Direktur pertama-tama menyuruh Haeseong dan sekretarisnya keluar.
Kemudian ia duduk di kursi kerjanya, menjaga jarak sejauh mungkin antara dirinya dan Sahyeon, sebelum akhirnya membuka suara.
"...Ehem. Aku berasumsi alasanmu muncul entah dari mana pada jam begini adalah perubahan tingkat Gate? Lonjakan tingkat yang begitu tiba-tiba adalah yang pertama bagi kami juga — sangat tidak biasa. Pertanda buruk."
Seolah untuk menutupi kecemasannya, Direktur terus berbicara panjang lebar.
Selama itu pula, matanya tetap tertuju pada ponselnya, seolah sedang menimbang-timbang apakah harus menelepon Ketua Asosiasi atau tidak.
Sahyeon mendengus dan menjatuhkan diri ke satu-satunya kursi lengan di kepala ruangan.
"Ada sesuatu yang lebih serius dari itu."
"...Lebih serius?"
Sialan!
Keringat dingin membasahi dahi Direktur.
"...Ah, maksudmu Hunter tak dikenal tadi?"
Ujung bibir Sahyeon terangkat.
"Seorang Awakened beridentitas misterius berkeliaran di dalam Gate. Paling tidak peringkat S."
"Ap-Apa yang kau katakan?"
Direktur, yang terkejut, mengerjap-ngerjapkan matanya dengan hampa.
Seorang Awakened peringkat S dengan identitas tak dikenal!
Bahkan Awakened tingkat rendah pun adalah ancaman serius bagi non-Awakened.
Tapi seorang peringkat S, seorang buronan yang bebas keluar masuk Gate sesuka hati.
"Kau tidak tahu, ya?"
Saat Sahyeon bertanya dengan nada mengejek, Direktur menjawab seolah-olah ia dizalimi.
"Jika aku tahu, kau pikir aku akan membiarkannya begitu saja?! Dan bagaimana caranya aku harus menemukan Awakened peringkat S yang sengaja menyembunyikan diri?!"
"Percaya diri sekali kau."
Untuk seseorang yang katanya adalah Direktur, "Aku tidak tahu" bukanlah hal yang patut dibanggakan.
Ketika Sahyeon mengatakannya seolah terkesan, Direktur berdehem tanpa alasan dan memalingkan muka.
Cara orang ini menangani masalah, sungguh.
Sahyeon berdecak lidah, lalu merosot dalam-dalam ke kursi dan langsung pada intinya.
"Aku butuh beberapa penahan."
"Apa??"
Direktur melonjak dari kursinya seolah mendengar sesuatu yang tidak masuk akal.
"Kau pikir penahan adalah barang yang bisa dibawa begitu saja oleh sembarang orang?!"
"Haruskah aku pakai borgol biasa saja, kalau begitu?"
Sahyeon miringkan kepalanya.
Barang itu tidak akan ada artinya dibandingkan gelang benang jika melawan Awakened peringkat S.
"Itu—!"
Bibir Direktur bergetar sejenak, lalu ia menudingkan jarinya lagi, urat-urat di lehernya menonjol.
"Kau tahu berapa harga sepasang penahan? Siapa yang tahu apa yang akan terjadi jika kuserahkan ke tanganmu!"
Penahan — borgol hunter yang menyegel setiap kemampuan, termasuk sifat dan skill seorang Awakened, serta semua item.
Bertaburkan Kristal Mana langka dengan kemurnian tinggi, harganya bernilai astronomis.
"Kalau begitu, ada cara lain?"
Namun, ketertarikan Sahyeon terletak di tempat lain.
Bocah pirang yang kabur menggunakan Batu Kembali.
Tidak ada yang tahu kenakalan apa yang akan ia perbuat selanjutnya, jadi tindakan pencegahan sangat dibutuhkan.
"Aku akan membentuk tim tanggap darurat khusus untuk melacaknya secara terpisah. Kau tidak perlu ambil pusing."
Ketika Direktur menggelengkan kepalanya dengan tegas, Sahyeon menyilangkan kaki panjangnya dengan gumaman "hmm" pelan.
"Tidak ada hunter selain aku dan Baek Iwon yang bisa mengatasinya. Apa kau bisa menanganinya?"
Saat ini, Hunter Baek Iwon dikerahkan tanpa henti akibat Dungeon Break yang tiba-tiba.
Meskipun begitu, Direktur tetap percaya diri.
"Tentu saja! Kau tahu tidak ada berapa banyak hunter berkemampuan di negeri ini?"
"Berkemampuan?"
Sahyeon perlahan bangkit dari duduknya.
"Ke-Kenapa kau berdiri? Bicara dari sana saja, hei — kubilang jangan ke sini!"
Direktur tergagap karena panik.
Sahyeon berhenti hanya setelah ia mencapai meja kerja.
"Orang-orang yang susah payah ditangkap oleh hunter berkemampuanmu itu……"
"……"
"Kau membiarkan setiap dari mereka pergi setelah menyelipkan sedikit uang ke saku kalian."
"……!"
Ba-Bagaimana dia tahu itu...!
Bibir Direktur bergetar.
Betapa ekspresi yang transparan.
Sahyeon mengeluarkan dengkusan kecil.
"Melihat ke dalam kepala orang-orang yang dikurung di sana secara harfiah adalah pekerjaanku. Kau pikir aku tidak tahu sebanyak itu?"
"...A-Apa kau punya bukti? Beraninya kau memfitnah—!"
Ia mencoba pura-pura bodoh dan menyangkalnya, tetapi Sahyeon hanya mengangkat bahu.
"Yah, aku akan memalsukannya kalau perlu."
"……"
"Kira-kira penahan lebih mahal daripada kursi Direktur ini tidak ya……"
Sahyeon menyipitkan matanya dan bergumam pada dirinya sendiri, lalu menambahkan bagaikan sebuah peringatan.
"Sebaiknya kau jaga kelakuanmu."
Kecuali jika kau ingin diseret turun dari kursi Direktur itu.
"……"
Seharusnya aku menolak kepulangannya sampai akhir, pikir Direktur sambil memejamkan mata rapat-rapat.
'Dari semua orang, pria itu……'
Berbeda dengan Direktur yang wajahnya sudah pucat pasi, Sahyeon meninggalkan senyum santai.
"Ah. Dan ada hal lain yang harus kau serahkan……"
BRAK—
Pintu terbuka lebar.
"Seharusnya kau serahkan saat diminta baik-baik."
Sahyeon meregangkan lehernya ke kiri dan ke kanan saat ia melangkah keluar dari kantor Direktur.
Haeseong, yang sedari tadi mendekap sesuatu seukuran lengan bawah yang dibalut kain putih, bangkit dari tempat duduknya.
"Ah, Tuan Sahyeon!"
Tepat saat ia hendak menyambut Sahyeon, yang muncul kembali setelah sekian lama—
Pandangannya tertuju pada benda berkilau yang terlihat di balik lipatan mantel Sahyeon.
"……! Apa itu penahan?"
Borgol yang menggantung di lubang ikat pinggang Sahyeon.
Kristal Mana merah tertanam di dalamnya.
Sahyeon mengangguk ringan, lalu berbicara sambil mengamati layar ponselnya dengan lekat.
"Aku harus mampir ke suatu tempat dulu, jadi kalian duluan saja."
"Kau tidak langsung kembali ke Akademi?"
"Direktur memberiku secarik informasi."
Sebuah peta tertera di layar ponsel Sahyeon.
Titik merah di peta menunjukkan lokasi tertentu.
Melihatnya, Haeseong terkesiap kaget.
"...Ah! Apakah itu lokasi summoner berambut pirang tadi?"
"Bukan dia."
Jawab Sahyeon sambil memperbesar titik merah tersebut.
"Penjahat kejam yang tahu segalanya tentang orang-orang seperti itu."
"...A-Begitu ya……"
Haeseong menurunkan pandangannya dan mengerucutkan bibirnya.
Tadi aku sempat berpikir untuk ikut, tapi untunglah aku tidak mengatakannya duluan……
Sementara Haeseong merasa lega—
Sahyeon memeriksa lokasi persis tujuannya untuk terakhir kalinya, lalu melirik kembali ke arah kantor Direktur.
'Dia ada gunanya juga ternyata.'
Tepat saat ia hendak berangkat—
"Ah! Tuan Sahyeon!"
Haeseong mengulurkan benda yang sedari tadi didekapnya.
Sahyeon menerimanya tanpa banyak minat dan membuka kain putih pembalutnya, menampakkan sebuah pedang hitam.
"Ah."
Sahyeon menghunus gagangnya dengan acuh tak acuh.
Sebuah pedang dengan pola berbentuk paku terukir di bilahnya yang tajam.
Itu adalah item hadiah dari Gate yang bermutasi tersebut.
Setelah Awakened tak dikenal itu melarikan diri dan mereka melakukan pengejaran, hadiah Gate tersebut sempat terlupakan begitu saja.
"Aku sempat memeriksanya sebentar saat kau di dalam. Ternyata itu senjata peringkat D biasa."
Kondisi Gate-nya berubah tapi hadiahnya tetap sama, ya.
"Ya, tapi……"
Haeseong, yang melanjutkan perkataannya dengan tenang, menggaruk pipinya.
Ketika Sahyeon memberinya tatapan mendesak, Haeseong mengangguk dan meneruskan.
"Item itu memiliki Kemampuan Laten."
"Kemampuan Laten?"
"Ya."
Item dengan sifat yang meningkatkan status atau skill seorang Awakened.
Di antara item yang didapatkan dari Gate, senjata dengan Kemampuan Laten akan muncul dengan probabilitas yang sangat rendah.
Sebuah sifat tambahan yang terwujud secara acak melalui penempaan seorang pandai besi.
Namun, syarat untuk memunculkannya sangatlah menuntut.
Secara khusus, item itu membutuhkan penempaan ulang oleh seorang pandai besi yang memiliki skill Membuka Kemampuan Laten.
Ini adalah skill yang sangat langka, membuat kandidat yang cocok menjadi sangat sulit ditemukan.
"Sekalian saja aku cari tahu soal itu mumpung sedang di luar."
Sahyeon melemparkan senjata itu ke dalam inventory-nya, lalu merogoh ke dalam untuk mencari sesuatu yang lain.
"Kau mau pergi ke mana?"
Apakah penjahat kejam itu seorang pandai besi? tanya Haeseong, tak mampu menahan rasa penasarannya.
Sementara itu, Sahyeon menarik keluar sebuah topi hitam dari inventory-nya.
Ia menariknya rendah-rendah menutupi kepalanya.
"……!"
Haeseong, yang tadi melongo menatapnya, langsung membelalakkan mata.
Item penyamaran...?
Fitur wajah Sahyeon berubah dengan aneh.
"Bukan apa-apa."
Mulai dari tahi lalat hitam asing di bawah mata kirinya, hingga fitur wajah yang melunak aneh, sampai suara yang terdengar jauh lebih lembut — semuanya telah berubah.
Selain mata abu-abunya, sulit untuk mengenali wajah aslinya.
Sahyeon dengan santai menyesuaikan sarung tangan kulitnya.
"Mau menggali sedikit informasi."
Sebuah ruangan yang pekat oleh asap rokok yang menyesakkan.
Segala sesuatu mulai dari dentingan gelas hingga teriakan riuh berpadu dalam kebisingan yang kacau.
"...Suasananya bahkan lebih buruk dari yang kubayangkan secara langsung."
Berdiri di tengah-tengahnya, Sahyeon mengerutkan keningnya.
Tempat bermainnya para penjahat, dipenuhi dengan perjudian dan narkoba.
Ia telah melihat tempat ini begitu sering melalui ingatan para penjahat sehingga terasa akrab layaknya tempat yang sering ia kunjungi secara rutin.
'Seharusnya aku minta lebih banyak borgol.'
Pesta pora yang cukup meriah terhidang di sini.
Sahyeon mendengus kecil dan perlahan memandangi aula yang remang-remang itu.
Beberapa meja terlihat, riuh dengan teriakan-teriakan penuh makian.
Dan di antara mereka, meja yang berada paling dalam.
Pandangannya berhenti pada sebuah meja yang tampak sangat gaduh.
"—Dari mana asalmu berani-beraninya main trik skill?!"
BRAK—!
Seorang pria berbadan besar, Min Yong, menghantamkan tinjunya ke meja.
Meja itu bergetar hebat, kartu-kartu dan koin taruhan di atasnya berserakan dalam kekacauan.
Sebuah kekuatan yang akan membelahnya menjadi dua jika saja meja itu tidak terbuat dari bahan khusus.
"Trik skill? Apa yang kau bicarakan? Ngambek karena kalah?"
Pria di seberangnya menyeringai.
Menyedihkan, pikir pria itu, tepat saat ia hendak menyapu koin-koin dari atas meja—
"Dan ke mana arah tanganmu itu."
Min Yong mencengkeram tangannya dan mendesis mengancam.
Suasana menjadi semakin mencekam.
"Ooooh!"
"Ayo berkelahi!! Hahaha!"
Para pemain dan penonton lain yang menyaksikan permainan itu mulai memprovokasi mereka.
Pria bertubuh besar itu menyingsingkan lengan bajunya dengan sengaja.
"Kau lihat ini?"
Lambang Asosiasi Hunter kecil terukir di bagian dalam pergelangan tangannya.
"……!"
Semua orang yang melihatnya terkesiap serentak.
Tidak ada seorang pun di sini yang tidak tahu apa artinya itu.
Itu adalah tanda yang hanya diukir pada para penjahat kejam yang dibebaskan dari Penjara Bawah Tanah Hunter.
Menangkap suasana tersebut, Min Yong berbicara dengan penuh kemenangan.
"Kau tahu apa arti A018?"
"……"
Gulp. Pria yang pergelangan tangannya dicengkeram itu menelan ludah.
"Itu adalah nomor Penjara Bawah Tanah Hunter milikku. Aku selamat dari interogasi Topeng Cermin itu dan keluar dalam waktu satu hari."
Min Yong menyipitkan matanya dan berbisik mengancam.
"Kalau main trik lagi, pergelangan tanganmu itu mungkin akan lepas."
"……"
Tepat saat semua orang selain Min Yong terdiam kaku, hanya mengeluarkan napas gemetar—
"A18?"
Sebuah suara memecah keheningan.
"Bajingan macam apa itu?!"
Mendengar frasa yang entah bagaimana terdengar seperti kutukan, Min Yong bangkit dan berbalik.
Sepasang mata, dengan tangan di dalam saku, mengamati wajah Min Yong dengan cermat.
Itu benar dia, A18.
Mata abu-abu Sahyeon bersinar dingin.
"Kita terus saja saling bertemu."