The Steward Demonic Emperor - Chapter 402 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 402 · 6m baca

Engagement

by Night Owl

“Cong’er, kau selalu saja pergi ke sana kemari, menambah wawasan di setiap perjalananmu. Aku yakin ada banyak hal unik yang telah kau kumpulkan di sepanjang jalan. Aku sangat ingin melihat apa yang telah kau siapkan untukku.”

Dua pangeran sudah lewat dan tersisa satu lagi. Kini setelah giliran pangeran ketiga tiba, tubuh gemuk sang Pangeran Besar tertanam mantap di kursinya.

Sang Kaisar memandangnya dengan aneh lalu menggoda.

Si gubal bergetar, menyeka keningnya yang tak pernah kering dari keringat, lalu terhuyung-huyung bangkit berdiri di hadapan kaisar dengan senyum cerah. “He-he-he, Ayahanda, aku sebenarnya berencana memberimu hadiah yang hebat, kualitas tingkat atas malahan. Dengan desain dan mutu yang sempurna…”

“Langsung ke intinya!” Wajah sang Kaisar menggelapkan.

Si tambun menyeka tangannya yang berminyak, keringat mengucur di keningnya bagai hujan lebat, lalu memasang nada manja. “Tapi aku teringat ajaran Ayahanda. Segala daratan adalah milik Raja dan semua rakyat adalah hamba Raja. Jadi, apa yang bisa kupersembahkan kepada Ayahanda ketika segala sesuatu di dunia ini sudah menjadi milikmu? Apa pun yang kupersembahkan tidak lain hanyalah mengambil barang Ayahanda lalu mengembalikannya lagi. Tidak ada satu pun di dunia ini yang benar-benar milikku untuk diberikan.”

“Oleh karena itu…” Mata sang Kaisar semakin dingin.

Menelan ludah dengan susah payah, si gendut menyeka lebih banyak keringat sebelum berkata, “Oleh karena itu, Ayahanda, kau harus mengerti…”

“Huh, tentu saja aku mengerti. Pada perayaan seratus tahunku ini, semua orang di bumi mempersembahkan upeti kepadaku, namun hanya anakku yang datang dengan tangan kosong…”

“Tidak, tidak, tidak, Ayahanda, kau salah paham. Aku yakin apa pun yang kupersembahkan akan terlalu kasar dan kuno untuk mengekspresikan cinta mendalam serta rasa hormatku yang tiada akhir kepada Ayahanda. Oleh karena itu, aku telah meminta bantuan seorang guru hebat selama sebulan untuk mempelajari sebuah tarian demi ulang tahunmu.”

Si gendut maju ke depan, memberi aba-aba pada musik, lalu mulai melakukan gerakan goyang yang aneh yang dinamakan… tarian?

Tidak, masih terlalu dini untuk menyebutnya tarian. Itu lebih mirip gerakan melompat yang konyol.

Sang Pangeran Besar menjentikkan rambutnya, mengerjap-ngerjapkan matanya, pipinya yang gembul memantul-mantul pada setiap gerakan sekecil apa pun.

Itu sungguh memuakkan, mengerikan, dan tidak layak untuk apa pun selain dilempar keluar. Rasanya seperti melihat laut dari atas kapal, dengan ombak yang naik turun, naik dan…

Sementara si gumpalan itu memantul-mantul mengguncang lantai di setiap hentakan ke bawah, para penonton pun ikut berguncang, mungkin terlalu seirama dengan sang seniman dan gerak kaki—eh, karya seninya. Bahkan isi perut mereka pun ikut berdansa rumba. Itu benar-benar pengalaman yang… mengguncang jiwa.

Kriet~

Bukan hanya satu, oh tidak, seluruh penonton sedang meretakkan buku jari mereka, menatap sang balerina anggun dengan mata merah menyala.

Jika bukan karena statusnya sebagai pangeran yang ‘menjaga harga diri’, mereka mungkin sudah menghujani pukulan dan tendangan pada saat ini.

[Ya Tuhan Yang Maha Pengasih! Sebuah tarian seharusnya memanjakan mata, tapi tarianmu ini menyedot nyawa dari diriku!]

Wajah sang Kaisar berubah menjadi begitu banyak rona pucat hingga ia sendiri tidak tahu bahwa hal itu bisa terjadi. Bergetar sampai ke tulang sumsumnya, tinjunya mengepal, matanya memerah, mengerahkan setiap ons tenaganya agar tidak melompat ke sana dan menghajar si bola lemak itu untuk menghentikan tarian neraka tersebut. Namun pada suatu titik, ada batas kesabaran yang pasti akan putus, dan malang sekali hal itu terjadi pada kesabarannya, “Cukup!”

Bum!

Si gendut membeku dengan pinggang membungkuk, mengerjapkan mata anak anjingnya yang besar menatap mata sang Kaisar yang memerah.

Setiap tamu bernapas lebih lega, menikmati momen kedamaian di bumi ini.

“Cong’er, lain kali, bawa guru hebatmu itu. Aku berjanji tidak akan membunuhnya. Sekarang pergilah!” Sang Kaisar menghela napas.

Si tambun membungkuk lalu melompat dan berjalan dengan bunyi bergedebuk kembali ke kursinya, merasa sangat puas karena lolos begitu saja.

Para tamu lainnya merasa sangat berterima kasih karena pertunjukan horor itu telah berakhir. [Kami bersyukur mata kami tidak cacat karena melihat putra ceria mu memantul-mantul. Kebaikanmu tidak bertepi, wahai Kaisar…]

Putra Mahkota berdiri lagi, “Ayahanda, meskipun tarian Kakak Ketiga mungkin sedikit kasar, niatnya baik dan hatinya tulus. Tolong berikan dia hadiah, Ayahanda!”

“Huh, adakah yang bisa menandingi penampilannya?” Mata sang Kaisar berkelebat.

Putra Mahkota terkekeh, “Ayahanda, Kakak Ketiga memang sudah bertingkah aneh sejak lahir. Dengan kasih sayang Ayahanda yang tiada akhir, jika hanya memberikan sesuatu kepada aku dan Kakak Kedua, hal itu akan membuat Kakak Ketiga merasa dikucilkan. Tolong pertimbangkan perasaan tulusnya dan berikan dia sedikit hadiah. Sebuah kenang-kenangan mungkin.”

“Akan kukatakan sekali lagi. Aku bisa memberi hadiah kepada siapa saja di negeri ini, kecuali dia!” Senyum sang Kaisar terasa dingin, “Hadiah apa pula yang pantas untuknya?”

Ucapan itu mengirimkan hawa dingin ke lubuk hati setiap orang.

Sang Kaisar menyiratkan bahwa ia sedang kesal karena memiliki anak yang begitu gemuk. Namun, bagaimana bisa seorang penguasa berpikiran begitu sempit, meributkan hal-hal sepele dengan putranya sendiri?

Zhuo Fan menggaruk hidungnya, bertukar pandang dengan dua orang cerdas pertama dan kedua. Ia sudah punya gagasan tentang apa yang sedang terjadi.

Hanya Pangeran Kedua yang memasang senyum mengejek.

Putra Mahkota mencobanya lagi, “Ayahanda, kumohon…”

“Diam!” Kata sang Kaisar, “Putra Mahkota, ada beberapa hal yang tidak bisa kau campur tangani!”

“Tidak apa-apa, Kakak sulung. Aku tahu aku telah menguji kesabaran Ayahanda. Tidak menerima apa pun adalah hal yang wajar. Tidak perlu mencoba lagi.” Si gendut merengut, meratapi nasib, dan menasihati.

Pangeran Kedua menikmati penderitaan mereka, “Yang satu seorang hipokrit, yang satunya lagi gumpalan lemak. Setidaknya mereka cocok satu sama lain, huh…”

Putra Mahkota menggertakkan giginya dan memberikan satu tatapan terakhir kepada sang Kaisar sebelum duduk kembali. Tangannya mengepal erat, jari-jarinya menancap ke telapak tangannya.

[Kenapa situasinya harus seperti ini? Akulah Putra Mahkota! Bagaimana aku bisa kalah dari si gundukan lemak itu?]

Melirik sekilas ke arah wajah mengejek Pangeran Kedua, Putra Mahkota mencemooh, [Kau bodoh, bahkan hal seperti ini pun tidak bisa masuk ke dalam otak tumpulmu? Siapa pun bisa diberi hadiah, kecuali si gendut. Apa yang baru saja dilakukan Ayahanda adalah menunjukkan niatnya mengenai penerus tahta. Tapi kenapa harus dia?]

Putra Mahkota menatap si gendut, yang balas memberi hormat sebagai tanda terima kasih.

[Apakah si keparat ini tidak menyadari maksud Ayahanda atau dia memang sangat jago berpura-pura?]

Di mata Putra Mahkota, semakin lama ia menatap saudaranya yang melebar secara horizontal itu, semakin pekat pula niat membunuh yang berkecamuk di dalam dirinya.

Perayaan berlanjut dengan para pejabat, tujuh keluarga, dan para utasan mempersembahkan hadiah mereka, masing-masing dibalas dengan hadiah setimpal.

Saat musik kembali berdendang, gadis-gadis bertubuh ramping dan molek meluncur ke dalam ruangan sambil menari. Dengan si pantat besar tadi yang telah mengatur suasana hati penonton hingga mual dengan aksi kelas wahidnya, para penonton jadi bisa lebih mengapresiasi usaha gadis-gadis tersebut. Sampai-sampai mereka melihat gadis-gadis itu bagaikan bintang, memukau dan menenangkan.

Wus~

Sesosok figur melompat keluar dari kerumunan dan mempersembahkan seiring piring buah persik kepada sang Kaisar, “Selamat hari ulang tahun, Ayahanda. Semoga kegembiraanmu tak bertepi dan umurmu panjang tak berkesudahan.”

Sang Kaisar memandang buah hati kesayangannya dan hatinya pun melunak, “Ha-ha-ha, Yongning, kau telah membawakan hadiah terbaik untukku!”

“Benarkah?” Yongning melompat kegirangan sambil tersenyum dan hendak memeluknya, “Kalau begitu, Ayahanda, tolong beri aku hadiah yang pantas.”

“Ha-ha-ha, tentu saja. Kau mau apa?” Sang Kaisar tertawa, sangat memanjakannya.

Dengan wajah bergoyang, si gendut mengarahkan jari telunjuknya yang seperti sosis ke arah saudari tersayangnya dan memotong pembicaraannya, “Ayahanda, bukankah kau ingin tahu siapa guru tarian hebatku? Dialah orangnya! Tapi tenang saja, Yongning, titah Ayahanda adalah emas. Dia tidak akan memukulinya sampai mati!”

Sang Kaisar tampak kebingungan, “Yongning, apakah kau yang mengajari Cong’er menari?”

Ugh!

Sambil merona merah, Yongning mendelik tajam ke arah si gumpalan lemak hidup itu. Ia juga telah menyaksikan aksi kelas atas makhluk itu. Itu tampak seperti pertunjukan horor.

Namun kini jika ia harus menerima kenyataan bahwa dirinyalah guru tari agung di balik semua itu, bukankah hal itu akan merusak reputasinya?

Yongning menjelaskan, “Ayahanda, jangan dengarkan ocehannya. Aku memang telah mengajarinya sebaik kemampuanku, tapi tariannya memang sememuakkan itu!”

“Ha-ha-ha, begitu ya. Tarian putriku adalah yang terbaik di Tianyu!” Sang Kaisar mengangguk, “Yongning, kau masih belum memberitahuku apa yang kau inginkan.”

Sambil tersipu malu, Yongning melirik ke arah Zhuo Fan, mempermainkan gelangnya, bertingkah manja dan malu-malu kucing, “A-ayahanda, apa tidak rasa ini sudah waktunya? Maksudku, untuk keinginan terakhir Ibu…”

Sang Kaisar mengangguk, menyuruhnya kembali ke tengah ruangan dan berteriak, “Yongning, Zhuo Fan, dengarkan dekritku. Hari ini, Putri Yongning dan Pengurus Terbaik di Bawah Kolong Langit, Zhuo Fan, akan menikah!”

[Apa?!]

Berbeda dengan Yongning yang sangat gembira, semua orang tertegun. Zhuo Fan sudah menduga sesuatu seperti ini akan terjadi dan mencibir dalam hati.

Hal itu tidak berakhir hanya dengan dekrit sederhana saja, Pangeran Kedua menemukan keberanian entah dari mana dan melompat maju, “Ayahanda, aku sudah sejak lama menaruh hati pada Suci Parish, Yun Shuang. Aku meminta Ayahanda untuk menikahkan kami!”

Sang Kaisar menyeringai dalam hati.

[Ada apa dengan hari ini? Semuanya berjalan beriringan dengan sempurna.] Ia sudah lama memikirkan cara untuk merebut Klan Yun kembali ke bawah kendali Klan Luo, demi memanfaatkan intrik penuh perhitungan dari Zhuo Fan, dan menggunakan kesempatan sempurna ini untuk melakukan hal tersebut.

Sang Kaisar mengangguk dalam hati, [Pekerjaan yang luar biasa, anakku!]

Lalu ia berucap, “Kebahagiaan datang dua kali hari ini, dengan Nona Shuang’er yang mengikat janji suci dengan putraku.”

Pangeran Kedua bersujud. Yun Shuang bergidik, merasa hancur, mencengkeram lengan Zhuo Fan lebih erat karena insting.

Dengan senyum penuh percaya diri, Zhuo Fan menatapnya dengan hangat, “Tidak apa-apa. Kau bersamanya sekarang. Hal itu tidak akan pernah berubah!”

Mata Yun Shuang memerah, namun hatinya kembali tenang. Terakhir kalinya ia merasa begitu tenang adalah ketika kakeknya masih hidup.

Gunakan ← → untuk pindah chapter