[Spirit Dragon (Spirit)]
[Level: 50]
[Bakat Eksklusif: Strong Spirit (Level A)]
[Kekuatan Tempur: 300.000]
[Detail: Seekor naga roh yang dipanggil oleh "Guardian of Spirits".]
Leon mengamati [Spirit Dragon] dalam diam sementara makhluk itu mengeluarkan raungan menggelegar yang mengguncang dataran di sekitar mereka.
Tubuhnya yang tembus pandang berpendar samar saat aliran energi spiritual berputar di bawah sisik-sisiknya.
Tekanan yang dikeluarkannya begitu besar, cukup untuk membuat tanah bergetar.
Namun, terlepas dari kehadiran makhluk itu yang begitu mendominasi, ekspresi Leon sama sekali tidak berubah.
Itu hanyalah sesosok makhluk summon, yang berarti ia tidak akan menjatuhkan item apa pun.
Meski begitu, meremehkannya adalah tindakan bodoh.
Kekuatan tempur tiga ratus ribu bukanlah sebuah lelucon.
Jika makhluk seperti itu dilepaskan ke [Myriad Race City] tanpa batasan, ia bisa memusnahkan seluruh tempat itu seorang diri.
Karena bahkan para individu terkuat di [Lower Domain] pun akan kesulitan menghadapi sesuatu sebesar ini.
Namun… Leon tidak merasakan takut sedikit pun.
[Strength Buff] milik Emilia masih aktif, aura keemasannya mengalir melalui tubuh Leon dan memperkuatnya.
Dan ketika itu digabungkan dengan stat kekuatannya yang sudah tidak masuk akal, hasilnya adalah sesuatu yang bahkan makhluk-makhluk yang jauh berada di atas levelnya pun akan kesulitan memahaminya.
Fwoosh!
Dengan satu langkah maju yang memecahkan tanah di bawah sepatu botnya, Leon lenyap dari posisi sebelumnya dan melesat ke arah [Spirit Dragon], menutup jarak yang sangat jauh di antara mereka dalam waktu sepersekian detik.
ROOOAR!
Naga itu bereaksi seketika, mengangkat salah satu cakar besarnya dan mengayunkannya ke bawah.
Aura spiritualnya berkobar saat ia mencoba menghancurkan manusia kecil yang bergegas ke arahnya.
SLASH!
[Power Sword] milik Leon berkelebat sekali.
Dan hampir tanpa usaha, cakar naga itu terlepas dari tubuhnya di tengah ayunan.
Raungan makhluk itu berubah dari dominasi menjadi kebingungan dalam waktu yang bahkan kurang dari satu detak jantung.
“…?”
Ia tidak mengerti. Dan ia juga tidak mendapatkan kesempatan untuk mengerti.
Leon melangkah maju lagi, bilah pedangnya melukiskan lengkungan kedua di udara dengan presisi yang terkesan santai.
Kepala naga itu jatuh. Tubuhnya yang besar berkedip-kedip hebat sebelum buyar menjadi partikel-partikel cahaya yang berhamburan.
“Heh.”
Ding!
[Kamu telah membunuh "Spirit Dragon (Summon)" dan mendapatkan 120.000 poin pengalaman.]
Ding!
[Selamat, kamu naik level ke Level 47!]
[Berkat "Heaven's Blessing", kamu telah mendapatkan 250 poin untuk semua atribut dan 250 poin gratis untuk didistribusikan.]
Emilia menatap ruang kosong tempat naga itu berdiri beberapa saat yang lalu, matanya memancarkan kekaguman.
"Sial… pedang itu benar-benar membuatmu jauh lebih kuat," ucapnya jujur.
Leon hanya mengangguk sambil meninjau sekilas angka-angka di dalam benaknya.
Seperti yang dikatakan sebelumnya, atribut kekuatannya sudah berada di angka sekitar 50.000 poin.
Tambahkan itu dengan buff Emilia yang melipatgandakannya, jumlahnya menjadi 100.000 poin.
Dan sekarang… pertimbangkan [Blood Heart Blessing] dari [Power Sword], yang sekali lagi menggandakan kekuatan serangan fisik Leon.
Ini berarti Leon telah menghantam [Spirit Dragon] dengan kekuatan sebesar 200.000 poin, yang setara dengan 400.000 kekuatan tempur.
Sudah sewajarnya jika [Spirit Dragon] tidak mampu menahannya.
Serangan fisik Leon telah menjadi sangat kuat.
Ia akan merasa terkejut jika [Guardian of Spirits] sendiri mampu menahan lebih dari dua serangan darinya.
Karena makhluk summon itu tidak meninggalkan apa pun yang bernilai, Leon tidak membuang waktu berlama-lama di tempat itu.
Dan setelah memastikan Emilia baik-baik saja, mereka berdua melanjutkan perjalanan melintasi dataran di [Farlands].
Anehnya, hampir tidak ada musuh yang menunggu mereka.
Selain sesekali roh yang dikirim dari kejauhan, tanah itu sebagian besar tetap kosong.
Hal ini semakin memperkuat anggapan bahwa [Guardian of Spirits] benar-benar yakin tidak seorang pun akan mampu melewati pertahanan awalnya, sehingga ia menganggap rintangan tambahan tidak diperlukan lagi.
Namun, keyakinan itu ternyata sebuah kesalahan.
Setelah kira-kira sepuluh menit berlari dengan stabil, sebuah struktur akhirnya muncul di kejauhan: [Spirit Monument].
Struktur itu tinggi dan diukir dari bahan pucat yang berkilau samar dengan energi spiritual.
Permukaannya dipahat dengan pola-pola kuno yang berdenyut perlahan seolah-olah bernyawa.
"Ini sangat anti-klimaks, aku tidak akan menyangkalnya," komentar Emilia sambil mengamatinya dari jauh, nada suaranya terdengar hampir kecewa. "Aku berharap sesuatu yang melampaui nalar akan terjadi—"
Ia tidak pernah menyelesaikan kalimat itu karena…
Spirit Cage!
Lonjakan aura meletus dengan ganas dari bawah kakinya tanpa peringatan.
Dan sebelum Leon sempat bereaksi, dinding energi transparan melesat ke atas dan mengurungnya sepenuhnya, membentuk sebuah kubus sempurna yang terangkat sedikit dari tanah.
Leon terpaksa mundur akibat terjangan kekuatan yang tiba-tiba itu, sepatu botnya bergeser melintasi rumput sementara matanya membelalak kaget.
"Apa—"
Di dalam sangkar, Emilia langsung mulai memukuli dinding dengan senjatanya, tetapi setiap hantaman mendarat tanpa meninggalkan goresan sedikit pun.
Leon melangkah maju dan menebasnya dengan pedangnya, tetapi tidak terjadi apa-apa.
"Beri aku buff," kata Leon cepat, menyadari bahwa ini pasti jebakan yang dipasang oleh sang penjaga. "Ini pasti ulahnya."
Emilia mengangguk dan mengangkat tongkatnya meskipun ruangnya sempit.
Strength Buff—
"ARGH!"
Sebelum buff itu selesai, sangkar tersebut menyala terang dan melepaskan sengatan listrik hebat yang menjalar melalui tubuhnya, memaksanya terkesiap dalam kesakitan saat mantra itu terputus.
Ia mencoba lagi.
Strength Buff—
Hasil yang sama. Sangkar itu berdenyut sekali lagi, menyengatnya dan mencegah aktivasi skill apa pun.
Kemampuannya telah disegel.
"Aku terkejut kalian bisa sampai di sini," sebuah suara akrab bergema saat [Guardian of Spirits] bermaterialisasi di atas monumen, melayang dengan tenang sementara tongkatnya berputar di sampingnya. "Hanya dua orang lainnya yang pernah berhasil… dan aku membunuh mereka."
Rahang Leon mengertak.
'Kita terlalu lengah,' aku dalam hatinya, kemarahan diarahkan pada dirinya sendiri alih-alih pada sang musuh. 'Aku bilang aku tidak akan meremehkan siapa pun… tapi aku malah bersantai.'
Jika [Spirit Cage] itu menargetkannya alih-alih Emilia, apakah ia cukup cepat untuk menghindarinya?
Ia tidak tahu. Tapi ketidakpastian itu tidak lagi penting.
Ia mengangkat pandangannya ke arah sang penjaga, tatapannya dingin.
"Menangkapnya alih-alih aku akan menjadi kesalahan terbesarmu."
Sang penjaga tertawa pelan, merasa terhibur alih-alih terancam, "Tentu saja."
BAM! BAM! BAM!
Sangkar itu naik lebih tinggi ke udara dan mulai mengirimkan sengatan energi spiritual berulang kali ke tubuh Emilia, masing-masing membuat napas tertahan kesakitan terlepas dari bibirnya.
"Sebagian besar langsung mati seketika akibat ini," komentar sang penjaga santai. "Rekanmu ini cukup… tangguh."
Leon tidak menyia-nyiakan sedetik pun lagi.
BLOOD BEAM!
Sinar merah darah meletus dari ujung [Void Staff] miliknya, membelah udara menuju sang penjaga dengan niat membunuh.
Fwoosh!
Sang penjaga menghindar dengan mudah, bergeser ke samping seolah-olah sedang menghindari ayunan yang malas.
"Aku tahu pasti bahwa kau tidak bisa mengalahkanku," ujarnya sambil tersenyum. "Jadi aku akan menikmati menyiksa kalian berdua. Aku sangat, sangat bosan~."
Sang penjaga kemungkinan besar telah ditempatkan di sini selama waktu yang tidak terbayangkan lamanya, menunggu misteriusnya [Ascension].
Tanpa pengunjung yang bisa menyibukkannya, kebosanan telah berubah menjadi kekejaman.
"Mari kita mainkan sebuah game kalau begitu," sang penjaga menyeringai, "Jika kau mengalahkanku, sangkar itu akan lenyap, yang berarti untuk menyelamatkan elf bertubuh lemah ini… kau hanya perlu—"
Ice Spikes! Powerful Fireball! Storm of Lightning!
Leon melancarkan mantra demi mantra tanpa ragu, menolak untuk terlibat dalam percakapan sia-sia sementara Emilia terus menderita di dalam sangkar.
Semakin lama ini berlangsung, semakin tinggi risiko ia tewas.
Membuang [Resurrection Stone] BUKANLAH sesuatu yang ia rencanakan dalam waktu dekat, terutama mengingat betapa langkanya batu tersebut.
Namun semua itu tidak ada gunanya.
Sang penjaga menghindari paku-paku es yang meletus dari tanah, membelah bola api dengan salah satu bilahnya, dan meliuk di antara sambaran petunjuk seolah-olah sedang berdansa.
"Kulihat kau memahami aturan mainnya," ucapnya dengan geli. "Mari kita bersenang-senang."
Cengkeraman Leon semakin erat pada pedangnya.
'Sihir tidak akan bekerja,' simpulnya cepat. 'Aku harus bertarung secara fisik.'
Ia melirik ke arah sangkar selama sepersekian detik dan melihat Emilia berjuang menahan rasa sakitnya, memksa dirinya untuk tetap tenang agar Leon tidak kehilangan fokus.
"Aku akan bermain," kata Leon dengan tenang, aura mulai merembes keluar dari matanya sementara niat membunuh menajam di sekelilingnya.
"BAGUS!" sang penjaga tertawa, menggenggam keempat pedangnya sambil memutar tongkatnya lebih cepat. "Jangan mati terlalu cepat."
Leon bergerak. Ia menutup jarak dalam sekejap dan mengayunkan bilahnya ke arah torso sang penjaga dengan kekuatan penuh.
Clang!
Keempat lengan sang penjaga bergerak secara bersamaan, memblokir serangan itu dengan koordinasi yang terlatih.
"Aku jauh lebih kuat darimu," kata sang penjaga dengan percaya diri. "Dan aku punya empat lengan. Apa yang kau harapkan akan terjadi?"
Leon tidak langsung menjawab. Sebaliknya, sebuah senyuman tipis tersungging di wajahnya.
"Aku menyerangmu," ucapnya singkat.
"Dan itu sama sekali tidak—”
Sang penjaga terdiam di tengah kalimatnya. Karena tiba-tiba… ia merasakan sesuatu.
Tekanan yang jauh lebih besar dari sebelumnya mulai terkumpul.
Dan ketika ia mengangkat pandangannya ke arah Leon, ekspresinya berubah untuk pertama kalinya.
CELESTIAL’S MIGHT!
Chapter 128 · 5m baca
Defeating the Spirit Dragon, The Spirit Cage
by Champion_Dreamer
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter