Klose dan Little Donnie meninggalkan ruangan dengan sering kali menoleh ke belakang, raut wajah mereka seolah mengeja kalimat kami ingin mendengarkan gosipnya. Hanya ketika tatapan menekan Hank menyapu celah pintu, mereka bergidik, menarik leher mereka, lalu kabur terbirit-birit.
Pintu kayu yang berat itu tertutup, meninggalkan ruangan yang dipenuhi oleh suara bara cerutu yang berderak pelan dan aroma tembakau yang pekat.
Hank menunjuk ke kursi di seberangnya dan berbicara dengan nada tandas. “Duduk.”
Nolan tidak sungkan-sungkan. Ia duduk, lalu menyandarkan punggungnya dengan santai.
“Nolan.” Hank mengangkat kepalanya. “Kau adalah pahlawan dalam pertempuran ini. Kemampuan dan kepemimpinanmu sudah jelas bagi semua orang. Unit pengawal ini, bahkan seluruh Rosenberg, membutuhkan seseorang sepertimu untuk melindunginya. Kau jauh lebih cocok untuk posisi ini daripada aku.” Ia berhenti sejenak, dan untuk sekali ini ada secercah harapan di dalam matanya. “Aku tidak muda lagi. Aku ingin kau yang mengambil alih.”
Nolan mengangkat sebelah alisnya. Tawaran itu sama sekali tak terduga. Ia menggelengkan kepala. “Terima kasih atas kepercayaan Anda, Kapten Hank. Tapi aku harus menolaknya.”
“...Kenapa?”
“Rosenberg hanyalah titik awal bagiku. Ada hal-hal yang jauh lebih penting yang harus kulakukan. Begitu keamanan dasar di sini sudah terjamin, aku akan pergi.”
Secara sekilas, harapan redup di mata Hank lenyap, digantikan oleh keseruan yang muram. Segala argumen yang telah ia persiapkan tertelan kembali di tenggorokannya, terpotong oleh penolakan blak-blakan itu. Udara di dalam ruangan mendadak terasa berat.
“Jadi,” ucapnya akhirnya dengan suara rendah dan serak, “sebenarnya siapa kau, nak?”
Nolan tersenyum. “Apakah itu penting? Anak yatim piatu perang, bangsawan yang jatuh, pangeran yang diasingkan, atau kapten pelaksana milisi di Shire Town—jika aku mau, aku bisa menjadi siapa saja dari mereka.” Nadanya berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya. “Apa yang mendefinisikan diriku tidak pernah terletak pada label-label itu. Aku selalu menjadi Nolan dari Kerajaan Elf. Hal itu tidak pernah berubah. Yang seharusnya kau tanyakan bukanlah siapa diriku.” Ia melanjutkan, kata-katanya menghujam langsung ke inti pikiran Hank, “Melainkan apa yang ingin kulakukan.”
Hank menegang. Sekali lagi, ia merasa pikirannya digiring oleh pemuda ini, seolah dituntun dengan patuh oleh hidungnya. Dari pertemuan pertama mereka hingga pengarahan taktis, dan sekarang percakapan ini, Nolan selalu mengambil kendali tanpa terlihat kentara. Entah dalam strategi, pertempuran yang berlumuran darah, atau diskusi tenang, pemuda itu bergerak dengan keyakinan yang meresahkan, seolah-olah ia bisa melihat menembus segalanya. Hal itu mengirimkan hawa dingin ke tulang belakang prajurit veteran tersebut.
Kapten milisi pelaksana? Siapa yang akan percaya bualan itu? Mengingat tingkat pendidikan rakyat biasa di kerajaan saat ini, ilmu pedang Nolan yang begitu berkelas, pemahamannya yang mendalam tentang mayat hidup, kesadaran taktis serta insting medannya, bahkan ketenangan dalam setiap ucapannya sekarang—tidak satupun dari hal itu yang seharusnya dimiliki oleh seorang milisi desa yang hampir beranjak dewasa. Segala sesuatu tentang Nolan terasa sangat bertentangan dengan usianya.
Karena situasinya sudah sampai pada titik ini, Hank tidak lagi repot-repot menyembunyikannya. “Hmph.” Ia mendengus berat, mencondongkan tubuhnya ke depan, sementara aura dominannya menekan turun secara serempak. “Lanjutkan. Aku mendengarkan.”
Nolan ikut menegakkan punggungnya, tatapannya jernih dan tak tergoyahkan. “Tujuanku tetap sama sejak awal.”
Ia berhenti sejenak, lalu mengucapkan kata-kata yang tidak akan pernah Hank lupakan.
“Aku ingin menyelamatkan kerajaan ini.”
Kalimat itu jatuh dengan bobot seberat hantam palu.
Hank tertegun sejenak, lalu alisnya mengerut erat, ekspresinya berubah aneh. “Menyelamatkannya?” ulang beliau tidak percaya. “Kerajaan ini memang sedang menghadapi masalah, tentu saja, tapi... menyelamatkannya? Itu terdengar agak arogan, tidakkah kau rasa?”
“ Arogan?” Nolan menggelengkan kepala, secercah rasa kasihan terbesit di matanya. “Kapten, laut selalu tenang sebelum badai menerjang. Kau memang seorang veteran, tapi apa yang kaulihat barulah ombak di tepi pantai—bukan arus bawah yang bergejolak di dasarnya.”
Suara Nolan tidak keras, namun setiap patah kata menghantam bagai Sambaran Petir.
“Dua tahun lalu, Yang Mulia Raja terdahulu mangkat. Perebutan takhta antara Putri Flina dan Pangeran Kruh bukanlah rahasia lagi bagi siapa pun yang memiliki sumber informasi layak. Mereka memang belum merobek cadar penutup sepenuhnya, namun enam adipati agung yang memegang kekuasaan nyata telah mulai memilih kubu secara diam-diam. Aku bertaruh dalam waktu satu tahun, konflik antara faksi royalis—yang diwakili oleh tiga provinsi selatan—dan blok aristokrasi tradisional utara akan meletus dan mencuat ke permukaan secara penuh. Dan itu baru masalah internalnya saja.”
Ucapannya semakin cepat saat bayangan darah dan api berputar kembali di depan matanya.
“Di sebelah selatan terletak Kekaisaran Shiva. Tidak perlu dijabarkan panjang lebar—mereka telah diam-diam membangun kekuatan selama bertahun-tahun, mengasah bilah pedang mereka. Kerajaan Elf berada di lokasi yang sangat strategis, menjadi penyangga antara mereka dan Kekaisaran Rus di utara. Jika Shiva memutuskan untuk berekspansi sementara kerajaan ini terjebak dalam perselisihan internal, menurutmu siapa yang akan menjadi target pertama mereka?”
“Haruskah kita meminta bantuan dari Kekaisaran Rus, sesama manusia? Jangan bahkan dipikirkan. Bangsa Rus yang angkuh itu mungkin juga memuja Dewi Ibu Sethis, namun ambisi mereka untuk menganeksasi kerajaan ini adalah rahasia umum. Militer mereka sangat tangguh; mengundang mereka masuk itu mudah, tetapi mengusir mereka keluar akan menjadi perkara lain sepenuhnya.”
“Adapun para elf di sebelah barat, Kekaisaran Suci Osu—ya, garis keturunan Putri Flina memang memiliki ikatan darah dengan mereka. Namun di antara kita terbentang hutan raya yang tak berujung. Sekalipun mereka ingin mengirimkan pasukan, jaraknya terlalu jauh. Air yang jauh tidak akan bisa memadamkan api yang sedang membakar di dekat.”
“Kerajaan kurcatti di pegunungan sama sekali tidak bisa diandalkan. Mereka masih terjebak dalam jalan buntu yang panjang dengan para Lord Abyss dari Dungeon Bawah Tanah. Lagipula... sejak ‘insiden itu’, aliansi tersebut tidak lebih dari selembar kertas bekas. Sikap mereka terhadap manusia sekarang paling-paling hanyalah dingin.”
Menyandarkan punggungnya di kursi, Nolan menatap Hank, yang berdiri kaku dengan mulut setengah terbuka karena tak mampu berkata-kata, lalu menyampaikan kesimpulan akhirnya.
“Masalah di dalam maupun di luar, serigala mengintai dari segala penjuru. Kerajaan ini... berada di ambang kehancuran. Untuk menangkis ancaman eksternal, seseorang harus mengamankan bagian dalamnya terlebih dahulu. Dan aku berniat menjadi orang yang memecahkan kebuntuan itu.”
Kantor itu jatuh dalam keheningan yang mencekam.
Hank merasa pikirannya menjadi kosong. Perselisihan suksesi, ketegangan utara-selatan, geopolitik benua—konsep-konsep yang seharusnya berada di ruang sidang kerajaan kini dibeberkan oleh pemuda ini, menghancurkan keyakinan yang telah iapegang selama lebih dari empat puluh tahun bahwa kerajaan ini berada dalam kondisi stabil. Ini adalah urusan para penasihat kerajaan dan adipati yang berkuasa, bukan untuk orang seperti dirinya. Ditelan oleh beban berat dari semuanya, Hank menatap Nolan dan tiba-tiba merasa pemuda itu begitu menakutkan sekaligus penuh misteri.
Suara Nolan memecah kesunyian. “Apakah kau masih berpikir kerajaan ini tidak butuh diselamatkan? Oh, benar.” Ia menyunggingkan senyum lebar, gigi putihnya berkilat. “Sebagai catatan, aku benar-benar seorang anak yatim piatu korban perang. Aku tidak pernah berbohong tentang hal itu.”
Anak yatim piatu korban perang...
Ya. Putra seorang prajurit yang gugur dari Legiun Selatan. Jika itu benar, maka patriotisme yang luar biasa dan tekad dingin itu tampaknya memiliki akar yang jelas. Ia pasti pernah mengalami pertemuan yang tidak diketahui di masa lalunya.
Sejatinya, Hank telah salah paham. Maksud Nolan sama sekali bukan hal itu—ia adalah anak yatim piatu dari seluruh kerajaan, dari garis waktu yang berbeda.
“Haah—”
Hank bangkit mendadak dan mulai berjalan mondar-mandir di dalam ruangan dengan gelisah. Ia butuh waktu untuk mencerna, untuk berpikir. Kejutan yang diberikan oleh pemuda ini melampaui medan pertempuran manapun yang pernah ia hadapi seumur hidupnya.
Pemuda ini ingin mengguncang bukan hanya kerajaan, tetapi keseimbangan seluruh benua dengan tangannya sendiri. Arogan macam apa itu—dan keberanian macam apa pula itu?
Yang lebih meresahkan lagi, meski ia tahu betapa tidak masuk akalnya hal tersebut, ia tidak dapat menahan firasat di lubuk hatinya: Nolan mungkin benar-benar bisa mewujudkannya.
Setelah sekian lama, ia berhenti dan melambaikan tangan dengan tidak sabar. “Cukup! Gara-gara kau, kepalaku jadi benar-benar pusing. Semua rencana yang telah kupersiapkan untuk para pengawal harus dirombak ulang dari awal! Sekarang enyah dari hadapanku.”
Nolan tertawa kecil dan bangkit berdiri. Ia bisa melihat bahwa terlepas dari kata-kata kasarnya, kapten veteran yang keras itu sedang bergolak hebat di dalam hatinya. Bagi seorang prajurit sejati seperti Hank, begitu kalian pernah bertempur dan berdarah bersama, ikatan itu berjalan jauh lebih dalam daripada kehidupan itu sendiri. Fakta bahwa Hank bersedia mempercaikannya dengan Pasukan Pengawal sudah mengatakan semuanya. Pria itu hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan ini.
Nolan mencapai pintu, tangannya sudah berada di gagang pintu. Tiba-tiba ia menoleh ke belakang, mengerjap dengan secercah kenakalan. “Oh, ngomong-ngomong, Kapten. Ada dua ‘pasang telinga’ di luar sana sepanjang waktu.”
Begitu ia berbicara, serangkaian suara benturan canggung dan pekikan tertahan terdengar dari luar, disusul oleh derap langkah kaki panik yang buru-buru mundur.
Hank mendengus, meski tidak ada kemarahan di wajahnya. “Dua bocah itu—aku sudah menyadarinya sejak tadi.” Ia berbalik, tatapannya kembali tertuju pada Nolan. “Malam ini, pukul delapan, tunggulah aku di gerbang kamp. Aku akan membawamu ke suatu tempat.”