Wang Lin menatap ke langit dan dua berkas cahaya yang melesat menghilang di kejauhan.
“Siapa dia… Sangat familier, sangat familier…” gumam Wang Lin, merasakan sengatan rasa sakit di hatinya. Rasa sakit itu berpadu dengan kesedihan yang tak dapat dijelaskan dan berubah menjadi kekuatan aneh yang membuat napas Wang Lin menjadi memburu dan wajahnya pucat pasi.
Tubuhnya terguncang dan ia mundur beberapa langkah saat tatapannya ke arah cakrawala runtuh. Tangan kanannya menekan dadanya tempat rasa sakit itu berasal. Rasa sakit tersebut menghantamnya bagaikan gelombang pasang. Itu adalah rasa sakit yang tak terlukiskan, seolah-olah hatinya sedang disayat-sayat, dan perasaan melankolis pun muncul ke permukaan.
Semua ini berasal dari wanita yang terbang melintasi langit itu. Wanita itu seolah-olah telah berada di dalam pikiran Wang Lin selama bertahun-tahun yang tak terhitung jumlahnya, tetapi perasaan yang menyertai sosok itu sangatlah rumit.
Setelah sekian lama, sedikit rona warna kembali ke wajah Wang Lin. Ia bernapas berat dan memejamkan matanya.
“Jadi, para dewa benar-benar ada… Kalau begitu, apakah mimpiku… benar-benar sebuah mimpi…” gumam Wang Lin dalam diam sambil berdiri di atas tanah yang basah setelah diguyur hujan. Baru setelah langit benar-benar terang ia membuka matanya dengan linglung dan berjalan maju dalam keheningan.
“Apakah aku memimpikan seorang dewa atau… Apakah seorang dewa yang memimpikannya…” Wang Lin tidak mengerti. Rasanya seolah mimpi mabuk sebelumnya telah mengubah jalur hidupnya.
Wang Lin melangkah ke jalan raya dan berjalan menuju ibu kota sekali lagi. Ia tidak lagi memiliki dorongan untuk mengamati sekelilingnya, melainkan berjalan dalam diam dengan ransel bambu di punggungnya. Langkah kakinya menimbulkan suara berderak yang bergema saat ia berjalan.
Matahari terbit, matahari terbenam.
Wang Lin menyusuri jalan resmi itu sepanjang hari. Ketika lelah, ia akan duduk di pinggir jalan dan mengeluarkan sedikit makanan kering untuk dimakan. Setelah beristirahat sejenak, ia akan melanjutkan perjalanan.
Ketika suara kuda dan kereta kuda terdengar dari kejauhan, Wang Lin akan menghindar ke sisi jalan. Baru setelah kereta atau kuda-kuda itu lewat, ia kembali ke badan jalan.
Dalam sekejap mata, tujuh hari berlalu. Selama tujuh hari ini, tubuh Wang Lin yang tadinya lemah perlahan-lahan menjadi lebih kuat. Dari matahari terbit hingga terbenam, Wang Lin terus berjalan di atas jalan tersebut. Jika ada penginapan di sepanjang jalan, ia akan beristirahat.
Atau jika ia bisa melihat kepulan asap dari sebuah desa saat matahari terbenam, itu akan jauh lebih baik. Wang Lin merasa hal itu jauh lebih nyaman daripada tinggal di penginapan.
Namun, sebagian besar waktu, Wang Lin merasakan ilusi bahwa dirinyalah satu-satunya yang tersisa di dunia ini setelah matahari terbenam. Ia akan mencari tempat teduh di sepanjang jalan dan menyelimuti tubuhnya dengan pakaian tebal. Kemudian ia akan menghitung bintang-bintang di langit sambil memikirkan kehangatan rumah dan orang tuanya, hingga perlahan-lahan tertua di dalam tidur.
Api yang dinyalakannya berderak di hadapannya dan perlahan padam. Asap mengepul ke udara dan tampak membaur dengan langit.
Angin malam terasa dingin dan sering kali membangunkan Wang Lin. Setiap kali terbangun, ia akan memandangi sekeliling yang sunyi. Ia merasa sangat akrab dengan kegelapan ini, dan ia tidak merasa takut. Sebaliknya, pikirannya tetap tenang saat ia mengamati sekitar sebelum kembali jatuh tertidur.
Ini adalah musim hujan di Negara Zhao. Bahkan jika hujan reda, langit tetap tertutup awan tebal dan suara gemuruh petir terus bergema. Hujan sering kali berhenti selama setengah hari sebelum turun lagi.
Pada senja hari kedelapan, Wang Lin mendirikan payungnya dan mempercepat langkah dengan senyum kecut. Hujan turun di luar payungnya dan petir bergemuruh. Meskipun hari baru senja, langit sudah tampak gelap.
“Satu hari perjalanan lagi dan aku akan tiba di ibu kota, tetapi hujan ini semakin menjadi-jadi.” Air menggenangi tanah, sehingga saat hujan turun, cipratannya memantul dan membasahi pakaiannya. Jubah hijau miliknya basah kuyup dan terus-menerus meresap kehangatan dari tubuhnya. Hal ini perlahan-lahan membuat Wang Lin merasa sangat kedinginan.
Ketika angin lembap bertiup, hawa dinginnya menusuk tulang. Wang Lin menggigil dan memposisikan payungnya agar sebagian besar menutupi ransel bambunya. Di dalam sana terdapat buku-buku, makanan kering, serta pakaian ganti miliknya. Benda-benda itu tidak boleh basah.
Wang Lin dengan cepat berjalan menerobos hujan dan mencari tempat untuk berteduh di sekitar sana. Di kejauhan, ia samar-samar melihat bentuk sebuah bangunan.
Ia tidak sempat memeriksanya dengan teliti, tetapi Wang Lin segera mendekat sambil memegang payungnya. Ketika semakin dekat, ia melihat bahwa itu adalah sebuah kuil terbengkalai.
Suara berderit bergema di malam yang hujan ini, memunculkan kesan menyeramkan saat memasuki telinga.
Kuil itu tidak besar dan sudah runtuh. Ada dua pintu masuk kuil, dengan salah satunya tertutup rapat. Cat merah pada pintu tersebut telah pudar dan cincin di pintunya dipenuhi karat. Air hujan menggenang di cincin berkarat itu dan menetes perlahan.
Pintu kuil yang satu lagi rusak parah. Meskipun masih sedikit terhubung dengan kusennya, pintu itu tidak lagi bisa ditutup. Pintu itu terus bergoyang diterpa angin dan hujan, menghasilkan suara berderit yang didengar Wang Lin tadi.
Seiring angin dan hujan yang semakin kencang, pintu itu bergoyang semakin hebat seolah-olah hendak copot dari kusennya.
Wang Lin dengan cepat berjalan mendekat, mengamati kuil itu sekilas, lalu melangkah masuk. Halaman kuil dipenuhi oleh kerikil dan rumput liar. Angin dan hujan membuat rumput-rumput itu meliuk, sementara suara gemercik hujan berpadu dengan derit pintu yang menggema.
Kilatan petir menyambar diikuti gemuruh guntur yang menerangi dunia, memungkinkan Wang Lin melihat segala sesuatu di dalam kuil. Wang Lin berseru kaget dan secara insting mundur beberapa langkah. Ia melihat beberapa kerangka putih tergeletak di sudut kuil.
Jantungnya berdegup kencang dan wajahnya memucat, tetapi hujan turun semakin deras. Ia mengatupkan giginya dan mengabaikan tulang-tulang dari orang-orang yang tewas di tempat ini entah berapa tahun lalu, lalu melangkah lebih dalam ke dalam kuil.
Sebuah patung besar setinggi puluhan kaki berdiri di dalam kuil itu. Wujudnya sudah tidak bisa dikenali lagi, dan warnanya telah lama pudar. Patung itu rusak di sana-sini.
Ada genangan air di dalam kuil. Banyak genting atap yang pecah, sehingga air hujan masuk dan menggenangi lantai.
Aura dingin menyelimuti kuil ini. Wang Lin menarik napas dalam-dalam dan wajahnya tampak pucat. Ia terlebih dahulu membungkuk ke arah patung sebelum mencari tempat yang kering untuk meletakkan ransel bambunya. Kemudian ia menata beberapa ranting kering di hadapannya dan mencoba menyalakannya.
Ranting-ranting ini tidak sepenuhnya kering, sehingga Wang Lin gagal menyalakannya setelah mencoba berkali-kali. Tubuhnya sangat dingin dan ia bergetar saat kembali mencoba menyalakan api tersebut.
Namun, tepat pada saat itu, sebuah sambaran petir meledak di dalam kuil. Suara gemuruhnya membuat tangan Wang Lin bergetar. Sebuah bayangan besar tiba-tiba muncul dan melingkupi area sekitar.
“Siapa!?” Wang Lin mendadak mendongak, menahan keterkejutan di dalam hatinya sambil menatap ke arah pintu.
Suaranya sangat keras, hampir berupa bentakan. Begitu suara petir mereda, bentakan itu membuat orang yang hendak memasuki kuil tersebut terperanjat ketakutan.
“Siapa!?” Suara bernada ketakutan terdengar dari luar. Seorang paruh baya mengenakan pakaian rombeng yang tampak seperti baru saja keluar dari dalam air melangkah mundur beberapa langkah sebelum terjatuh.
Setelah mengamati Wang Lin di dalam kuil secara lebih dekat, pria paruh baya itu sedikit merasa tenang. Ia buru-buru masuk ke dalam kuil dan menatap tajam ke arah Wang Lin. Kemudian ia menepuk dadanya dengan kuat dan membentak Wang Lin.
“Kau membuatku terkejut setengah mati!!”
Wang Lin tertegun sejenak dan memperlihatkan senyum kecut. Ia merasa lega, lalu menangkupkan tangan ke arah pria paruh baya itu dan meminta maaf. “Hari sudah gelap dan aku tidak bisa melihat dengan jelas. Petirnya juga datang terlalu tiba-tiba, semoga Saudara tidak keberatan.”
Pria paruh baya itu mendengus, dan setelah bergumam sejenak, ia tidak lagi memedulikan Wang Lin. Ia duduk di samping dan merogoh lengan bajunya untuk mengeluarkan separuh paha ayam yang basah. Sambil menatap makanan itu, ia mendadak menangis tersedu-sedu.
Tangisannya terdengar sangat pilu di malam yang hujan ini, dan hal itu membuat Wang Lin merasakan hawa dingin merayap. Wang Lin bergeser menjauh dan akhirnya berhasil menyalakan ranting-ranting di hadapannya.
Di bawah cahaya api yang berkelip, segala sesuatu di dalam kuil menjadi lebih jelas terlihat.
Pria paruh baya itu menangis tersedu-sedu sambil menggigit paha ayam yang basah itu, lalu tiba-tiba ia menyeringai. Setelah itu, ia melepaskan tawa yang keras, membuat Wang Lin terkejut.
“Orang gila…” Wang Lin bergeser lebih jauh lagi. Jika bukan karena hujan di luar, ia pasti memilih untuk pergi. Meskipun tempat ini berada di dekat jalan raya, kemunculan orang gila di tengah malam yang hujan tetap saja membuat bulu kuduk merinding.
Pria paruh baya itu tertawa terbahak-bahak sebelum kembali menangis.
“Mereka tidak peduli padaku, mereka tidak peduli padaku… Aku tidak bisa mengingatnya… Siapa sebenarnya aku…”
Tangisannya memenuhi kuil dan membuat Wang Lin merasa iba. Ia menoleh untuk melihat si orang gila dan menghela napas.
“Bagaikan mimpi nyata sebelum seseorang terbangun. Hidup ini seperti sandiwara, tetapi siapa sebenarnya aku… Bermimpi berarti hidup dan terbangun berarti mati, atau bermimpi berarti mati dan terbangun berarti hidup… Saat-saat menutup dan membuka mata adalah detik-detik kehidupan dan kematian, atau mungkin saat di mana seseorang tidak bisa lagi membedakan antara kehidupan nyata dan palsu…
“Kehidupan ini adalah siklus reinkarnasi, dan mungkin ini juga merupakan siklus karma… Namun, kapan aku akan terbangun…” gumam Wang Lin, lalu kebingungan menyelimuti matanya. Selama hari-hari ini, mimpinya telah membuatnya merasa gamang. Saat merenung selama tujuh hari terakhir, ia samar-samar merasakan sesuatu.
Sambil menghela napas, Wang Lin mengeluarkan makanan kering dari ranselnya dan menatap api di hadapannya. Ia mendengarkan suara hujan di luar kuil dan mulai memakan makanan kering itu dalam diam.
Hujan dengan perlahan turun dari langit, menyelimuti gunung, bumi, dan kuil tersebut. Di dalam kuil ini, di samping kobaran api, dua jiwa pengelana mimpi yang seolah tidak berasal dari dunia ini terhanyut dalam keheningan.
Yang satu menatap api dan yang satu lagi mengunyah paha ayam. Patung di antara mereka berdua menyunggingkan senyuman penuh teka-teki seolah sedang memperhatikan mereka berdua.
Chapter 1593 · 6m baca
The Soul Returns to the Ancient Temple on a Rainy Night
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter