Nigella tak bisa menerima kenyataan bahwa dia melihat pemandangan yang sama dengan Nyonya Viscount yang sudah tak waras. Ocehan Nigella tadi tak jauh berbeda dengan cara Nyonya Viscount bersikeras bahwa tikus-tikus itu adalah putri-putrinya.
Kegilaan itu telah menular. Karena melayani Nyonya Viscount, Sang Ilahi murka dan menghukum Nigella.
“Kau di sana. Apa kau akan membiarkan Agera terus menatap akuarium itu?”
Nada yang sangat anggun. Hanya dengan satu kalimat, Evangeline telah menarik perhatian semua orang padanya dan menegur Nigella dengan pandangannya. Seperti sebelumnya, dia mungkin telah membaca semua pikiran hina Nigella.
Evangeline memandangi replika dirinya yang diawetkan di dalam akuarium dengan jijik dan menutupi mata Nyonya Viscount. Tangannya putih dan halus, tak jauh berbeda dengan yang mengambang di akuarium.
“Agera.”
Nyonya Viscount meraba-raba dan membelai tangan Evangeline.
“…Putriku.”
Nyonya Viscount tidak menepis tangan itu. Sesuatu yang hidup dan bergerak tentu lebih mirip seorang putri daripada sesuatu yang mati. Nyonya Viscount terhuyung bangkit di bawah bimbingan Evangeline.
“Cepat urus Agera.”
Saat Evangeline memberi isyarat, para pelayan cepat sadar dan menopang Nyonya Viscount.
“Kalian semua tutupi lagi dengan kain.”
Akhirnya, Evangeline menatap Nigella yang duduk terdiam. Matanya yang merah menyihir Nigella.
“Seperti yang kau tahu, kau tidak boleh memberitahu siapa pun apa yang kau lihat.”
Nigella mengangguk dengan bersemangat seolah yang didengarnya adalah perintah ilahi. Dia ingin menjawab ‘Ya,’ tapi entah bagaimana suaranya tidak keluar.
“Ada lagi yang mau kau katakan?”
Nigella mengangguk sedikit.
“Katakan.”
Saat Evangeline dengan mudah memberi izin, Nigella akhirnya bisa membuka mulut. Nigella bertanya dengan gugup.
“…Apa yang kau lihat di akuarium, Evangeline?”
Alasan Nigella secara khusus menanyai Evangeline apa yang dilihatnya adalah karena di antara mereka yang melihat akuarium, dialah satu-satunya yang tetap tenang.
Dan jika Nigella benar-benar tertular kegilaan dari Nyonya Viscount, maka Evangeline, yang baru saja tiba di Kediaman Duke, pasti baik-baik saja, bukan? Apa yang dilihat Evangeline adalah kebenaran.
“Apa yang kulihat?”
Saat mulut Evangeline terbuka, Nigella gugup menelan ludah. Entah mengapa tenggorokannya terasa sangat perih. Evangeline membungkuk untuk menatap Nigella dari atas. Lalu dia berbisik peling di telinganya.
“Aku melihat bangkai tikus.”
Jawaban yang mengikutinya benar-benar tak terduga.
Apa yang ada di akuarium bukanlah patung maupun orang. Tikus-tikus itu tidak pernah menghilang sejak awal. Nigella menitikkan air mata bahagia atas fakta bahwa dia bukan satu-satunya yang sudah gila.
Menangani seseorang yang menderita demensia lebih sulit dari yang dibayangkan. Ada alasan mengapa panti jompo itu ada. Orang tua yang pikirannya telah mundur sangat keras kepala dan egois. Mengulangi kata-kata yang sama berkali-kali adalah rutinitas, dan mereka bahkan tidak bisa mengingat percakapan apa yang baru saja mereka lakukan.
“Siapa nama teh ini?”
Menanyai pelayan tentang nama teh yang dia pilih dan seduh sendiri bukanlah hal aneh. Sang pelayan menjelaskan lagi nama dan efek teh itu, tapi Agera tidak mendengarkan dengan saksama.
“Amaranth, cepat cicipi!”
Mengira aku sebagai putrinya, atau bahkan fakta bahwa aku sudah menghabiskan cangkir tehku dua kali, adalah hal yang bisa kumaafkan.
Tak tahan menahan sorot mata berkilau Agera, kuambil cangkir itu, sekedar membasahi bibir, dan meletakkannya. Perutku sudah penuh cairan dan tak bisa minum lagi. Tetap, mengharapkan reaksi kedua belas yang persis sama, kuhardik saja dengan berkata baunya harum. Agera tertawa polos, senang bahkan dengan responku yang setengah hati.
Agera bahkan bukan nenek kandungku, namun aku merasa melankolis. Melihat betapa terganggunya hatiku, mungkin kakek nenekku sebelum perewahan juga menderita demensia…? Pikiranku menjadi kabur. Belakangan ini, ingatanku dari sebelum perewahan tidak jelas, yang cukup bermasalah.
Aku tidak tahu kapan ingatan asalku menjadi redup. Aku ingat novel-novel yang kubaca dengan baik, tapi tidak bisa mengingat namaku atau usiaku.
Bagaimanapun, ingatan pra-perewaganku yang menjadi kabur sepertinya adalah bukti bahwa aku berasimilasi dengan Evangeline. Seandainya ada jendela sistem, pasti akan ada pengukur seperti ‘Tingkat Asimilasi 77%’.
Bagaimanapun, karena salah satu kakek nenekku menderita demensia, itulah mengapa aku merasa sangat melankolis, kan? Mari kita lanjutkan dari hal-hal yang tidak bisa kuingat.
Agera menjejakkan kakinya dan bersikap seperti anak kecil.
“Aku sangat senang menunjukkan rumah kaca kepada putriku tercinta.”
Tenda tertutup di tengah agak mengganggu pemandangan. Katanya sengaja ditutup kain untuk mengontrol suhu? Sepertinya tidak ada sistem kontrol suhu otomatis.
Lebih jauh, aku khawatir laporan mungkin naik mengatakan ‘Dia tidak menanggapi Nyonya Viscount dengan tulus,’ jadi aku diam-diam setuju dengan apa yang dikatakan Agera ketika keributan terjadi di dekatnya.
“…Nigella! Kendalikan dirimu!”
Satu pelayan tiba-tiba menutupi telinganya dan tampak kesakitan. Apa yang terjadi? Sebelum aku bisa menilai situasi, pelayan lain datang dan menyarankan kita harus bubar.
Tampaknya mereka menilai tidak baik menunjukkan kepada Agera, yang usia mentalnya telah mundur, pemandangan seseorang menggeliat kesakitan. Namun, akan salah jika mengira Agera akan mudah menerima proposal yang penuh pertimbangan seperti itu.
“Agera, ayo cepat keluar.”
“Tidak! Mengapa aku harus keluar? Aku tinggal di sini!”
“Nyonya…!”
“Aku sedang berpesta teh dengan Amaranth!”
Sekarang ada kekacauan di kedua sisi. Sang pelayan tampaknya kesulitan bernapas karena sakit, dan Agera penuh pembangkangan, menjejakkan kaki dan bersikap keras kepala. Karena aku dekat dengan Agera, aku mencoba menenangkannya dulu.
Aku tidak punya air suci atau apa pun sekarang, dan wajahku telah efektif pada Agera. Kupikir tidak apa-apa karena ada sekitar dua orang yang melayani di sisi lain.
Tapi ternyata tidak. Tiba-tiba pelayan yang terengah-engah itu bergulat dan berlari ke arah tenda. Lalu dia meraih kain dan menariknya.
Apa ini? Mungkin hadiah kejutan? Dia bertingkah seolah kesakitan entah dari mana, jadi apakah ini semua kamera tersembunyi? Aku bersemangat, berpikir positif, tapi ketika melihat apa yang keluar dari balik kain, hatiku jatuh.
Ini benar-benar kejutan.
Aku tidak tahu mengapa bangkai tikus direndam di akuarium alih-alih formalin. Kupikir aku memasuki lab sains yang berbau alkohol daripada rumah kaca mewah. Ugh. Ini pemandangan mengerikan yang akan muncul dalam mimpiku.
Tapi mengapa bangkai tikus dibawa ke rumah kaca sejak awal? Dan mengapa menunjukkannya seperti kamera tersembunyi alih-alih hanya menutupinya? Ah, aku mengerti. Mereka mengerjaiku karena tidak menyukaiku sekarang?
Ada pelayan yang menyiksa wanita-wanita jahat dengan mengerjai mereka dengan sup berulat atau serangga atau tikus. Karena Duke membenciku, para pelayan juga ikut menggertakku. Sangat tipikal penduduk novel romantis, pola perilaku mereka sangat bisa ditebak.
Tapi bukankah kuantitas ofensifnya keterlaluan? Skalanya terlalu besar untuk dilakukan pelayan di antara mereka sendiri – pasti Duke bukan dalangnya? Aku terdiam dan bingung, menatap kosong akuarium, ketika Agera bergegas ke akuarium sebelum aku bisa menghentikannya dan menangis keras.
Dia sepertinya mengatakan sesuatu, tapi dia terisak dengan hidung tersumbat jadi aku tidak bisa menangkapnya. Dia mungkin mengatakan tikus-tikus itu menyedihkan. Dia sudah tampak memiliki perubahan suasana hati yang parah, dan ini benar-benar mengerikan untuk kesehatan mentalnya.
“Kau di sana. Apa kau akan membiarkan Agera terus menatap akuarium itu?”
Kurasa begitu. Karena tidak ada yang tampaknya ingin bergerak, aku pergi dan menutupi mata Agera sendiri. Sungguh, kesadaran masyarakat orang-orang di dunia ini sungguh luar biasa, bukan? Aku mengalaminya ketika rumah Donau kebakaran dan ketika kesatria terbakar di Kuil, tapi itu benar-benar masalah besar. Tetap, aku senang aku tahu solusinya. Di saat-saat seperti ini, kau hanya perlu menunjuk secara spesifik dan meminta bantuan.
‘Tolong ada yang bantu’ jauh kurang efektif daripada ‘Kau yang berambut hitam, tolong bantu.’
Karena aku menutupi mata Agera dengan kedua tangan, aku memberi instruksi dengan mata dan dagu. Seperti yang diharapkan, ketika aku menunjuk secara spesifik, mereka segera menuruti. Mereka menutupinya dengan kain dan membawa Agera ke kamarnya.
“Seperti yang kau tahu, kau tidak boleh memberitahu siapa pun apa yang kau lihat.”
Dengan kata lain, silakan bicarakan. Beri tahu Duke bagaimana aku menangani situasi dengan fleksibel dan murah hati.
Jika dia mengetahui bahwa aku dengan besar hati mengabaikan penggertakan para pelayan dan bahkan membantu merahasiakan fakta bahwa bangkai tikus muncul di rumah kaca, bukankah Duke akan memandangku dalam cahaya baru?
Tentu, masih panjang jalan yang harus ditempuh. Saat ini aku berada di posisi bahkan para pelayan mengabaikanku. Satu pelayan bertanya padaku sampai akhir apakah aku telah melihat dengan benar apa yang ada di akuarium. Alih-alih mengamuk, aku menanganinya dengan dewasa, jadi apakah dia pikir aku tidak bisa melihat bangkai tikus? Kau bisa memiliki gelar wanita jahat.
Bagaimanapun, aku kira-kira selesai mengatur situasi.
Aku tidak ingin tinggal di rumah kaca lagi, jadi kami semua keluar bersama. Agera tampaknya kelelahan melihat pemandangan mengejutkan, jadi dia hanya berjalan saat para pelayan menopangnya. Di tengah jalan, kami kebetulan bertemu Rico, yang datang menjemput kami mengatakan bahwa pembersihan kamar Amaranth sudah selesai.
“Agera!”
Rico kaget melihat Agera berjalan terhuyung-huyung dan bergegas mendekat.
“Apa yang terjadi, mengapa kau begitu kelelahan?”
“…Diam!”
Tapi Agera bahkan tidak mengenali bahwa dia adalah sang kepala pelayan dan menggelengkan kepalanya dengan liar.
“Kalian semua beri tahuku.”
Rico menanyai para pelayan lain, tapi mereka semua tidak bisa berkata-kata seolah mulut mereka dilem.
Semua orang hanya membuka dan menutup mulut sambil melirikku seolah menyuruhku bicara, jadi aku melangkah maju dan menceritakan apa yang terjadi.
Aku menjelaskan bahwa seorang pelayan telah menarik tenda dan sebuah akuarium berisi bangkai tikus muncul di bawahnya, dan bahwa Agera cukup terkejut melihatnya. Rico menggeretakkan giginya.
“Hanya karena aku pergi sebentar, hal semacam ini…”
Setelah mendengar seluruh cerita, Rico memarahi para pelayan.
“Kalian semua akan dihukum karena tidak melayani Agera dengan benar. Terutama kau.”
Tampaknya dia akan memberikan hukuman lebih keras pada pelaku utama yang menarik kain. Dia tidak terlihat dalam kondisi baik… tapi tidak ada ampun untuk yang sakit. Sungguh sesuai dengan masyarakat berbasis kelas.
“Pertama, mari antar Agera ke kamar tidurnya.”
Atas perkataan Rico, semua orang menundukkan kepala lalu pergi. Ketika Agera dan aku minum teh bersama, mereka berbisik-bisik di antara mereka sendiri, tapi di depan Sang Kepala Pelayan mereka tidak berkata-kata dan sangat pendiam.
Apakah mereka meremehkan Nyonya Viscount yang terkena demensia dan aku, yang bahkan tidak diperlakukan sebagai cucu? Rico hanya marah tentang tidak melayani Agera dengan benar, tapi tidak mengatakan sepatah kata pun tentangku. Bukankah ini benar-benar keterlaluan?
Biarkan aku menahan ini. Begitu Sang Viscount menjadi pecinta cucu, perlakuan akan berubah semudah membalik telapak tangan. Mari nantikan masa depan.
Setelah semua orang membantu Agera masuk, hanya Rico dan aku yang tersisa.
Kemana aku harus pergi… Mereka bilang akan membersihkan kamar Amaranth, jadi aku harus minta diantar ke sana, kan? Tidak. Aku berpikir untuk pergi ke kamar, tapi kupikir lebih baik melihat wajah Sang Viscount dulu.
Jika kami akan bertemu dan berbicara, bukankah lebih baik percakapan dilakukan di kereta sebelumnya atau pergi bersama dan berbicara segera setelah tiba?
“Kau bilang untuk mendengar detail dari Sang Viscount. Bisakah aku bertemu dengannya sekarang?”
“Ya. Aku akan mengantarmu padanya.”
Rico mengangguk dengan ekspresi rumit.