Arena itu hancur berantakan seolah-olah baru saja dibom.
Anggota tim pembersihan yang melangkah masuk ke dalam auditorium tak kuasa menahan rasa tercengang mereka.
"......Sebenarnya apa yang terjadi di sini?"
"Katanya ada seorang Awakened yang diduga mengamuk—tampaknya dia benar-benar meratakan tempat ini."
"Dari informasi yang kami dengar sebelumnya, dia seharusnya sudah berhasil ditundukkan, sih..."
Seorang anggota mendongak menatap arena yang hancur berkeping-keping dan menelan ludah dengan susah payah.
"...Yang mana pelakunya?"
Para anggota berbisik-bisik sambil saling bertukar pandang.
Mereka dapat melihat sesosok tubuh tergeletak tak bergerak di salah satu sudut arena, dan seorang pria lain terkapar di tengah, terpisah dari sosok pertama.
Dan di atas dada pria yang terkapar itu, seorang pria tampak duduk dengan santainya, seolah-olah dia sedang bersantai di atas sofa.
Seorang anggota menunjuk ke suatu tempat.
"Pasti itu orangnya, kan?"
"Sepertinya begitu."
Pria yang tergeletak sendirian itu pastilah korbannya, dan pria yang sedang ditindih itulah si pelaku yang mengamuk—tentu saja.
"Begitu kalian sampai di lokasi, akan ada seseorang di sana yang membantu kalian memegang komando."
'Itu pasti sekutu yang disebutkan oleh Ketua Asosiasi.'
Pemimpin tim menaiki tangga arena.
Dan menyambut Sahyeon dengan sopan santun yang kaku.
"Terima kasih atas kerja samanya. Bagaimana kondisi si pelaku yang mengamuk?"
"Seperti yang bisa kalian lihat."
Sahyeon menggerakkan dagunya ke arah sosok yang tergeletak sendirian di kejauhan.
"...Hah?"
Pandangan mereka beralih bersamaan, mengikuti arah dagu Sahyeon.
Seorang bocah lelaki terbaring sendirian, tak sadarkan diri.
'Dia tidak menindih si pengamuk—melainkan melemparnya ke sana? Kalau begitu, siapa orang yang sedang ia duduki sekarang?'
Pertanyaan itu melintas sejenak, namun begitu melihat belenggu Kristal Mana di pergelangan tangan Yugwon, para anggota segera bergegas menghampiri Yugwon.
Saat Yugwon diserahkan ke dalam tahanan para anggota tim, pandangan salah seorang anggota tanpa sadar melirik ke bawah.
Pria yang baru saja diduduki Sahyeon beberapa saat lalu.
"Eh...?"
'Rasanya wajah itu tidak asing.'
Kening anggota itu mengerut.
Mengamati wajah yang berlumuran air mata dan lendir itu, mata sang anggota tak lama kemudian dipenuhi rasa kaget.
Pria itu—mustahil.
"...Bukankah itu sang Rektor?!"
Itu adalah wajah yang telah ia lihat berkali-kali di media.
Ia bahkan sempat menonton klip saat sang Rektor tampil di acara bincang-bincang terkenal untuk sebuah wawancara belum lama ini.
Itu benar-benar Rektor Akademi, seorang tokoh penting dari jajaran Hunter Generasi Pertama.
Pandangan para anggota tim langsung terpusat.
"Oh, benar juga...?"
"Rektor berhasil dihabisi?!"
Jika dilihat dari dekat, kondisinya bahkan tampak lebih parah daripada Yugwon.
Jika Yugwon hanya mengalami luka lecet kecil yang terlihat, sang Rektor justru...
"Khk..., ...krgh..."
Mengeluarkan busa dari mulutnya, mata mendelik ke atas, dan seluruh anggota tubuhnya gemetar.
'Sebenarnya sekejam apa si pengamuk itu menghajarnya...!'
Tepat saat para anggota tertegun bisu menyaksikan kengerian kekuatan si pelaku yang mengamuk—
Sahyeon membersihkan sarung tangannya dan berkata santai.
"Dia terus kehilangan kendali dan meracau tak jelas, jadi aku memberinya sedikit pelajaran."
Ternyata pria inilah, bukan si pengamuk, yang telah melakukannya?!
Dan dengan kondisi pria itu yang tampak seperti baru saja disiksa secara mengerikan, ia menyebutnya "pelajaran"...
Rahang para anggota tim langsung jatuh menganga.
"I-ini tidak apa-apa?"
Sambil saling berbisik pelan dan membaca situasi, pemimpin tim membasahi bibirnya yang kering lalu bergumam lirih.
"...Dia adalah orang yang dijamin oleh Ketua Asosiasi, jadi sebaiknya kita tidak ikut campur lebih jauh."
Sebenarnya siapa pria ini, hingga Ketua Asosiasi begitu mempercayainya?
Pertanyaan demi pertanyaan terus bermunculan, namun sang pemimpin tim secara insting tahu bahwa ia tidak boleh menggali lebih dalam lagi.
Seorang anggota buru-buru menundukkan kepala dan menyahut.
"K-kalau begitu, kami akan membawa Rektor ke ruang kesehatan juga."
"Tidak."
Sahyeon memotong dengan tegas.
"Serahkan dia kepada Departemen Investigasi Asosiasi."
"...Maaf?"
"Kenapa harus ke Departemen Investigasi..."
Bukan diobati, malah ditangkap?
Para anggota memiringkan kepala mereka.
"Catatan kriminalnya cukup memukau."
Sahyeon mengangkat sebelah alisnya dan membeirkan daftar itu dengan datar.
"Sebagai permulaan, mengatur hasil pertandingan, memalsukan laporan Gate, dan perdagangan ilegal Kristal Mana."
"Dan kalau aku menggali lebih jauh lagi, daftarnya mungkin tidak akan pernah habis."
Mata para anggota melebar.
Mereka bertukar pandang sejenak, lalu langsung mengangguk bersamaan.
"Baik, dimengerti."
"Kami akan segera melaporkannya kepada Ketua Asosiasi juga."
Seorang anggota buru-buru mengeluarkan Pembatas baru.
KLIK-
Belenggu penekan mana dipasangkan ke pergelangan tangan sang Rektor.
"Aku akan hidup jujur...... Khk, aku minta maaf......"
Suara penuh iba meluncur keluar dari bibirnya yang bergetar.
Kedua anggota yang menyeret Rektor itu mengerutkan kening.
'Bukankah ini... kalimat persis yang selalu diucapkan oleh para bajingan yang dikurung di Penjara Hunter?'
Keduanya memikirkan hal yang sama tetapi tidak sanggup mengucapkannya dengan suara keras.
Pemandangan menyedihkan dari punggung Rektor saat ia diseret pergi, kedua lengannya dicengkeram sementara kakinya terseret di lantai.
Barulah setelah itu Sahyeon berjalan santai meninggalkan tempat itu.
'Bikin repot saja urusannya, orang ini.'
Ia memutar pergelangan tangannya ringan dan melangkah keluar dari auditorium.
Begitu berada di luar pintu, sebuah bangunan menjulang tinggi tampak tak jauh dari sana.
"Ayo kita bereskan mereka satu persatu."
Berdenyut.
"Ngh."
Gyeol, yang berbaring gelisah dalam tidurnya, terbangun dengan jeritan tanpa suara.
Bahkan setelah menelan ramuan pemulihan, rasa pegal akibat pertandingan tadi masih terasa di seluruh tubuhnya.
Gyeol merengutkan wajahnya dan membenamkan kepalanya ke bantal.
Tepat saat ia mencoba kembali memejamkan mata—
Bisik-bisik, berbisik-bisik.
Kebisingan kacau yang datang dari balik tirai membuat matanya sama sekali tak bisa terpejam.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi......"
Gyeol menyibak tirai putih itu dengan kasar.
SRET-!
"...Hah?"
Dan begitu melihat pemandangan di hadapannya, ia mengedipkan matanya dengan hampa untuk beberapa saat.
Gyeol telah dipindahkan langsung ke ruang kesehatan Akademi setelah pertandingannya usai.
Ruang perawatan darurat itu tadinya benar-benar kosong—bahkan sangat sunyi—tepat sebelum ia jatuh tertidur, tapi...
"Pasien lain berdatangan!"
"Tolong tangani yang ini dulu!"
"Lima penawar racun lagi ke sini, tolong!"
Sekarang tempat itu sudah berubah menjadi kekacauan total.
Penuh sesak hingga hampir meledak.
"...Ada apa dengan semua ini tiba-tiba?"
Apakah ia masih setengah sadar...?
Apa yang sebenarnya terjadi dalam waktu singkat saat ia tak sadarkan diri?
'Apakah ada Gate yang jebol di Akademi atau semacamnya?'
Gyeol menyipitkan matanya dan mengamati seisi ruangan.
Mulai dari orang-orang yang merosot di lantai sambil meracaukan hal-hal tak bermakna, hingga orang-orang yang mual dan berteriak kesakitan.
Mereka semua memiliki satu kesamaan.
Tidak ada luka yang terlihat, namun terkulai lemas dengan pandangan mata yang kosong.
Gyeol, berusaha keras mencerna situasi.
Saat itulah ia melihat orang-orang baru saja masuk ke ruang darurat.
"Guru Haeseong!"
Melihat wajah-wajah yang dikenalnya, Gyeol melompat turun dari ranjang dan berlari menghampiri.
"Ah, Siswa Gyeol!"
Haeseong menoleh karena terkejut.
"Bagaimana dengan luka-lukamu?"
"Aku baik-baik saja, tapi..."
Gyeol menghentikan ucapannya, mengamati kelompok Haeseong dengan wajah bingung.
"Oh, Gyeol-hyung, kau ada di sini?"
"Hyung, kau tidak apa-apa...?"
Euno dan Jaeyun, serta Lee Yuwol yang mengekor di belakang mereka dengan ekspresi sangat masam.
'Kalau yang ini aku paham, tapi...'
Kenapa senior itu bersama mereka?
Melihat Taejun membaur di antara mereka begitu natural, Gyeol memiringkan kepalanya.
'...Kenapa dia malah bersama kelas kita—tim lawan—alih-alih kelas seni beladirinya sendiri.'
Sementara itu, setelah menyuruh mereka menunggu di sini sebentar, Haeseong menghilang entah ke mana.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?"
Gyeol melontarkan pertanyaan yang sarat dengan ratusan keraguan.
Euno membuka mulutnya seolah-olah ia sudah lama menunggu saat itu.
"Huft~ jangan tanya deh! Aku sama si Kwon Taejun ini lagi tanding spar, terus tiba-tiba Guru bangun dari tempat duduknya!"
"...Kau mulai menjelaskannya dari situ?"
Taejun berkata canggung.
"Guru Yeom Sahyeon melakukannya?"
Gyeol mengerutkan kening.
'Terus apa maksudnya itu.'
Gyeol menoleh ke kiri dan kanan menatap yang lain, seolah meminta penjelasan yang benar.
Yuwol mengabaikannya mentah-mentah seperti biasa, dan Taejun hanya menutup rapat mulutnya dengan wajah bermasalah.
"Jadi, um..."
Tepat saat Jaeyun akhirnya bergerak untuk berbicara—
"Semuanya, mari kita periksa dulu. Ruang perawatannya di sebelah sana."
Haeseong kembali, membawa selembar rekam medis yang didekap di dadanya.
Euno berkata dengan berani.
"Eh? Aku baik-baik saja kok! Tidak usah diperiksa, kan?"
"Tetap harus diperiksa. Bisa saja ada gejala keracunan yang tertinggal."
Haeseong menjawab dengan lembut, seolah membujuknya.
Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah Yuwol dan melepaskan tawa canggung.
"...Dan si Kungkang itu sepertinya harus diobati juga."
"Kungkang?"
Pandangan Gyeol secara refleks tertuju ke bahu Yuwol.
- Ciitt...... ciii-ciitt, ciitt?!
Mata si Kungkang yang biasanya setengah terpejam dan mengantuk, kini terbuka lebar dan berkilat-kilat.
Selain itu, ia juga mengibaskan lengan panjangnya ke udara kosong seolah sedang melayangkan tuduhan.
"...Sekarang ada apa lagi dengan makhluk ini?"
Saat Gyeol bergumam canggung dan mengulurkan tangannya, makhluk kecil itu bereaksi dengan ketus.
- Ciitt!
Si Kungkang mengayunkan cakar tajamnya ke arah Gyeol.
Kecepatannya memang lamban seperti biasa, namun udara di sekitarnya berdesir seolah-olah skill miliknya sedikit demi sedikit merembes keluar.
"Pfft! Badannya cuma sebesar biji kacang tapi gayanya kayak orang mabuk bikin keributan di siang bolong."
Diiringi kekehan Euno, kelompok itu akhirnya berjalan menuju ruang perawatan.
Gyeol dibiarkan berdiri sendirian tanpa mendapat kejelasan apa pun.
Tepat saat ia mengeluarkan ponselnya setidaknya untuk mencari berita utama terkini—
Suara berisik di ruang darurat tiba-tiba membahana.
'...Ada apa lagi sekarang?'
Gyeol mengangkat kepalanya dengan lesu.
Pandangannya berhenti di dekat pintu masuk.
Itu adalah Sahyeon.
'Dia ke sini pasti mau cari Guru Haeseong.'
Begitu Gyeol hendak membuang muka, tak acuh—
"...?"
Semua pasang mata di ruang darurat tertuju pada Sahyeon.
"Hah......!"
"Tidak disangka dia datang jauh-jauh ke sini..."
Mata yang tadinya kosong itu mendadak memancarkan binar berlebihan.
'...Apa? Aku ini sebenarnya sudah bangun belum sih?'
Gyeol menggosok matanya dengan punggung tangan lalu melihat sekali lagi.
Namun hasilnya tetap sama.
"-Apakah dia datang untuk memastikan kita baik-baik saja?"
"Guru sejati, benar-benar guru sejati...!"
Para murid menghamburkan pujian dalam suara yang meluap-luap dan terdengar tercekat.
...Apakah semua komentar tidak masuk akal itu benar-benar ditujukan untuk Pak Guru sekarang ini?!
'Kenapa semua orang mendadak jadi mirip Lee Yuwol!'
Merinding sekujur lengan Gyeol.
Jangan-jangan dia telah mencuci otak seluruh siswa di sekolah ini?!