„Cih……”
Suara robekan tiba-tiba bergemersik di atas panggung duel yang tadinya bagitu sunyi.
Seiring dengan beberapa serpihan kain yang beterbangan ke udara, Quetu juga terpelanting mundur seperti terkena hantaman telak, mundur dengan linglung dalam jarak yang cukup jauh, dan baru berhasil menguasai keseimbangannya sesaat sebelum hampir terjatuh ke tanah.
Kendati demikian, ekspresi Quetu saat mendarat di tanah terlihat sangat buruk.
Pakaian di sisi tubuhnya teriris, nyaris mengenai lencana akademi yang tersemat di sana.
„Tiba-tiba menghindar?”
Di hadapan Quetu, Ai Ze yang memegang Pedang Iblis Tanur Hitam, mempertahankan postur tebasan ke atas, sedikit mengangkat alisnya.
„Kau memang layak berada di peringkat 13. Ingin mengalahkan seorang senior ternyata memang tidak semudah itu.”
Ucapan Ai Ze tersebut sama sekali tidak membuat Quetu merasa dipuji, sebaliknya justru membuatnya merasa dihina.
Melirik sekilas ke arah senjata berbentuk tombak di tangannya yang telah terbelah dua dengan mudah, di mana bagian patahannya masih berpendar dengan cahaya merah bagaikan besi cair, Quetu menarik napas dalam-dalam.
„Seharusnya aku yang berkata demikian. Kau benar-benar layak menyandang nama Pedang Iblis Tanur Hitam yang legendaris itu, begitu mudahnya menghancurkan tombakku.”
Tanpa rasa sayang sedikit pun, Quetu membuang senjata berbentuk tombak yang harganya tidak murah itu, sementara tatapannya pada Ai Ze berubah menjadi sangat dingin.
„Aku juga terlalu meremehkan situasi, berpikir kalau aku bisa mengalahkanmu menggunakan senjata dan cara yang tidak begitu kuuasai.”
„Seharusnya aku sadar sejak awal. Seseorang yang bisa mendapatkan pengakuan dari Senjata Luxuria murni sekelas Pedang Iblis Empat Warna, sudah pasti bukanlah orang sembarangan.”
„Aku sama sekali tidak menyangka ada orang sekuat dirimu yang bersembunyi di akademi ini.”
Seorang murid yang bahkan tidak masuk dalam peringkat, mampu memiliki kemampuan fisik yang bisa disandingkan dengan para petarung di papan tengah peringkat, dan ditambah lagi dengan teknik pedang luar biasa yang begitu memukau?
Penyembunyian kekuatannya benar-benar sangat rapat!
„Tapi, aku tidak akan memberimu kesempatan lagi.”
Quetu mengeluarkan senjata Luxuria yang benar-benar menjadiandalannya, lalu mengaktifkannya.
Itu adalah senjata Luxuria berbentuk pedang katana. Bilahnya sangat ramping, bahkan lebih tipis daripada bilah senjata Luxuria pada umumnya, sangat jelas bahwa senjata itu telah disesuaikan dan di-tuning secara khusus.
Inilah senjata yang membuat Quetu meraih ketenarannya.
Meskipun, jika menggunakan senjata ini untuk menangkis Pedang Iblis Tanur Hitam yang legendaris itu, kemungkinan besar bilahnya juga akan patah.
Namun, selama ia tidak menangkis dan hanya berfokus pada teknik menghindar, maka ia tidak perlu khawatir bilahnya akan terpotong.
Pertarungan jarak dekat juga merupakan bidang keahlian utamanya. Bahkan jika teknik pedang lawannya begitu memukau, stamina dan kekuatan astral lawan tetap tidak bisa menandingi miliknya—itu adalah keunggulan mutlak yang dimilikinya.
„Selama aku berfokus menghindar, sama sekali tidak mungkin bagimu untuk bisa mengejarku lagi.”
Quetu melontarkan kata-kata tersebut.
Menanggapi hal itu……
„Karena Senior berkata begitu, jika aku tidak bertindak serius, rasanya justru akan sangat tidak sopan.”
Melihat Quetu mengeluarkan senjata andalannya dan aura seluruh tubuhnya berubah dari sebelumnya, Ai Ze sama sekali tidak terlihat terkejut, dan justru menyunggingkan senyuman di sudut bibirnya.
„Apa maksudmu?”
Wajah Quetu menggelap.
„Maksudku adalah, pertunjukan utamanya baru akan dimulai sekarang.”
Ai Ze mengangkat Pedang Iblis Tanur Hitam miliknya.
„Zheng……”
Debu bintang beterbangan di sekeliling tubuh Ai Ze, menyelimuti seluruh tubuhnya dalam cahaya bintang yang indah.
Ai Ze mengerahkan seluruh kekuatan astralnya, menuangkan semuanya ke dalam Pedang Iblis Tanur Hitam, hingga bilah pedang tersebut memunculkan pola garis-garis berwarna hitam.
Pola hitam itu berfluktuasi di sekitar bilah pedang, berputar-putar sembari mengalir ke arah Orichalcum merah, dan meresap ke dalamnya.
Seketika itu juga, bilah pedang putih bersih dari Pedang Iblis Tanur Hitam mulai memancarkan hawa panas yang jauh lebih mencengangkan, membuat warna bilah pedang tersebut semakin menggelap hingga berubah menjadi hitam keunguan.
„Hū-”
Di saat yang bersamaan, hawa panas yang mengerikan itu menjelma menjadi angin panas yang dahsyat, bergolak di sekeliling tubuh Ai Ze.
Angin panas itu kemudian membentuk gelombang panas, membuat udara di sekitar Ai Ze bergetar dan terdistorsi tanpa henti, bagaikan fatamorgana di bawah terik matahari.
Dan di pusat gelombang panas tersebut, seluruh tubuh Ai Ze juga memancarkan kekuatan astral yang menyilaukan.
Pemandangan itu sungguh tampak seperti ada sebuah bintang yang sedang berkelap-kelip di tengah gelombang panas.
Pemandangan yang begitu mencengangkan tersebut membuat hati Quetu bergetar tanpa alasan, tanpa sadar membuatnya melangkah mundur.
Namun—
„Bang!”
Bintang yang berkelap-kelip di tengah gelombang panas itu tiba-tiba meledak, menciptakan suara dentuman keras.
Bintang yang meledak itu menyerupai seberkas cahaya, membawa serta angin panas yang menakutkan, melesat maju dengan kecepatan yang mengerikan.
Dalam sekejap, ia sudah tiba di hadapan Quetu.
„Apa……?!”
Quetu akhirnya menunjukkan ekspresi kaget yang luar biasa.
Sesosok bayangan yang bergetar hebat di seluruh tubuhnya dan tampak begitu ilusi bagaikan fatamorgana tiba-tiba muncul tepat di depan matanya, terpantul jelas di dalam retinanya.
„Bung!”
Pedang Iblis Tanur Hitam yang memancarkan hawa panas tiba-tiba berkilat, menggoreskan cahaya hitam keunguan.
Kecepatan itu membuat Quetu tidak mampu melakukan reaksi efektif apa pun, dan hanya bisa menyaksikan dengan putus asa saat pedang itu merobek dada bagian kanannya.
„Prak!”
Seketika itu pula, waktu seolah berhenti.
Quetu berhenti bergerak, berdiri mematung di sana, menatap kosong ke hadapannya tanpa mampu memberikan reaksi apa pun.
Di hadapannya, serpihan bintang beterbangan di seluruh tubuh Ai Ze yang masih diselimuti gelombang panas. Sosoknya berdiri tegak bagaikan fatamorgana yang bergetar, sementara Pedang Iblis Tanur Hitam di tangannya berada dalam posisi usai menebas.
„Bung!”
Bilah pedang itu mengeluarkan dengungan samar secara beruntun, membuat Ai Ze menarik kembali Pedang Iblis Tanur Hitamnya dan berkata kepada Quetu yang masih terpaku menatapnya.
„Aku menang.”
Begitu ucapannya selesai, dari bagian atas panggung, suara sintesis yang diproses oleh fungsi informasi lencana akademi berkumandang keluar.
„Duel selesai.”
„Pemenang, Ai Ze.”
Saat pengumuman kemenangan itu dikumandangkan, lencana akademi di dada Quetu terbelah dengan rapi, lalu jatuh ke atas tanah.
„--”
Keheningan.
Keheningan yang bagaikan kematian.
Semua orang menatap pemandangan tersebut dengan ekspresi tercengang, dan untuk sejenak, tidak ada seorang pun yang mampu mengeluarkan suara.
„Byur!”
Beberapa detik kemudian, seluruh kursi penonton seolah meledak, memicu suara hiruk-pikuk yang menggelegar.
„Apa kalian melihat yang barusan……?!”
„Cepat, cepat sekali!”
„Bagaimana dia bisa tiba-tiba menjadi begitu cepat?”
„Baik kecepatan maupun tebasannya, keduanya menjadi lebih cepat beberapa tingkat dibanding sebelumnya!”