Nolan dan Hank berjalan berdampingan menembus malam, sumpah yang diucapkan di bawah menara lonceng seakan memberi bobot baru pada setiap langkah yang mereka ambil.
“Aku masih harus mencari seseorang,” kata Nolan, memecahkan keheningan. “Seorang alkemis—Leus. Kapten Hank, apakah kau mengenalnya?”
Sudut bibir Hank berkedut di sekitar cerutu yang tergigit di antara giginya. Ia mengangkat sebelah alis, kepulan asap yang diembuskannya membawa nada ketidaksukaan yang begitu jelas. “Dia? Kenalan lama. Toko alkemi di sebelah utara yang bernama ‘Off-Key’ itu adalah miliknya. Bagaimana aku harus mengatakannya… dalam catatan respons insiden bulanan Pasukan Pengawal, tokonya selalu berada di peringkat teratas. Tanpa saingan.”
Mendengar ini, Nolan justru memperlihatkan ekspresi keyakinan yang tenang. “Kalau begitu, aku yakin dialah orang yang sedang kucari. Ayo pergi. Besok, kita akan mengunjunginya. Kebangkitan kerajaan tidak bisa dilepaskan dari bakat-bakat sepertinya.”
Hank melirik Nolan dengan ekspresi jengkel dan menarik napas dalam-dalam dari cerutunya. “Kenapa harus dia? Aku mulai bertanya-tanya apakah aku telah naik kapal yang salah denganmu.”
Keesokan paginya, di bawah sinar matahari yang cerah dan menyenangkan, Nolan dan Hank—yang kini mengenakan seragam rapi—muncul di sebuah gang terpencil di bagian utara kota. Di ujung gang tersebut terpasang sebuah papan kayu miring, dengan tulisan tangan yang berantakan: Perlengkapan Alkes “Off-Key”.
Pintu toko terbuka, tetapi konter tampak tidak dijaga. Botol dan kendi dari berbagai bentuk dan ukuran bertumpuk di mana-mana, mengeluarkan aroma khas yang memadukan belerang, rempah-rempah, dan kulit kadal bertanduk. Selain barang-barang biasa yang ditemukan di toko alkemi biasa—minyak pedang, ramuan mana kecil, dan bahan-bahan dasar—tempat itu dipenuhi dengan produk yang lebih… “inovatif”.
Nolan melihat ramuan hijau tua dengan label yang sudah memudar. Tulisan tangan dengan tinta mencantumkan kata-kata: penumbuh rambut, penghilang bau, daya tahan—“ramuan penambah kejantanan pria tiga-dalam-satu.” Dia tidak bisa menahan tawa. Ini mungkin adalah prototipe dari senyawa “Kekuatan Mengamuk” yang kelak menjadi terkenal. Efeknya saat ini memang kacau, namun konsep dasar di balik formula itu sangatlah berharga.
Di rak terdekat, terdapat tumpukan kecil kristal tembus pandang yang tidak terlihat berbeda dari pecahan kaca. Di bawahnya, sebuah catatan yang ditulis dengan tergesa-gesa berbunyi: Mudah meledak. Jangan disentuh. Risiko ditanggung sendiri. Ini adalah… prototipe dari “Kristal Kondensasi Energi”. Nolan tidak menyangka Leus bahkan sudah mulai mengembangkannya sejak tahun 270. Di kehidupan sebelumnya, versi sempurnaan dari ciptaan inilah—“Bom Energi Terkondensasi”—yang telah meledakkan garis pertahanan terakhir ibu kota kerajaan.
Di sudut paling jauh terdapat setengah set baju zirah logam. Sekilas tampak biasa saja, namun untaian tipis energi elemen angin berputar di sekelilingnya. Upaya awal dalam ukiran angin… memang kasar, namun konsep dasarnya sepenuhnya benar. Penerima manfaat terbesar dari gagasan ini, Tarton si Mata Satu, nantinya akan menggunakannya untuk mengembangkan “Formasi Pertempuran Badai” yang menakutkan.
Hank memeriksa barang-barang itu, alisnya sudah berkerut. “Setiap kali aku datang ke sini sebelumnya, itu karena harus mengurus salah satu kecelakaan sialannya—meledakkan lubang di dinding tetangga, atau kebocoran ramuan yang membuat tikus selokan menjadi biru… Tapi kalau dilihat sekarang, toko ini benar-benar… luar biasa.”
Nolan merasakan antisipasinya semakin besar.
Ini adalah tempatnya.
Ini adalah orangnya.
Pada masa ini, Leus masih belum dikenal—hanya seorang alkemis yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tidak disukai oleh para tetangganya. Namun Nolan tahu lebih baik daripada siapapun bahwa di balik penemuan-penemuan yang tampak konyol ini berdiri seorang jenius yang dipenuhi oleh kreativitas liar.
Di garis waktu yang lain, setelah Rosenberg jatuh, satu-satunya putra Leus tewas secara mengenaskan, dan dirinya sendiri direduksi menjadi budak para undead. Kesedihan dan kebencian yang luar biasa telah merusak pikirannya. Ia tidak hanya membenci para undead, tetapi juga Kerajaan Elf yang gagal melindungi keluarganya. Kebencian yang terdistorsi itu menarik perhatian seorang penguasa undead, yang melihat emosi negatifnya yang meluap-luap sekaligus bakatnya yang luar biasa. Ia dipilih dari antara para budak dan diubah menjadi sesosok lich mayat.
Menggabungkan alkemi dengan sihir nekromansi, ia menciptakan bentuk seni pengikatan roh yang sepenuhnya baru. Teknik tingkat rendah yang disempurnakan itu dapat, dengan biaya mana yang sama, memanggil perampok ghoul dan prajurit kerangka berlapis baja berat—unit infanteri tingkat tiga—membuat prajurit kerangka tingkat pertama benar-benar ketinggalan jaman.
Ya—dialah orang yang seorang diri mendorong reformasi militer bangsa undead.
Sebelum direkrut ke dalam lingkaran Kekaisaran Chosen, ia telah bangkit melawan segala rintangan untuk menjadi salah satu dari sedikit bangsawan yang berorientasi penelitian yang tidak pernah menginjakkan kaki di medan perang—mendapatkan gelar “Pembawa Malapetaka”. Teror tak berujung yang ia ciptakan membawa bencana yang menghancurkan Kerajaan Elf.
Tetapi…
Nolan menatap toko kecil yang berantakan di hadapannya, tatapannya menyala-nyala.
Semua itu belum terjadi. “Pembawa Malapetaka” itu belum lahir. Saat ini, ia hanyalah seorang ayah biasa, yang berjuang untuk menghidupi putranya.
Jika Nolan bisa membujuknya… tidak, ia harus membujuknya. Ini tidak hanya akan sangat menunda kemajuan teknologi masa depan Kekaisaran Shiva, tetapi juga memungkinkannya mengamankan jenius alkemi ini sebelum ia terkenal. Kekaisaran Shiva hanya perlu menderita sedikit karenanya. Nolan tidak merasa bersalah—jika ada, pikiran itu hampir membuatnya tertawa. Ia ingin sekali melihat ekspresi mereka di masa depan saat berhadapan dengan senjata-senjata yang seharusnya menjadi milik mereka.
Nolan melangkah ke konter dan menekan bel dari tembaga yang tertutup debu.
Ding! Ding!
Suara lonceng yang jaring itu hampir tidak terdengar ketika suara benturan keras meledak dari ruang belakang—panci dan wajan bergemerincing hebat ke lantai. Disusul oleh teriakan panik seorang pria dari dalam, “Datang, datang! Berhentilah mendesakku! Pancinya hampir meledak!”
Keriuhan itu membuat Hank, yang sangat menjunjung tinggi kedisiplinan, kembali berkedut di sudut matanya.
Seorang pria yang tampak berusia tiga puluhan atau empat puluhan bergegas keluar dari ruang belakang, menyeka tangannya saat ia berjalan. Rambutnya berantakan total, seperti sarang burung, dan wajahnya terkena noda hitam jelaga.
“Ada apa yang bisa kubantu—eh? Kapten Hank?” Begitu melihat Hank, ia tertegun, lalu ekspresinya berubah gugup dan bersalah. “Aku… aku tidak membuat masalah lagi, kan? Sumpah, eksperimen-eksperimanku akhir-akhir ini semuanya aman. Aku sama sekali tidak memutasi ragi dari toko roti di sebelah!”
Nolan melangkah maju, senyum lembut terukir di wajahnya. “Jangan khawatir, Tuan Leus. Semuanya baik-baik saja. Aku Nolan. Kami ke sini hanya untuk mengobrol.”
Barulah saat itu Leus menyadari kehadiran Nolan. Mata merahnya, yang tegang karena jam kerja penelitian yang panjang, berbinar karena terkejut. “Ah! Kau—kau adalah… pahlawan dari pertempuran pertahanan kota, Adipati Nolan! Putraku baru saja membicarakanmu kemarin! Tunggu… kau mengenalku? Apa yang ingin kaubicarakan?”
Bagi seorang pahlawan terkenal dari pertempuran kota yang mendatanginya dengan menyebut namanya membuatnya merasa tersanjung sekaligus kewalahan.
Hank melangkah maju, suara dalamnya memotong, “Ini bukanlah jenis urusan yang bisa kalian selesaikan dengan mengobrol di ambang pintu, Leus.”
Leus menepuk jadinya karena sadar dan langsung berbalik menghadap ke ruang belakang, berteriak, “Kreil! Keluar sini dan tutup pintunya! Kita kedatangan urusan besar untuk dibicarakan!”
Seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun, bertubuh kecil dan kurus namun memiliki mata yang cerah dan lincah, mengintip dari balik tumpukan peralatan alkemi. Ia kemudian bergegas mendekat, dengan cepat dan efisien menutup pintu depan toko.
Leus berkata dengan canggung kepada mereka berdua, “Ini putraku, Kreil. Silakan masuk. Hanya saja… bagian dalamnya agak berantakan. Jangan dipedulikan, jangan dipedulikan.”
Mereka bertiga berjalan ke ruang belakang.
Jika toko di luar berantakan, tempat ini adalah zona bencana yang sesungguhnya.
Cetak biru, suku cadang, gelas kimia, ramuan setengah jadi—semuanya menumpuk secara serampangan, hanya menyisakan jalan sempit yang nyaris cukup untuk dilewati.
Mereka berhasil duduk di tengah kekacauan itu. Leus menatap Nolan dan Hank, wajahnya menyiratkan antisipasi sekaligus sedikit kegelisahan.
Nolan memutuskan untuk tidak membuang waktu. Menatap lurus ke arah Leus, ia berbicara dengan terus terang. “Tuan Leus, aku datang hari ini untuk satu alasan. Aku ingin mengajakmu bergabung denganku.”
“Bergabung denganmu?” Mata Leus langsung berbinar. Kegembiraannya langsung mengusir rasa gugupnya tadi, sementara tangannya saling menggosok. “Maksudmu… investasi? Kau ingin menyelamatkan toko kecilku agar tidak bangkrut?!” Sambil tersenyum lebar, ia meraih cetakan biru yang dipenuhi coretan di sampingnya dan mulai menjelaskan dengan penuh semangat, kata-kata meluncur deras dari mulutnya. “Ah! Tuan Nolan, kau benar-benar memiliki mata untuk bakat! Biar kuberitahu, aku baru saja menguji ide baru. Begini, jika kau mencampur darah troll dan air liur goblin dengan rasio 2 banding 1, lalu menyulingnya di atas nyala api bersuhu rendah, kau bisa—”
“Maafkan aku, Tuan Leus.” Nolan terpaksa menyela gelombang antusiasme teknisnya.
Leus langsung tertegun. Kegembiraannya runtuh, bahunya merosot saat cetakan biru itu lepas dari tangannya dan jatuh ke lantai. “Oh… aku sudah menduganya.”
Nolan menatapnya dan mengucapkan setiap kata dengan jelas, “Aku tidak datang untuk menyelamatkan tokomu.”
Leus semakin menundukkan kepalanya.
Nolan sedikit condong ke depan, tatapannya menyala-nyala dengan intensitas saat ia melanjutkan dengan nada yang lebih serius dari sebelumnya, “Aku di sini untuk mengajakmu membantu menyelamatkan kerajaan ini. Hank dan aku akan segera pergi. Aku berniat untuk membangun pasukan sendiri, dan kami membutuhkan seorang ahli sejati untuk mengamankan logistik kita.”
Udara menjadi sunyi. Perlahan-lahan, Leus mengangkat kepalanya. Ekspresi licik, penuh harapan, dan kecewa di wajahnya semuanya lenyap. Sebagai gantinya adalah sesuatu yang asing—campuran antara ketidakpercayaan dan kebingungan.
Ia memandang Nolan dari atas ke bawah, lalu akhirnya berbicara dengan suara linglung, hampir seperti dalam mimpi. “Membangun pasukan sendiri… menyelamatkan kerajaan ini? Kau? Aku?”