Renegade Immortal - Chapter 1592 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 1592 · 6m baca

Life is Like a Play, Who Am I?

by Er Gen

Gadis berpanggangan ungu itu mengangguk pelan dan bangkit bersama gadis berpakaian hijau. Tepat saat mereka hendak pergi, dia menoleh untuk menatap Wang Lin seolah ingin mengukir sosok pemuda itu di dalam hatinya.

Tepat sebelum beranjak, gadis berbusana ungu itu sempat ragu sejenak. Gadis berpakaian hijau telah lebih dulu meninggalkan perahu dan melayang pergi menggunakan mantra penarik.

"Kakak Seperguruan, ayo kita pergi." Suara gadis itu bergema di tengah hujan.

Gadis itu memandang tubuh Wang Lin yang gemetar dan meringkuk di sudut, lalu berjalan mendekat dalam diam. Tangan indahnya menyentuh kantong penyimpanannya, dan sebuah mantel tebal pun muncul di genggamannya. Dia menyelimuti Wang Lin dengan mantel itu secara perlahan, lalu berbisik pelan,

"Apakah ini benar-benar terjadi di masa lalu..." Gadis itu menghela napas dan pergi.

Hujan turun semakin deras.

Air hujan berjatuhan sementara perahu sepi itu mengapung di atas sungai, memancarkan suasana yang sulit dijelaskan. Inilah aura kesepian...

Riak air tercipta ketika perahu itu terbawa arus menyusuri sungai. Perahu tersebut perlahan-lahan menjauh dan akhirnya lenyap ke dalam malam yang sunyi. Hanya cahaya pelita yang redup di dalam perahu yang masih terlihat berkelebat di tengah kegelapan.

Dari kejauhan, nyala api yang berkedip-kedip dari perahu itu tampak seperti sehelai daun kesepian yang hanyut di sungai, perlahan-lahan berlayar menuju ujung sebuah mimpi...

Suara hujan yang menghantam perahu terus terdengar, tetapi Wang Lin tengah menikmati mimpi indah di bawah tenda pelindung.

Mantel yang membalut tubuhnya memiliki wangi samar yang menguar ke hidungnya dan terbawa hingga ke dalam mimpinya.

"Xu Fei... Kakak Seperguruan Zhou Si... Wang Zhuo... Wang Hao... Zhang Hu..." Wang Lin bergumam dalam tidurnya. Seandainya kedua gadis tadi belum pergi dan mendengar ucapan Wang Lin, mereka pasti akan terkejut!

Namun, sekarang mereka tidak bisa mendengarnya.

Mimpi Wang Lin bagaikan sebuah kehidupan lain. Di dalam mimpi itu, dia melihat Xu Fei di Sekte Heng Yue dan juga Kakak Seperguruan Zhou... Di atas gunung Sekte Heng Yue, ada pula seekor burung putih yang melesat sekilas...

Setelah sekian lama, nyala kecil lilin itu perlahan padam dan menyatu dengan kepekatan malam.

Hujan berhenti menjelang pagi hari. Cakrawala berangsur-angsur menjadi terang, meski belum sepenuhnya mampu mengusir kegelapan. Dunia masih tampak suram, seolah turut meredupkan suasana hati setiap orang.

Hujan sepanjang malam membuat debit air sungai sedikit meningkat. Walaupun sulit disaksikan dengan mata telanjang, tepian sungai membuatnya terlihat sangat jelas.

Air hujan yang jatuh ke tanah membentuk lumpur dalam jumlah banyak yang mengalir ke sungai. Sebuah perahu perlahan-lahan terhanyut menyusuri sungai dan semakin mendekati tepian.

Pada akhirnya, perahu itu menabrak lumpur di tepi sungai dan berhenti.

Di dalam tenda pelindung, kepala Wang Lin membentur dinding perahu saat perahu itu menghantam daratan. Dengan rasa sakit dan kebingungan, dia membuka mata dan perlahan-lahan mengingat kembali kejadian semalam. Namun, saat mengedarkan pandangan, kedua gadis yang tadi malam ada di sana telah lenyap tanpa jejak.

Malam tadi terasa bagaikan mimpi. Wajah rupawan kedua gadis itu masih membekas di benak Wang Lin.

"Apakah itu hanya khayalan..." Wang Lin merasa bingung dan menatap mantel yang menyelimutinya. Mantel itu jelas-jelas milik seorang wanita. Kesadarannya perlahan pulih.

Kendati demikian, di dalam pikirannya, selain bayangan kedua gadis itu, tersimpan pula sebuah mimpi yang terasa begitu nyata. Dia melihat kedua gadis itu di dalam mimpinya.

Semua ini membuat Wang Lin sangat kebingungan. Batang lilin telah padam sejak tadi. Hal itu membuat bagian dalam tenda pelindung hanya terlihat samar-samar.

Setelah lama terdiam, Wang Lin melangkah keluar dari tenda pelindung dan memandangi dunia yang remang-remang. Suasana di sekitarnya berkabut, membuatnya tak bisa melihat terlalu jauh. Angin berhembus, membawa hawa dingin sekaligus aroma tanah basah. Dia menarik napas dalam-dalam.

"Mungkinkah itu benar-benar hanya mimpi..." Wang Lin berdiri di haluan. Usai hujan reda, kawasan itu teramat sunyi. Kesunyian ini membuatnya merasa seolah-olah hanya dirinyalah yang tersisa di dunia ini.

Mengedarkan pandangannya ke sekeliling, Wang Lin merasakan gelombang kesepian merambat dari tubuhnya entah karena apa. Saat menatap langit yang suram, rasa kesepian itu kian menjadi-jadi.

Angin berhembus, menerbangkan rambut hitamnya ke belakang. Angin itu bahkan tak mampu merapikan lipatan di pakaiannya.

"Terasa agak dingin..." Wang Lin menundukkan kepala. Dia tidak mengerti mengapa rasa kesepian itu tiba-tiba begitu mendalam. Kesepian ini membuatnya merindukan rumah, kedua orang tuanya, dan segala hal tentang masa lalunya.

Serta wanita itu yang sepertinya tak mampu ia ingat...

Seolah ada kekuatan tak kasat mata yang berkumpul di dalam tubuhnya dan memicu dua aliran air mata mengalir.

"Kenapa aku... menangis..." Wang Lin mengangkat tangan dan menyeka sebutir air mata yang menyerupai tetesan embun. Kedua mata Wang Lin dipenuhi dengan kepedihan dan kesedihan tanpa ujung yang bahkan tidak disadarinya sendiri...

"Ada apa denganku..." Wang Lin menunduk dan duduk begitu saja, mengabaikan permukaan perahu yang basah. Di tengah keheningan fajar, air mata tumpah dan menyatu dengan basahnya dek perahu.

Perasaan seolah dirinya adalah satu-satunya orang yang tertinggal di dunia ini terasa sangat familier baginya. Seolah-olah dia telah merasakan hal ini sejak lama, berjalan dalam diam menembus dunia dan menikmati rasa kesepian ini seorang diri.

Wang Lin perlahan-lahan jatuh ke dalam lamunan, seolah ada sebuah jurang menganga di hadapannya. Jurang ini memiliki daya sedot luar biasa yang seakan mampu menyeret langit ke dalamnya. Jauh di lubuk jurang itu terdapat sebuah retakan, dan sesosok figur yang kesepian duduk di sana.

Tempat itu juga amat tenang, hanya diisi oleh suara embusan daya isap yang kuat. Sosok yang kesepian itu membelakanginya. Kendati Wang Lin tidak dapat melihat wajah sosok tersebut, dia bisa merasakan kesepian dan kesedihan yang terpancar darinya.

Dalam lamunannya, dia melihat seorang pemuda berbusana putih dengan rambut putih berjalan tanpa suara menembus bintang-bintang. Sosok pemuda itu juga memancarkan rasa kesepian yang mendalam.

Dia melihat banyak hal, dan air mata terus bercucuran dari matanya. Kesedihan ini berasal dari jiwa dan dunia ini. Seolah-olah dunia ini adalah jiwanya, mimpinya. Pada detik ini, dia menemukan kembali keheningan dan kesepian yang begitu familier di tempat ini.

Di bawah langit yang temaram, Wang Lin menatap permukaan air untuk waktu yang sangat, sangat lama...

Hingga embusan angin dingin kembali menerpa dan membuatnya merasa kedinginan, barulah dia secara tidak sadar mengangkat tangan kirinya dan menunjuk ke arah batang lilin yang berada tidak jauh darinya. Lilin itu perlahan menyala.

Wang Lin bahkan tidak menyadari hal itu. Matanya dipenuhi dengan kesedihan dan duka cita yang entah datang dari mana, seolah-olah kesedihan itu abadi.

Di tengah kesunyian dan temaramnya pagi, nyala lilin yang berkedip-kedip itu perlahan menerangi area sekitarnya. Walaupun berpendar lemah, cahaya itu memancarkan kehangatan di tengah perjuangannya melawan angin.

Jika dilihat dari kejauhan, sosok di atas perahu itu memancarkan aura kepedihan yang mendalam.

Seiring berjalannya waktu, langit mulai benderang. Kegelapan berangsur-angsur sirna dari bumi, sungai, dan perahu. Pemandangan di sekitar perlahan-lahan menjadi jernih, dan apa yang berada di kejauhan kini tampak dengan jelas.

Hanya gumpalan awan hitam pekat yang masih berarak di langit. Seekor burung yang tampak sekecil titik terbang meninggalkan pegunungan dan menerobos masuk ke dalam awan hitam. Setelah menembusnya, burung itu berputar beberapa kali sebelum melesat ke arah Wang Lin.

Tak lama kemudian, burung itu semakin mendekat dan Wang Lin mendongak untuk melihat burung putih tersebut. Burung putih itu tampak menunduk menatap Wang Lin. Wang Lin dapat merasakan secercah kesedihan yang nyata, yang membuatnya tertegun sesaat sebelum burung itu lenyap di kejauhan.

Begitu burung itu pergi, rasa duka di hati Wang Lin perlahan-lahan mereda. Nyala api pada lilin itu pun perlahan padam.

"Ada apa... dengan diriku." Wang Lin tampak tersadar dari lamunannya dan menatap tetesan air mata yang masih menyangkut di jarinya. Dia mengamati tetesan air mata yang jernih itu jatuh.

Setelah sekian lama, Wang Lin bangkit berdiri dan membereskan barang-barangnya dengan dibayangi rasa bingung serta kesedihan yang tak dapat dijelaskan. Dia memasukkan mantel gadis itu ke dalam ranselnya lalu melangkah turun dari perahu.

Begitu kakinya menjejak tanah meninggalkan perahu, dia sempat menoleh ke belakang sekali lagi sebelum berjalan pergi menuju kejauhan.

Namun, tepat pada saat itu, sebuah lolongan terdengar dari balik gumpalan awan di kejauhan. Seketika suara menggelegar itu bergema, Wang Lin tanpa sadar mendongak dan menyaksikan pemandangan yang sukar dipercaya.

Pancaran sinar yang seolah mampu menembus langit melesat menembus awan hitam. Salah satu berkas cahaya itu tiba-tiba berhenti tepat di atas Wang Lin, menampakkan seorang wanita berbusana biru. Dia menunduk, dan pandangan matanya beradu dengan tatapan Wang Lin.

"Eh..." Kerjap kebingungan terbesit di matanya.

Seorang pemuda tampan melangkah keluar dari berkas cahaya yang lain dan bertanya dengan lembut, "Ada apa, Adik Seperguruan Liu?"

"Bukan apa-apa, aku merasa seperti pernah melihat sarjana itu di suatu tempat sebelumnya..." Wanita itu menggelengkan kepalanya dan melesat pergi ke kejauhan.

"Hanya seorang manusia biasa. Kita harus segera pergi menemui Guru dan mendatangi tempat yang memancarkan cahaya keemasan tadi." Pemuda itu melirik Wang Lin sekilas sebelum mengalihkan pandangannya dan menyusul sang wanita.

Gunakan ← → untuk pindah chapter