Malam telah turun dengan pekat dan sunyi.
Melalui jendela kantor Sahyeon yang tertutup rapat, cahaya bulan yang samar menyusup masuk.
Satu-satunya sumber cahaya berasal dari lampu meja.
Di bawahnya, berbagai macam barang tertata rapi dalam barisan yang teratur.
"Tangkapan yang lumayan."
Sahyeon membenamkan dirinya lebih dalam ke kursi kerjanya dan memeriksa barang-barang itu satu per satu.
Dari ramuan bermutu tinggi hingga senjata yang bertatahkan Kristal Mana.
Semuanya disita dari Yuwol.
Ia menggeser layar tablet ke atas dengan ringan.
Sebuah grafik yang telah disiapkan oleh Haeseong.
Nama barang, tingkat kualitas, dan harga—semuanya tersaji dengan jelas dalam sekali lihat.
Tatapan Sahyeon terpaku pada grafik tersebut.
Barang-barang itu bernilai setidaknya seribu unit ke atas.
Terlalu mewah untuk seorang pemula yang baru Bangkit kurang dari setengah tahun yang lalu.
"Geohaengja......"
Sahyeon menggumamkan nama organisasi aneh yang disebutkan oleh Yuwol itu di dalam mulutnya.
Sebuah kelompok yang memasok barang-barang bernilai tinggi tanpa berkedip.
Sekelompok orang yang memuja Sang Eksekutor Cermin.
Seolah-olah ia akan mempercayai omong kosong konyol seperti itu begitu saja.
Bahkan jika Lee Yuwol sendiri mempercayainya, itu pasti hanyalah dalih buatan yang sengaja dibuat untuk menjerat aset tingkat S.
'Pertanyaannya adalah apa tujuan sebenarnya......'
Di antara barang-barang tersebut, tidak ada satupun barang dari 'lelang ilegal' yang sempat ia intip dari ingatan Yuwol.
Barang-barang itu mungkin sudah diserahkan kepada para pendukung di belakang layar.
Sahyeon mengambil Batu Komunikasi berwarna biru yang tergeletak di sudut meja.
Catatan pada kolom Batu Komunikasi di grafik tersebut.
[Fitur Menonjol: Batu Komunikasi yang dimodifikasi, panggilan keluar saja]
Cukup teliti—mereka telah merusaknya terlebih dahulu untuk mencegah pelacakan balik.
'Andai saja skill pembaca ingatan milikku bisa digunakan pada benda juga......'
Sahyeon mengerutkan keningnya dengan tidak senang dan memutar-mutar Batu Komunikasi itu di ujung jarinya.
Srek—
Gorden jendela bergeser pelan.
Mendapati gerakan aneh itu, alis Sahyeon terangkat sedikit.
Ia tetap memfokuskan tatapannya pada Batu Komunikasi dan perlahan membuka bibirnya.
"Mengendap-endap seperti tikus......"
Suara rendah Sahyeon memecah keheningan di dalam kantor.
Di sebelah gorden, sebuah retakan kecil mulai bergelombang seperti ombak.
BRESK—
Dalam sekejap, retakan itu melebar dan ruang tersebut terbelah terbuka dalam bentuk ritsleting.
"—Duh, tidak seru, aku langsung ketahuan."
Suara kekanak-kanakan yang mengeluh terdengar bersamaan dengan seorang anak laki-laki berjaket hoodie hijau yang menjulurkan kepalanya dari celah ritsleting tersebut.
Ia mendarat dengan ringan di lantai.
Apa lagi sekarang. Sahyeon berdecak lidah seolah kepalanya terasa pusing.
Anak itu memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong depan jaket hoodie-nya dan menyeringai.
"Ngomong-ngomong, tidak satupun dari muridmu yang menyadariku sampai aku berbicara duluan kepada mereka, lho."
"Murid?"
Alis Sahyeon berkerut.
Ah, para gadis itu.
"Seperti yang diharapkan dari Sang Interogator~ kemampuan deteksi keberadaarmu benar-benar luar biasa di luar nalar."
Ketika Bisu menambahkan dengan nada penuh arti, dagu Sahyeon terangkat.
Mata abu-abunya perlahan menyapu anak laki-laki itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Ia tadinya mengira anak ini adalah salah satu dari para gadis yang berkeliaran di Akademi.
'Dia datang ke sini mengetahui bahwa aku adalah Sang Interogator......'
Apakah rumor itu sudah menyebar.
Sungguh merepotkan.
Sahyeon menjatuhkan Batu Komunikasi yang tadinya ia putar-putar ke atas meja dengan sedikit lemparan dan menghela napas pendek.
"Jadi begini rupa Sang Interogator~ rumornya begitu liar sampai-sampai kukira kepalamu punya tanduk. Wah, kau terlihat cukup normal?"
Bisu mengitari Sahyeon sekali sambil melontarkan seruan kagum.
"Sebutkan keperluanmu."
Sahyeon tidak repot-repot menyembunyikan rasa jengkelnya dan langsung bertanya to the point.
Bisu, yang berhenti di hadapan meja Sahyeon tepat di seberangnya, berkacak pinggang.
"Wah, anak muda, kau tidak sabaran sekali. Hei, kau tidak mengenalku?"
"Ah. Apa kita kenalan lama dari penjara, mungkin?"
Mendengar balasan datar Sahyeon, Bisu tanpa sadar menelan ludah mentah-mentah akibat rasa dingin yang tak dapat dijelaskan.
"...Ugh, lelucon macam apa itu. Cara yang hebat untuk membuat seseorang merasa tidak nyaman."
Rasanya tidak seperti lelucon, tapi anggap saja itu lelucon, anggap saja begitu!
"Asal kau tahu saja, catatan kriminalku bersih, tidak ada satu pun pelanggaran!"
Bisu menepuk dadanya seolah-olah ia dizalimi.
Namun Sahyeon hanya membalik-balik grafik milik Yuwol dengan tidak tertarik.
"Sekilas melihat wajahmu saja aku sudah bisa menebak. Tipe klasik yang melakukan segalanya kecuali tertangkap, terus-menerus merencanakan sesuatu......"
"...Gkh."
Bisu, yang terkena tepat di sasaran, tersedak ludahnya sendiri.
Ia berdehem dengan keras dan buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Omong-omong, kau benar-benar tidak mengenalku? Tidak ada internet di penjara bawah tanah itu...? Asal tahu saja, aku ini berada di Peringkat 11 dan punya klub penggemar segala. Aku tersinggung."
Sambil memasang wajah terluka dengan mata yang sayu sejenak, ekspresi Bisu tiba-tiba berseri kembali.
"Yah, pada akhirnya nanti kau akan menghargai kepopuleranku!"
Kembali ke wajah yang penuh dengan rasa ingin tahu kekanak-kanakan.
Ia mencondongkan tubuhnya jauh ke depan melewati meja, mendekatkan wajahnya ke arah Sahyeon.
"Jadi, ceritakan padaku. Bagaimana bisa kau mengenal ketua guild kami?"
Alih-alih menjawab, Sahyeon malah mengambil senjata Mana milik Yuwol.
Ia tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaan anak ini dengan patuh.
Namun, demi mendapatkan apa yang ia inginkan, ia harus ikut bermain sedikit.
Sahyeon menjawab setengah hati.
"Bagaimana aku bisa tahu siapa ketua guild kalian."
"Ketua Guild Goyeo! Baek Iwon!"
Sahyeon teringat pada sosok Baek Iwon dengan riasan wajah lengkap dari sebuah iklan yang dilihatnya beberapa hari lalu.
Beserta komentar Haeseong tentang bagaimana Iwon adalah panutan bagi anak-anak dan jauh lebih terkenal daripada selebritas.
"Oh, selebritas itu?"
"...Pfft! Itu lucu sekali! Selebritas!"
Pria itu mungkin adalah satu-satunya hunter di dunia yang menganggap Peringkat 1 Korea sebagai seorang selebritas.
Saat Bisu terkekeh, sebuah senyuman penuh teka-teki terukir di wajah Sahyeon.
"Apakah Baek Iwon yang mengirimmu?"
"Hmm. Dari reaksimu, sepertinya kau bukan orang yang sama sekali tidak ada hubungan......"
Bisu bergumam sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak? Ketua guild kami sepertinya tertarik begitu mendengar Sang Interogator ditugaskan di permukaan. Karena itu hal yang tidak biasa, jadi aku merasa penasaran~"
Tepat saat Bisu berbicara dengan bebas, ia langsung tertegun menyadari ucapannya.
Kenapa aku malah menjawab dengan begitu patuh?!
"Tidak, tunggu, ada yang salah! Aku yang bertanya duluan! Bagaimana kau tahu bos kami?"
Bisu mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya.
"Aku tidak melihat alasan apa pun untuk menjawab."
Ucap Sahyeon sambil dengan lihai memutar-mutar senjata Mana di tangannya.
Jadi berita tentang diriku yang berada di permukaan telah sampai ke telinga Baek Iwon.
Dan siapa yang membocorkan informasi itu kepadanya......
'Cukup sudah bermain-mainnya.'
"...Hm?"
Apakah suasananya baru saja berubah?
Bisu tersentak merasakan hawa dingin yang tiba-tiba merayapi kulitnya dan menarik lehernya ke belakang.
'Um...... kenapa tulang punggungku terasa merinding?'
Ia tertawa canggung sambil melambaikan tangan.
"Eh... kau marah? Tolong kurangi ekspresi wajah seperti itu."
Wajah Sahyeon sebenarnya sudah sedari tadi netral.
Justru senyuman di wajahnyalah yang terasa sangat menakutkan dan mencemaskan.
KLEK — Sahyeon meletakkan senjata Mana yang tadinya ia putar-putar.
"Apakah kau menyelinap ke tempat orang lain hanya untuk mengoceh tentang hal-hal tidak penting."
"......"
Bisu menelan ludah, lalu buru-buru melontarkan berbagai alasan.
"Y-Yah, kau tahu, aku bisa bergerak dengan cukup bebas~ dan aku tidak bisa menahan diri kalau aku sedang penasaran?"
"Begitu?"
Sahyeon tersenyum malas dan melepas sarung tangan kanannya.
Bisu melirik ke arah ritsleting yang dibiarkannya tetap terbuka.
Masih terbuka, ruangannya masih utuh.
'Saatnya kabur?'
Ia sudah melihat wajah Topeng Cermin, dan memastikan keberadaan S-rank baru yang konon dibawa oleh Topeng Cermin tersebut.
Itu sudah merupakan hasil panen yang cukup.
"...Cih. Mau bagaimana lagi. Kalau begitu, aku—"
Bisu mundur selangkah dan memasukkan satu kakinya ke dalam ritsleting.
Namun di detik itu juga.
"Kau pikir mau pergi ke mana."
Sahyeon mengulurkan tangannya.
Pada saat bersamaan.
"...Hah?"
Kenapa tidak bisa bergerak?
Tubuh yang berusaha ia masukkan melalui celah ritsleting itu berhenti total.
Bisu menolehkan lehernya dengan kaku.
Kaki kanannya, dengan bagian telapak kaki yang baru masuk ke dalam ritsleting, tergantung di udara.
Dan tangan bersarung tangan milik Sahyeon, mencengkeram pergelangan kaki itu dengan erat.
Bisu mendongak menatap Sahyeon dengan cemas.
Sepasang mata yang memandangnya telah berubah menjadi merah darah.
'...Oh? Apakah ini mata merah Topeng Cermin yang terkenal itu?'
Menakutkan sekali, bukan?
Pupil mata Bisu bergetar hebat.
'Yang penting sekarang — kabur!'
Ia mengatupkan giginya dan mengerahkan seluruh kekuatannya, tetapi kaki yang tertangkap itu sama sekali tidak bergeming.
Kenapa dia begitu kuat...! Karakter curang macam apa sebenarnya orang ini?!
Tepat saat Bisu sedang meronta dan mengerang—
"...!"
Mata merah itu melengkung lembut.
"Kemampuan itu terlihat sangat praktis. Aku iri."
Tangan Sahyeon yang satu lagi mendarat di atas kepala Bisu.
...Duh, gawat.
Semua mantan narapidana di penjara bawah tanah telah mengatakannya.
Saat Topeng Cermin memegang kepalamu, semuanya sudah berakhir.
Setia insting Bisu menyuarakan alarm peringatan—
"Urk!"
Seolah tersedot ke dalam pusaran air yang ganas, kesadarannya mendadak kabur.
Sensasi berdenyut yang mengerikan, seolah otaknya sedang dikocok di dalam blender.
Keringat dingin mengalir deras menetes di dagunya.
"—HAHK!"
Kelopak matanya yang terpejam terbuka lebar dalam sekejap.
Bisu menstabilkan pernapasannya yang tersengal-sengal dan melayangkan pandangannya ke sekeliling.
Berbeda dengan Bisu yang basah kuyup oleh keringat dari ujung kepala sampai ujung kaki dalam sekejap, wajah Sahyeon tampak begitu tenang.
"Mari kita lanjutkan obrolan santai kita sekarang."
Ia telah melepaskan kaki Bisu dan dengan santainya mengenakan kembali sarung tangan kulitnya.
Bunga api berkelebat di mata Bisu.
'...Sial, aku tadinya berniat pergi bak seorang pria terhormat malah diserang begitu saja?!'
Saat Bisu mengatupkan gigi gerahamnya dan mencoba bangkit—
KLETAK—
"Hm?"
Kakinya masih belum bisa terbebas.
'Apa? Sahyeon jelas-jelas sudah melepaskannya tadi......'
Tatapan tajam Bisu berayun ke belakang.
"...?!"
Tempat di mana ritsleting itu seharusnya berada, kini sudah tidak ada apa-apa.
Yang bisa ia lihat hanyalah dinding putih kosong, dan kaki kanannya sendiri yang telah terpotong di bawah pergelangan kaki, tergantung dengan mengenaskan di udara.
"Hah?!"
Kesadaran yang terlambat akhirnya menghantam benaknya.
Bajingan itu menggunakan skill tipe mental untuk mematIkan indraku dan menutup paksa ritsleting itu saat aku tidak sadarkan diri?!
Apakah hal seperti itu bahkan mungkin dilakukan?
"Tidak, tunggu!"
Bisu menahan tubuhnya ke lantai dan mencoba mengaktifkan skill-nya—
"Kenapa ini juga tidak berfungsi?!"
Skill-nya pun mati.
Jangan bilang dia mengunci skill-ku juga?!
'AKU MATI KONYOL!!'
Untuk pertama kalinya dalam karier hunter-nya, Bisu jatuh ke dalam kepanikan yang luar biasa.
"HEI, KAKIKU! KAKIKU TERSANGKUT! ADA APA DENGAN— KAKIKU TERSANGKUT, KUBILANG!!"
"Ada apa dengan— apa? Terdengar seperti umpatan barusan. Jaga ucapanmu di hadapan seorang guru."
"Kapan aku mengumpat...! Kakiku, KAKIKU tersangkut!!"
Bisu dengan panik menarik-narik kaki yang terjebak itu dengan kedua tangannya.
Namun seberapa keras pun ia menariknya, kaki itu tidak bergeming sedikit pun, seolah-olah telah dicor ke dalam dinding putih.
Tentu saja.
Kaki yang lenyap itu pasti sedang tergeletak sendirian di ujung sana tempat ritsleting satunya berada.
Jika ia mengaktifkan skill-nya sekali lagi dan menyambungkan kembali ruangannya, kakinya akan kembali — tetapi skill-nya terkunci!
"Tunggu, Interogator! Tahan dulu! Biarkan aku mengeluarkan kakiku dulu baru kita bicara!"
Ratapan Bisu menggema dengan sangat menyedihkan di dalam kantor Sahyeon.
"Kembalikan kakiku, kau iblis—!"