“Aku ingin tahu apakah Tuan Ashiya ingin mengobrol sebentar denganku,” kata Chizuru dengan kedipan licik, ekspresinya menyerupai rubah. “Hanya kita berdua. Tidak ada orang lain.”
Luo Ye mengamatinya dengan cermat tetapi tidak langsung menjawab.
Ia tidak bisa menebak apakah ajakan Chizuru tulus atau sekadar sebuah jebakan. Namun, perempuan itu jelas tahu lebih banyak daripada yang ia tunjukkan, setidaknya lebih banyak dari yang mereka duga.
Haruskah ia menyetujuinya?
Ia tersenyum tipis dan membungkuk sopan. “Tentu. Dengan senang hati.”
Bagaimana ia bisa menolak undangan dari NPC penting seperti itu?
Mo Chichi menatap punggungnya, merasa gelisah dan hendak berbicara, tetapi Lin Jianying mengangkat tangan untuk menghentikannya, menyuruhnya tetap tenang tanpa suara.
Chizuru tersenyum. “Tuan Ashiya, Anda orang yang sangat blak-blakan.
“Kalau begitu, silakan lewat sini.”
Perempuan itu memberi isyarat agar ia mengikuti. Sulaman rumit di lengan bajunya berkilauan bagai riak air di bawah sinar matahari. Dibalut cahaya yang berpendar itu, ia tampak begitu tidak nyata, seperti ikan koi cemerlang yang berenang di bawah langit jernih, anggun dan penuh warna kehidupan.
Mereka berjalan ke sudut halaman yang terpencil sebelum Chizuru akhirnya berhenti. Luo Ye berdiri beberapa langkah di belakangnya, berhati-hati untuk menjaga jarak aman.
Chizuru menyadarinya dan tersenyum. “Sepertinya Anda masih belum sepenuhnya mempercayaiku, Tuan Ashiya.”
Luo Ye tidak mengatakan apa-apa dan menatapnya. Tampaknya bosan dengan reaksi pemuda itu, ia mengalihkan pandangannya ke arah halaman dan tenggelam dalam pikirannya yang dalam.
Mereka berdiri seperti itu beberapa saat, keduanya tidak ada yang berbicara.
“… Lihatlah pohon-pohon sakura itu,” kata Chizuru akhirnya, memecah keheningan. “Begitu indah. Sayang sekali, bahkan kemegahan mereka pun akan memudar suatu hari nanti.”
“…Setidaknya untuk saat ini, mereka bermekaran sepenuhnya, dan momen itu akan dikenang,” jawab Luo Ye. Dalam hati ia berpikir, selayaknya orang Jepang, perempuan itu mampu menemukan keindahan yang melankolis dalam segala hal yang mereka lihat.
“Cara pandangmu menarik,” kata Chizuru sambil memiringkan kepalanya. “Kalau begitu katakan padaku, apa pendapatmu tentang tanda lahir di pergelangan tanganku?”
Luo Ye terkejut karena perempuan itu mengangkat topik tersebut sendiri.
“…Awalnya, itu karena sikapmu terhadap tanda itu,” jawabnya jujur. “Kau… tampak membencinya.”
Chizuru tersenyum tipis dan tidak langsung menjawab. “Kau pernah bertemu Chiori, bukan? Jika ya, maka dia pasti sudah menceritakan kisah ‘ibuku’ kepadamu.
“Ibuku adalah… perempuan yang sangat menarik. Aku dengar saat aku lahir, dia mengamuk karena tanda ini dan bertengkar hebat dengan ayahku. Pertengkaran itu adalah awal keretakan hubungan mereka. Pada akhirnya, hal itulah yang mendorong Matsumoto Ayame pada kematiannya.”
Ia tidak pernah memanggil Nyonya Ayame “ibu.” Kepahitan dalam suaranya memperjelas betapa dalam kebencian yang ia simpan.
“…Lalu, apakah kau tahu apa arti bunga seruni bagi Nyonya Ayame?” tanya Luo Ye hati-hati.
Chizuru mengeluarkan tawa dingin. “Bagaimana aku bisa tahu apa yang terjadi sebelum aku lahir? Kebenciannya kepadaku muncul begitu saja. Bagaimana aku bisa tahu mengapa dia memutuskan aku adalah musuhnya hanya karena sebuah tanda di pergelangan tanganku?”
Napasnya memburu. Topik itu jelas membangkitkan terlalu banyak kenangan menyakitkan.
“Jadi… Nona Chizuru, kau tidak tahu apa yang disimbolkan oleh bunga seruni itu baginya?” ucap Luo Ye pelan. Nadanya tidak menunjukkan petunjuk apa pun.
Chizuru menatapnya kembali dengan senyum tenang. “Benar. Aku tidak tahu. Itu adalah rahasia yang dibawa Matsumoto Ayame sampai ke liang lahat. Hanya orang mati yang tahu kebenarannya.”
Luo Ye mengamati wajahnya sejenak, ragu-ragu, lalu berkata, “Nona Chizuru, ada kemungkinan Nyonya Ayame masih berkeliaran di dōjō ini.”
Mendengar itu, tangan Chizuru sempat mengepal sesaat sebelum kembali rileks. “Oh? Jadi arwah penasaran itu sebenarnya adalah dia? Pantas sekali. Perempuan itu bahkan tidak bisa menemukan kedamaian dalam kematiannya.
“Tapi… melihat dia dan Matsumoto Shigeru saling menyiksa sungguh sangat menghibur! Mereka berdua adalah orang-orang egois. Matsumoto Shigeru, seorang playboy tidak tahu malu yang masih merindukan perempuan lain, dan Matsumoto Ayame, yang memimpikan cinta abadi bersamanya. Sungguh sebuah tragedi! Sungguh lelucon yang konyol!” Chizuru tertawa terbahak-bahak, tetapi sebutir air mata mengalir di pipinya. Luo Ye tidak bisa menebak untuk siapa air mata itu tumpah.
“…Jadi kau tahu tentang cinta pertama ayahmu?” Luo Ye mengerutkan kening. “Aku tidak menyangka dia akan menceritakan sesuatu yang begitu pribadi.”
“Hmph, tentu saja dia tidak sengaja mengatakannya,” kata Chizuru dengan senyum pahit. “Dia keceplosan saat sedang mabuk. Begitulah caraku mengetahuinya.”
“Begitu ya,” ucap Luo Ye pelan, mengangguk paham.
Chizuru mengangkat pandangannya ke arah Luo Ye, ekspresinya sulit dibaca. “Laki-laki itu semuanya sama, bukan? Matsumoto Ayame mencintai suaminya sepanjang hidupnya, dan apa yang didapatkannya? Sepuluh hari setelah kematiannya, pria itu menikah lagi! Katakan padaku, apa gunanya pengabdiannya selama ini?”
“…Cinta bukanlah sesuatu yang bisa diukur atau dinilai oleh orang lain,” kata Luo Ye lembut.
“Kau benar-benar pria yang baik, Tuan Ashiya.” Suara Chizuru melunak. “Haruskah aku menganggap itu sebagai cara andalanmu untuk menghiburku?”
Luo Ye tidak menjawab. Chizuru melanjutkan seolah sedang berbicara pada dirinya sendiri.
“Omong-omong, aku belum pernah berterima kasih dengan benar kepadamu karena telah menyelamatkanku di tepi air dan mengembalikan jepit rambutku.”
“Tidak perlu berterima kasih,” kata Luo Ye tenang. “Aku sudah bersyukur karena kau mau menceritakan masa lalu dōjō ini kepada kami dan membantu kami menghadapi para arwah.”
Chizuru tersenyum lagi, lalu tiba-tiba bertanya, “Tuan Ashiya, apakah kau pernah benar-benar mencintai seseorang?”
Luo Ye mengerjap, tidak yakin mengapa perempuan itu bertanya demikian, tetapi ia menjawab dengan jujur. “Sepertinya belum. Belum pernah.”
“Oh, begitu,” gumam perempuan itu. “Tapi kau suatu saat nanti pasti akan merasakannya, bukan? Siapa pun yang kau cintai nanti akan menjadi orang paling beruntung di dunia.”
Luo Ye tidak bisa menahan tawa kecilnya. “Kau memujiku berlebihan, Nona Chizuru. Aku tidak tahu harus merespons apa.”
“Tidak perlu merespons,” Chizuru menggelengkan kepalanya. “Hari sudah mulai larut. Aku harus kembali untuk beristirahat.”
Ia mengambil keranjang bunga di sampingnya dan menghela napas. “Bunga sakura yang sangat indah…”
Meraih ke dalam keranjang, ia mengambil sehelai dahan dan mengulurkannya kepada pemuda itu. Kelopak-kelopaknya berkilauan dengan tetesan air, segar dan bercahaya, meskipun Luo Ye tahu bahwa begitu kelopak itu terlepas dari dahannya, mereka akan segera layu.
“Hadiah kecil,” ujarnya. Matanya bersinar bagai rembulan di malam yang jernih, cukup terang untuk membuat siapapun tersesat di kedalamannya.
Sayangnya, Luo Ye tidak termakan oleh pesona itu.
Ia menerima dahan itu tanpa protes. Tak ada lagi kata yang terucap. Chizuru berbalik dengan keranjang di pelukannya, lalu berjalan pergi.
Luo Ye memerhatikan kepergiannya yang semakin menjauh, tenggelam dalam pikirannya.
Bunga sakura…
“Ashiya!”
Luo Ye menoleh saat namanya dipanggil dan melihat bahwa Lin Jianying dan Mo Chichi telah menyusulnya entah sejak kapan. Jelas sekali mereka telah mengindahkan seluruh percakapannya. Mo Chichi menatapnya dengan cemas. “Ashiya, kau tidak apa-apa?”
“Aku baik-baik saja. Apa yang mungkin salah dengan diriku?” Luo Ye sedikit mengerutkan kening. “Aku hanya tidak mengerti apa yang coba dikatakan oleh Chizuru. Aku merasa dia sedang memberi isyarat tentang sesuatu, tapi aku tidak bisa menangkap maksudnya…”
“Mungkin dia baru saja menyatakan cintanya padamu,” kata Lin Jianying tiba-tiba, membuat Luo Ye tertegun kebingungan.
“Menyatakan cinta? Untuk apa seorang NPC menyatakan cinta padaku?” Luo Ye menunduk menatap dahan sakura di tangannya dan tiba-tiba menyadari apa yang dimaksud oleh Lin Jianying. “Oh. Maksudmu ini?”
“Orang Jepang terkadang cukup tertutup dalam hal-hal seperti itu,” gumam Mo Chichi sambil mengamati kelopak-kelopak bunga yang rapuh. “Jadi, mungkin saja… Ashiya, karena kau menyelamatkannya di tepi kolam, dia jatuh cinta padamu?
“NPC memiliki emosi… sekarang itu hal yang baru.”
“Kurasa itu bukan sekadar pernyataan cinta,” kata Luo Ye, mengabaikan sudut pandang romantis tersebut sepenuhnya. Ia memutar-mutar dahan itu di tangannya. “Kau tahu apa yang aneh? Chizuru tahu bahwa Matsumoto Shigeru memiliki seorang perempuan yang tidak pernah ia lupakan. Tapi pria itu tidak mungkin menceritakan hal semacam itu pada siapa pun.”
“Dia bilang dia mendengarnya secara tidak sengaja saat ayahnya sedang mabuk, tapi penjelasan itu rasanya kurang masuk akal.”
Lin Jianying melirik dahan tersebut dan bertanya, “Lalu, menurutmu apa kebenarannya?”
“…Aku punya tebakan,” kata Luo Ye sambil menyelipkan dahan sakura itu di pinggangnya. “Tapi aku harus memastikannya dulu. Lebih baik jangan katakan apa-apa dulu, agar kita tidak salah arah.”
Ia mengembuskan napas perlahan. “Ayo. Mari kita geledah dōjō ini sekali lagi. Setelah itu, kita tunggu sampai malam nanti. Begitu perempuan berpuaian putih itu meninggalkan halaman, kita mulai penyelidikan.”
Mereka menghabiskan sisa hari itu dengan menggeledah bangunan tetapi tidak menemukan hal baru. Keesokan harinya akan menjadi hari keenam, dan waktu mereka hampir habis. Jika tidak ada yang bisa ditemukan pada siang hari, maka mereka terpaksa harus bertindak di malam hari.
Malam itu, mereka membentangkan futon dan tidur sejenak untuk memulihkan tenaga. Lagipula, begitu perempuan berpakaian putih itu lewat, ia pasti akan membangunkan mereka.
Sebelum tidur, Mo Chichi bergumam, “Jika hantu itu tahu kita menggunakannya sebagai jam alarm, apa menurutmu dia akan kehilangan akal sehatnya?”
Luo Ye dan Lin Jianying: “…”
Sekalipun selera humor perempuan itu aneh, mereka harus mengakui hal itu sedikit meredakan ketegangan.
Tepat tengah malam, tangisan yang familiar mulai terdengar di luar pintu mereka. Ketiganya langsung membuka mata dan bergerak menuju pintu geser. Ketika suara itu memudar di kejauhan, Luo Ye memberi isyarat pada yang lain, lalu menghitung mundur dalam hati.
Tiga, dua, satu.
Ia menggeser pintu itu dalam satu gerakan cepat dan melangkah ke koridor.
Malam begitu tenang dan sunyi. Cahaya bulan tumpah ke halaman bagai air jernih. Luo Ye mendongak. Rembulan menggantung tinggi di langit.
“Jadi sudah larut ini rupanya…” Lampion kertas di bawah atap berpendar samar, memancarkan cahaya pucat di atas lantai kayu. Luo Ye melirik lorong yang sepi di depannya dan berkata dengan suara rendah, “Ayo kita pergi. Kita mulai dari kamar Matsumoto Shigeru.”