“Qingcheng, aku di sini sekarang.”
Mengabaikan segala kebingungan, harapan, dan ketakutan yang mengarah kepadanya, Zhuo Fan hanya merasa iba pada wanita lembut di dekatnya yang sedang menggigil. Ia memegang bahunya dengan ringan, menariknya ke dalam pelukan, dan menghiburnya dengan lembut.
Chu Qingcheng bersandar padanya dan perlahan-lahan menjadi tenang, membuat yang lain kagum, berada dalam kedamaian.
Zhuo Fan adalah tempat bersandarnya. Bahkan saat kesadarannya tumpul, hatinya sama sekali tidak mengenal rasa takut ataupun khawatir saat berada di sisi Zhuo Fan.
Wajah Baili Jingtian berkedut, marah atas sikap Zhuo Fan yang terang-terangan tidak menaruh rasa hormat.
Baginya, sikap Zhuo Fan sangat tidak tertahankan, sebuah penghinaan terang-terangan terhadap kedudukannya.
Dengan latar belakang pendidikan Putra Mahkota yang luas, ia bisa menoleransi sikap sombong dari orang bodoh yang pongah dan mengabaikannya. Hal semacam itu, masih bisa ia lakukan.
Namun, Zhuo Fan sama sekali tidak memandangnya, dan bahkan langsung mencoret mereka sebagai orang yang sudah mati. Sungguh tidak masuk akal dan keterlaluan!
Cemoohan santai Zhuo Fan yang berpura-pura tidak mengingat namanya sudah cukup membuat emosi, tetapi sekarang ia dibuat murka oleh ketidakpedulian mutlak dari pria itu.
Tentu saja, sebuah cemoohan bisa membuat bulu kuduk berdiri, setidaknya orang itu sedang menatapmu. Namun sekarang, untuk apa mengejek jika bahkan melirik saja tidak sudi?
Namun, melalui sikap Zhuo Fan yang penuh perhatian dan pemikiran matang, Baili Jingtian menyadari bahwa pria itu hanya memusatkan perhatian pada kekasihnya.
[Dia bukan sekadar mengejekku, tapi sama sekali tidak menganggapku ada nilainya!]
Ia adalah putra mahkota terbaik di negeri ini, Baili Jingtian.
[Beraninya kau bahkan tidak menghadapku?]
Putra mahkota bukan sekadar pangeran, melainkan kebanggaan Kekaisaran Bintang Pedang, dan juga memiliki kelemahan yang sama—tidak sanggup menerima penolakan.
Ia juga cukup bijak untuk tidak membiarkan kemarahan mengaburkan penilaiannya, terutama mengingat trik menghilang Zhuo Fan dan kemampuannya melenyapkan Baili Jinggang dalam sekejap secara bersamaan. Ia harus memahami seluk-beluknya terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan gegabah apa pun.
Kekuatan Zhuo Fan membuatnya merasa terancam, jadi kewaspadaan adalah suatu keharusan. Membunuh pangeran terkuat di bawahnya dalam sekejap seharusnya sudah cukup menjadi alasan untuk bersikap hati-hati, bukan?
[Raja Pedang Hujan Dingin melaporkan kepada Leluhur bahwa keparat itu memiliki kekuatan tingkat Penyelarasan Jiwa. Kebohongan yang sangat mematikan!]
Namun sekali lagi, itu memang mematikan bagi saudara kedua, meski bukan tanpa hasil, karena kematiannya menjadi bermakna dengan mengungkap kemampuan aneh musuh.
[Jika aku yang harus menghadapi hal itu, kerugiannya akan sangat tragis!]
Baili Jingtian menggerutu dalam hati, lalu memberi isyarat kepada pangeran-pangeran lainnya.
Mereka mengangguk, berbalik ke arah Zhuo Fan, dan langsung menyerangnya secara bersamaan dari berbagai arah. Tangan mereka memancarkan gelombang pedang petir, membidik Zhuo Fan dan gadis itu.
Zhuo Fan tidak bisa menghindari serangan tersebut, tidak dalam situasi seperti ini. Namun, memblokirnya juga tidak akan lebih mudah, karena jumlah mereka terlalu banyak dan beberapa pasti akan mampu mendaratkan telak saat ia sibuk menangkis yang lain.
Skenario terbaik dalam situasi ini adalah melarikan diri, bukan sekadar berlari, melainkan berkedip menghilang dari pandangan seperti yang ia lakukan sebelumnya.
Dan dengan Baili Jingtian yang mengawasinya bagaikan elang, begitu pria itu memahami seluk-beluk jurus tersebut, riwayat Zhuo Fan akan tamat.
Bagaimanapun juga, kemenangan sudah pasti di tangan Baili Jingtian!
Menyeringai licik atas rencana cerdiknya, Baili Jingtian mengangkat jarinya yang memancarkan gelombang pedang, ingin memanfaatkan kelemahan Zhuo Fan saat ia bergerak untuk menghabisinya di tempat itu juga.
Zhuo Fan, di sisi lain, memiliki hal yang lebih penting untuk dilakukan daripada memikirkan trik picik Baili Jingtian dan serbuan para pangeran yang datang ke arahnya—yaitu memperhatikan Chu Qingcheng dengan penuh kasih.
[Masih dengan ketidakpedulian mencolok yang sama!]
Ouyang Changqing, sebaliknya, justru semakin bercucuran keringat semakin dekat musuh itu mendekat. Zhuo Fan adalah garis hidupnya, penyelamatnya!
“Kakak sulung, Saudara Zhuo, Tuan Zhuo! Iblis-iblis Baili itu datang untukmu, menghindar lah!”
Zhuo Fan memegang pinggang ramping Chu Qingcheng, bersenandung pelan seolah sedang bernyanyi untuk seorang anak kecil.
Wusy~
Kedelapan pakar itu sudah berada dalam jarak lima meter darinya dalam hitungan detik.
“Tuan Zhuo, jangan bertindak gegabah! Ini bukan waktunya untuk bermesraan! Kau harus menunda kencan sampai kau aman! Kumohon?”
Ouyang Changqing menjerit panik.
Zhuo Fan tetap mendekap Chu Qingcheng erat-erat, menampilkan senyum penuh kasih sambil bersenandung di dekat telinganya.
Yang lain tidak begitu khawatir, mereka hanya bisa menghela napas, “Saudara Zhuo, seorang pria yang hatinya sedingin balok es kini bisa mencair setiap kali berada di dekat Junior Qingcheng. Aku sungguh tidak percaya dia bahkan tega bersenandung untuk Junior Qingcheng hanya untuk menenangkan hatinya yang terkejut.”
“Persetujuan macam apa ini! Ini bukan waktunya bermesraan!”
Ouyang Changqing mengumpat, wajahnya merosot sementara air mata mulai menggenang, “Aku tahu kenapa kalian mengeluhkan sikapnya yang sembrono. Di saat-saat seperti ini, dia hanya memedulikan istrinya. Bukankah seharusnya dia melakukan itu setelah masalah ini beres? Tidakkah dia sadar bahwa jika dia mati, tidak akan ada harapan lagi bagi kita semua? Terutama diriku, aku juga ingin bermanja-manja dengan istriku, aku hanya butuh kesempatan. Bisakah dia tidak merampas kesempatan ini dariku?”
Ouyang Changqing merengek kepada Murong Xue.
Murong Xue merona merah dan memalingkan muka, “Aku jauh lebih baik mati di sini dan sekarang!”
Ouyang Changqing menghela napas.
[Kakak Xue, kau bahkan tidak akan setuju denganku meski dalam kematian? Sebenarnya kenapa…]
Wusy~
Para pangeran itu tinggal berjarak satu meter dari Zhuo Fan, namun ia tetap tidak peduli, terus mendekap Chu Qingcheng.
Baili Jingtian merasa ada yang aneh.
[Kenapa dia tidak bergerak? Apakah dia benar-benar ingin mereka menyerangnya? Tidakkah dia peduli pada istrinya yang bodoh itu? Siapa pun akan kesulitan bergerak jika harus melindungi sesuatu.]
[Apakah dia benar-benar yakin bisa menghadapi mereka delapan orang sekaligus bahkan dengan beban pelindung seperti itu? Bahkan aku pun tidak bisa melakukannya, jadi bagaimana mungkin dia…]
Mata Baili Jingtian bergetar tak percaya, namun ia tetap mengamati, tidak ingin melewatkan apa pun. Adapun mereka yang terluka, mereka juga ikut menonton dengan penuh kekhawatiran.
Kematian Zhuo Fan berarti kematian mereka juga. Kelangsungan hidup Zhuo Fan berarti mereka masih bisa melihat hari esok.
Wusy~
Sosok bayangan melesat ke depan seraya mengulurkan jarinya untuk menembakkan gelombang pedang ke arah Zhuo Fan.
“Itu pangeran ketiga!” teriak Murong Xue, “Dia berada di bawah putra mahkota dan pangeran kedua, tapi dia tetap sangat kuat!”
“Dialah orang yang menahanku sebelumnya!” Ouyang Changqing menimpali, “Saudara Zhuo tidak bisa melawan sekarang, tidak dengan…”
Bugh!
Tujuh gelombang pedang lainnya meluncur ke arah Zhuo Fan, sebuah serangan yang pasti akan melumpuhkan Zhuo Fan begitu serangan itu mendarat.
Semua orang menegang, mengepalkan tangan mereka yang basah oleh keringat.
Sekarang atau tidak sama sekali. Sedikit saja terlambat, Zhuo Fan akan berubah menjadi ceceran darah di tanah.
Merasakan bahaya pada detik terakhir, Zhuo Fan berhenti bersenandung dan ekspresinya mengeras.
[Terlalu sedikit, dan sudah terlambat!]
Pangeran ketiga menyeringai, hanya butuh satu inci lagi bagi serangannya untuk mencapai pinggang Zhuo Fan dan menembus tubuhnya.
Pangeran ketiga tersenyum lebar dengan rasa percaya diri tinggi atas kemenangan yang sudah di depan mata.
[Kepalanya adalah milikku! Leluhur akan memberiku hadiah yang sangat besar, ha-ha-ha…]
Wusy~
Angin dingin tiba-tiba bertiup, membuat pangeran ketiga sangat kebingungan.
[Darimana datangnya niat membunuh itu?]
Ia mendapati mata dingin Zhuo Fan menatapnya bagaikan menatap orang mati, sebuah tatapan yang membuatnya menggigil.
Pangeran ketiga begitu dekat dengan kemenangan, namun justru merasa seperti mangsa. Tatapan tajam Zhuo Fan terasa begitu menindas, bagaikan sabit maut di lehernya yang rapuh.
Zhuo Fan hanya menatapnya, mengabaikan tujuh penyerang lainnya, “Keparat, beraninya kau mendekati Qingcheng? Mati!”
Ledakan susulan yang terjadi membuat udara dalam radius seribu meter di sekitar Zhuo Fan bergetar hebat saat jilatan api hitam bercampur petir meledak ke segala arah, menyelimuti kedelapan orang itu dan menelan mereka bulat-bulat.
“Mata Dewa Kehampaan tahap ke-4, Penghancur Ruang Petir-Api!”
Mata kanannya memancarkan empat lingkaran cahaya keemasan sementara mata kirinya memuat api petir hitam yang mengamuk. Zhuo Fan berada di pusat kobaran api yang menderu-deru namun tetap memeluk Chu Qingcheng dengan sangat hati-hati sambil bersenandung.
Ia mungkin sangat lembut di dekat Chu Qingcheng, tetapi sangat kejam kepada yang lain—iblis sejati. Siapa pun yang mendekat akan dilahap…
Chapter 1067 · 5m baca
Devour
by Night Owl
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter