Hum~
Sebuah gelombang merah melesat keluar dari titik benturan. Ledakan mendadak itu menyapu seluruh area yang dicakupnya, menghancurkan apa pun dalam radius seratus mil menjadi debu dan menerbangkan pasir hingga menembus langit.
Kelompok pangeran kedua terlalu syok untuk menyadari pasir melayang yang mengubur mereka sedetik kemudian. Segala yang mereka kenal lenyap dalam sekejap mata.
Itu termasuk kediaman pangeran kedua yang membentang seluas delapan puluh mil serta bangunan-bangunan di sekitarnya.
Sebagai akibat dari tinju Zhuo Fan, seluruh ibu kota kekaisaran bergetar, hampir mencapai ambang kehancuran.
Di taman Istana Kekaisaran, sang kaisar sedang bermain catur ronde berikutnya bersama Sima Hui. Hanya saja kali ini, sang kaisar tidak begitu tenang. Dengan semua pihak yang mulai berdatangan ke ibu kota kekaisaran, bahkan sang kaisar pun merasa khawatir.
Gempa besar terjadi dan menjungkirbalikkan papan catur. Sang kaisar berseru, "Ada apa lagi sekarang?"
"Yang Mulia, kami hanya tahu bahwa itu berasal dari manor pangeran kedua!" Seorang pengawal melapor.
Sang kaisar memasang raut suram dan membentak, "Apa yang dilakukan si tua nomor dua kali ini? Pergi cari tahu!"
"Segera!" Pengawal itu bergegas pergi.
Sima Hui tertegun sejenak lalu menangkupkan tangan, "Yang Mulia, itu tadi bukan sekadar keributan kecil. Bolehkah saya pergi memeriksa keadaan pangeran kedua? Saya khawatir terjadi sesuatu yang buruk."
Sang kaisar melambaikan tangan mengusir sembari mendesah.
Sima Hui membungkuk dan melesat ke langit.
Di kediaman Perdana Menteri, seorang pria berpakaian hitam sedang berbisik di telinga Zhuge Changfeng. Namun, suara gemuruh yang tiba-tiba menghancurkan seluruh tembikar di sekitarnya. Zhuge Changfeng menatap sesaat, lalu mengejek, "Humph, anak muda zaman sekarang benar-benar bernali besar. Monster kecil itu tidak mudah dihadapi, bahkan bagiku. Tapi anak dungu itu malah pergi memprovokasinya? Ha-ha-ha, namanya juga anak sapi, bodoh dan naif. Kurasa pelajaran kali ini akan menjadi pelajaran yang kejam."
Zhuge Changfeng memejamkan mata dan senyum tipis terukir di bibirnya.
Sementara itu, di kediaman Lembah Neraka di ibu kota kekaisaran, You Wanshan dan para tetua sedang berada di sebuah ruangan kecil ketika bumi bergetar di bawah kaki mereka, meskipun hal itu sama sekali tidak meruntuhkan ketenangan mereka.
"Dia akhirnya bertindak... dan pada akhirnya dihancurkan..." You Wanshan mendesah.
Sejak lama mereka tahu bahwa pangeran kedua ingin merekrut Zhuo Fan ke pihaknya. Mereka bukanlah aliansi pertama pangeran kedua tanpa alasan. Mereka bahkan telah memberikan peringatan keras kepada si dungu itu. Zhuo Fan adalah sosok yang sangat berbahaya.
Namun pikir mereka, apakah si kepala batu ini mau mendengarkan nasihat yang benar? Hal itu justru hanya akan memancing amarahnya. Jadi, para rubah tua ini memilih menutup pintu rapat-rapat daripada harus berada di bawah kendali si buas itu seperti yang dialami pangeran kedua sekarang.
Tindakan Zhuo Fan begitu nyata dan jelas bagi semua orang.
You Wanshan menoleh ke arah You Ming, "Anak ini terlalu gegabah. Apakah kerja sama ini masih layak dilanjutkan?"
"Kita tidak punya pilihan, terutama ketika semua mata tertuju pada Kediaman Wali. Pion selalu menjadi pihak pertama yang tumbang, dan itulah yang akan terjadi jika kita terlalu dekat dengannya. Dari semua pangeran, pangeran sulung terlalu licik untuk dijadikan sekutu dan pangeran ketiga terlalu ceroboh. Tinggal pangeran kedua satu-satunya bidak yang tersisa dan masih ada gunanya. Keputusan ini dibuat untuk kita!" You Ming mendesah, "Kita berada di persimpangan jalan."
Para anggota Lembah Neraka ikut mendesah, [Bagaimana bisa kami begitu bodoh hingga berakhir seperti ini...]
Pihak-pihak lain juga menyadari keributan mencolok tersebut.
Si gemuk dan Putri Yongning sedang bergegas menuju kediaman pangeran kedua ketika gempa itu terjadi, disusul oleh gelombang pasir. Tekanannya begitu berat hingga membuat mereka kesulitan untuk sekadar bernapas.
Begitu debu mereda, Putri Yongning meniupnya pergi dengan embusan angin kencang, "Ibu kota kekaisaran adalah lanskap yang indah. Dari mana datangnya semua pasir ini?"
"Aku yakin anak nakal itu ada hubungannya dengan ini." Sambil memucat, si gemuk menyeka keningnya seraya mempercepat langkah dan bergumam, "Kuharap kita tidak terlambat. Katanya anak itu berniat menyiksa orang lain. Kuharap dia belum melancarkan aksinya."
Putri Yongning bertanya, "Kakak ketiga, apa kamu bilang sesuatu?"
"Jika kita terlambat, kita hanya akan melihat mayat kakak kedua. Tidak, bahkan mungkin tidak ada mayat yang tersisa. Demi Tuhan, apa yang merasuki kakak kedua hingga terus-menerus mengganggu pria itu?" Si gemuk menepuk jidatnya sendiri.
Putri Yongning tampak kebingungan, "Eh? Bukankah kita berniat menyelamatkan Zhuo Fan dan Yun Shuang? Kenapa justru kakak kedua yang berada dalam bahaya?"
"Humph, si monster itu tidak pernah butuh bantuan kita sejak awal. Apa kau pikir para algojo kakak kedua bisa menahannya? Entah seperti apa rupa kakak kedua nanti setelah Zhuo Fan selesai dengannya. Aku hanya berharap masih ada napas tersisa di dalam tubuhnya."
Si gemuk menggelengkan kepala dan Yongning tampak semakin kebingungan, "Maksudmu Zhuo Fan begitu hebat sampai-sampai meskipun dia korbannya, dialah yang menghancurkan kediaman kakak kedua? Dan dia bahkan tega membunuh seorang pangeran?"
"Oh, Yongning, hal-hal semacam ini berada di luar kapasitas otak cantikmu untuk memahaminya. Dunia ini penuh dengan kejahatan. Tapi Zhuo Fan adalah juaranya, kejahatan terbesar di antara semuanya. Tidak masalah jika kau tidak mencari gara-gara dengannya, tapi begitu kau melakukannya, semoga Tuhan menolongmu. Tidak ada batas rendah yang tidak akan ia lewati!"
Si gemuk mendesah, "Kau tahu Tuan Muda Pertama Kediaman Wali? Kau tahu betapa hebatnya dia? Nah, bahkan dia pun tidak bisa lolos, berakhir dengan mati diterkam oleh Zhuo Fan. Sejak saat itu, ungkapan 'kau boleh bermain-main dengan Raja Neraka tapi jangan pernah dengan Zhuo Fan' menyebar ke mana-mana."
Yongning mengedipkan mata indahnya. Namun, betapapun mengerikannya gambaran yang dilukiskan si gemuk, hal itu justru semakin mendorong rasa penasarannya untuk mencari tahu siapa sebenarnya Zhuo Fan.
[Aku jadi penasaran, siapa sebenarnya sosok penjahat terbesar ini hingga membuat seluruh dunia, bahkan para pangeran dan Kediaman Wali, takut kepadanya?]
Langkah kakinya semakin dipercepat, untuk menyelamatkan kakak kedua tentu saja, tetapi lebih dari itu adalah untuk melihat dengan mata kepala sendiri keanehan yang bernama Zhuo Fan.
Jalanan terlewati begitu saja dan keduanya tiba di tempat kejadian perkara dalam sekejap. Namun pemandangan di hadapan mereka membuat keduanya terperangah.
Mansion megah pangeran kedua sudah tak terlihat lagi, digantikan oleh hamparan pasir dan pasir.
Semua orang tertegun menatap padang pasir di jantung ibu kota kekaisaran yang makmur itu.
Dua sosok terlihat di tengah lautan pasir yang luas, Zhuo Fan dan Yun Shuang. Gadis itu bahkan berdiri di atas sebuah ubin lantai, seolah-olah agar tidak mengotori kecantikannya.
Kendati demikian, perubahan lanskap yang mendadak itu bahkan membuat mulut Yun Shuang ternganga lebar.
Ia akhirnya menyadari. Pelayan Zhuo bukan sekadar jahat, melainkan sebuah bencana. Seseorang yang keberadaannya memang ditakdirkan untuk menyiksa orang lain!
Mata Yun Shuang memancarkan ketegasan saat ia menatap pria itu.
Ugh~
Erangan terdengar dari para pengawal saat kepala mereka menyembul keluar dari timbunan pasir. Mereka memucat melihat dunia pasir di sekeliling mereka dan berteriak, "Yang Mulia! Di mana Yang Mulia?"
Hal pertama yang dilakukan Zhuo Fan adalah memamerkan senyum jahat khasnya lalu berjalan santai menuju bagian pasir yang datar. Ia memasukkan tangannya dan menarik sesuatu. Hasil panennya: seorang manusia berwajah pucat pasi.
Dan bukan sembarang orang, melainkan pangeran kedua sendiri, Yuwen Yong.
Hanya saja pria itu kini mengenakan pakaian yang robek-robek dengan tatapan kosong terpancar di wajahnya. Tanpa sikap angkuhnya yang biasa, ia tampak lebih mirip seperti pengungsi yang menggigil ketakutan.
"Pangeran kedua!" Para pengawal berteriak, namun langsung terdiam begitu melihat tatapan dingin Zhuo Fan.
Zhuo Fan tersenyum dan mengguncang tubuh sang pangeran seperti sehelai kain compang-camping, "Kau ingin takhta itu, kan? Hi-hi-hi, mimpi yang indah sekali. Lihat bagaimana aku akan merontokkan harga dirimu, mencambukmu di jalanan ibu kota kekaisaran, dan menimpakan segala penghinaan yang bisa dibayangkan kepadamu. Pangeran seperti itu tidak akan pernah bisa mendapatkan takhta, karena dia tidak memiliki kehormatan lagi untuk dibanggakan, kecuali... dia adalah satu-satunya penerus yang tersisa..."
Zhuo Fan menyipitkan mata, seolah-olah ia sedang memberikan pelajaran. Pangeran kedua gemetar bagai daun tertiup angin, kepalanya ikut bergetar, "T-tidak, aku mohon, kumohon jangan lakukan ini padaku. Atau aku tidak akan pernah bisa menjadi pangeran lagi..."
"Kakak, tolong kabulkan permintaanku dan lepaskan kakak kedua."
Sebuah tawa ringan bergema. Zhuo Fan langsung mengenali pemilik suara itu, menatap bola lemak yang sedang menggelinding mendekat, "Ha-ha-ha, si gemuk, kau memang saudara yang patut diacungi jempol! Aku yakin kau sudah tahu bagaimana temperamenku sekarang, namun kakak kediamanmu ini punya keberanian untuk menculikku!"
Zhuo Fan menutup kalimatnya dengan dua tamparan keras di wajah pangeran kedua, begitu kuat hingga pria itu memuntahkan dua buah gigi dan darah. Kemudian ia melanjutkan dengan nada jahat standarnya, "Aku hanya berniat mengikatnya dan mengaraknya keliling jalanan. Lagipula, aku hanya mencoba membantu. Entah ide bodoh dan dungu apa lagi yang akan dipikirkan oleh bajingan lain untuk melawan ku berikutnya. Aku bukan orang yang sabar dan aku tidak berminat menghadapi mereka satu per satu."
Si gemuk mengangguk, "Kakak Zhuo, aku mengerti. Dunia ini penuh dengan orang-orang bodoh dan gegabah, tapi dia adalah kakak keduaku. Kumohon lepaskan dia. Kau sudah memberinya pelajaran sebagai contoh, kan? Ha-ha-ha..."
"Ya, kau mengubah kakak kedua menjadi berwajah seperti ini, dan meratakan rumahnya. Bukankah itu sudah cukup sebagai pembalasan?" Putri Yongning merengut, melotot ke arah Zhuo Fan meskipun ia tidak bisa sepenuhnya memasukkan kebencian ke dalam hatinya.
Ia bahkan tampak memihak Zhuo Fan. Dengan menyebut kata 'pembalasan', ia sebenarnya sedang membenarkan tindakan Zhuo Fan.
Si gemuk bergidik dan memutar bola matanya.
Ia tahu Yongning tidak sungguh-sungguh mengatakannya, namun ia tetap merasa nelangsa. [Dia adalah kakak keduamu sementara kau baru melihat Zhuo Fan beberapa kali saja. Apa yang kau lakukan dengan mencarikan alasan bagi orang luar untuk menghancurkan keluargamu sendiri?]
[Jangan-jangan kau sudah jatuh cinta padanya?]
Chapter 373 · 6m baca
The Worst Evil
by Night Owl
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter