Renegade Immortal - Chapter 1603 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 1603 · 7m baca

Home is Under the Heng Yue Mountain

by Er Gen

Meskipun kata-kata Wang Lin tidak diucapkan dengan keras, suaranya mampu menggetarkan langit!

Ekspresi pemuda yang memegang pedang terbang itu langsung berubah drastis. Dia hanyalah seorang kultivator tahap awal Pendirian Yayasan. Ketika dia menatap Wang Lin, sosok Wang Lin tampak begitu besar di matanya. Raungan itu bahkan telah menyebabkan langit berubah warna.

Aura perkasa tersebut membentuk sebuah penghalang tak kasat mata yang membuat wajah sang pemuda menjadi pucat. Dia bahkan memuntahkan darah dan cahaya pedangnya meredup. Pemuda itu tidak berani melangkah maju, dan pedang terbang di tangannya jatuh ke tanah. Dia kemudian buru-buru mundur.

"Mustahil, tidak mungkin!! Kau hanyalah manusia fana, kau cuma seekor semut. Kau tidak bisa membuatku takut!!" Pemuda itu gemetar hebat dan pikirannya berdengung kacau. Suaranya berubah melengking saat dia mundur, membuat orang-orang yang sedang berlutut diliputi rasa tidak percaya.

Sepanjang sejarah, pemandangan seperti ini belum pernah disaksikan sebelumnya. Seorang manusia fana baru saja berani memarahi seorang kultivator abadi. Raungan yang menggelegar itu seolah terus bergema selamanya di telinga mereka.

Saat pemuda pertama mundur, pemuda lainnya melangkah maju. Tingkat kultivasinya jauh melampaui pemuda sebelumnya; dia berada di tahap menengah Pendirian Yayasan.

Dia melangkah ke depan dan menempatkan kedua tangannya di punggung rekan seperguruannya itu. Dia menatap Wang Lin dan Kekayaan Besar, yang menjadi satu-satunya orang yang masih berdiri!

Dari tatapan itu, dia samar-samar melihat sebuah aura di atas Wang Lin yang membuatnya bergidik ngeri. Aura ini begitu kuat, dan hanya dengan sekali lihat, pikirannya langsung dibanjiri oleh begitu banyak pikiran rumit. Rasanya seolah aura itu hendak menghancurkan akal sehatnya dan memaksanya memuntahkan seteguk darah.

"Aku telah memahami dunia, jadi apa salahnya jika aku melihat para dewa abadi sebagai semut? Lupakan kalian berdua, bahkan jika seluruh dewa abadi di planet Suzaku datang kesini, lalu kenapa?" Wang Lin mendongak, dan kilatan petir tampak menyambar di dalam matanya. Rambut panjangnya berkibar tertiup angin sementara ia meneguk semangkuk anggur.

Diliputi ketakutan, pemuda itu merasakan kulit kepalanya mati rasa. Kejadian semacam ini berada di luar batas imajinasinya. Meskipun Wang Lin tampak rapuh, ia bisa merasakan sebuah aura agung dan lurus yang sama sekali tidak takut pada langit maupun bumi. Aura itu sebanding dengan mantra yang bisa melukai mereka, dan hal itu membuatnya diliputi rasa hormat.

"Bagaimana bisa begini? Dia hanyalah manusia fana, hanya manusia biasa!! Bagaimana mungkin dia bisa memancarkan aura seperti itu, orang ini... orang ini... tidak boleh disinggung!!!"

Dia tidak berani pergi begitu saja, namun dia tetap bertahan di udara dengan sikap penuh hormat. Dia menangkupkan kedua tangannya ke arah Wang Lin seolah sedang memberi salam kepada seorang sesepuh.

"Ini adalah kesalahan kami, semoga Sarjana Agung tidak tersinggung. Kami akan segera pergi dan tidak akan pernah menginjakan kaki di Kota Su lagi." Sambil berkata demikian, pemuda itu buru-buru pergi seraya memapah rekannya.

Suasana di sekitarnya mendadak hening seketika.

Wang Lin berdiri di sana sambil meneguk anggurnya. Hembusan angin yang lewat membuat pakaiannya berkibar di hadapan semua orang.

"Apa yang mustahil dari hal ini?" Wang Lin menurunkan kendi angurnya dan tatapannya jatuh ke tengah kerumunan. Ia melihat Su Yi yang berwajah pucat, orang yang telah mengajukan pertanyaan tadi.

Su Yi menundukkan kepalanya dan tubuhnya mulai gemetar. Butuh waktu lama baginya untuk berjuang bangkit dan membungkuk kepada Wang Lin.

"Su Yi menyambut Sarjana Agung Zhao."

"Kami menyambut Sarjana Agung Zhao." Seluruh sarjana menangkupkan tangan mereka. Mata mereka yang gemetar memancarkan rasa hormat yang tak terlukiskan. Apa yang terjadi hari ini adalah sesuatu yang tidak akan pernah mereka lupakan.

Para pria paruh baya di dalam gerbong kereta di luar sana turut menundukkan kepala. Mereka mengakui kekalahan ini dengan lapang dada!

Mereka tidak pernah membayangkan seumur hidup mereka bahwa seorang manusia fana bisa menakuti makhluk abadi, tetapi sekarang mereka menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Sebuah rasa bangga yang rumit muncul di dalam hati mereka.

"Jika pikiranmu seluas alam semesta, jika kau memahami kebenaran dunia, maka kau bahkan bisa memandang para dewa abadi sebagai semut!" Kalimat ini menyebar ke seluruh negeri Zhao terhitung sejak hari ini dan seterusnya.

"Aku lelah." Wang Lin mengambil kendi angurnya dan menatap ke arah restoran. Pria paruh baya di dalam restoran itu bermandi keringat dan tampak linglung. Dia tidak berani menatap Wang Lin melainkan menundukkan kepala dan membungkuk. Wang Lin dan Kekayaan Besar berbalik lalu berjalan kembali ke dalam kediaman mereka.

Kerumunan sarjana yang tak terhitung jumlahnya membungkuk dalam waktu yang lama sebelum akhirnya pergi satu per satu. Akhirnya, semua orang yang datang dengan berbagai tujuan mereka perlahan-lahan membubarkan diri dan Kota Su pun berangsur-angsur kembali tenang.

Tidak ada seorang pun yang berani mengucapkan sepatah kata pun keraguan lagi. Badai dari kejadian sebelumnya lenyap tanpa jejak.

Berkat masalah ini, reputasi Wang Lin meroket di Zhao dan dia sepenuhnya menggantikan gurunya, Su Dao, sebagai Sarjana Agung Zhao. Seorang sarjana agung yang mampu menakuti para dewa abadi!

Waktu terus berjalan. Kuliah umum Wang Lin yang berlangsung selama 10 tahun masih terus berlanjut, tetapi tidak ada seorang pun yang merasa layak untuk mempertanyakannya. Jika ada orang yang datang, mereka bersikap bagaikan para murid yang mendengarkan ajarannya dengan penuh rasa hormat.

Dalam sekejap mata, delapan tahun berlalu.

Dalam kurun waktu delapan tahun itu, Wang Lin telah beranjak dari usia awal 40-an menjadi seseorang yang hampir berusia setengah abad. Rambutnya mulai memutih.

Selama delapan tahun ini, Wang Lin akan menghabiskan beberapa hari dalam setiap bulannya untuk duduk di atas perahu bersama Kekayaan Besar sambil meminum anggur osmanthus. Dia selalu menunggu seseorang yang tak kunjung datang sesuai dengan janji mereka.

Bukan hanya selama delapan tahun ini, tetapi dia juga melakukan hal yang sama pada 20 tahun sebelumnya.

Total 28 tahun lamanya, 28 kali pergantian antara musim semi dan gugur. Namun pada akhirnya, saat perahu itu melintas di bawah jembatan, orang yang dinantikannya tetap tidak muncul.

"Tuan, apa sebenarnya yang sedang Anda tunggu..." Kekayaan Besar masih sehat, namun dia menjadi semakin pelit. Dia sering menatap pergelangan tangan kanannya dengan tatapan kosong, mencoba mengingat sesuatu, tetapi dia tetap tidak bisa mengingatnya.

Wajah Wang Lin tampak sedikit tua dan dia mendongak menatap langit. Dengan suara parau, dia perlahan berucap, "Aku sedang menunggu diriku sendiri... Menunggu pertemuan dengan diriku sendiri."

Seekor burung putih masih berputar-putar di udara. Burung itu telah menemani Wang Lin selama 28 tahun tanpa ada perubahan sedikit pun.

Saat Wang Lin mengamati, dia merasa sedikit lelah dan menyandarkan tubuhnya ke sisi perahu. Dia jatuh tertidur sementara alunan musik siter bergema di telinganya. Musik itu seolah berpadu dengan mimpinya; tampaknya ada alunan musik siter juga di dalam mimpinya itu.

Kekayaan Besar menghela napas dan menatap pergelangan tangan kanannya dengan hampa.

Sinar matahari siang terasa sangat lembut dan hangat ketika menyentuh tubuh Wang Lin, membuat Wang Lin tertidur dengan sangat nyenyak. Namun, pada musim ini, ada beberapa daun pohon willow yang melayang terbawa angin. Sehelai daun jatuh dengan lembut melintasi wajah Wang Lin, menyebabkannya membuka mata.

Perahu itu masih terus meluncur.

Melihat sehelai daun willow yang melayang di hadapannya, Wang Lin tiba-tiba tersenyum.

"Kekayaan Besar, apakah kau masih ingat saat kita baru tiba di Kota Su lebih dari 20 tahun lalu? Dulu, ada begitu banyak daun willow seperti ini, dan kita juga berada di atas sebuah perahu."

Saat ia tertawa, sebuah perahu berpapasan dengan mereka. Tepat saat perahu itu berpapasan, dua suara yang lembut dan memikat terdengar dari dalam perahu tersebut.

"Kakak Perguruan, daun-daun willow ini sangat menyebalkan. Rasanya sangat tidak nyaman saat mereka menempel di tubuhmu."

"Jika kau tidak memikirkannya, maka kau tidak akan merasa daun-daun itu ada. Adik Perguruan, hatimu sedang tidak tenang."

Setelah mendengar suara-suara itu, Wang Lin tertegun. Dia merasa suara tersebut samar-samar terasa akrab, seolah-olah dia pernah mendengarnya sebelumnya. Dia berdiri dan melihat ke arah perahu itu. Dia melihat siluet dua wanita berada di atas perahu tersebut.

Kedua wanita itu masih sangat muda dan sangat cantik. Mereka berdiri di tengah hamparan daun willow yang tak berujung bagaikan dua dewi kayangan. Angin membuat pakaian mereka berkibar, menjadikan mereka terlihat semakin menawan.

"Itu... Mereka..." Wang Lin menatap perahu yang perlahan menjauh itu. Di dalam benaknya, bayangan perahu dari malam hujan lebih dari 20 tahun lalu muncul kembali.

Saat mengamatinya, senyum lembut terukir di wajahnya. Dia tidak bisa melupakan bagaimana dulu dia memandangi awan gelap gulita seperti tinta di tengah hujan. Bagaimana dia menatap dunia yang perkasa dan melisankan sebuah puisi. Dia masih ingat betapa bahagianya dia saat itu.

Teguran dari gadis bernama Xu Fei itu masih terngiang di telinganya.

Rona merah di pipinya sendiri serta debaran jantungnya di dalam perahu itu, beserta kecantikan kedua gadis tersebut, masih tersimpan rapi dalam ingatannya dan sama sekali tidak memudar. Mantel tebal itu dimasukkan oleh Wang Lin ke dalam tas punggung bambu dari masa lalu. Dia masih menyimpannya di sana dan tidak pernah sekalipun mengeluarkannya.

Wang Lin menghela napas pelan. Dia menyentuh rambut putihnya namun tidak memanggil mereka. Dia kembali duduk di tempatnya dan meneguk anggurnya.

Sepanjang hidupnya, dia tidak pernah bertemu dengan seorang wanita pun yang mampu menggerakkan hatinya. Selain Kekayaan Besar dan anggur, satu-satunya hal lain yang menemaninya adalah burung putih di langit.

Dia tidak memiliki seorang istri; dia tampak menjalani 28 tahun hidupnya dalam kesendirian ini.

Jika ada seorang wanita yang berhasil menggerakkan hatinya, itu pasti adalah saat pertama kali dia bertemu dengannya. Gadis bernama Zhou Rui, yang telah memberinya mantel tersebut.

Bersandar di haluan sambil menenggak anggur, Wang Lin menunduk menatap air dan melihat bayangan wajahnya sendiri yang sudah menua di atas permukaan air. Rambut putihnya kini sudah jauh lebih banyak.

Perahu yang ditumpangi kedua wanita itu perlahan mendekat sebelum akhirnya berpapasan dengan perahu Wang Lin. Bagaikan dua garis takdir yang berbeda dalam kehidupan, mereka terus melangkah di jalur masing-masing.

"Eh, Kakak Perguruan, sepertinya pria tua barusan sedang memperhatikan kita." Xu Fei melirik ke arah punggung Wang Lin.

Perahu itu meluncur ke bawah sebuah jembatan batu.

Zhou Rui berbalik dan tatapannya yang tajam menyapu sekitar. Namun, dari posisinya, dengan terhalang oleh struktur jembatan batu, dia tidak bisa melihat apa pun. Dia juga bukanlah tipe orang yang akan memeriksa menggunakan indra ilahinya hanya karena seseorang kebetulan melihat ke arahnya.

Kedua perahu itu pun berlayar semakin jauh dan terpisah satu sama lain.

Wang Lin duduk di atas perahu dan berucap pelan kepada Kekayaan Besar.

"Kekayaan Besar, mari kita tinggalkan Kota Su. Aku telah menunggu di sini selama 28 tahun, kita tidak perlu menunggu lagi. Mari kita pulang."

"Pulang? Di mana rumah kita?" Kekayaan Besar terkejut.

"Di bawah Gunung Heng Yue." Perahu itu bersandar di tepi daratan dan Wang Lin serta Kekayaan Besar turun. Dia menengok sekali lagi ke arah sungai dan Kota Su, tempat di mana mereka telah tinggal selama 28 tahun lamanya.

Saat mereka tiba, saat itu bertepatan dengan musim di mana daun-daun willow baru saja mulai berguguran. Hanya ada beberapa kendi anggur, sebuah kereta kuda, dan mereka berdua.

Begitu pula ketika mereka pergi, semuanya tetap sama.

Gunakan ← → untuk pindah chapter