Jam istirahat, di bawah rindangnya pohon di atas sebuah bangku.
Min-hyuk menatap lurus ke arah Kim Mi-na.
Mi-na menghindari tatapannya, jemari dan bibirnya gelisah memainkan ujung bajunya.
Dalam situasi lain, adegan ini mungkin tampak seperti petikan langsung dari komik percintaan remaja…
‘Tapi ini bukan hal semacam itu…’
Jelas ada hal lain yang ingin ia katakan, sesuatu yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Namun setelah memejamkan matanya erat-erat lalu membukanya kembali, ia akhirnya tampak membulatkan tekad dan bersuara.
“Um… sunbae-nim… bagaimana cara menjadi seorang komikus?”
Ya, itu dia.
‘Yah, mengingat dia sampai repot-repot membeli New Chance dan datang jauh-jauh ke kelasku… aku sebenarnya sudah punya firasat.’
Ini tahun 2005.
Komik cetak sedang tidak begitu berjaya—kebanyakan orang bahkan tidak tahu kalau benda itu masih ada.
Namun, meskipun mereka bersekolah di tempat yang sama, gadis itu membeli New Chance dan mencarinya hingga ke ruang kelas?
Sembilan dari sepuluh, itu berarti dia adalah seseorang yang memiliki ketertarikan serius pada komik.
‘Untunglah… ini bukan pernyataan cinta atau semacamnya.’
Sejujurnya, ia sempat merasa sedikit cemas bagaimana harus menanggapinya jika itu benar terjadi.
Min-hyuk mengembuskan napas lega pelan-pelan dan mengendurkan bahunya.
“Untuk menjadi komikus… yah, tentu saja kau harus menggambar komik.”
“Ah, itu…”
“Akan kujelaskan secara detail. Menurutku, secara garis besar ada tiga jalur utama. Pertama, jika kau ingin debut di majalah komik cetak seperti caraku…”
Min-hyuk dengan tenang melanjutkan penjelasannya.
Ia mulai dari debut melalui sayembara atau pengiriman naskah ke pasar komik cetak…
Lalu beralih ke bentuk webkomik yang sedang berkembang (atau lebih tepatnya, cikal bakal webtoon) yang mulai menarik perhatian dengan membangun pembaca melalui platform blog di berbagai situs.
Ia merajut pengetahuan masa depannya dengan realitas saat ini di tahun 2005, menjelaskannya poin demi poin.
Pada suatu momen—
“Tunggu, sunbae-nim!”
“Hm? Ada apa?”
“A-aku mau mencatatnya sebentar!”
Mi-na mengeluarkan buku catatan kecil yang tadi ia letakkan di sampingnya dan mulai menuliskan semua perkataan Min-hyuk.
‘…Dia benar-benar serius soal ini.’
Hanya sebuah gestur kecil.
Namun tindakan tunggal itu saja sudah memperjelas: ini bukan hal yang ia tanyakan secara asal-asalan. Ia telah mengumpulkan keberanian yang sesungguhnya demi impian yang begitu ia dambakan.
Melihatnya seperti ini… Min-hyuk mendadak teringat pada masa lalunya sendiri.
-Oh Seung-heon, bagaimana sih caranya jadi komikus?
-Mana kutahu sialan? Berhenti bicara omong kosong dan ayo main Gunbound saja.
Dulu, saat ia sangat ingin menjadi seorang komikus tapi tidak punya tempat bertanya dan hanya berjalan kebingungan tanpa arah.
Entah kenapa, ujung hidungnya terasa gatal.
“Yah… kira-kira itulah jalur-jalur debut yang bisa kupikirkan…”
Setelah mencurahkan semua isi pikirannya, Min-hyuk mengetuk dagunya dengan jari lalu melanjutkan.
“Apa kau punya gambar buatanmu? Kalau tidak keberatan, aku ingin melihatnya.”
Min-hyuk menatap tajam ke arah buku sketsa yang diletakkan Mi-na di sampingnya.
“Ah, um… isinya kebanyakan cuma coretan…”
“Tidak apa-apa. Perlihatkan saja padaku.”
Buka, buka, buka!
Min-hyuk mengambil buku sketsa itu dan membalik halamannya satu per satu.
Di sana-sini terdapat jejak pensil latihan karakter dan kostum.
‘Dasar-dasarnya tidak buruk. Dia juga sepertinya tahu persis di mana harus memberikan penekanan pada sebuah gambar.’
Tampilan itu sangat mirip dengan karya-karya awal seorang seniman berbakat yang nantinya akan berspesialisasi dalam komik bertema khusus wanita.
Sejujurnya…
‘Dia punya bakat.’
Bukan—dibandingkan saat Min-hyuk berada di kelas dua SMP pada kehidupan sebelumnya, kemampuan gadis ini sudah lebih dari cukup.
Saat Min-hyuk dengan serius membolak-balik buku sketsa itu—
Kim Mi-na, mungkin karena gugup, berbicara dengan wajah gemetar dan hampir menangis.
“Um… apa gambarku benar-benar masih kurang banyak? A-apa… apa tidak ada harapan buatku?”
“Tidak. Gambarmu bagus.”
Min-hyuk menutup buku sketsa itu dan berbicara dengan ekspresi serius.
“B-benaran bagus?”
“Ya—setidaknya dalam hal menggambar. Kau belum pernah mencoba membuat komik sebelumnya, kan?”
“Ah, ya… aku belum pernah benar-benar serius melakukannya…”
“Kalau begitu, gambarlah. Jika kau ingin menjadi seorang komikus… kau harus menggambar komik.”
Min-hyuk mengulurkan buku sketsa itu kembali sambil berucap.
Untuk menjadi seorang komikus, kau harus menggambar komik.
Kalimat itu terdengar seperti ucapan konyol, blak-blakan, dan terkesan keren yang biasa diucapkan oleh politikus Jepang…
Namun yang mengejutkan, itu sebenarnya adalah poin yang sangat penting.
‘Kebanyakan calon komikus bahkan tidak bisa mematuhi aturan yang sudah jelas ini.’
Pada saat itu, Mi-na balik bertanya.
“Tapi… bukankah lebih baik menggambar komik setelah dasar-dasarku semakin matang? Gambar-mamu… ah, gambarku sepertinya masih tertinggal jauh di belakang para profesional…”
“Dasar bukan cuma soal keterampilan menggambar.”
“Ah…”
Membuat komik itu sulit.
Ini bukan sekadar menggambar ilustrasi—ini adalah seni komprehensif yang merajut dialog, cerita, tata letak, karakter dengan bobot naratif… semuanya menjadi satu.
Itulah sebabnya mengapa orang yang jago menggambar sekalipun sering kali kebingungan begitu mereka mulai membuat papan cerita, tidak tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.
‘Sekarang dia mungkin sudah mulai menangkap intinya.’
Min-hyuk yang sekarang saja sudah kewalahan hanya untuk menjalani jalurnya sendiri.
Ia tidak bisa menjelaskan semuanya dari A sampai Z.
Lagi pula, apa yang ia katakan bukanlah sebuah kebenaran mutlak.
Memikirkan hal itu, Min-hyuk perlahan bangkit dari bangku dan berkata,
“Pokoknya, kurasa cuma itu yang bisa kuberitahu. Kita harus kembali ke kelas?”
“Ah… ya!”
Kim Mi-na berdiri dan dengan cepat membereskan buku sketsanya.
Mereka berdua mulai berjalan kembali menuju gedung utama.
“Kau lewat arah sini, kan? Kita berpisah di sini saja.”
“Ah, terima kasih banyak, Sunbae.”
Sebuah perpisahan yang singkat dan rapi.
Tepat saat keduanya hendak mengambil jalurnya masing-masing—
“Min-hyuk Sunbae. Aku benar-benar, sangat minta maaf, tapi… bolehkah aku mengajukan satu pertanyaan terakhir?”
“Hm? Apa itu?”
“Um… Sunbae-nim… bagaimana caranya kau mendapatkan izin dari orang tuamu?”
Mata Min-hyuk membelalak.
Hanya dari kalimat tunggal itu… ia langsung mengerti situasi apa yang sedang dihadapi oleh gadis ini.
Pertentangan dari orang tua.
Sesuatu yang hampir dialami oleh setiap calon komikus.
“Kau sudah bicara dengan mereka?”
“Belum… belum sih…”
“Kalau begitu, mulailah dengan membicarakannya. Jangan takut. Itu langkah pertamanya.”
“Apa mereka langsung memberi izin dengan mudah? Orang tuaku keras kepala banget…”
Min-hyuk menggelengkan kepalanya.
“Bagiku pun tidak mudah.”
“Lalu bagaimana caramu…”
“Tunjukkan keseriusan.”
“Keseriusan?”
“Buktikan pada mereka kalau ini bukan sekadar pelarian karena kau benci belajar—bahwa kau benar-benar tulus menjalaninya. Bahwa kau tidak bisa hidup tanpa ini.”
Di kehidupan sebelumnya, ia tidak mampu melakukan hal itu, dan ia sangat menyesalinya.
Kali ini, ia menerobos masuk ke dalam realitas dengan segenap jiwa raganya untuk mengubah takdir itu… dan hasilnya terbukti menciptakan masa kini yang berbeda.
“Bagiku, ketulusan itu wujudnya adalah memenangkan juara pertama di kompetisi SMA Seni. Kalau untukmu… tunjukkan saja keseriusan versi dirimu sendiri, dengan cara apa pun yang paling cocok untukmu.”
“Ah…”
Mata Mi-na mengerjap seolah ada sesuatu di kepalanya yang baru saja klik pada tempatnya.
Kemudian ia membungkuk dalam-dalam.
“Terima kasih banyak, Sunbae. Sungguh… ini sangat membantuku!”
“Ya. Lakukan yang terbaik.”
Dengan lambaian tangan ringan, keduanya berpisah jalan.
“Huuu…”
Astaga… berpura-pura menjadi orang dewasa ternyata sama sekali tidak mudah.
Meski begitu…
‘Kuharap itu bisa membantunya meski sedikit.’
Saat ia berjalan kembali, sebuah senyuman getir terukir di wajah Min-hyuk.
Namun ketika ia tiba kembali di kelas—
“Woi, tadi itu sebenarnya ngomongin apa sih?”
“Kalau itu pernyataan cinta, bakal legendaris banget sih. Ck ck…”
Di dekat bangkunya, Seung-heon dan beberapa anak lainnya sedang asyik bergosip. Begitu mereka menyadari kedatangannya, kepala mereka langsung menoleh serempak.
Mata mereka memancarkan rasa penasaran yang meluap-luap.
“Ada apa tadi? Nembak?”
“Nembak gundulmu. Dia cuma nanya gimana caranya jadi komikus. Udah gitu doang.”
“Ehhh? Cuma itu? Payah.”
“Bukan pernyataan cinta?!”
“Membosankan banget…”
Antusiasme mereka yang tadinya seratus persen langsung merosot drastis menjadi seratus persen kekecewaan.
Bagai lintasan roller coaster yang menukik tajam ke bawah.
“Udah, udah, sana balik. Nggak ada apa-apa.”
“Tch…”
Anak-anak itu membubarkan diri kembali ke bangku masing-masing seolah-olah mereka baru saja melihat pertunjukan yang membosankan.
Min-hyuk mengembuskan napas lalu duduk. Seung-heon langsung bertanya lagi.
“Terus, apa yang lu bilang ke dia?”
“Hm? Soal apa?”
“Cara jadi komikus lah. Emangnya lu ngomong apa ke dia?”
“Lu kan udah tahu dasar-dasarnya.”
“Ayolah, kasih tahu yang detail.”
Untuk sekali ini saja, Oh Seung-heon bertanya dengan ekspresi yang tumben sekali terlihat serius.
Tetapi…
“Diamlah, aku capek… mau tidur.”
Min-hyuk langsung menenggelamkan wajahnya di atas meja dan seketika langsung mendengkur.
“Sialan ni anak…”
Apa susahnya sih tinggal kasih tahu aja?
Seung-heon menatapnya dengan wajah cemberut untuk waktu yang lama sebelum akhirnya menghela napas.
Kemudian ia mengeluarkan buku sketsa dari laci mejanya…
Soret, soret!
…dan mulai dengan sungguh-sungguh menggambar sesuatu di atasnya.
Kring-ting-dong-dang!
“Perhatian! Beri salam kepada guru!”
Pukul 16.30 sore. Akhirnya… waktunya tidur—ralat, kelas telah usai.
“Haaaah, nyenyak banget tidurnya.”
“…Huuu.”
Min-hyuk dan Seung-heon berjalan berdampingan menuju rumah.
Angin sepoi-sepoi yang sejuk menerpa pipi mereka, dan pepohonan di sekeliling mulai diselimuti semburat warna merah musim gugur.
Pada saat itu, aroma gurih dan berminyak menggelitik indra penciuman Min-hyuk.
Ia menoleh—ada sebuah warung jajanan kaki lima (bunsik) di sana.
“Hei, mau makan apa?”
“Lu yang traktir?”
“Terserah lu aja, Bos. Hyung lu ini kan sekarang komikus profesional, ingat?”
Min-hyuk tersenyum geli.
Biasanya, Oh Seung-heon akan langsung membalas dengan komentar usil.
Namun…
“Kalau gitu beliin aku itu.”
Entah kenapa, Seung-heon menunjuk katsu Pikachu dengan nada bicara yang lemas.
‘Ada apa dengan dia?’
Merasa heran karena sikap temannya yang tidak biasa, Min-hyuk memiringkan kepalanya.
“Bibi, tolong katsu dua ya. Kuahnya disiram sekalian.”
“Ini dia.”
Masing-masing mengambil satu tusuk dan melanjutkan perjalanan.
Kress, kress.
Rasa katsu yang murah dan gurih berpadu dengan udara musim gugur yang segar, menciptakan cita rasa umami ekstra di lidah.
Tanpa sadar, Min-hyuk menarik kedua sudut bibirnya.
‘Hari-hari seperti ini… tidak akan berlangsung lama lagi.’
Tidur sepanjang hari di sekolah, mampir ke toko komik bersama Seung-heon sepulang sekolah untuk membaca manga, ngemil, bermain Gunbound beberapa ronde, lalu menggambar komik.
Sebuah kehidupan di mana ia bekerja keras mengejar serialisasinya sembari menikmati sepenuhnya romansa kelas tiga SMP.
Rasanya menyenangkan. Memuaskan.
Tapi begitu ia masuk ke SMA Seni…
‘Mereka mewajibkan asrama…’
Di antara setumpuk tugas dan pelajaran tentang komik, ia mungkin tidak akan punya banyak waktu luang seperti ini lagi.
Ia benar-benar bahagia bisa masuk SMA Seni, namun di saat yang sama ada rasa getir yang menyelimuti hatinya.
‘Tapi… kenapa anak ini bertingkah aneh sedari tadi?’
Min-hyuk melirik Seung-heon dari sudut matanya, yang sedari tadi melahap katsunya dalam diam.
Biasanya anak itu tidak bisa berhenti bicara, tapi sejak jam istirahat siang tadi ia bersikap seperti ini.
‘Aku benar-benar tidak paham apa yang sedang terjadi…’
Min-hyuk menggaruk dagunya.
Lalu—
“Hei, Kang Min-hyuk.”
“Hm? Apa.”
Seung-heon tiba-tiba menoleh dan bertanya dengan wajah yang sangat serius.
“Apa lu menikmati saat menggambar komik?”
“Tentu saja… makanya aku melakukannya. Meski ya, tidak di setiap detik juga sih.”
“Cukup sampai lu nggak bakal menyesal melakukannya seumur hidup?”
Kenapa tiba-tiba dia menanyakan hal ini?
“Kenapa lu tiba-tiba nanya begitu?”
Saat Min-hyuk membelalakkan matanya dan balik bertanya, Seung-heon menarik napas dalam-dalam lalu berbicara dengan tenang.
“Aku juga mau melakukannya… jadi komikus.”
“Hah? Lu?”
Sialan, apa-apaan ini tiba-tiba?
Mata Min-hyuk membulat karena terkejut. Seung-heon mengerutkan keningnya.
“Kenapa, emangnya aku nggak boleh?”
“Bukannya nggak boleh… tapi kenapa mendadak begini?”
“Entahlah… cuma pas ngeliat lu dan ikut bantu-bantu, rasanya jadi seru. Atau semacam itulah…”
Jadi itulah alasan kenapa anak itu terus mengganggunya tadi.
Ah… rupanya begini.
Seketika itu juga, Min-hyuk teringat saat Seung-heon mencorat-coret buku sketsanya tadi.
Dan cara temannya itu penasaran setengah mati menanyakan apa yang ingin dibicarakan oleh Kim Mi-na (adik kelas kelas dua tadi)—semuanya langsung terjawab.
“Lu nggak lagi ngomong main-main, kan…”
“Mana ada aku main-main, sialan. Aku benar-benar memikirkannya dengan serius.”
“Dipikirkan?”
“Aku sempat mikir, jangan-jangan aku cuma salah paham—karena aku suka baca komik dan melihat lu sukses. Tapi mau dipikir bagaimanapun… bukan itu alasannya. Aku cuma… benar-benar ingin jadi komikus.”
Suara dan ekspresi Seung-heon menyuarakan segalanya.
‘Anak ini seratus persen serius.’
Ya Tuhan, kenapa Engkau tiba-tiba mengujiku seperti ini?
Wajah Min-hyuk sepenuhnya dipenuhi oleh ekspresi penuh kekalutan.