“Orang Bijak Surga dan Bumi? Dua dari tiga Naga Ilahi terkuat tiga ratus tahun yang lalu? Kalian belum mati?” Zhuge Changfeng tersentak. “Aku mengerti sekarang, ha-ha-ha…”
Tatapan mereka berdua saling bertemu, dan kesedihan terukir di wajah mereka.
“Dengan kebijaksanaan Yang Mulia yang tak terbatas, Anda seharusnya sudah bisa mengatasi masalah ini sejak tadi. Aku tahu Anda telah mengepung dua ratus ribu prajuritku. Dan ada seratus ribu kavaleri Quanrong yang sedang dalam perjalanan, tetapi mereka pasti telah jatuh ke dalam perangkap Anda. Tapi untuk melakukan itu, Anda butuh pasukan, dan dari yang kutahu, hanya Dugu Zhantian yang bisa melakukannya. Namun, dia sedang keluar untuk menghadapi Daerah Istimewa Bupati dan Zhuo Fan…”
Zhuge Changfeng mengalihkan pandangannya dari kedua orang bijak itu kepada sang kaisar. “Yang Mulia, apakah Anda memiliki kekuatan besar lain yang tidak kuketahui?”
Sang kaisar menggelengkan kepalanya. “Perdana Menteri Zhuge, kita telah saling mengenal selama bertahun-tahun, dan dengan ambisimu, tidak ada yang tidak bisa kauketahui. Tidak mudah bagiku untuk menyembunyikan langkah sebesar itu dari mata tajammu.”
“Aku sangat setuju dengan hal itu.” Zhuge Changfeng tersenyum. “Dan aku semakin heran bagaimana Anda bisa mendapatkan pasukan sebesar itu. Apa yang telah ku lewatkan?”
Putra Mahkota dan si gemuk memandang sang kaisar dengan penuh perhatian.
Langkah kaisar begitu tersembunyi hingga bahkan orang seperti Zhuge Changfeng pun tidak bisa melihatnya datang. Terlebih lagi, sejak pemberontakan pangeran kedua, sang kaisar sempat kesulitan menghadapi Zhuge Changfeng.
Namun, tidak sekali pun ia mengeluarkan kartu as tersebut. Kecerdikan dan kelihaian yang ditunjukkan di dalamnya menjadikannya sosok berfikiran langka di dunia ini, sampai-sampai hal itu mengirimkan rasa dingin ke punggung putranya sendiri.
Sang kaisar sangat senang melihat Zhuge Changfeng merasa terpojok. “Ha-ha-ha, kau sangat ingin tahu ya? Tapi aku percaya ketidaktahuan adalah kebahagiaan dalam kasus ini, untuk menyelamatkanmu dari rasa kesal.”
“Apa yang bisa mengusik seseorang yang sedang sekarat? Aku hanya ingin pergi dengan hati nurani yang bersih,” ucap Zhuge Changfeng.
Sang kaisar tertegun. “Kau memang menteri agungku yang telah membantuku selama dekade ini, pilar bangsa. Aku mengagumi ketenanganmu.”
Sang kaisar bertepuk tangan. “Pengawal, tangkap mereka!”
“Ha-ha-ha, sesuai titah Yang Mulia!” Sebuah teriakan akrab terdengar dari balik awan. Zhuge Changfeng bergidik dan wajahnya memucat.
Para prajurit Quanrong datang menunggangi binatang buas rohani yang mengaum, mengepung para pemberontak.
Para menteri merasa lemas di hadapan kekuatan tersebut.
[Bukankah Quanrong berada di pihak kita? Kenapa mereka mengarahkan binatang buas mereka ke arah kita?]
Saudara-saudara Tuoba dan sang Guru Kekaisaran keluar dari kepungan. “Semuanya berjalan lancar, sesuai dekrit Tuan!”
“Tuan Muda Tuoba…” Seorang pejabat tua berjanggut kambing memanggil mereka.
Zhuge Changfeng tersentak, lalu tersenyum getir. “Menteri Rupacara, percuma saja. Mereka telah mengkhianati kita sejak lama. Kita dikepung oleh seratus ribu pasukan mereka dan lima puluh ribu pengawal Yang Mulia.”
“Tepatnya tiga ratus ribu!” Sang kaisar menyela. “Perdana Menteri Zhuge, kau berhasil menyusupkan seratus ribu kavaleri Quanrong, apa aku tidak bisa melakukan hal yang sama?”
Zhuge Changfeng menghela napas. “Tuan Muda Tuoba, maukah kau membantuku memahami sesuatu? Apa yang Yang Mulia berikan kepadamu?”
“Tuan Perdana Menteri, sejujurnya, Yang Mulia menjanjikan kami tanah di sebelah utara Sungai Suli,” jelas Tuoba Liufeng.
Zhuge Changfeng merenung dengan kening berkerut. “Itu adalah wilayah yang kaya akan bijih besi, tempat yang langka dan mencakup sepersepuluh wilayah Tianyu. Padahal aku menjanjikanmu setengahnya. Apakah kata-kataku tidak ada artinya?”
“Ha-ha-ha, Perdana Menteri Zhuge, terkadang kerja sama tidak didasarkan pada kepentingan, melainkan kemampuan,” tambah Tuoba Liufeng. “Yang Mulia tahu semua tentang diskusi kita. Kau hanya menari mengikuti irama gendangnya, jadi bagaimana mungkin kau bisa berhasil?
“Dan bahkan jika kau berhasil, kau masih harus berurusan dengan penyatuan negeri sebelum kau bisa memberikan hak kami. Apakah tiga sekte penjaga kekaisaran bahkan akan mendengarkanmu? Itu berarti menyia-nyiakan prajurit dan tenaga tanpa hasil. Sedangkan dengan Yang Mulia, yang mengetahui segalanya dan melihat segalanya, sekte-sekte tersebut tidak punya cara untuk menolak titahnya.”
Zhuge Changfeng mengangguk. “Kalian sudah memikirkannya secara matang rupanya. Sayang sekali kesalahanku. Huh, sungguh disayangkan. Meskipun Dugu Zhantian itu kasar, dia sangat setia. Dia tidak akan pernah menyetujuinya, kecuali jika melangkahi mayatnya.”
Tuoba Liufeng terkekeh geli, melirik ke arah sang kaisar.
Matanya memancarkan niat membunuh. “Segalanya pasti ada tandingannya. Tampaknya Marsekal Dugu sudah terlalu tua dan membutuhkan istirahat yang layak dan terakhir.”
Zhuge Changfeng bergidik, merasa sangat terpukul. “Yang Mulia, dia memang keras kepala tetapi dia telah setia kepada Anda selama bertahun-tahun ini. Bagaimana bisa Anda…”
“Tidak ada yang lebih setia daripada Marsekal Dugu, tangan kanan dan kiriku jika digabungkan. Hatiku sakit harus mengambil strategi ini, tetapi dia memegang 70% otoritas kekaisaran, dan pasukannya tak tertandingi.”
“Orang berbudi akan berdosa begitu ia menonjolkan diri, ha-ha-ha…”
Sambil terkekeh, Zhuge Changfeng meratapi, “Semua upaya kita untuk membuat Tianyu makmur selama beberapa dekade ini dibalas dengan akhir yang menyedihkan. Aku menerima takdirku, tapi untuk orang tua itu… Seperti kata pepatah, budi orang besar itu tidak pasti.”
Zhuge Changfeng memasang sosok yang kesepian saat menatap ke langit.
Sang kaisar melambaikan tangannya. “Bawa dia ke Penjara Sembilan Dingin. Pastikan dia berada di bawah pengawasan ketat!”
“Dimengerti!”
Dua pengawal membawa Zhuge Changfeng pergi, dan sang kaisar mengalihkan tatapan tajamnya kepada para pembelot yang memberontak.
Mereka menggigil hingga ke tulang dan mundur dengan gemetar. Seseorang mengumpulkan sedikit keberanian untuk berkata, “Y-Yang Mulia, s-semuanya adalah salah Zhuge Changfeng. Dia memutarbalikkan kata-kata dan memaksa kami menempuh jalan ini. Hamba mohon Yang Mulia mengingat semua kontribusi kami di istana dan mengampuni nyawa kami yang malang ini.”
“Kami memohon pada Anda, Yang Mulia. Kami akan sangat berterima kasih selamanya!” Yang lain memohon dengan suara gemetar.
Sang kaisar mengejek, “Di seluruh Tianyu, hanya Perdana Menteri dan Marsekal yang benar-benar berjuang untuk bangsa ini. Sedangkan kalian, sekumpulan bajingan kotor, hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Dan sekarang meminta belas kasihan? Eksekusi mereka!”
“Dimengerti!”
Sambil membungkuk, para pengawal melangkah maju untuk menyeret para pembesar istana yang kini sedang meratap dan menangis tersedu-sedu.
Adapun tentara pemberontak, mereka menjadi panik setelah para pemimpin mereka lenyap.
Bagai anak ayam kehilangan induknya.
Sang kaisar berkata, “Kalian semua hanyalah alat mereka, kesalahan kalian tidak terlalu besar. Aku, seorang yang percaya pada kebaikan manusia, akan memberi kalian kesempatan. Sumpahkan kesetiaan kalian dan aku akan menjadikan kalian pengawal kekaisaran, melayaniku seumur hidup kalian!”
Semua orang berlutut di hadapan belas kasihan sang kaisar yang tak terbatas.
Pemberontakan besar itu runtuh seketika di tempat.
Sang kaisar mengangguk dan Tuoba Liufeng tersenyum, “Selamat Yang Mulia, karena telah berhasil memadamkan pemberontakan.”
“Ini berkat rahmat dari teman-teman Quanrongku sehingga aku berhasil,” balas sang kaisar tersenyum.
Tuoba Liufeng mengangguk dan mendorong adiknya maju, “Lian’er, sekarang apakah kau mengerti mengapa aku begitu yakin di Gunung Raja Binatang? Di seluruh Tianyu, satu-satunya yang menawarkan dukungan kepada kita tidak lain adalah penguasa negeri ini, sang kaisar!”
Tuoba Lian’er masih belum sepenuhnya paham, mencoba mencerna seluruh situasi ini terbukti menjadi hal yang sulit baginya.
[Bagaimana aku bisa tahu pemimpin agung akan memanfaatkan kita untuk membersihkan halaman belakangnya?]
Tuoba Liufeng tertawa.
Guru Kekaisaran Han Tiemo mengangguk, “Masalah ini berdampak besar sehingga hanya kaisar kita, Saudara Tieshan, diriku sendiri, dan Liufeng yang mengetahuinya. Kau tidak bisa menyalahhkannya karena begitu kebingungan.”
Yang lainnya turut tertawa.
Sang kaisar memasang wajah tegas, “Tuan Muda Tuoba, bagaimana situasi di ujung sana?”
“Yang Mulia, begitu mendengar kabar bahwa ia akan menghadapi rival lamanya Marsekal Dugu, ayah sangat bersemangat untuk memulai,” ucap Tuoba Liufeng dengan percaya diri. “Komandan Tuoba Liufeng dari Quanrong telah menghadapi Dugu Zhantian dalam dua puluh pertempuran dan seratus pertempuran kecil, tetapi semuanya berakhir imbang. Mungkin kali ini akan berbeda…”
Chapter 465 · 5m baca
Great Men’s Favors Are Uncertain
by Night Owl
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter