“Baiklah anak muda, ini adalah resep rahasia dari Aula Raja Pil. Aku telah mempelajarinya dengan keras selama bertahun-tahun, namun cara kerjanya tetap berada di luar pemahamanku. Kau mungkin memiliki sedikit keahlian yang lumayan dalam alkimia, tetapi mustahil bagimu untuk menembus misterinya hanya dalam sekilas pandang.”
Menangkap apa yang tersirat di dalam pikirannya, Bibi Tao menggelengkan kepalanya. Ia kemudian menoleh kepada Chu Qingcheng, “Gadis, kau tidak datang ke sini semata-mata demi dirinya, bukan?”
Pipi Chu Qingcheng merona merah lalu membungkuk seraya menceritakan detail kejadian di perjamuan tersebut secara lengkap. Bibi Tao berteriak kaget.
“Apa, bahkan Perkumpulan Bupati juga datang? Ah, ini pasti sudah takdir…”
Sambil meratap ke langit, Bibi Tao menyeka air mata yang mengering di sudut matanya dan bergumam, “Chuchu, apa yang berencana kau lakukan selanjutnya? Apakah kau akan membiarkan mereka menghancurkan Gedung Bunga yang Hanyut? Atau kau akan memohon kepada Yang Terhormat untuk bertempur sampai titik darah penghabisan melawan mereka?”
Yang Terhormat!
Zhuo Fan mengangkat sebelah alisnya dalam pikirannya.
Masing-masing dari Tujuh Keluarga Bangsawan memiliki Yang Terhormat mereka sendiri. Mereka adalah kultivator Alam Radiant, garis pertahanan terakhir mereka. Mereka tidak akan pernah meminta campur tangan seorang Yang Terhormat kecuali bencana besar melanda.
Ini mengonfirmasi bahwa Gedung Bunga yang Hanyut berada di ambang kehancuran.
Jika dipikir-pikir, berhadapan dengan pakar Alam Radiant lainnya kemungkinan besar akan berakhir dengan terlukanya Yang Terhormat milik Perkumpulan Bupati selama beberapa dekade. [Kurasa ini adalah cara lain untuk memperlambat penaklukan mereka.]
“Saudari Chuchu, mintalah Yang Terhormat untuk turun tangan dan beri tahu mereka bahwa kita akan melawan mereka habis-habisan. Gedung Bunga yang Hanyut bukanlah taman bermain mereka.” Zhuo Fan memrovokasi, semakin kacau situasinya, semakin baik pula baginya.
Chu Qingcheng menggelengkan kepalanya, matanya memancarkan ketegasan, “Meminta bantuan Yang Terhormat akan memicu perang di antara ketujuh keluarga. Kekaisaran akan terjatuh ke dalam perang saudara dan rakyat akan jatuh ke dalam keputusasaan. Hatiku tidak sanggup menanggungnya. Jika Gedung Bunga yang Hanyut runtuh, kami, para saudari, akan berpisah jalan, tetapi jika terjadi perang, Gedung Bunga yang Hanyut pasti akan kalah dan para saudari ku akan binasa bersamanya. Sebagai seorang Pemimpin, aku tidak bisa mengabaikan nasib mereka.”
“Sekarang aku mengerti mengapa Nenek memilihmu, yang paling tidak memenuhi syarat, sebagai Pemimpin meskipun ditentang dengan suara bulat.” Bibi Tao mengangguk dengan senyum tipis.
Zhuo Fan, di sisi lain, memutar bola matanya, [Dasar sekumpulan orang berhati lembek!]
Jika itu adalah dirinya, dia akan memecah belah lalu menaklukkan mereka, menyerang secara terbuka maupun sembunyi-sembunyi, menyebarkan pembantaian di mana-mana dan menjungkirbalikkan kekaisaran. Di situlah peluangnya berada, untuk bangkit di atas kegilaan itu. [Aku lebih baik memunggungi dunia daripada membiarkan dunia memunggungi aku!]
Jalan kultivator iblis sangatlah kejam dan penuh ambisi, di mana setiap orang saling menginjak untuk mencapai puncak.
Sayangnya, Chu Qingcheng bukanlah seorang kultivator iblis. Sifat baik hatinya sama sekali tidak cocok untuk ini, sangat kontras dengan sifat berani Zhuo Fan!
“Dan ada para pengawas yang diracuni oleh anjing tua itu…”
Chu Qingcheng menatap Bibi Tao dengan cemas, “Inilah mengapa aku ingin meminta Bibi Tao untuk turun tangan dan melindungi Akar Bodhi! Mungkin satu-satunya kesempatan kita untuk mendapatkan penawarnya adalah jika kita memberikannya sebagai tebusan…”
“Kau berencana membuatku berhadapan dengan pria terkutuk itu dalam hal alkimia?”
Bibi Tao seolah-olah baru saja mendengar lelucon terbesar, tertawa terbahak-bahak seperti orang gila. Namun di balik kegilaannya itu, tersembunyi secercah kepedihan.
“Qingcheng, lihatlah aku. Dalam usahaku mengurai Telapak Awan Pelangi miliknya, aku sekarang bukan lagi manusia maupun iblis. Apakah kau pikir keahlianku yang lemah ini sudah cukup untuk menang?”
Dengan hati yang pedih, Chu Qingcheng membisikkan sesuatu ke telinga Bibi Tao.
Mata Bibi Tao berbinar lalu mengerti, “Begitu ya, begitu ya. Jadi itu yang kau rencanakan. Tapi… apakah itu akan berhasil?”
Mata Chu Qingcheng menunjukkan tekad bulat, anggukannya begitu tegas, “Kalau begitu aku akan mati dengan kematian yang layak!”
“Jadi itulah alasan mengapa kau membawa anak ini.”
Sambil menghela napas, Bibi Tao menepuk pundak Chu Qingcheng dengan penuh kasih sayang. Ia kemudian memasang ekspresi serius saat menatap Zhuo Fan, “Nak, kemarilah dan bersujudlah kepada Nenek ini tiga kali!”
Zhuo Fan merasa kebingungan, [Nenek? Yang mana?]
Mengikuti arah jarinya, ia mendapati bahwa yang dimaksud adalah sesosok mayat hidup!
Ia masih belum paham, tetapi sesosok mayat tetap harus diberi penghormatan, pikirnya. Jadi bersujud bukanlah masalah besar. Maka dari itu, Zhuo Fan berlutut dengan santai dan membenturkan kepalanya ke tanah.
Saat melakukannya, ia menyadari Chu Qingcheng berlutut di sampingnya, melakukan sujud yang sama khidmatnya.
“Bagus! Ritualnya selesai!”
Zhuo Fan masih kebingungan saat Bibi Tao berteriak, dan memintanya untuk berlutut sekali lagi.
Kali ini, ia menolaknya. Awalnya ia tidak paham apa yang sedang terjadi, tetapi sekarang ia harus berlutut lagi kepada perempuan tua sialan ini? Namun tatapan tajam Chu Qingcheng tidak menyisakan pilihan lain bagi Zhuo Fan.
[Sialan, aku sekarang adalah Song Yu dan hanya bisa pasrah berlutut.]
Bibi Tao dan Chu Qingcheng menyadari sorot matanya yang penuh keangkuhan lalu menggelengkan kepala.
Selanjutnya, Bibi Tao mulai menceritakan ajaran dari leluhur Gedung Bunga yang Hanyut, beserta sejarah mereka yang telah berusia seribu tahun. Zhuo Fan sama sekali tidak tertarik mendengarkan ocehan yang tidak masuk akal itu.
Namun di pertengahan cerita, Zhuo Fan mulai menaruh perhatian.
Ternyata Gedung Bunga yang Hanyut dan Aula Raja Pil berada dalam aliansi yang erat, yang sering kali menikahkan murid dari satu pihak dengan pihak yang lain.
Selain itu, Telapak Awan Pelangi milik Aula Raja Pil tidaklah sekuat itu di masa lalu. Namun berkat Gedung Bunga yang Hanyut yang menyediakan Getah Giok Bodhi, jurus itu perlahan-lahan meningkat, menjadi seperti sekarang ini, yang ditakuti oleh ketujuh keluarga besar.
Belakangan, karena pasangan suami istri dari Aula Raja Pil dan Gedung Bunga yang Hanyut bertengkar, yang berujung pada pertarungan. Hal itu berakhir dengan sang suami menggunakan Telapak Awan Pelangi pada istrinya, dan sang istri yang dipenuhi amarah kembali pulang ke Gedung Bunga yang Hanyut.
Gedung Bunga yang Hanyut awalnya tidak menganggapnya serius, menggunakan Getah Giok Bodhi untuk menyembuhkannya. Namun mereka terkejut saat mendapati Getah Giok Bodhi, yang dapat menyelamatkan seseorang dari ambang kematian, ternyata tidak efektif.
Sejak saat itu, Gedung Bunga yang Hanyut menyadari keseriusan situasi tersebut. Racun Aula Raja Pil sudah tidak terkendali sehingga mereka memutuskan pasokan Getah Giok Bodhi.
Hal ini membuat Aula Raja Pil murka dan sejak saat itu kedua kekuatan tersebut menjadi musuh bebuyutan.
Hingga seratus tahun yang lalu, Aula Raja Pil terus meneror Gedung Bunga yang Hanyut dan membunuh 8 pengawas dengan Telapak Awan Pelangi. Bahkan para Pemimpin tidak luput dari sasaran, dengan dua di antaranya turut menjadi korban.
Keluarga kekaisaran menutup mata atas perseteruan mereka. Bagaimana mungkin tidak? Aula Raja Pil adalah pihak yang menyuplai pil untuk mereka.
Keadaan sampai pada titik di mana Aula Raja Pil mendesak Gedung Bunga yang Hanyut hingga hampir hancur beberapa kali!
Satu hal yang harus diakui. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.
Pada saat Gedung Bunga yang Hanyut sangat membutuhkan pertolongan, seorang wanita aneh muncul, Chu Bijun. Tidak lain dan tidak bukan adalah mayat hidup yang berbaring di dalam es abadi.
Selain kuat, ia juga sangat bijaksana. Di satu sisi, ia memukul mundur serangan Aula Raja Pil, dan di sisi lain, ia menjalin hubungan dengan keluarga lain melalui pernikahan, memperluas kekuatan mereka. Hal ini menyebabkan Aula Raja Pil menderita kekalahan telak yang tak terhitung jumlahnya selama abad terakhir.
Semua orang di ketujuh keluarga besar harus mengagumi keahlian wanita ini. Mereka semua menyadari bahwa tanpa dirinya, tidak akan ada Gedung Bunga yang Hanyut hari ini.
Bahkan Aula Raja Pil pun harus mengakuinya.
Orang-orang menjulukinya Wanita Besi, sementara para murid Gedung Bunga yang Hanyut memanggilnya Nenek. Ia sama sekali bukan Pemimpin Gedung, tetapi ia telah mendampingi tiga generasi Pemimpin, menjaga Gedung Bunga yang Hanyut tetap kokoh.
Sangat disayangkan Wanita Besi itu akhirnya jatuh ke dalam tipu muslihat musuh.
Satu dekade lalu, Raja Pil Kejam memiliki tiga pengawas di bawah kendalinya. Mereka mengkhianati gedung dan meminta bantuan. Chu Bijun pergi untuk menyelamatkan mereka, hanya untuk jatuh ke dalam perangkap.
Meskipun terluka parah dan diracuni oleh Telapak Awan Pelangi, ia masih berhasil lolos dari kepungan mereka.
Mereka selalu mengira Aula Raja Pil berada di balik semua ini, tetapi sekarang mereka tahu bahwa itu adalah ulah Perkumpulan Bupati selama ini.
Kondisinya sangat mengkhawatirkan sekembalinya ia, hanya tinggal berjarak satu napas dari kematian. Di saat-saat menjelang ajalnya itu, ia mengambil keputusan yang berani dan radikal.
Untuk menjadikan Chu Qingcheng sebagai Pemimpin Gedung, mewariskan jabatannya kepada seorang gadis yang baru berusia 13 tahun, dengan Pengawas Iris dan Peony di sisinya. Keputusan ini menuai ketidaksukaan dari banyak pengawas.
Namun mereka hanya bisa menanggungnya dalam diam di hadapan keagungan Nenek mereka. Mengingat apa yang terjadi, sekutu terpercaya Chu Qingcheng adalah Pengawas Iris dan Peony.
Seiring berjalannya waktu, orang-orang mulai mengira Nenek telah meninggal, padahal kenyataannya Bibi Tao membekukannya di ambang napas terakhirnya dan mengubahnya menjadi mayat hidup!
Ini mengakhiri sejarah menyedihkan dari Gedung Bunga yang Hanyut.
Chu Qingcheng menyeka matanya dan mengenang masa-masa itu seraya menatap sang Nenek.
Bibi Tao menatap Zhuo Fan dengan tegas, “Nak, apakah kau memahami semuanya?”
Zhuo Fan mengangguk, “Ya!”
“Bagus. Sekarang, giliranmu untuk mewariskannya! Gedung Bunga yang Hanyut tidak akan pernah mati selama masih ada seseorang yang mengingatnya!” Ia tertawa dan membantu Zhuo berdiri sebelum menyatukan tangan lembutnya dengan tangan Chu Qingcheng.
“Hanya untuk beberapa hari… jaga diri kalian!”
Bibi Tao berjalan menuju dinding gua dan mulai bermeditasi.
Zhuo Fan hendak meminta penjelasan ketika Chu Qingcheng menariknya menghadap Nenek. Ia membungkuk sekali lagi dan pergi tanpa menoleh ke belakang.
Dengan suara gemuruh, pintu batu tertutup dan susunan formasi aktif kembali.
“Saudari Chuchu, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Zhuo Fan dengan bingung. Ia tidak mengerti mengapa Chu Qingcheng mencegahnya berbicara dan malah membawanya untuk mendengarkan sejarah mereka.
Chu Qingcheng menggelengkan kepalanya dan menampilkan senyuman tipis namun hangat, “Mulai sekarang, panggil aku Chuchu saja, atau Qingcheng!”
“Eh…”
Zhuo Fan mengerjap. Ia sama sekali tidak mengerti apa maksud Chuchu, namun tatapan wanita itu membangkitkan sesuatu yang asing di dalam hatinya.
“Bodoh!”
Chu Qingcheng menggandeng tangannya sambil melanjutkan, “Kau sekarang adalah bagian dari kami. Ayo, aku akan mengajakmu menemui para anggota keluargaku.”
Chapter 121 · 7m baca
Grandmother
by Night Owl
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter