Tatapan sang predator begitu tajam seperti silet.
"...Sudah kubilang aku minta maaf!"
Meski sudah meminta maaf untuk kedua kalinya, Achinoyx hanya mendengus rendah, menunjukkan ketidaksenangan.
Grrr—
Jika saja makhluk itu punya tangan, tampaknya ia sudah siap mencengkeram kerah bajunya.
Gyeol mendesah jengkel dan menyibak rambutnya ke belakang.
Lalu, ia membentak Yuwol sekali lagi.
"...Bukan waktunya untuk membahas ini! Aku punya cara untuk melenyapkan para monster sekaligus, jadi kooperasilah!"
Aliran listrik dari Laba-laba Kabel sama sekali tidak mempan pada Achinoyx.
Tidak—bahkan alih-alih terluka, ia justru menikmatinya.
Makhluk itu masihlah summon berperingkat A yang muda, namun merupakan beast legendaris dengan potensi untuk tumbuh hingga peringkat S.
Jika rencananya berhasil, tidak ada alasan bagi mereka berempat untuk membuang-buang energi demi pertarungan individu yang tidak ada gunanya.
Namun, Yuwol bersikap acuh tak acuh.
"Aku tidak berniat untuk bekerja sama."
Sialan ini......
Di bawah tatapan mata yang memandangnya seperti seorang sales keliling itu, Gyeol menelan umpatan yang nyaris lolos dari tenggorokannya.
Tepat pada saat itu.
"Lima menit berlalu."
Sahyeon mengumumkan sisa waktu.
Monster-monster—jumlahnya terlalu banyak untuk dihitung, mengerumuni segala penjuru.
Jika monster dari gelombang ketiga ditambahkan ke situasi ini, kegagalan adalah sebuah keniscayaan.
Lingkaran monster semakin menyempit.
Gyeol menggigit bibirnya sembari mundur.
'Tapi kedua orang itu tidak akan mau mendengarkan kecuali—'
Pengikut yang terobsesi itu bahkan tidak akan bergeming pada apa pun kecuali jika itu berasal dari Guru—
Dalam sekejap, sebuah ide melintas di benak Gyeol.
Cara ini pasti akan berhasil.
Gyeol merasa yakin saat ia membuka mulutnya.
"...Apa kau akan gagal di kelas pertamamu dan mengecewakan Gurumu?"
Mata cokelat pucat Yuwol melebar seketika.
Kukira juga apa—kode curang Sahyeon-ssaem memang ampuh.
Gyeol menepis senyum yang nyaris tersungging di bibirnya dan mempertegas poinnya.
"Kau harusnya sukses secara spektakuler dan memenuhi ekspektasinya."
"......"
Mata cokelat pucat Yuwol akhirnya beralih menatap Gyeol.
"Kutaruh dengar dulu rencanamu."
Bagus.
Gyeol bersorak dalam hati dan memanggil yang lainnya.
"Tae Euno, Ha Jaeyun! Kalian berdua, berkumpullah!"
"Apa lagi! Aku sedang sibuk!"
"B-Baik, Hyung!"
Jaeyun langsung berlari mendekat; Euno menggerutu namun tetap melangkah menghampiri, rambutnya berkibar di belakang.
"Tae Euno, pertama—gunakan embusan angin terkuat yang kau punya untuk mendorong para monster ke satu sudut."
"Hah? Kenapa, tiba-tiba sekali?"
"Tiga menit tersisa."
Suara Sahyeon mendesak.
Gyeol berteriak dengan nada mendesak.
"Tidak ada waktu untuk menjelaskan, lakukan saja!!"
"Jujur saja. Selalu saja jadi buldoser."
Euno menggelengkan kepala dan mengerahkan aliran udara.
Angin yang berputar di sekitar tubuhnya terhenti sesaat, lalu—
WUSSSSS—!
Sebuah badai merangsek membelah koridor.
Para monster terangkat dari lantai tanpa perlawanan, tersapu tanpa berdaya ke satu titik.
Namun, angin kencang itu tidak pandang bulu.
"UAAAARGH!"
Jaeyun, yang menelungkup rata di lantai demi menghindari angin, dan Yuwol, yang wajahnya berkerut sembari berpegangan erat pada sebuah pilar.
Gyeol, yang selamat dengan cara mencengkeram punggung Jaeyun, langsung memarahinya.
"Tae Euno! Apa yang terjadi kalau kau menyapu kami juga!"
"Ups! Maaf! Belum bisa mengendalikannya secara presisi begitu!"
Euno tertawa terbahak-bahak.
"...Teruslah berpegangan!"
Gyeol berteriak, sengaja memprovokasi para monster.
Tak berdaya di bawah terjangan badai, laba-laba-laba itu masih meronta dan melemparkan jaring ke arahnya.
Namun, terjebak dalam badai Euno, jaring-jaring itu berbelok arah dan kusut satu sama lain.
Tak lama kemudian, jaring-jaring tersebut melilit erat bergerombolnya monster dalam jalinan yang rapat.
"...Baiklah, sejauh ini berjalan lancar."
Sekarang tinggal satu pukulan terakhir.
"Sekarang!"
Gyeol memberi isyarat kepada Yuwol.
Yuwol mendesah pelan dan membuka mulutnya.
"Achinoyx."
Telinga kuningnya berkedut tegak.
Namun, makhluk itu pura-pura tidak mendengar, justru melayang santai di samping Jaeyun yang sedang berdiri kokoh untuk menghalangi monster yang mencoba kabur.
Bagaimana caranya aku harus membujuk makhluk itu......
"Satu menit."
Sahyeon mengumumkan hitung mundur terakhir.
Gyeol memutar otaknya, lalu mengambil langkah terakhir.
"Woi, kucing sialan! Apa kau tuli?!"
PLAS. Kepalanya menoleh dengan sangat cepat.
Sepasang mata kuning memancarkan kilat berbahaya.
"...Ugh, kaget setengah mati."
Permohonan maaf bisa dibelakangan.
Gyeol membuat gestur memanggil dengan ibu jarinya yang sengaja dibuat untuk meremehkan.
"Kalau kau kesal, pukul aku!"
GRRRRR—!
Achinoyx, yang menggeram penuh amarah, langsung menerjang ke arah Gyeol.
Pada saat yang sama, aliran listrik memadat di kumisnya.
Gyeol berlari kencang langsung menuju sasaran: pusat kumpulan jaring.
Sebuah sambaran petir biru melesat ke arah punggungnya.
Tepat saat tegangan tinggi itu hampir menghantam bagian belakang kepalanya—
"Hah!"
Gyeol merunduk dan menjatuhkan dirinya ke lantai.
Alih-alih mengenai kepalanya, ledakan itu menghantam tepat di tengah-tengah jaring.
KRETEK-KRETEK-KRETEK—!
Petir biru tua bercabang-cabang menyusuri jaring yang kusut itu seperti pembuluh darah.
NGIIIIIK—!
Di bawah sana, para monster yang tersengat listrik kejang-kejang.
Koridor itu seketika dipenuhi asap pekat dan bau protein terbakar yang menyengat.
"......"
"......"
Saat percikan api itu meredup, keheningan kembali menguasai koridor.
Kabut asap menggantung tebal di udara.
"Ugh, aku tidak bisa melihat apa-apa!"
Euno, sambil batuk-batuk, menciptakan embusan angin dan meniup asap itu pergi dalam satu sapuan.
Pemandangan yang terungkap kemudian.
"...Selesai."
Gyeol menghela napas lega.
Monster-monster itu gosong menjadi arang.
Pemusnahan total.
Jaeyun melontarkan seruan terperanjat.
"W-Whoa......"
"Ha! Ternyata benar-benar berhasil?"
Euno mendengus tak percaya.
Achinoyx tampak cukup terhibur melihat percikan arusnya sendiri yang meluncur di sepanjang jaring. Saking bersemangatnya, ia mondar-mandir berlari di koridor.
'Berapa banyak waktu yang tersisa?'
Gyeol mengangkat kepalanya.
Saat ia menoleh ke arah Sahyeon, matanya bergetar.
Jari Sahyeon sudah berada di atas tombol merah.
"Gelombang ketiga dimulai."
Tekan.
Dia benar-benar tidak memberi kita waktu istirahat.
Gyeol menggeretakkan giginya dan mempererat genggamannya pada belati.
BIPPPPP—
Monster-monster kembali keluar membanjiri tempat itu.
Namun kali ini berbeda dari sebelumnya.
Mereka sudah menemukan metodenya.
Setelah menyaksikan sendiri kekuatan serangan gabungan tersebut, tidak ada lagi yang membantah.
"Tae Euno, dorong!"
"Segera!"
WUSSSSS—
Euno menggiring para monster seolah-olah ia sudah menantikannya.
Penggunaan skill yang berlebihan membuat embusan anginnya sedikit melemah, dan empat atau lima ekor berhasil lolos, tapi itu tidak masalah.
Monster yang tertinggal bisa diberesi nanti.
Sekarang giliran Gyeol.
Sesuai dugaan, para laba-laba melemparkan jaring ke arahnya.
Jaring yang ditenun jauh lebih rumit dari sebelumnya.
Tepat saat bentuk jaring itu sempurna dan Gyeol hendak memanggil Achinoyx—
Grrr—
Achinoyx, yang telah menunggu dengan mata berbinar penuh antusias, menembakkan sambaran listrik atas kemauannya sendiri.
KRETEK-KRETEK—
Cahaya biru melesat di sepanjang jaring; disertai suara letupan yang memecahkan gendang telinga, petir itu meledak dalam kilatan terang.
Asap tipis tak lama kemudian mengepul dari bangkai-bangkai monster yang hangus.
Ujung-ujung kawat yang putus masih memercikkan setitik api kecil.
"...Baiklah, yang tersisa tinggal memberesi sisa-sisa!"
Begitu Gyeol berteriak, Euno menyingsingkan lengan bajunya dan menyeringai.
"Asyik! Urusan segini mah gampang!"
Belum sampai lima menit berlalu sejak gelombang ketiga dimulai.
Hanya tersisa empat monster—lima, jika menghitung satu ekor yang dijadikan tempat duduk oleh Sahyeon.
"Setidaknya mereka lolos dari pelajaran remedial."
Sahyeon melontarkan komentar datar itu lalu bangkit berdiri.
Warna merah yang tadinya memenuhi matanya perlahan memudar.
SREK SREK—!
Monster yang tadi dijadikan kursi oleh Sahyeon memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur.
DOR!
Yuwol menjentikkan jarinya; peluru mana yang memadat meninggalkan sisa bayangan biru saat melesat keluar.
Peluru itu menyerempet tengkuk laba-laba yang sedang kabur.
NGING—
Karena lintasan yang sedikit meleset, alis Yuwol berkerut kesal.
"Euno Hyung, angin sembaranganmu itu mengacaukan bidikanku."
"Hah?"
Euno, yang tengah melangkah sambil menciptakan aliran angin, menghentikan langkahnya dengan sengit.
"Skill-ku MEMANG angin—terus kau mau aku bagaimana? Bidikanmu sendiri yang bermasalah, kenapa malah menyalahkanku?"
"Hm. Kalau begitu, lain kali aku akan coba membidik agar tembakanku yang meleset mengarah kepadamu, Hyung."
"! Kau psikopat gila beneran—hei—"
Sementara keduanya saling berdebat—
Gyeol dan Jaeyun dengan telaten menghabisi para monster yang tersisa satu per satu.
Dan dua menit sebelum pengatur waktu gelombang ketiga berakhir—
BPRS.
"Kemenangaaan!!"
Euno mengangkat tinjunya tinggi-tinggi lalu ambruk telentang di lantai.
Perburuan telah usai. Sebagai buntutnya, bau hangus yang menusuk hidung dan kabut tebal masih tertinggal di udara.
Kelas berakhir dalam waktu tiga puluh menit.
Setelah menyuruh para siswa yang kelelahan itu pergi, Haeseong menatap kosong ke sepanjang koridor.
Bekas gosong menghitam di dinding, bangkai-bangkai monster berserakan di lantai.
"Mereka benar-benar berhasil melakukannya......"
Saat Sahyeon pertama kalinya menetapkan jumlah target sebanyak dua puluh, Haeseong yakin pria itu berniat menyiksa para siswa semalaman penuh.
Siapa sangka semuanya akan berakhir secepat ini.
Sahyeon menepuk-nepuk debu di lengan bajunya dengan acuh tak acuh lalu bertanya.
"Analisis selesai?"
"Ya, tentu saja!"
Dengan mata berbinar-binar, Haeseong memaparkan penggunaan skill setiap siswa dan sinergi kerja sama mereka.
Lengkap dengan usulan peningkatannya.
Sahyeon mendengarkan laporan itu dengan wajah tanpa ekspresi, lalu bersandar miring ke dinding dan melontarkan sebuah pertanyaan.
"Lalu, bagaimana cara seorang Awakened yang tidak memiliki skill serangan khusus sama sekali untuk menghadapi Laba-laba Kabel?"
Haeseong terdiam sejenak, tenggelam dalam pikirannya.
Ribuan rekaman bingkai adegan berkelebat di benaknya.
Tak lama kemudian, seolah ia telah menemukan jawabannya, ia langsung berbicara tanpa jeda.
"Laba-laba Kabel berhenti sejenak sebelum menembakkan skill mereka. Itu tampaknya menjadi saat-saat paling rentan mereka. Jika Anda mengincar titik terlemah mereka—bagian sefalotoraks bawah—dengan serangan presisi pada momen tersebut, penumpasan seharusnya bisa sepenuhnya tercapai."
"Lumayan."
Pujian singkat dari Sahyeon.
Kedua kata itu membuat wajah Haeseong tampak berseri-seri seketika.
Ia mengusap ujung hidungnya dengan malu-malu seraya tersenyum.
Padahal, yang dilakukannya hanyalah menonton dari dalam selubung nyaman milik Sahyeon.
"Ini mah bukan apa-apa, sungguh. Praktiknya lah yang sebenarnya susah."
"Tampaknya teorimu sudah matang, ya......"
Sahyeon melepaskan punggungnya dari dinding dan menambahkan dengan nada malas.
"Ingat apa yang baru saja kau ucapkan."
"...Ya?"
Jantung Haeseong seolah berhenti berdetak.
Ia berharap bisa pura-pura tidak mengerti.
Ia merutuki dirinya sendiri karena begitu cepat menangkap tersirat dari ucapan itu.
Tangan Sahyeon bergerak ke arah perangkat pengendali.
"Tiga ekor sepertinya sudah pas untuk permulaan......"
"Apa??"
Bip, bip, bip.
Angka pada perangkat pengendali disetel ulang.
Pandangan cemas Haeseong melayang tanpa arah.
Telapak tangan Sahyeon menekan tombol merah tanpa ampun.
"Sekarang tinggal praktikkan saja."
BIPPPPPP—
KLIK.
Kepala Haeseong berderak menoleh.
Di balik kandang penangkaran yang terbuka.
Sepasang mata yang memantulkan kilau tajam menatap tepat ke arahnya.
"......APAAA?!"
Suara Haeseong berubah menjadi jeritan.
"Aku juga?!"