[Apa?!]
Qiao’er bergidik ngeri, memandangi sosok Zhuo Fan yang membeku di dalam es dan Sanzi muda di atas salju yang bernapas dengan lemah.
"He-he-he, apa yang perlu dipikirkan, burung Phoenix Petir kecil?"
Suara Sea Ao terdengar membius, "Kau sendiri yang bilang, hanya ada lima makhluk suci agung, bahwa kita adalah satu keluarga. Qilin itu akan mati bersama dengan Qilin muda ini. Sementara manusia kotor itu telah memanfaatmu. Jelas sekali bukan. Kau hanya perlu mengangguk dan aku akan mencincang mayatnya menjadi berkeping-keping. Dengan begitu Qilin itu bisa diselamatkan, ha-ha-ha..."
Qiao’er gemetar kaku, matanya memerah saat ia tercekat, "Tidak, dia ayahku. Aku tidak ingin dia mati."
"Kurasa kau lebih memilih menyelamatkan manusia itu ketimbang Qilin?"
Tawa mengejek Sea Ao kembali bergema, menikmati penderitaan Qiao’er dan merajut kebohongan, "Kalau begitu, bawalah manusianya sementara aku akan menyantap Qilin muda untuk makan malam, he-he-he..."
"Bagaimana bisa? Kau juga makhluk suci. Bagaimana bisa kau mencelakai saudara..."
"Dan apa kau bukan? Lalu kenapa kau lebih memilih manusia daripada dia?"
"Aku..."
Qiao’er terdiam, tidak mampu menjawab saat ia memandang ayah dan adiknya dengan rasa sakit dan duka yang mendalam.
Syuuu~
Empat sosok tiba-tiba melintas di hadapannya, dipimpin oleh pendekar terbaik di alam fana, Pedang Tak Tertandingi.
Melihat hamparan putih di mana-mana dan es yang tak bertepi, Baili Yuyun tampak bingung, "Aneh sekali, kita sudah berlarian menembus kabut tanpa henti. Di mana kita berakhir kali ini? Kenapa ada dunia di dalam kabut hitam? Patriark, apakah Anda tahu sesuatu tentang tempat ini?"
"Rasanya tidak asing. Sepertinya aku pernah mendengarnya sekali."
Baili Yutian mengerutkan kening, tampak sama bingungnya dengan salju dan es di sekitarnya, namun kemudian ia menyadari seseorang.
Ia melesat lurus ke arah Qiao’er dengan para Raja Pedang di belakangnya.
"Gadis kecil, kenapa kau sendirian? Di mana Tuan Zhuo?"
Bibir Qiao’er bergetar, menunjuk dengan mata berkaca-kaca dan suara yang lemah, "Di sana."
Mereka berempat terkesiap saat melihat Zhuo Fan yang terbungkus es.
[Apa-apaan ini? Apa yang terjadi pada Tuan Zhuo? Dan...]
Mereka kemudian menunduk dan menyadari es laut di bawah mereka menahan banyak sekali jasad.
Baili Yuyun menoleh ke arah Qiao’er dengan panik, "Gadis, kau yang ingin datang ke sini, kan? Kalau begitu kau pasti tahu di mana kita berada!"
"A-Ayah menyebutnya Gunung Es." Qiao’er berjuang untuk berbicara di tengah rasa sakitnya, "Begitulah sebutan orang-orang."
[Salah satu dari tiga zona bahaya, Gunung Es?]
Sss~
Baili Yuyun tersentak, jantungnya seolah copot saat berita itu membuatnya ketakutan setengah mati.
Semua orang tahu bahwa tidak ada seorang pun yang pernah keluar hidup-hidup dari tiga zona bahaya, dan sekarang mereka justru terjebak di salah satunya.
Ketiga Raja Pedang kini juga mulai menitikkan air mata, meratapi nasib mereka. Pantas saja gadis yang biasanya lancang dan angkuh itu mendadak menjadi begitu penurut dan hancur. Siapa pun pasti akan menangis di tempat terkutuk ini.
Namun, Pedang Tak Tertandingi justru merasa situasinya cukup menarik, "Ha-ha-ha, aku sudah berkeliaran selama ribuan tahun tapi tidak pernah sekalipun tersesat ke zona bahaya, baru sekarang aku mengalaminya. Sebenarnya apa yang membuat tempat ini begitu buruk sampai disebut zona bahaya?"
"Gadis, memangnya apa yang berbahaya dari tempat ini?"
Baili Yuyun menangkap maksudnya dan berbalik bertanya kepada Qiao’er. Di tempat seburuk ini, tidak tahu apa yang mungkin menyerang mereka adalah bahaya terbesar.
Qiao’er mendengus sambil menunjuk ke arah Zhuo Fan.
Dengan kata lain, 'itulah bahayanya, jadi berhati-hatilah.'
Baili Yuyun mengangguk paham dan bertanya, "Bagaimana Tuan Zhuo bisa berakhir seperti itu?"
Dari penampilannya, Gunung Es membuat seseorang sangat mudah untuk disegel.
[Masalahnya adalah bagaimana caranya.]
Qiao’er adalah satu-satunya yang melihat kejadian itu menimpa Zhuo Fan, jadi para Raja Pedang mengesampingkan persaingan mereka dan ikut bertanya.
"Huh, ini sudah pasti ulah Heaven Sealing Sea Ao keparat itu!"
"Heaven Sealing Sea Ao, makhluk apa itu?"
"Setan Laut Utara." Qiao’er memutar bola matanya dengan mendengus kesal.
Ketiga orang itu berseru kaget.
[Setan laut telah menyegel keparat licik itu!]
Mata Baili Yutian bersinar, hasrat bertarungnya kembali berkobar. Ia melihat sekeliling dan berteriak, "Setan laut, aku sudah lama mendengar tentangmu dan datang untuk menantangmu!"
"Patriark..."
Para Raja Pedang tampak tegang melihat sang Pedang Tak Tertandingi, butir-butir keringat mengalir di pelipis mereka.
Setan laut itu terkenal karena kekejamannya, dan menantangnya tanpa mengetahui kekuatannya adalah tindakan yang gegabah.
[Patriark, Anda baru saja selesai bertarung melawan makhluk imperial tingkat 9 dan sedang kelelahan. Keadaan Anda hanya akan semakin buruk jika ternyata setan laut itu berada di tingkat yang sama.]
[Lebih baik Anda beristirahat selama beberapa hari lalu menantangnya lagi demi peluang menang terbaik...]
Orang kuat memiliki dorongan yang besar untuk menantang yang lebih kuat. Pedang Tak Tertandingi dijuluki demikian karena ia telah melewati tak terhitung banyaknya pertarungan mematikan, namun selalu keluar sebagai pemenang.
Di mana letak tantangannya jika bertarung dalam pertarungan yang sudah pasti menang?
Pria tua itu juga memiliki tempramen yang buruk, ia begitu bersemangat untuk terjun langsung ke medan pertempuran melawan setan laut, terlepas dari seberapa besar kekuatannya, "Setan laut, akulah yang terkuat di lima daratan, Pedang Tak Tertandingi. Tunjukkan dirimu sekarang, atau apakah kau takut? Ha-ha-ha, kalau begitu seharusnya kau lari kembali ke laut, bukan malah naik ke daratan!"
"Hi-hi-hi, orang dusun memang yang paling tidak tahu apa-apa."
Suara mengerikan Sea Ao berderak, "Aku sudah mengubah kalian semua menjadi berkeping-keping jika bukan karena penghalang penyegel surga itu. Sekarang seseorang datang untuk memamerkan mulut besar mereka? Kalian benar-benar berniat mati!"
Mata Baili Yutian bersinar, bertekad untuk bertarung bagaimanapun caranya, "Siapa pun bisa bicara, tapi hampir tidak ada yang bisa membuktikan ucapannya dan bertarung denganku. Berhenti bersembunyi seperti pengecut dan banyak bicara. Itulah cara orang lemah!"
"Kau menyebut dirimu kuat? Hi-hi-hi..."
Heaven Sealing Sea Ao tertawa semakin keras, "Manusia bodoh, jika kau kuat, jangkrik dan serangga seharusnya mati karena malu, ha-ha-ha..."
Wajah Baili Yutian berubah dingin, ia menghunus Pedang Pembelah Surga sambil berteriak, "Setan laut, cukup bicara omong kosong. Tunjukkan wajahmu jika kau berani, agar aku bisa membunuhmu!"
"Pedang Pembelah Surga?"
Setan laut itu menjerit, "Jadi begitu, kau adalah pewaris Pedang Pembelah Surga."
Baili Yutian berbicara dengan dingin, "Aku telah menggunakan teknik Pedang Pembelah Surga selama ribuan tahun, hingga mencapai kesempurnaan. Takut?"
"Ha-ha-ha, takut? Ilmu pedang itu tidak bisa melukai ku. Yang seharusnya takut adalah burung Phoenix Petir kecil itu. Kelima senjata dewa itu mungkin terlihat mengintimidasi tapi tidak memiliki pengaruh apa pun di wilayahku. Manusia, seharusnya kau tidak membawanya serta, hi-hi-hi..."
Baili Yutian tampak bingung.
"He-he-he, rupanya kau tidak tahu. Pedang itu memang sakti, namun kekuatanmu tidak mampu mengeluarkan potensi penuhnya. Agar pedang dewa itu bisa menahan kami, mereka membutuhkan batu suci. Sekarang, kau tidak lagi memiliki kesempatan itu!"
"Apa maksud ucapanmu itu?"
Baili Yutian berteriak.
Rgemuruh~
Dunia bergetar dan pegunungan es serta salju di kejauhan runtuh. Itu seperti pertanda bahwa sesosok iblis sedang mencakar jalan keluar dari neraka.
"Kalian akan tetap tinggal di sini, bersama dengan pedangnya, hi-hi-hi..."
Gemuruh itu semakin intens, seolah dunia hendak hancur berkeping-keping. Bahkan Baili Yutian mulai berkeringat, jantungnya mencelos.
Di luar wilayah tersebut, Ouyang Lingtian, Murong Lie, dan Shangguan Feixiong menggunakan pedang dewa mereka sebagai obor untuk menangkal kabut hitam yang menghalangi majunya langkah mereka, masing-masing memancarkan cahaya terang.
Wajah ketiganya memerah dan gigi mereka mengatup rapat, tubuh mereka tegang saat mengerahkan seluruh tenaga.
Dengan ledakan tiba-tiba, seluruh kabut meledak, gelombang kejutnya melemparkan ketiganya ke belakang dan menggoncang organ dalam mereka hingga batuk darah. Pedang dewa dari tangan mereka terlepas dan jatuh ke dalam kabut.
"Pedang kita!"
Mereka berteriak sia-sia. Pedang-pedang itu telah lenyap dan mereka terlalu lemah untuk mengejar. Mereka bahkan tidak berdaya untuk menghentikan gelombang kejut yang melemparkan mereka hingga menabrak bangunan-bangunan sampai akhirnya mereka pingsan...
Chapter 1091 · 5m baca
Choice
by Night Owl
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter