The Steward Demonic Emperor - Chapter 1117 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 1117 · 5m baca

Devil Palace

by Night Owl

Tanpa melepaskan pandangan dari mereka, mata Shangguan Feiyun memancarkan kilatan kehausan darah. Namun, tendangan barusan memberitahunya bahwa lawannya bukanlah orang sembarangan—lawan yang memiliki tingkat kekuatan yang sama dengannya.

Ia mengacungkan dua jarinya, memfokuskan energi pedang yang pekat di ujung jari-jarinya hingga langit pun bergemuruh dibarengi sambaran petir. Ia mulai serius.

"Siapa pun kau, karena berani menghadapiku, kematian adalah satu-satunya hal yang akan kau dapatkan!"

Para pelarian itu bergidik. Begitu seorang ahli tingkat Raja Pedang mengamuk, mereka hanya akan menjadi debu yang diterbangkan angin akibat auranya saja.

"Ha-ha-ha, hebat sekali sikapmu itu, Raja Pedang Feiyun. Aku mungkin tertipu yang terakhir kalinya, tetapi aku bukan lagi anak kecil. Masih terlalu dini untuk menebak bagaimana pertarungan kita akan berakhir!"

Pemuda itu menyeringai dan tulang-tulang di kepalan tangannya bergemelatup saat ia menegangkannya, memunculkan pendar merah.

Shangguan Feiyun tampak bingung, "Pernahkah kita bertemu? Kenapa aku tidak bisa mengingatmu? Sebenarnya siapa kau?"

"Huh, kau pasti sudah pikun, Raja Pedang Feiyun. Apa kau sudah lupa dengan kebencian yang lahir dari tindakanmu yang melukaiku?"

"Aku telah membunuh lebih banyak orang dari yang bisa kuhitung, hampir tak ada yang bisa lolos dariku. Aku bisa mengingat mereka yang pernah kulukai, tetapi aku tidak mengingatmu. Apa kau luput dari perhatianku, merangkak keluar dari balik tumpukan mayat?"

"He-he-he, tebakanmu benar. Aku memang merangkak melewati kematian demi menemuimu hari ini untuk menyelesaikan ini semua!"

Pemuda itu mengulurkan tangan dan melemparkan pria bertubuh besar itu ke arah para pelarian, "Pergilah, Raja Pedang dan aku punya urusan lama yang harus diselesaikan!"

"Begitu cepat? Pikirkan lagi! Kalian semua akan mati di sini!" Shangguan Feiyun meraung dan melancarkan serangan yang telah ia siapkan, "Tak ada yang bisa menghentikan Seni Pedang Membumbungnya!"

Bum!

Diiringi gemuruh ribuan sambaran petir, energi pedang dari atas mulai menghujani bersamaan dengan gelombang pedangnya. Pemandangan kiamat itu mengancam untuk mendatangkan akhir dunia.

Semua orang panik, lutut mereka gemetar, jantung mereka berdegup kencang.

Pendar merah pemuda itu meledak dengan aum buas yang dahsyat, menghantam dengan tinju besinya. Pendar merah itu menjelma menjadi sesosok makhluk purba dan aneh, yang terus membesar hingga mencapai langit.

Bum~

Tinju itu menghantam gelombang pedang yang datang, dan ruang di sekitarnya bergetar hebat, seolah dunia akan lenyap. Yang tersisa hanyalah kepulan debu yang tebal.

Para pelarian dan para ahli Genesis terpaksa memuntahkan darah akibat hantaman yang luar biasa itu, dengan cepat terluka dan kesakitan. Mereka bertahan hidup hanya seutas benang saja.

Mereka cukup beruntung karena gelombang kejut itu tidak berlanjut dan tirai debu pun turun.

Begitu bulan menghiasi medan perang dengan cahayanya, orang-orang tertegun bisu.

Shangguan Feiyun dan pemuda itu berdiri di tempat yang sama tanpa goresan sedikit pun di tubuh mereka. Hanya ruang di sekitar mereka yang terus melengkung, tak mampu menemukan keseimbangan.

Ini adalah pertarungan yang imbang, tanpa ada yang berhasil mendominasi. Mereka berdua mengerahkan seluruh kemampuan, namun kelompok di belakang mereka masing-masing masih hidup.

Mereka adalah satu-satunya yang terluka dalam kejadian ini, namun sekarang mereka menelan ludah karena terkejut, darah mereka terasa dingin.

Keduanya sangat kuat secara tidak masuk akal, membuat semua orang di sekitar mereka tampak seperti bagian dari pemandangan belaka, tidak penting dan tidak ada artinya. Kedua belah pihak hanya butuh sedikit saja tambahan kekuatan untuk melenyapkan mereka dari muka bumi.

Rasa takut yang dirasakan oleh para ahli Genesis saat itu begitu besar hingga mata mereka tampak hampir keluar dari rongganya karena terkejut. Mereka sama sekali tidak tahu organisasi apa yang mereka incar ketika datang ke sini untuk menangkap orang-orang ini. Bagaimana mungkin ada orang yang bisa menandingi Raja Pedang mereka?

Tidak ada gunanya mengejar lagi, bukan? Mereka bahkan tidak bisa menginterogasi mereka, apalagi saat bos muda yang tangguh ini ada di sini.

Shangguan Feiyun sama terkejutnya, merasakan sakit kepala mendadak dan hatinya terasa tenggelam.

Penyelidikannya terhadap faksi tersembunyi itu telah berlangsung selama bertahun-tahun, tetapi baru hari ini ia mendapat kesempatan untuk menyentuh mereka. Dalam mimpi terliarnya pun ia tidak menyangka mereka akan mengirimkan seseorang dengan kekuatan sebesar itu.

Lebih parahnya lagi, usianya masih muda.

Shangguan Feiyun merasakan hawa dingin merayapi tulang belakangnya, rasa tidak nyaman mulai menguasainya.

Pemuda itu menyeringai, "Shangguan Feiyun, seratus tahun telah berlalu namun tak ada kemajuan yang terlihat. Aku bahkan meminta untuk memimpin sisi ini agar aku bisa bertarung melawanmu. Tapi sekarang, ha-ha-ha, ternyata jauh lebih mudah dari yang kukira."

Pemuda itu menoleh ke belakang dan tersenyum, "Bukankah sudah kubilang untuk pergi tadi? Aku akan terus bertarung melawan Raja Pedang dan kalian hanya akan terseret ke dalamnya."

"Eh, oh..."

Orang-orang itu terlonjak lalu mengangguk-angguk sebelum kabur melarikan diri.

Shangguan Feiyun murka dan langsung mengejar, "Kalian tidak akan bisa kemana-mana!"

Bam!

Pemuda itu langsung muncul untuk memaksanya mundur dengan sebuah tendangan.

"Raja Pedang Feiyun, lawanmu adalah aku, he-he-he..." ejek pemuda itu.

Shangguan Feiyun sangat marah, terlebuh lagi karena ia tahu tidak bisa berbuat apa-apa terhadap seseorang yang memiliki kekuatan setara. Para tetua yang dibawanya berniat mengejar para pelarian, tetapi sekilas tatapan di mata pemuda itu memperingatkan mereka untuk mengurungkan niat.

Seorang ahli tingkat Raja Pedang bisa merenggut nyawa mereka begitu saja dalam sekejap.

Raja Pedang Feiyun tampak muram, matanya memerah saat melihat serangga-serangga itu berlarian kabur sementara ia tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan mereka. Ia meraung melampiaskan frustrasinya yang kian menumpuk, melampiaskannya kepada pemuda itu. Ia menerjang maju dan melepaskan gelombang pedang demi gelombang pedang.

Bang~

Bumi bergemuruh sejauh ribuan mil di bawah hujan serangan yang berat. Para pelarian sempat melirik ke belakang dengan rasa penasaran untuk melihat nyala api yang gemilang terpantul di mata mereka, diliputi rasa kagum yang mendalam.

"Saudara Lei, tindakan kita memasuki istana ini adalah keputusan yang tepat. Kekuatan kita melampaui apa pun yang pernah kita bayangkan." Salah satu dari mereka meneteskan air mata dan berbicara dengan penuh kebanggaan, "Dengan para pelindung istana, para Raja Seni, yang memiliki kekuatan sebesar itu, aku hanya berharap kita bisa sekilas melihat Penguasa Istana yang dihormati!"

Pria-pria itu mulai bersemangat dan penuh harapan.

Bang~

Sambil menjitak kepala mereka, pria bertubuh besar itu menyeka darah di mulutnya dan mengutuk, "Sadarlah! Penguasa Istana tidak akan muncul hanya karena kalian ingin melihatnya. Aku seorang tetua dan aku bahkan belum pernah melihatnya. Dialah yang akan melihatku jika itu terjadi, bukan kalian."

"Oh, benar, Saudara Lei benar, ha-ha-ha..." Para pria itu terkekeh, menyambut fajar yang datang dengan penuh harapan.

"Saudara Lei, apa kau sempat mendengar desas-desus yang menyebar di seluruh dunia itu? Awalnya aku menganggapnya omong kosong, tetapi semakin aku memikirkannya, semakin aku merasa itu benar..."

Pria bertubuh besar itu tertegun dan menatapnya dengan takjub, lalu senyumannya pecah menjadi tawa lepas.

"Saudara-saudara, kita hanya akan menemukan kejayaan bersama Penguasa Istana, ha-ha-ha..."

Bang~

Gemuruh masih bergema di belakang mereka, sementara pemuda itu dan Shangguan Feiyun telah berbenturan ratusan kali hingga saat ini. Mereka berdua terengah-engah dan masih saling melotot tajam.

Melihat matahari terbit menyinari daratan, pemuda itu memperkirakan orang-orang itu pasti sudah jauh sekarang dan tersenyum seringai sambil melambaikan tangan ringan, "Shangguan Feiyun, kita akhiri sampai di sini saja. Mari bertarung lagi lain kali. Dadah, ha-ha-ha..."

Pemuda itu berubah menjadi pendar merah dan melarikan diri.

"Berhenti di situ!"

Shangguan Feiyun meraung dengan mata memerah, tetapi yang bisa ia lakukan hanyalah melampiaskan kemarahannya dengan gerakan tangan.

[Sebenarnya dari mana asal faksi tersembunyi ini?]

"Lapor!"

Sebuah teriakan mencapainya saat seorang pengawal manor membungkik, menyerahkan sehelai batu giok, "Tuan Raja Pedang, Perdana Menteri memanggil Sepuluh Raja Pedang ke ibu kota kekaisaran untuk membahas cara menghadapi Istana Iblis yang baru-baru ini semakin berkembang di setiap wilayah!"

"Istana Iblis?"

Shangguan Feiyun mengerutkan kening, menatap arah tempat pemuda tadi melesat pergi, "Istana Iblis lainnya muncul? Sebenarnya apa benda ini?"

Jika Anda menemukan kesalahan (konten tidak standar, pengalihan iklan, tautan rusak, dll.), beri tahu kami agar kami dapat segera memperbaikinya.

Laporkan

Gunakan ← → untuk pindah chapter