Apa yang baru saja kulihat?
Haeseong mengangguk linglung, seolah terpesona.
"Y-Ya……."
Sahyeon, setelah selesai bicara, menoleh ke arah kedua kakak beradik itu.
"Untuk apa kalian berdiri bengong di situ? Cepat pergi sebelum burung tak berotot itu sadar."
"B-Baik! Terima kasih banyak!"
Sang kakak mengangguk penuh semangat, meraih tangan adiknya, dan berlari kencang menuju pintu masuk stasiun kereta bawah tanah.
Sementara itu, Haeseong menatap Sahyeon dengan jiwa yang separuh melayang.
'Apa dia tadi…… menyerang Falcon itu dengan tangan kosong? Dia tidak terlihat seperti Awakened tipe fisik…….'
Tepat saat itu, Sahyeon melangkah ke arah burung raksasa yang tadi terpelanting.
Haeseong panik dan mencoba menghentikannya.
"T-T-Tunggu?! Mau ke mana Anda, Tuan Sahyeon!! Itu berbahaya!!"
Ia tidak tahu bagaimana serangan tadi bisa berhasil, tapi mendaratkan satu pukulan bukan berarti seluruh pertarungan telah dimenangkan.
Bahkan Falcon biasa adalah monster peringkat A—butuh regu penyerbu yang terdiri dari setidaknya lima hunter peringkat B atau lebih untuk bisa menumbikannya. Belum lagi, pertarungan udara adalah keharusan, membuat siapa pun bahkan tidak bisa mendekatinya tanpa menggunakan skill terbang.
Dan bukan itu saja. Setelah hantaman tadi, monster mengerikan itu pasti sedang murka. Mendekatinya sekarang berarti tidak akan menyisakan tulang untuk dikumpulkan.
Namun, Sahyeon sama sekali tidak terusik.
"Harus membereskan makhluk itu."
Ke arah yang ditunjuk Sahyeon, monster itu sudah sadar kembali dan sedang mengepakkan sayapnya, berusaha mengangkat tubuhnya untuk berdiri.
Bahkan dari jarak jauh pun, kemarahannya telah mencapai puncak.
"Anda tidak bisa mendekatinya! Apa Anda punya skill terbang? Atau setidaknya skill serangan jarak jauh?!"
"Tidak."
"Lalu bagaimana caranya?! Anda bahkan tidak punya senjata!"
Sahyeon menjawab dengan sangat tenang.
"Aku akan membuatnya sekarang."
"Apa? Bagaimana bisa Anda membuat senjata di tempat antah berantah ini……."
Tepat saat suara Haeseong memelan karena kebingungan—
Sahyeon memungut sesuatu dari tanah.
"Meminjam ini."
Mata Haeseong melebar saat ia mengenali benda tersebut.
Tusukan sate logam dari dapur restoran cepat saji.
Benda persis yang tadi dibuang begitu saja oleh Haeseong saat ia melindungi kedua anak itu.
"Anda mau pakai senjataku…… maksudku, tusukan sate itu?"
Tampaknya terlalu malu menyebut benda itu sebagai senjata, Haeseong segera meralat ucapannya.
Tusukan sate logam itu tidak lebih dari sepotong besi runcing.
Tidak peduli seberapa kuat seseorang, mustahil potongan besi tipis ini bisa sekadar menggores kulit tangguh Falcon.
WUSSH—
"Argh!"
Tepat saat itu, embusan angin kencang membuat Haeseong terhuyung.
Sahyeon, yang sempat mengayun-ayunkan tusukan sate itu di udara untuk mengujinya, menoleh ke arah asal angin tersebut.
Monster Falcon itu rupanya sudah pulih sepenuhnya.
Ia jelas-jelas murka—mengepakkan sayapnya dan menatap tajam ke arah Sahyeon.
"Kepalanya sebesar rumah tapi cuma jadi pajangan. Sama sekali tidak punya kemampuan belajar."
Sahyeon mendengkus.
Kepakan sayap monster itu yang tiada henti membuat Haeseong terhuyung dengan berbahaya, namun Sahyeon berdiri tanpa bergerak sedikit pun dan tetap tegak.
Jika bukan karena rambut hitamnya yang berkibar liar diterpa angin, orang mungkin akan mengira udara di sekitar mereka sangat tenang—begitulah tingkat ketenangannya.
BZZT— BZZT—
Getaran kuat berdenyut dari pergelangan tangannya.
Sahyeon dan Haeseong secara bersamaan menunduk menatap layar jam tangan mereka.
[Guardian Corps Tim 1: pengerahan selesai.]
[Perkiraan tiba di lokasi dalam 3 menit]
"Tiga menit lumayanlah."
Sahyeon mengangkat sebelah alisnya.
"Tuan Sahyeon, mari kita cari perlindungan sampai para hunter tiba!"
Saat Haeseong berteriak, Sahyeon melambaikan tangannya seolah sedang mengusir lalat.
"Diamlah. Nanti kalau Guardian Corps sudah sampai, sterilkan area sekitar persimpangan ini."
Monster Falcon itu berjongkok, bersiap untuk menerjang lagi kapan saja.
"Ini seharusnya sudah cukup."
Sahyeon bertukar tatap dengan monster itu dan mengubah posisi tusukan sate di tangannya—
[Skill Phantom Blacksmith (SS) telah diaktifkan!]
Sebuah jendela baru muncul di hadapan matanya, dan iris abu-abunya mulai berubah menjadi merah. Pupil matanya terwarnai merah darah, seolah tetesan darah sedang menyebar di dalamnya.
Haeseong, yang menonton seolah terhipnotis, tak lama kemudian mengeluarkan napas tertahan karena terkejut.
"……Hah??"
CIIIIT—
Asap hitam mengepul di sekeliling tusukan sate logam dalam genggaman Sahyeon.
Pada saat asap itu menyebar dengan begitu cepat hingga tangan maupun tusukan sate itu tidak terlihat lagi—
Asap tersebut perlahan-lahan menghilang.
"T-Tidak, itu……."
Dan ketika bentuknya muncul kembali, mata Haeseong nyaris copot dari rongganya.
Benda yang dipegang Sahyeon bukan lagi sekadar tusukan sate.
Sebilah bilah pedang yang berkilau tajam dan berwarna perak. Dengan gagang panjang yang terentang.
"……Sebuah tombak?!"
Potongan besi tipis yang rapuh itu telah berubah menjadi tombak panjang dalam sekejap.
[Skill Phantom Blacksmith (SS) sedang digunakan]
Sebuah jendela baru muncul di penglihatan Sahyeon.
Phantom Blacksmith.
Sebuah skill yang bisa mengubah objek apa pun menjadi senjata pilihannya.
Skill ini hanya sekali pakai, jadi durasinya tidak terlalu lama, tetapi berkat tingkatnya yang tinggi, hasilnya dapat menyaingi item peringkat A yang layak.
Sahyeon mengayunkan tombak itu sedikit untuk mengujinya, seolah menimbang-nimbang keseimbangan senjatanya.
SWISH—
Diiringi suara angin yang terbelah, tombak itu membentuk lengkungan bersih saat diputar.
"Cukup lumayan."
Begitu ia menggumamkan kata-kata itu, ia melemparkan tombak tersebut dengan satu tangan tanpa ragu ke arah Falcon, yang baru saja hendak menerjang.
CPRRAKK—! SKREEEEECH!
Suara daging yang merobek dengan basah dan memuakkan berpadu dengan jeritan si monster.
Ujung tombak itu menancap tepat di mata kiri sang monster. Cairan merah kental mengalir turun di sepanjang batangnya.
Sahyeon menarik kembali tombak yang tertancap di mata itu dalam satu gerakan mulus.
SKREEEEECH—!
Jeritan nyaring seperti paku yang dihunjamkan ke gendang telinga.
"Argh!"
Haeseong mengeluarkan jeritan tertahan dan mendekap kedua telinganya.
"Kau mau memerhatikan atau tidak? Kau harus menonton dengan benar kalau mau pakai ini di pertarungan sungguhan."
Ketika Sahyeon meninggikan suaranya, tubuh Haeseong tersentak.
"……Apa? Apa?!"
Aku? Monster sebesar rumah itu? Di pertarungan sungguhan?
"Untuk monster berukuran besar seperti ini, sekadar memotong setengah bidang penglihatan mereka bisa melipatgandakan tingkat keberhasilan melumpuhkan mereka. Paham?"
Tepat saat Haeseong berdiri terpaku tanpa bisa berkata-kata, bibirnya berkomat-kamit—
VROOOOM—!
Deru mesin yang berat terdengar dari kejauhan.
Konvoi mobil van hitam melaju kencang menuju persimpangan.
"Sepertinya Guardian Corps sudah datang!"
Ucap Haeseong dengan wajah yang berbinar-binar.
Lambang Asosiasi Hunter tercetak di kap mesin. Itulah kedatangan yang mereka tunggu-tunggu, tetapi wajah Sahyeon justru dipenuhi ekspresi jengkel.
"Entri yang berisik sekali."
Suara mesin yang semakin mendekat mengalihkan perhatian Creature Falcon tersebut. Satu mata yang tersisa, yang meneteskan jejak darah panjang, bergeser menatap kendaraan-kendaraan itu. Tepat saat sayap masifnya mulai mengepak—
"Fokus padaku. Kita sedang di tengah pelajaran ini."
Sahyeon menjejakkan satu kakinya dan menghantam tubuh Creature Falcon itu menjauh.
WUSSH— BRUKK!
Monster itu terpelanting tanpa perlawanan.
Tubuh besarnya menghantam gedung di seberang jalan dengan suara dentuman yang luar biasa besar.
Tepat pada waktunya, kendaraan-kendaraan Asosiasi Hunter berhenti dengan berdecit di depan Haeseong. Para hunter berhamburan keluar.
Mereka semua mengenakan pakaian seragam yang sama persis.
Lambang perisai di dada—tanda hunter tipe pertahanan. Garis-garis oranye cerah membentang dari bahu ke lengan.
Seragam resmi Korps Penjaga Asosiasi Hunter (Guardian Corps).
"Hunter Haeseong, Anda tidak apa-apa? ……Anda bisa berdiri tegak, jadi kurasa Anda baik-baik saja."
Seorang pria berambut bob dengan lencana emas di bahunya berlari kecil mendekati mereka.
Di belakangnya, anggota regu lainnya sudah mulai menata situasi di tempat kejadian dengan formasi yang efisien.
Menilik dari situasi yang ada, hunter berambut bob ini tampaknya adalah sang ketua tim.
Kemudian hunter berambut bob itu melihat monster yang masih kejang-kejang di tempat ia menabrak gedung, dan kelopak matanya berkedut dengan cepat.
"Tunggu, bagaimana bisa ada Falcon berakhir di……."
Ia menoleh bergantian antara monster itu dan Haeseong, suaranya bergetar.
"Apa Anda yang melakukan itu pada Falcon tersebut, Hunter Haeseong……?"
Anggota regu di belakangnya saling bertukar pandang dengan wajah tercengang.
"T-Tidak, bukan aku!"
Haeseong melambaikan kedua tangannya dengan panik.
Kemudian ia dengan sopan menunjuk ke arah Sahyeon dengan kedua tangannya, yang sedang berdiri dengan postur bersandar pongah.
"Bukan aku yang melakukannya—melainkan Tuan Sahyeon di sini."
Tatapan sang ketua tim beralih ke Sahyeon.
"Menghadapi seekor Falcon sendirian……?"
Ia memindai Sahyeon dengan ekspresi kebingungan.
Seorang pria yang berdiri dengan postur santai, menumpukan berat badan pada satu kaki.
Wajah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Jika orang ini memiliki kemampuan yang cukup untuk merubuhkan seekor Creature Falcon seorang diri seperti itu, mustahil ketua tim tidak mengenalinya.
"Aku memang dengar ada personel combat di lokasi, tapi……."
Tatapan menyisir Sahyeon dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Air mukanya menyiratkan kecurigaan terhadap orang asing yang muncul begitu saja ini.
'Hunter yang baru bangkit? Aku belum pernah melihat wajah itu di antara para pendatang baru.'
Ia memiringkan kepala, lalu memutuskan untuk mengubah asumsinya secara total.
'Ah, tidak mungkin…… Falcon itu pasti hanya spesimen yang kebetulan sangat lemah.'
Peluang munculnya seorang Awakened peringkat A yang langka secara tiba-tiba jauh lebih kecil daripada peluang menemukan monster yang lemah.
Melihat orang asing yang tidak dikenal dan seorang hunter pegawai kantoran kurus kering berdiri di dekat monster yang mengenaskan menancap di gedung, sang ketua tim meremehkan situasi tersebut dan kembali berbicara dengan nada bermurah hati.
"Hunter yang dikirim dalam penyerbuan guild sedang dalam perjalanan sebagai bala bantuan. Mereka akan tiba dalam waktu sepuluh menit, jadi Anda bisa beristirahat dengan tenang dan bersiap pergi."
"Senang ya kalau tidak punya pekerjaan."
Kritikan tajam langsung meluncur sebagai balasan.
Hunter berambut bob itu mengerjap kosong.
"M-Maaf?"
Ia tampak kebingungan, seolah mengira dirinya salah dengar.
"Trait-mu?"
"……Kau menanyakan trait-ku sekarang?"
Alis hunter berambut bob itu mengerut mendengar pertanyaan tiba-tiba dan blak-blakan dari Sahyeon.
Mengingat wajahnya yang asing, pria itu tampaknya adalah seorang Awakened baru—namun di sinilah ia, malah menanyakan trait seorang senior terlebih dahulu. Rasa tidak sopannya terpampang jelas di wajahnya.
"Aku bertanya."
Ketika Sahyeon menatapnya tajam dengan mata abu-abunya, pria itu bergidik tanpa sadar.
"Hah."
Ia berdehem, lalu berbicara dengan nada acuh tak acuh yang dibuat-buat, seolah mengejek.
"Barrier (Perisai). Kalau trait-mu?"
Sahyeon mengabaikan pertanyaan balik itu sepenuhnya dan memindai ketua tim tersebut dari atas ke bawah.
"Sudah kuduga. Yang ini tidak berguna."
"Ap-Apa?"
Saat sang ketua tim membalas dengan sengit, Sahyeon mengibaskannya dengan gerakan meremehkan.
"Berhenti berdiri dan mengobrol, sana pergi bantu evakuasi."
"Apa, apa barusan yang—"
Ketua tim itu mendengkus tidak percaya.
Sahyeon sama sekali tidak peduli.
Matanya sudah kembali terkunci pada Creature Falcon, yang mulai bergerak-gerak bangkit.
"Hei, kau!"
Hunter itu mengarahkan jarinya ke arah Sahyeon dan terus meninggikan suaranya.
"Sepertinya kau bangkit dengan trait yang lumayan bagus, tapi kalau terus bertingkah sombong, kau akan celaka, paham?!"
Wajah sang hunter memerah padam saat ia meluapkan omelannya. Kerutan di antara alis Sahyeon semakin dalam secara konstan.
"Ketua Tim, sudahlah."
Haeseong meraih lengan hunter berambut bob itu untuk menahannya, namun pria itu dengan kasar menepis tangan Haeseong dan berteriak.
"Sejak kapan seorang pendatang baru bisa bersikap sekurang-ajar ini?! Kau pikir dunia hunter itu semudah itu?!"
"Rasanya cukup mudah bagiku."
"Apa yang kau bilang, keparat?!"
Ia menubruk maju dengan sikap mengancam.
Haeseong segera menempatkan dirinya di tengah dengan ekspresi tidak nyaman.
"Ketua Tim, mohon tenanglah—"
"Cukup."
Sahyeon memotong ucapan Haeseong.
Ia akhirnya mengalihkan tatapannya yang semula terpaku pada monster itu menuju ke arah hunter berambut bob tersebut.
Dan berucap dengan suara rendah.
"Aku tidak menyukaimu sejak pertama kali kau datang membuat keributan di area yang penuh dengan monster yang sensitif terhadap suara……."
Sahyeon memangkas jarak di antara mereka dalam satu langkah panjang. Tubuhnya jauh lebih tinggi. Sang ketua tim terhuyung mundur karena kedekatan yang tiba-tiba itu.
"Dan kemudian menjerit-jerit seperti ini hanya karena kau kesal. Pantas saja kau jadi mangsa empuk, mondar-mandir dengan gelar itu tersemat di dadamu."
"……! Apa kau baru saja—"
Ketua tim itu hendak meledak dalam amarah ketika—
SKREEEEECH!
Mata Falcon itu mengunci tepat pada mereka. Monster itu telah mendeteksi keributan mereka.
"Urgh!"
Tubuh sang ketua tim membeku, darahnya mendadak terasa dingin.
Monster itu menerjang ke arah mereka seperti peluru. Angin kencang membawa serta reruntuhan puing ke arah mereka.
"!!"
"Semuanya, menghindar!"
Ketua tim berteriak dan mengerahkan skill barrier transparan.
Namun Sahyeon jauh lebih cepat.
Ia berlari maju seolah melipat tanah di bawah langkah kakinya.
Dalam beberapa detik, Sahyeon dan monster itu berhadap-hadapan.
Ia menjejakkan kaki ke tanah, melompat ke udara, mengayunkan kakinya ke atas, memutar tubuhnya, dan menghempaskan kakinya menghantam tengkorak besar monster tersebut.
CRAAAASH—!
Getaran hebat merembet melalui tanah.
Creature Falcon itu dihujamkan langsung ke badan jalan.
Sebuah kawah seukuran hantaman meteorit tercipta di sana.
"……"
Ketua tim itu menelan ludah perlahan-lahan.
PATTER, PATTER—
Di tengah keheningan, satu-satunya suara yang terdengar hanyalah puing-puing yang memantul mengenai perisai.