Leon dan Celeste berdiri mematung saat makhluk iblis berukuran masif itu menatap lurus ke arah mereka.
Mata merah menyalanya berpendar tipis di tengah kegelapan area terbuka itu.
Selama beberapa detik, tidak ada yang bergerak.
Monster itu tampak seperti serigala raksasa dengan tinggi mencapai tiga meter, berbadan tegap yang dipenuhi bulu gelap.
Retakan berwarna merah darah menjalar di kulitnya bagaikan pembuluh darah yang menyala, berdenyut pelan memancarkan energi iblis.
Mulutnya terbuka perlahan, memperlihatkan beberapa baris taring yang panjang dan tajam seperti silet.
Dua tanduk melengkung tumbuh di sisi kepalanya, tepat di belakang telinganya.
Namun, hal yang paling menarik perhatian Leon adalah cakar-cakarnya.
Benda itu berkilau tipis di bawah cahaya temaram, cukup tajam untuk merobek zirah bagaikan selembar kertas.
Leon juga menyadari satu hal lagi.
Partikel-partikel kecil yang berpendar perlahan memudar ke udara di dekat ujung area terbuka.
Partikel-partikel itu hanya muncul saat pemain dieliminasi.
Makhluk ini baru saja membunuh seseorang beberapa detik sebelum Leon dan Celeste tiba.
Celeste mempererat genggamannya pada tombaknya.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya pelan. "Makhluk itu kuat. Aku bisa merasakannya."
Leon tetap tenang. "Seharusnya tidak ada monster di dalam event ini," ucapnya pelan, "Yang berarti, benda itu bukanlah monster."
Ia menatap lurus ke arah serigala tersebut. "Itu adalah hewan peliharaan."
Tanpa ragu, Leon mengaktifkan kemampuannya.
Appraisal!
[Demonic Wolf]
[Level: 9]
[Rank: Mythical]
[Skills: ???]
[Combat Power: ???]
Leon mengamati informasi itu dengan teliti.
"Hm."
Seekor makhluk berperingkat Mythical. Hal itu saja sudah membuatnya sangat langka.
Peliharaan Leon sendiri, [Primordial Dragon of Chaos], jelas jauh lebih kuat, dan bakat [Queen of Phoenix] milik Celeste juga berada di level yang lebih tinggi.
Namun, bukan berarti serigala ini lemah. Sama sekali tidak.
Kenyataannya, makhluk ini sangat berbahaya.
Meskipun ia baru berada di level 9, cara kerja level hewan peliharaan sangat berbeda dari level pemain.
Seekor makhluk mythical level 9 bisa dengan mudah mengalahkan pemain di sekitar level 75 atau bahkan lebih tinggi.
Dan meskipun Pyra adalah makhluk berperingkat lebih tinggi secara keseluruhan, ia masih muda dan levelnya masih rendah.
Saat ini, serigala iblis itu jelas lebih kuat darinya.
Leon perlahan mengubah sedikit posisinya. Jika pertempuran pecah, ia sudah siap.
Ia pernah menghadapi musuh yang jauh lebih buruk sebelumnya.
Meski begitu, ada sesuatu dari situasi ini yang terasa janggal.
Dan kemudian… sebuah suara tiba-tiba bergema dari atas punggung makhluk itu.
"Berhenti, Vex."
Leon dan Celeste mendongak secara bersamaan.
Saat itulah mereka menyadari sesuatu yang mengejutkan.
Seseorang sedang duduk di punggung serigala tersebut. Leon segera mengaktifkan [Appraisal] sekali lagi.
[ID: DemonBeast]
[Level: 74]
[World: Delsos (High-Level World)]
[Talent: ???]
[Skills: ???]
[Combat Power: ???]
[Details: Seorang anggota ras iblis yang tampaknya mengkhususkan diri dalam mengendalikan dan bertarung bersama para monster/hewan buas.]
Leon menyipitkan matanya tipis. Jadi ini adalah [DemonBeast].
Pemain yang saat ini menduduki peringkat ketiga dalam papan skor.
Pria yang duduk di atas serigala itu perlahan berdiri.
Ia tampak sangat mengesankan.
Tingginya sekitar dua meter, dengan kulit kemerahan dan dua tanduk iblis besar yang melengkung ke atas dari kepalanya.
Matanya memancarkan pendar merah tipis yang sama seperti peliharaannya.
Ia menyunggingkan senyum lebar saat melihat Leon.
"Kau adalah Celestial," ucap DemonBeast.
Leon tidak menjawab. Namun, DemonBeast tampaknya tidak keberatan.
"Aku tidak berniat bertarung denganmu," lanjutnya dengan tenang.
Celeste sama sekali tidak melonggarkan kewaspadaannya.
"Apa yang harus kita lakukan?" bisiknya pada Leon. "Kurasa peliharaannya lebih kuat daripada Pyra."
Leon tidak langsung menjawab.
Sebaliknya, ia diam-diam mengamati pria yang berdiri di hadapan mereka.
'DemonBeast…'
Leon merunut ingatannya.
Di kehidupan sebelumnya, ia tidak mengingat siapa pun dengan ID itu yang memicu masalah besar di kemudian hari.
Yang berarti orang ini kemungkinan bukan salah satu ancaman besar di masa depan.
'Atau mungkin dia mati lebih awal,' pikir Leon.
Bagaimanapun juga, pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda bermusuhan. DemonBeast juga terlihat sangat percaya diri.
Tidak arogan seperti beberapa pemain lainnya. Hanya tenang.
Bageseorang yang sangat tahu apa kemampuan dirinya.
Leon akhirnya bersuara.
"Baiklah," ucapnya singkat, "Kau boleh pergi."
Celeste mengerjap kecil. Namun, ia mempercayai penilaian Leon.
Leon sendiri yakin ia bisa menang jika mereka bertarung.
Namun, bukan berarti bertarung adalah pilihan terbaik saat ini.
DemonBeast mengangguk sekali.
"Bagus." Kemudian ia menepuk pelan sisi tubuh peliharaannya. Serigala iblis itu berputar arah.
"Lagi pula, aku tidak berniat melepaskan yang lain," tambah DemonBeast santai.
Leon mengangkat sebelah alisnya. "Yang lain?"
Namun, sebelum ia sempat bertanya lebih jauh—
Fwoosh!
Serigala masif itu melesat maju dengan kecepatan luar biasa.
Dalam hitungan detik, DemonBeast dan peliharaannya menghilang kembali ke kedalaman [Divine Jungle].
Celeste menatap ke arah kepergian mereka.
"Makhluk apa barusan?" gumamnya, "Aku benar-benar mengira kita akan bertarung."
Leon hanya mengangkat bahu. "Biar saja."
Ia melipat kedua tangannya dengan santai.
"Ia berada di peringkat ketiga, tapi kurasa dia tidak akan bisa mengejar kita lagi."
Celeste mengangguk pelan.
Meski begitu… Leon diam-diam mencatat pertemuan tersebut dalam ingatannya.
Ada sesuatu dari pria itu yang terasa… menarik. Terutama komentar terakhirnya tadi.
Terdengar seolah-olah DemonBeast masih memiliki lebih banyak hewan buas di bawah kendalinya.
'Akan kuingat itu,' pikir Leon.
Kemudian Leon mengamati sekeliling area terbuka tersebut. Sesaat kemudian, secarik senyum tipis terukir di wajahnya.
"Baiklah," ujarnya, "Kurasa kita bisa beristirahat di sini sebentar."
Fwoosh!
Kerangka-kerangka yang telah ia panggil dengan cepat menyebar ke sekeliling area terbuka.
Mereka mengambil posisi di berbagai arah bagaikan para penjaga.
Siapa pun yang mencoba memasuki area terbuka itu akan langsung terdeteksi.
Leon bersandar pada salah satu pohon.
"Kau bisa beristirahat," katanya pada Celeste. "Aku yang akan berjaga."
Celeste tidak membantah. Ia jelas kelelahan setelah bertarung selama berjam-jam.
"Terima kasih," ucapnya pelan.
Ia duduk bersandar di pohon lain yang tidak jauh dari situ dan memejamkan mata.
Dalam beberapa menit, ia sudah tertidur pulas. Leon tetap terjaga.
Ekspresinya tenang saat ia menatap lurus ke sekeliling area terbuka.
Udara malam berhembus lembut melewati pepohonan.
Waktu perlahan berlalu. Leon memanfaatkan momen tenang itu untuk berpikir.
Banyak hal telah terjadi belakangan ini. Dan bahkan lebih banyak lagi yang akan terjadi segera.
'Begitu event ini selesai,' pikirnya, 'Aku akhirnya akan mendapatkan akses ke [Divine Academy].'
Itulah tujuan utama dari partisipasinya dalam event ini.
Namun, Leon sama sekali tidak berniat menjadi murid biasa.
Hal semacam itu sama sekali tidak penting baginya. Akademi itu sendiri lah yang menarik minatnya.
Lebih tepatnya… orang-orang yang mengelolanya.
'Para guru… dan sang ketua dewan.'
Leon tidak akan pernah melupakan mereka.
Sama seperti saat ia menghancurkan [Church of Light] dan [Shadow Assassin Guild], ia berniat melenyapkan sebanyak mungkin organisasi berbahaya dari [Higher Domains].
Dan [Divine Academy] adalah salah satunya.
Para guru dan sang ketua dewan semuanya sangat kuat.
Sebagian besar dari mereka berada di sekitar level 100. Menumbangkan mereka bukanlah hal yang mudah.
Bahkan, itu mungkin membutuhkan waktu persiapan selama berminggu-minggu. Tapi Leon tidak sedang terburu-buru.
Selama ia bertindak sebelum mereka mendapatkan kekuatan yang lebih besar lagi, ia akan memiliki peluang.
Langkah terpenting saat ini adalah berhasil menyusup ke dalam akademi tersebut.
Dan event ini akan memberikannya kesempatan itu.
Jam terus bergulir. Penghitung jumlah peserta perlahan terus menurun.
Ding!
[Pemain yang tersisa: 300.]
Beberapa saat kemudian—
Ding!
[Pemain yang tersisa: 200.]
Leon nyaris tidak bereaksi.
Ia terus mengawasi area terbuka sementara para kerangka peliharaannya berpatroli di sekitar area.
Dan akhirnya, ketika jumlah pemain menyusut hingga sekitar 150 orang, Celeste terbangun.
Ia meregangkan tubuhnya sejenak sebelum bangkit berdiri.
"Seharusnya kau beristirahat sekarang selagi—"
"Tidak apa-apa," potong Leon sambil menyeringai, "Aku tidak mudah lelah."
Celeste memiringkan kepalanya tipis.
Setelah menggunakan [Oblivion Meteor] dua kali dan menjadi lebih kuat, Leon tahu daya tahan tubuhnya sangat tinggi.
Dibandingkan dengan pemain normal, staminanya hampir tak terbatas.
Celeste tertawa kecil. "Baiklah kalau begitu."
Keduanya kemudian meninggalkan area terbuka tersebut. Mereka mulai mencari para pemain terakhir yang tersisa.
Pada tahap ini, semua orang yang tersisa sangat kuat. Beberapa bersembunyi dengan sangat baik.
Yang lain sedang berburu seperti halnya Leon dan Celeste. Tapi itu tidak menjadi masalah.
Hanya butuh waktu sekitar satu jam sebelum panel akhir muncul.
Ding!
[Hanya 100 pemain yang tersisa di dalam event.]
Leon berhenti melangkah. Pesan lain langsung menyusul.
Ding!
[“Divine Academy Examination” kini telah berakhir.]
[10 peserta teratas akan segera menerima hadiah mereka.]
Leon tidak bisa menahan senyumnya. Ia membuka jendela peringkat sekali lagi.
Dan di posisi teratas—
[1. Celestial: 2,547 Poin.]
Dan tepat di bawahnya—
[2. UndyingPhoenix: 1,794 Poin.]
Ia dan Celeste telah mendominasi event ini sepenuhnya. Dan jaraknya bahkan sangat jauh dari yang lain.
Chapter 164 · 5m baca
Meeting DemonBeast, End of the Divine Academy’s Event
by Champion_Dreamer
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter