan seakan meledak dengan teriakan persetujuan.
Menatap kilatan petir dan api yang membakar, Dugu Zhantian tertawa lantang, "Ha-ha-ha, si tua Zhuge itu bahkan kini bergerak melawanku, tepat di saat kepulanganku? Apa yang kuKKurang dalam intrik, kuCukupi di medan perang!"
"Empat Harimau Tianyu, formasi ular. Dobrak!" bentak Dugu Zhantian.
"Dimengerti!"
Para harimau itu masing-masing memimpin satu divisi.
Seorang prajurit memang lemah jika sendirian, tetapi saat bekerja sama, Yuan Qi mereka berpadu membentuk satu kesatuan yang kohesif, melindungi seluruh skuadron.
Tidak ada petir ataupun api yang mampu menyentuh mereka.
Para harimau mengaum, dan pasukan itu terpencar menjadi ular-ular kecil ke segala arah, dengan mudah menghindari panas dan sambaran petir.
Sesampainya di tempat aman, mereka berkumpul kembali tanpa kehilangan satu prajurit pun.
Dugu Zhantian mengacungkan pedangnya, memandang sekeliling, "Jangan dikira kalian bisa menjatuhkanku dengan trik murahan seperti ini. Keluar kalian jika punya nyali!"
Aum~!
Raungan buas mengguncang langit dan membelah bumi. "I-itu..."
Gemuruh~
Disusul getaran yang jauh lebih kuat daripada derap langkah pasukan sebelumnya, gerombolan makhluk spiritual muncul di hadapan mereka.
Mereka bukan sekadar makhluk spiritual biasa, melainkan membawa para prajurit berzirah di punggung mereka. Dugu Zhantian mengenali pasukan semacam itu di mana pun ia melihatnya.
"Pasukan monster Quanrong? Sedang apa mereka di sini, dan begitu banyak pula jumlahnya?" tanya Dugu Lin.
Bukan hanya dia yang merasa penasaran. Dugu Zhantian menggeretakkan giginya, "Zhuge Changfeng keparat itu telah menjual negaranya. Membiarkan pasukan ini berkeliaran tanpa kendali berarti membiarkan mereka membantai rakyat dan mendatangkan malapetaka di Tianyu! Bajingan busuk itu bahkan telah mengabaikan rakyat demi ambisinya. Apakah dia tidak peduli pada murka surga?"
"Marsekal, ada yang tidak beres! Bahkan seorang Perdana Menteri sekalipun tidak akan bertindak senekat itu membiarkan Quanrong masuk ke Tianyu secara terang-terangan dan tanpa terdeteksi. Padahal sama sekali tidak ada berita apa pun dari wilayah perbatasan!" Dugu Feng mengerutkan kening.
Kecurigaan Dugu Zhantian semakin besar, tetapi ia tidak punya waktu lagi untuk mengururainya.
Pasukan monster itu telah berada di hadapan mereka, dan bahkan jumlah pasukan mereka sendiri pun tidak akan mampu menolong di tempat ini, tanpa dukungan formasi apa pun...
Chapter 466 · 5m baca
Something Stinks
by Night Owl
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter