Lima menit kemudian, Aize dan Tojo Kirin meninggalkan markas besar komite operasional bersama-sama.
Namun, kedua orang itu tidak kembali ke Akademi Seidoukan bersama-sama.
Tojo Kirin berencana untuk mengambil cuti selama beberapa waktu dan pulang ke kampung halamannya.
Ini tentu saja demi urusan ayahnya.
"Aku... bagaimanapun juga ingin segera menemui Ayah."
Tojo Kirin mengatakan hal itu kepada Aize.
Mathias juga memberitahu Tojo Kirin bahwa jika dia ingin mengurus sendiri masalah ayahnya, komite operasional akan membantu mengurus segala hal terkait akademis dan aspek lainnya, serta membukakan jalan kemudahan baginya agar dia tidak perlu merasa khawatir lagi.
Ini juga bisa dianggap sebagai layanan tambahan dari keinginan sebagai pemenang, masalah sepele yang sama sekali tidak perlu di risaukan.
Oleh karena itu, Tojo Kirin telah memutuskan untuk meninggalkan Asterisk untuk sementara waktu, dan bersiap untuk kembali ke kediaman utama Aliran Tojo untuk berdiskusi mengenai hal ini dengan kepala keluarga yang sekarang, yaitu neneknya.
Meskipun merasa sedikit berat hati, mau bagaimana lagi, Tojo Kirin telah menunggu hari ini sangat lama, dan tidak mungkin terus tinggal di Asterisk sambil menunggu kabar tentang ayahnya dengan sia-sia.
Mengenai hal ini, Aize tentu saja menyatakan dukungan dan pengertiannya.
"Kebetulan aku juga punya beberapa urusan yang harus diselesaikan, fokuslah pada urusanmu sendiri."
Aize menepuk pundak Tojo Kirin, membuat gadis itu mengangguk dengan penuh keyakinan.
"Itu... saat kembali nanti, aku akan segera mencari Senior di kesempatan pertama, kumohon Senior menungguku kembali ya."
Tojo Kirin menatap Aize dengan penuh rasa enggan berpisah, lalu mengucapkan kata-kata tersebut dengan suara pelan.
"Baiklah." Aize tersenyum dan berkata, "Aku akan menunggumu kembali."
Ini adalah sebuah kebohongan putih yang bermaksud baik.
Aize sudah bersiap untuk kembali ke Perpustakaan Fantasi, dan tidak akan tinggal di akademi untuk menunggu Tojo Kirin kembali.
Namun, kebohongan ini tidak akan pernah terbongkar.
Karena, setelah Aize meninggalkan dunia ini, alur cerita di dunia ini tidak akan terus berjalan lagi.
Tanpa adanya pengalaman hidup nyata yang terjadi di sini, dunia fantasi itu pada akhirnya hanya sekadar fantasi. Bahkan jika Aize telah menyelesaikan satu pengalaman hidup di sini, pengalaman hidup ini baru diselesaikan secara garis besar saja, dan belum mampu membuat dunia fantasi ini berubah secara langsung menjadi dunia yang nyata.
Dalam keadaan seperti ini, ketika Aize meninggalkan dunia fantasi, dunia ini akan jatuh ke dalam kondisi statis. Ketika Aize kembali lagi nanti, atau setelah dunia ini eksis sebagai dunia nyata, barulah dunia ini akan melanjutkan perkembangannya.
Dengan kataM lain, bahkan jika Aize meninggalkan tempat ini dan kembali ke Perpustakaan Fantasi, itu tidak akan mempengaruhi dunia ini.
Ketika dia kembali nanti, waktu akan mulai berputar kembali dari detik terakhir saat dia meninggalkan tempat ini sebelumnya.
Tidak akan ada seorang pun yang tahu bahwa Aize pernah pergi, dan saat Tojo Kirin kembali, dia juga akan melihat Aize yang dari awal hingga akhir terus menunggunya di akademi.
Mempertimbangkan hal ini, meskipun ini adalah sebuah kebohongan, ia tidak akan pernah terbongkar dan tidak akan menimbulkan dampak apa pun, sehingga hal ini tidak masalah.
Tojo Kirin, yang tidak menyadari hal ini, menatap senyuman Aize sejenak, lalu memeluknya dengan erat.
"Aku tidak akan pernah melupakan apa yang Senior sudah lakukan untukku."
Meninggalkan kata-kata tersebut, Tojo Kirin pun berpamitan dari Aize dan menempuh perjalanan pulangnya.
Aize terus menatap punggung Tojo Kirin sampai sosoknya benar-benar menghilang, barulah dia berbisik pelan.
"Semoga perjalananmu menyenangkan."
............
Asterisk, Akademi Seidoukan.
Setelah berpisah dengan Tojo Kirin, Aize kembali seorang diri dan berjalan menuju arah asramanya.
"Senior Aize—!"
"Senior Aize! Lihat ke sini!"
"Tolong, tolong tanda tangani ini untukku! Kakak kelas Aize!"
"Aku penggemarmu!"
"Tolong jabat tanganku!"
Sepanjang jalan, baik di luar maupun di dalam akademi, Aize terus berpapasan dengan orang-orang yang datang untuk menyapanya. Orang-orang ini menatapnya dengan pandangan penuh pemujaan, seolah-olah sedang melihat idola mereka sendiri, sangat antusias sekali.
Faktanya, Aize memang benar-benar idola mereka.
Keluar sebagai juara di Festa Bintang Phoenix dan menjadi juara turnamen Phoenix tahun ini, membuat popularitas Aize meroket di seluruh dunia, mendulang banyak penggemar, dan memiliki tingkat kepopuleran yang sangat tinggi.
Mungkin dia belum bisa disetarakan dengan diva kelas dunia seperti [Penyihir Melodi], namun saat ini popularitasnya sudah berada di level bintang olahraga kelas dunia, mirip dengan para pemain sepak bola paling populer di dunia nyata saat ini.
Kini, situs web dukungan pribadi untuk Aize telah muncul di internet, dan para penggemar yang mendukungnya pun telah membentuk kelompok tetap, yang setiap hari memberikan dukungan di internet serta memantau perkembangan terbarunya. Bahkan, foto bertanda tangan Aize bisa dilelang dengan harga fantastis di internet, membuat tak terhitung banyaknya pebisnis yang merasa tertarik.
Dalam kurun waktu sejak berakhirnya Festa Bintang Phoenix, Aize telah menerima entah berapa banyak tawaran komersial; ada yang berharap dia menjadi juru bicara suatu produk, ada yang ingin dia membintangi iklan suatu perusahaan, bahkan ada yang memintanya merilis photobook, sungguh di luar nalar.
"......jika aku memiliki kepopuleran seperti ini di dunia nyata, aku pasti tidak perlu bekerja paruh waktu di toko buku lagi, kan?"
Aize sudah entah berapa kali merenung secara diam-diam seperti itu.
Sayangnya, dia sekarang bukan lagi seorang mahasiswa tingkat akhir biasa yang harus membungkuk demi kelangsungan hidup. Sebagai pustakawan Perpustakaan Fantasi, sebanyak apa pun uang yang dia hasilkan di dunia ini sama sekali tidak ada gunanya, apalagi Aize memang tidak kekurangan uang saat ini.
Berhasil meraih gelar juara Festa Bintang Phoenix membuat Aize tidak hanya mendapatkan hadiah uang dalam jumlah besar dari Akademi Seidoukan, tetapi pemerintah kota Asterisk juga memberikannya bonus yang cukup fantastis.
Jumlah uang ini bisa dibilang sebagai rezeki nomplok bagi seorang pelajar, dengan nominal yang cukup untuk membuat siapa pun dari keluarga biasa tercengang.
Oleh karena itu, Aize menolak semua tawaran komersial tersebut.
Ngomong-ngomong, Tojo Kirin juga menolak semua tawaran komersial, terutama mereka yang ingin mengajaknya memotret photobook—semuanya langsung dimasukkan ke dalam daftar hitam.
Sekarang Tojo Kirin telah pergi, hanya tinggal Aize seorang diri yang beraktivitas di akademi. Karena menjadi pusat perhatian, sepanjang jalan dia dikerumuni dan dielu-elukan oleh banyak sekali teman sekelas, hingga membutuhkan waktu tiga kali lebih lama dari biasanya untuk bisa sampai kembali ke asrama.