<Brave King>, yang diserialisasikan di New Chance.
Komik ini… menciptakan gelombang besar di industri komik Korea yang tadinya begitu tenang.
[Forum Komik Korea]
[SilentMan] Ya ampun, apa kalian lihat lanjutan Aureka kali ini?
└[RolinaNight] Kualitasnya gila banget. Sial, sudah lama sekali aku tidak melihat bab pembuka sekuat ini.
[SaeromiJjang] : Kebangkitan New Chance sedang menuju ke sini ㄷㄷㄷㄷㄷ
└[kjfk99] : Biasanya aku akan menyuruh orang-orang untuk tidak terlalu berlebihan, tapi yang ini… aku bahkan tidak bisa menyangkalnya.
└[hkamga] : Sebenarnya di mana New Chance menyembunyikan para seniman ini? Aureka tamat dan mereka langsung mendatangkan pendatang baru sebagus ini ㄷㄷㄷ
└[MillioRem] : Jujur saja, jurang perbedaan bakat itu nyata. OTL ㅜㅜ…
Komunitas-komunitas yang penuh dengan para seniman komik dan calon kreator berdengung tiada henti membicarakan <Brave King>.
Dan bukan itu saja.
“…Ini benar-benar karya seorang pendatang baru?”
Han Yu-ra—yang telah bertarung (?) habis-habisan melawan Min-hyuk di kompetisi SMA Animasi Korea—melihat komik ini dan langsung melipatgandakan waktu latihannya.
“Benda apa aneh ini?!”
Tap tap tap tap!
Oh Dong-gyo, yang memenangkan Penghargaan Keunggulan, begitu antusias hingga ia mendengus seperti banteng sambil ikut menikmati gelombang kepopuleran di forum-forum.
“Hehe, Coup-ler imut bangeet.”
Kim Rok-hee, yang terobsesi dengan segala hal yang menggemaskan, berada di ruangannya sendiri menatap <Brave King> di New Chance, benar-benar terpikat… dan bahkan mulai membuat karya sekunder dari Coup-ler.
Hanya satu bab.
Karya seorang pendatang baru yang baru menelurkan satu bab tiba-tiba menyuntikkan ketegangan yang sengit ke dalam kancah komik Korea yang tadinya lesu.
Pada saat yang sama, di dalam ruang rapat redaksi New Chance.
Go Gwang-jin dan Manajer Song Mi-hyeon duduk saling berhadapan, berbincang-bincang.
“Hmmmm… jadi ini papan cerita untuk Bab 7?”
“Ya.”
“Tangannya cepat juga… sudah sampai ke Bab 7.”
“Sudah kubilang tidak akan ada masalah.”
Gwang-jin memamerkan senyuman penuh percaya diri. Song Mi-hyeon dengan cepat membalik-balik halaman salinan papan cerita tersebut.
“Hmmmm…”
Ia selesai membaca semuanya dalam waktu kurang dari tiga menit, lalu mengetuk meja dengan jarinya, dengan wajah serius.
Gwang-jin menelan ludah dengan gugup dan bertanya,
“Ada… masukan?”
“Tidak ada—itu masalahnya. Tidak ada sama sekali.”
“Eh? Masalah?”
“Ceritanya seru. Karakter-karakternya sangat hidup. Tapi masalahnya adalah anak SMP kelas tiga yang memproduksi ini. Di level ini… aku bahkan tidak bisa membayangkan seberapa jauh dia akan berkembang nanti.”
“Ah…”
Song Mi-hyeon mengetuk dahinya dengan jari lalu melanjutkan.
“Aku ingin mempromosikan ini secara jor-joran untuk perilisan bentuk volume-nya. Apa rencanamu?”
“Ah, aku sudah menelepon toko-toko komik sewaan. Aku telah menunjuk Min-hyung sebagai editor yang bertanggung jawab. Sampulnya sedang dipersiapkan sebelumnya…”
“Tidak, tidak—itu semua hal mendasar. Maksudku, apakah ada yang lebih dari itu? Kita harus menggebrak ini sekuat tenaga begitu Volume 1 rilis.”
Kilatan mematikan memenuhi mata Mi-hyeon saat ia menatap Gwang-jin.
Ia tampak siap menghancurkan apa pun yang menghalangi jalannya.
“Aku akan… mempersiapkannya.”
“Bagus. Serahkan rencananya kepadaku paling lambat dua hari lagi. Jika kamu kekurangan orang, aku akan menugaskan staf termuda untuk membantu.”
“Ah, baik! Aku akan lembur kalau memang harus dan menyelesaikannya tepat waktu.”
“Ada hal lain yang perlu dicek?”
“Tidak ada.”
“Kalau begitu, mari kita mulai bekerja.”
“Baik!”
Saat Song Mi-hyeon berdiri, Go Gwang-jin mengepalkan tinjunya dan bangkit dengan penuh semangat.
‘Baiklah—saat air pasang tiba, dayunglah sekuat tenaga!’
Dua hari lembur berturut-turut menanti di depan.
Namun anehnya, wajah Gwang-jin dipenuhi dengan semangat juang dan energi.
Sekitar waktu peralihan dini hari menuju jam makan siang.
Musim gugur telah tiba sepenuhnya, daun-daun maple merah berguguran di lapangan sekolah kelas tiga sebuah sekolah menengah pertama tertentu.
“Zzz… huuuu…”
“Ughhh… Kang Min-hyuk… perbaiki nada nomor 3 di sini…”
Di bagian paling belakang kelas, duo gila (?) Kang Min-hyuk dan Oh Seung-heon sekali lagi dengan gembira mendengkur dalam tidur lelap mereka.
Guru di depan, di tengah-tengah ceramahnya, mengerutkan keningnya dalam-dalam.
“Sialan, anak-anak itu mendengkur seperti babi.”
“Pfft!”
Heh heh.
Senyuman merebak di wajah para siswa di kelas, dan tawa tertahan lolos.
Kemudian, anak berkacamata yang duduk tepat di sebelah keduanya merapikan bingkai kacamatnya dan bertanya,
“Haruskah saya membangunkan mereka, seonsaengnim?”
“Ah, biarkan saja. Tuan-tuan seniman hebat kita kelelahan karena bekerja… Tidak ada gunanya mengganggu mereka dan berakhir disumpahi.”
Guru itu sepertinya tidak benar-benar membenci keduanya—ia hanya tersenyum kecil dan melanjutkan pelajarannya.
Begitu saja, waktu damai yang biasa (?) itu terus mengalir.
Ding-dong-daeng-dong!
“Perhatian! Beri hormat kepada guru!”
Waktu istirahat tiba, dan anak-anak berbondong-bondong menuju koperasi sekolah atau kamar mandi, mengubah ruang kelas menjadi seperti pasar dalam hitungan detik.
Tentu saja…
“Uuuugh…”
“Mnya… mnya…”
Min-hyuk dan Seung-heon masih menunjukkan nol niat untuk kembali dari alam mimpi.
Namun tepat di tengah-tengah tidur lelap mereka—
“Hei, Kang Min-hyuk! Hei, Kang Min-hyuk! Bangun.”
Seorang anak mengguncang punggung Min-hyuk dengan penuh semangat.
Min-hyuk meringis kesal dan perlahan mengangkat kepalanya.
“Ughhh… apa? Sudah jam makan siang ya?”
“Bukan, bukan itu.”
“Terus kenapa bangunkan akuuu…”
Sedikit rasa jengkel merayap ke dalam suara Min-hyuk.
Akhir-akhir ini ia terus-menerus bekerja lembur tanpa henti, jadi sarafnya sangat tegang.
Dan di atas itu semua…
-Min-hyuk, sudah dapat papan cerita untuk bab selanjutnya? Yang berikutnya? Naskahnya gila banget!
-Aku baru saja mengirimkan papan cerita kepadamu lewat telepon semenit yang lalu.
-Ceritanya seru banget! Hehe! Oh, bagaimana perkembangan sampul Volume 1?
-Tolong tunggu. Itu masih butuh beberapa hari lagi setidaknya.
Dengan Volume 1 yang akan segera terbit, ada banyak hal yang harus dikerjakan—sampul, cetak coba, pemeriksaan, semuanya.
Dan Go Gwang-jin terus memacu semangatnya begitu rupa hingga Min-hyuk tanpa sengaja bekerja terlalu keras karena terlalu bersemangat.
Singkatnya, Kang Min-hyuk yang sekarang adalah manusia yang sangat sensitif dan mudah tersinggung.
“Bukan itu. Seseorang datang mencari kamu.”
“Siapa? Wali kelas? Atau kepala sekolah?”
“Bukan… di luar lorong. Mereka bertanya apakah kami bisa memanggilmu.”
“Hah?”
Min-hyuk menatap ke arah bagian belakang kelas.
Melalui pintu yang setengah terbuka, seorang gadis sedang mengintip dengan malu-malu.
“Ada apa?”
“Mana kutahu?”
Ada apa ini…?
Ketika temannya hanya mengangkat bahu, Min-hyuk memiringkan kepalanya dan berjalan ke arah belakang ruangan.
“Eh… kudengar kau mencariku?”
“Ah, ya! Ah—h-halo, sunbae-nim!”
Seorang gadis berpenampilan rapi dengan kacamata bundar dan rambut yang diikat ke belakang dalam kuncir kuda yang bersih.
Tanda nama kuning yang menunjukkan kelas dua terbaca [Kim Mi-na].
Wajah yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Min-hyuk menggaruk pangkal hidungnya dan bertanya,
“Um… untuk apa?”
“I-itu… bisakah aku meminta tanda tanganmu?”
Dengan itu, Kim Mi-na mengeluarkan sebuah majalah yang ia sembunyikan di punggungnya dan mengulorkannya ke depan.
Itu adalah majalah New Chance yang berisi Bab 1 dari <Brave King>.
“…Hah? Tanda tangan?”
“Ya, um… kudengar kau adalah seniman dari <Brave King>, sunbae-nim… Apakah itu… tidak benar?”
Min-hyuk menoleh dan melihat kembali ke dalam kelas.
“Zzz… huuuu…”
Di sanalah Oh Seung-heon, masih mendengkur dalam meditasi yang dalam.
‘Ulah keparat itu, ya.’
Yah, toh dia tidak berniat merahasiakannya selamanya…
Tapi jika seorang anak kelas dua tahu dan datang jauh-jauh ke sini, sudah pasti sesuatu telah terjadi.
“Eh, maaf. Aku bukan tipe orang yang memberikan tanda tangan kepada orang lain.”
“T-tapi aku sangat ingin… aku sangat menyukai <Brave King>. Bisakah kau… kumohon, sunbae-nim?”
Kim Mi-na menatapnya dengan mata memohon, meminta sekali lagi.
‘Ini agak membebani…’
Min-hyuk memejamkan matanya rapat-rapat selama sedetik, lalu membukanya dan mengambil majalah New Chance tersebut.
“Tunggu sebentar.”
“Terima kasih! Terima kasih banyak, sunbae!”
Min-hyuk kembali ke dalam kelas, mengeluarkan sebuah pulpen bolpoin, dan mencoretkan namanya secara kasar di atas sampul.
‘Apakah memang begini cara kerja tanda tangan…? Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya, jadi mana kutahu.’
Kemudian, teman-teman sekelas yang sedari tadi menonton mulai bersuara.
“Ooooh, Kang Min-hyuk. Ada apa nih?”
“Krrrr, kepopuleran seniman profesional bukan main ya!”
“Diam kalian, berisik sekali.”
Min-hyuk menerobos anak-anak yang menggodanya dan melangkah keluar kelas lagi, menyerahkan majalah New Chance tersebut.
“Nih.”
“T-terima kasih banyak.”
“Jadi urusan kita sudah selesai, kan?”
“Um… sebenarnya…”
“Apa lagi?”
“Um… kalau sunbae-nim tidak keberatan… bisakah kita mengobrol sebentar saat jam makan siang?”
“Hah?”
Ada apa ini tiba-tiba?
Kening Min-hyuk mengerut dalam.
Jam makan siang, di dalam kantin.
Oh Seung-heon sedang mengunyah sepiring penuh ayam goreng dan kari ketika ia berbicara.
“Kawan, itu 100% pernyataan cinta. Iyoool.”
“Pernyataan cinta kepalamu.”
“Bukan, serius—dia datang jauh-jauh ke kelas kita hanya untuk mendapatkan tanda tanganmu? Pasti itu tujuannya. Krrrr, si Min-hyuk kita sudah jadi super populer. Kalau berhasil, traktir aku ya!”
Sebaiknya aku bunuh saja dia ya?
Min-hyuk mengangkat sendoknya dengan mengancam dan melotot tajam.
“Wah, wah, letakkan itu.”
“Huuu… baiklah.”
Yah, sejujurnya Min-hyuk juga merasa gugup.
Tapi ia tahu persis bahwa ini bukanlah jenis “obrolan” yang sedang digoda oleh Seung-heon.
Karena…
‘Ya, sudah pasti hal itu.’
Sebagai seorang pria berusia 34 tahun dalam tubuh anak-anak yang telah mengalami berbagai macam hal, Kang Min-hyuk dapat dengan mudah menebak mengapa seorang gadis bernama Kim Mi-na datang mencarinya.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua meninggalkan kantin.
“Duluan saja. Aku ada janji.”
“Krrrrrr, nanti kalau kau kembali, kau harus menceritakan semuanya padaku duluan, paham?”
“Aku tidak tahu apa yang kau harapkan, tapi tidak akan ada hal seperti itu yang terjadi.”
“Kita lihat saja nanti, ya kan?”
“Diamlah, aku pergi.”
Min-hyuk melambaikan tangannya dan berjalan menuju lapangan sekolah.
Melihat punggungnya, Seung-heon bergumam,
“Sialan itu… tidak pernah memberiku apa-apa.”
Ekspresi samar dan pahit melintas di wajah Seung-heon entah kenapa.
Salah satu sudut lapangan sekolah, di bawah naungan pohon dekat pancuran air.
“Ah, sunbae-nim! Kau datang!”
Ketika Min-hyuk muncul, Mi-na—yang sedang menunggu di bangku—dengan cepat berdiri dan membungkuk.
Min-hyuk melangkah ke tempat teduh, dan Mi-na mengulurkan kedua tangannya ke depan.
“I-ini, silakan ambil. Aku tidak tahu apa yang kau suka, jadi aku membelikan keduanya.”
Susu cokelat dan susu stroberi—masing-masing di satu tangan.
Min-hyuk mendengus pelan dari hidungnya, mengambil susu stroberi, lalu duduk.
“Terima kasih. Akan ku minum.”
“Ya!”
Maka duduklah mereka berdua berdampingan di atas bangku di bawah naungan pohon.
Keheningan sesaat.
“Jadi… apa yang ingin kau bicarakan?”
“Um, begini…”
Mendengar pertanyaan Min-hyuk, Mi-na terus mencuri-curi pandang sebelum akhirnya membuka mulut.
“Um… sunbae-nim, kapan kau mulai menggambar komik?”
“Kapan aku mulai?”
Bagaimana bisa ia menjawab pertanyaan itu?
Kang Min-hyuk yang sekarang baru sekitar setengah tahun serius menggambar, tapi ada juga waktu dari kehidupan masa lalunya yang harus dipertimbangkan…
Jika ia bilang terlalu singkat, itu akan terdengar mencurigakan; terlalu lama, masalah yang sama.
Bagaimanapun juga, ia tidak bisa begitu saja mengatakan yang sebenarnya.
Setelah berpikir sejenak, Min-hyuk menjawab.
“Yah… kalau mulai serius menggelutinya? Sekitar empat tahun, kurasa.”
“Ah… begitu ya.”
Keheningan singkat lainnya.
Kali ini, Mi-na berbicara lebih dulu.
“Aku sangat menikmati <Brave King>! Desain karakternya begitu menawan, dan ketegangan saat membacanya luar biasa—aku benar-benar duduk di ujung kursi, jantungku berdebar-debar…”
“Oh ya? Syukurlah kalau kau suka. Terima kasih.”
“Dan juga… aku melihat karya yang membuatmu memenangkan juara pertama di kompetisi SMA Animasi. Cara kau menggambarkan protagonis yang dirantai… itu benar-benar sangat menyentuhku. Hidungku terasa perih… itu secara aneh mengingatkanku pada ibuku…”
Mendengar itu, Min-hyuk hanya mengangkat sudut bibirnya membentuk senyuman tipis dan berbicara dengan suara tenang.
“Sepertinya kau punya sesuatu yang ingin kau katakan padaku… Tidak apa-apa. Kau bisa mengatakannya dengan santai.”
“Ah…”
Sesaat, Kim Mi-na mengerjap kaget.