The Steward Demonic Emperor - Chapter 1066 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 1066 · 5m baca

A Punch’s Dominance

by Night Owl

“Bodoh sok suci yang hanya tahu cara bersandakwara dan menipu sekarang kedoknya sudah terbongkar, namun masih bersikeras mempertahankan perannya sampai akhir? Ha-ha, Tuan Zhuo, ini benar-benar tidak ada gunanya.”

Niat membunuh berkilat di mata Baili Jingtian. Ia menyeringai sambil memberi isyarat kepada Baili Jinggang, “Namun, aku sedang tidak ingin meladanimu. Kepalamu adalah milikku! Kakak, si istri bodoh itu sudah tidak berguna lagi, bereskan dia!”

Baili Jinggang mengangguk tegas dan tertawa. Sambaran petir berderak di sekujur tubuhnya saat ia menghantamkan kepalan besar ke arah Chu Qingcheng.

Sambil menyeringai keji, gelombang pedang Baili Jingtian akhirnya tumbuh begitu luar biasa kuat. Ia menoleh ke belakang ke arah Zhuo Fan, “Bukankah kau tadi begitu sombong dalam bersandiwara? Istrimu sebentar lagi akan terkena hantaman itu hingga hancur berkeping-keping, dan apa yang bisa kau lakukan? Tidak ada! Apa yang masih bisa kau pamerkan, ugh…”

Tepat saat ia hendak melepaskan gelombang pedangnya, gerakannya terhenti. Ia menatap tak percaya ke arah tempat Zhuo Fan berdiri tadi, yang kini sudah kosong.

[Ke mana dia pergi?]

Whoosh~

Wajah Baili Jinggang berkedut saat tinjunya yang perkasa mencapai Chu Qingcheng. Angin kencang yang ditimbulkannya mengibarkan rambut putih gadis yang lemah itu.

Kemudian, sesuatu yang berwarna merah melintas entah dari mana, berdiri di hadapan Chu Qingcheng dan menyambut serangan Baili Jinggang.

[Apa itu tadi?]

Mata Baili Jinggang bergetar karena terkejut.

Kilatan itu datang begitu tiba-tiba hingga ia tidak sempat melihatnya jelas, namun ia tidak terlalu peduli.

[Istri bodoh itu pasti memiliki semacam senjata spiritual pelindung.]

Namun ia sangat yakin bahwa tidak ada yang tidak bisa diatasi oleh tubuh tempaan petir miliknya. Bagaimanapun, ia mampu menembus senjata spiritual tingkat 7 sekalipun.

Ia berteriak, melipatgandakan sambaran petir di kepalannya saat ia mendesak maju.

Bam!

Tinju itu menghantam pendar merah tersebut, melepaskan gelombang kejut yang kuat, namun ia segera menyadari bahwa itu bukanlah senjata spiritual pertahanan, melainkan sebuah kepalan tangan berdaging sewarna darah.

Baili Jinggang justru semakin percaya diri. Siapa pun yang menyerangnya, jumlah orang yang mampu menahan tubuhnya yang sangat keras itu bisa dihitung dengan sebelah tangan. Ye Lin sudah cukup menjadi makhluk mengerikan, tapi pemuda itu kini terkapar di tanah dengan sekujur luka. Ia tidak percaya akan ada kultivator tubuh luar biasa lainnya di sini.

Adalah hal yang logis untuk berpikir bahwa monster adalah barang langka, atau bagaimana mungkin orang lain bisa bertahan hidup jika mereka begitu lumrah?

Sambil menggelengkan kepala dan memasang senyum garang, Baili Jinggang merasa bersemangat saat ia bersiap meremukkan penyusup yang tidak tahu diri itu, “Ha-ha-ha, bodoh, kau melawanku dengan tubuhmu? Kau mencari mati. Akan kuenyahkan kau!”

“Sayang sekali, kaulah yang akan mengalami nasib itu!”

Meskipun monster memang makhluk langka di dunia ini, ia telah menabrak batu karang yang sangat keras kali ini. Dari dalam pendar merah itu, terdengar balasan dingin atas keyakinannya yang tanpa batas.

Baili Jinggang mengerjap saat terdengar suara retakan mengerikan dari hadapannya.

Yang menyusul kemudian adalah rasa sakit luar biasa yang membebani jantungnya. Tubuhnya tersentak, lalu ia dibanjiri keringat dingin.

[Bagaimana ini mungkin?]

Baili Jinggang diliputi oleh pusaran emosi yang bercampur aduk.

[Bagaimana… siapa?! Bagaimana bisa sebuah kepalan tangan begitu kuat? Apakah itu masih terbuat dari darah dan daging?]

Matanya bergetar hebat. Baili Jinggang menatap dengan tercengang saat pendar dari kepalan merah itu mereda, menampakkan tatapan mematikan milik Zhuo Fan, “Menjauhlah dari istriku, keparat!”

Kepalan merah itu bergetar dan melepaskan gelombang kuat yang meledakkan lengan Baili Jinggang yang diselimuti petir, menyebabkan tulang, darah, dan daging beterbangan ke segala arah.

Tatapan Baili Jinggang kosong. Baru sekarang ia merasakan bahwa tidak ada apa-apa di tempat lengan kokohnya seharusnya berada.

Kecemasan itu kemudian datang, semakin diperparah oleh tatapan kejam Zhuo Fan. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa akan ada seseorang di luar sana yang mampu menghancurkan tubuh yang telah ia tempa melalui berbagai tempaan berat.

[Apakah dia masih manusia?]

Jantung Baili Jinggang mencelos. Mundur sekarang adalah hal yang mustahil, terlebih ketika ia begitu percaya diri pada tubuhnya sendiri hingga ia mengerahkan seluruh tenaga dalam serangan tadi.

Saat matanya dipenuhi rasa takut dan keterkejutan, momentum membawa Baili Jinggang yang kini kehilangan satu lengan mendekati pendar merah itu menuju ajalnya, semuanya akibat tindakannya sendiri.

Boom!

Baili Jinggang bertabrakan dengan kepalan tangan itu dalam sebuah dentuman hebat dan hancur berkeping-keping. Suara cipratan yang memuakkan terdengar saat mayatnya menghantam tanah—bahkan sebelum ia sempat mengeluarkan teriakan kepedihan terakhirnya. Sementara itu, kekuatan pukulan tersebut melesat ke depan, merobek apa saja sejauh seratus mil.

Awan debu yang besar mengepul sementara tanah terus bergemuruh tanpa henti.

Baru pada saat itulah para penonton bereaksi. Mereka menoleh ke arah keributan yang tiba-tiba itu dan mendapati angin liar bertiup di tempat Chu Qingcheng dan Zhuo Fan berdiri.

Adapun Baili Jinggang, ia kini telah menjadi genangan darah di tanah, menyuburkan rerumputan di bawahnya.

Keduanya telah melakukan bentrokan dahsyat antara tubuh-tubuh terkeras, dan hasilnya terungkap lebih cepat dari perkiraan, dengan tubuh Baili Jinggang yang langsung hancur seketika.

Kejadian itu begitu cepat hingga tak seorang pun di sini yang sempat bereaksi atau melihat bagaimana akhir yang mengerikan dari Baili Jinggang yang perkasa itu terjadi.

“Kakak!”

Para pangeran berteriak kaget, menatap Zhuo Fan dengan pandangan penuh ketakutan dan kebingungan.

[Bagaimana mungkin dia bisa mencapai kakak dalam sekejap? Dan kekuatan macam apa yang telah menghancurkan kakak begitu telak, padahal ia adalah orang nomor dua setelah Putra Mahkota?]

[Namun yang lebih penting, bagaimana dia membunuhnya tanpa memberi kita waktu sedikit pun untuk menyaksikannya? Itu hanya bisa berarti kekuatannya…]

Semua pangeran menoleh ke arah sang putra mahkota yang masih terpaku, wajahnya menggelap, “Dia ternyata bukan sekadar penipu ulung. Tapi bagaimana dia melewati delapan pangeran? Apakah kecepatan begitu luar biasa, bahkan melampaui kecepatan milikku?”

Baili Jingtian mengepalkan tangannya, hatinya diliputi ketegangan dan kewaspadaan.

Kelompok Murong Xue di tanah tidak kalah terpukaunya. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikan oleh matanya.

[Apakah ini yang dimaksud oleh Ye Lin? Apakah ini kekuatan sejati sang iblis? Ini sangat berbeda dari apa yang kuahdapi saat itu. Cepat, tajam, kejam, langsung menghabisi pangeran kedua di tempat.]

Ia teringat kembali pada saat ia menghadapi Zhuo Fan di Kota Galefrost, di mana Zhuo Fan dengan sengaja menerima serangannya untuk membalas budi.

Murong Xue menggertakkan giginya karena rasa penasaran.

[Sejak kapan aku membutuhkan iblis itu untuk mengampuniku demi membasmi kejahatan dari dunia ini? Ini benar-benar tidak masuk akal…]

“Hei, Kakak Ye Lin, apakah Tanah Barat memang penuh dengan makhluk seperti dewa?”

Ouyang Changqing merasa kesulitan untuk menerima kenyataan ini. Ia menepuk bahu Ye Lin sambil menuntut jawaban, “Bagaimana sialnya kau bisa melatih murid terbaik di Tanah Barat? Kau sendiri sempat berbenturan dengan Baili Jinggang dan dia tidak bergeming sama sekali. Kenapa sekarang dia malah tewas hanya dalam sedetik? Hei, katakan sesuatu! Bukankah kau tadi sedang membual? Apakah kau benar-benar bertarung melawan monster ini demi gelar murid terbaik Tanah Barat dan hanya kalah tipis?”

Mata Ye Lin berkedut, telinganya berdenging mendengar rentetan tuntutan dari si bodoh yang sombong itu. Namun, saat ia menatap Zhuo Fan, ia menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala, “Qilin memiliki kekuatan terbesar di antara para makhluk suci. Kakak sulung kini telah belajar menggunakan lengan Qilin sebagai bagian dari tubuhnya sendiri. Sekarang, bahkan aku pun tidak akan mampu menahan lengan itu. Bagaimana bisa aku tertinggal begitu jauh hanya dalam beberapa tahun saja?”

Ye Lin menggelengkan kepalanya dengan perasaan masygul.

Ouyang Changqing merasakan hal yang sama, meskipun pikirannya dipenuhi oleh berbagai umpatan liar.

[Kakak Ye, kau begitu cemerlang bagai matahari namun kau tidak pernah bisa menandingi kemilaunya. Malang sekali nasibmu.]

[Kilau rembulan tidak akan pernah bisa tertutupi!]

[Untung saja tidak ada monster seperti itu di Tanah Utara, kalau tidak, hatiku pasti akan hancur karena cemburu.]

[Meskipun di tengah bahaya yang mengancam ini, semakin kuat Kakak Zhuo ini, maka semakin baik. Setidaknya kita bisa selamat dari semua ini, he-he-he…]

Mata Ouyang Changqing berbinar penuh harapan saat menatap Zhuo Fan dengan penuh antisipasi.

[Kakak Zhuo, hidupku yang malang nan hina serta kebahagiaan masa depanku kini berada di tanganmu. Selamatkan aku dan saudari Xue, dan aku tidak akan pernah melupakan kebaikan tak bertepatan ini yang telah kau limpahkan kepadaku…]

Gunakan ← → untuk pindah chapter