Saat air di teko listrik mulai mendidih, suara tapak sandal yang diseret mendekat terdengar bersahutan. Di sela-sela langkah itu, terdengar pula suara kecil, mengikuti irama langkah kaki.
"Aku bisa menginjakmu, tahu?"
Seo Yeoun, yang baru saja masuk ke dapur, menunduk dan tersenyum. Seolah menjawab kata-katanya, seekor kucing berbadan gempal mengeong dan menggesekkan kepalanya ke kaki Yeoun.
Seo Yeoun melirik air yang sedang mendidih dan, menyadari tidak ada pilihan lain, berjongkok untuk mengusap kepala kucing berbulu jingga itu. Niatnya hanya mengelus sebentar lalu berdiri, tapi kucing itu terus mendesakkan kepalanya ke tangan kecil Yeoun, membuat waktunya jadi lebih lama dari yang ia duga.
"Sebentar, tunggu sebentar ya. Seonsaeng-nim sedang menunggu."
Meong, meong. Sambil meninggalkan kucing yang mengeong lembut padanya, Yeoun mematikan teko listrik. Ia memilih satu dari beberapa jenis teh yang tertata di rak, menuangkan air panas ke dalam tumbler untuk menyeduhnya, dan mulai bergerak lagi. Di belakangnya, kucing yang gempal—bahkan sedikit terlalu gempal—itu mengikuti dengan perut yang bergoyang-goyang.
Rumah bergaya nyaman itu langsung terhubung ke ruang tamu hanya setelah beberapa langkah, dan di dekat jendela situlah seonsaeng-nim milik Yeoun, Ji Garyeong, duduk di atas kursi roda.
"Seonsaeng-nim, ini panas, jadi hati-hati ya? Pastikan ditiup beberapa kali, ya?"
Menyerahkan tumbler itu ke tangan gurunya, Yeoun mengulang-ngulang peringatan itu. Gurunya, yang telah kehilangan penglihatan dan tidak bisa melihat, lebih menyukai tehnya yang masih mengepul panas, jadi Yeoun selalu mengawasinya dengan jantung berdegup kencang. Ia bahkan tidak akan membiarkannya mendingin sedikit pun.
Seo Yeoun mendudukkan diri di kursi rendah di sebelah Ji Garyeong yang berada di kursi roda, mencondongkan tubuh bagian atasnya mendekati sang guru sejauh yang ia bisa, sambil mengerjap-ngerjapkan matanya yang besar. Kucing bernama Dongdong itu terbaring setengah meregang di atas kaki Yeoun.
"Kamu bersekongkol dengan Dongdong untuk memperlakukanku seperti bayi."
Jelas-jelas ia tidak bisa melihat, namun luar biasanya Ji Garyeong berbicara seolah-olah ia bisa melihat semuanya. Suaranya yang kecil dan serak dipenuhi dengan tawa.
Ji Garyeong, guide kelas S pertama yang muncul setelah gerbang-gerbang kemunculan monster terbuka.
Menginjak usia empat puluh sembilan tahun ini, Ji Garyeong berpenampilan seperti wanita tua berusia di atas seratus tahun. Penglihatannya telah hilang di akhir usia tigapuluhan, dan tubuh mudanya yang dulu kini telah menyusut begitu cepat hingga ukurannya nyaris hanya dua pertiga dari ukuran tubuh Seo Yeoun. Belum lagi, ia sudah tidak bisa bergerak ke mana-mana selama lima tahun terakhir.
Tubuh Ji Garyeong sedang sekarat.
Bahwa orang-orang bahkan menyebut keadaan ini sebagai sebuah keajaiban, membuat Yeoun merasa sulit mempercayainya.
"Apa tehnya tidak terlalu panas, Seonsaeng-nim? Anda baik-baik saja?"
Yeoun merapikan selimut yang menutupi kaki gurunya dengan pas, lalu dengan mantap menangkap Dongdong yang melompat ke pangkuannya dan perlahan mengelus punggung kucing itu. Dongdong, yang telah mendengkur sejak ia naik tadi, meregangkan tubuhnya dengan nyaman di paha Yeoun dan memejamkan mata.
"Aku baik-baik saja. Yeoun-ku ini sudah berubah menjadi boneka kekhawatiran yang mengurusiku."
Mata Ji Garyeong yang tidak fokus menatap tepat ke arah wajah Yeoun. Mengenakan topi rajut, Ji Garyeong tampak begitu kecil dan imut, pikir Yeoun, seperti karakter nenek peri dalam film animasi.
"Kapan jadwalmu pergi untuk menjalani tes lagi?"
"Hari ini."
"Hari ini? Jadi hari ini? Kepalaku rasanya..."
"Nanti siang. Aku hanya perlu berangkat santai setelah makan siang. Anda bilang tesnya bukan masalah besar, kan, Seonsaeng-nim?"
Yeoun, yang berusia dua puluh tiga tahun dan sempat mempelajari balet, telah bangkit sebagai seorang guide sebulan yang lalu. Kejadian itu berlangsung tiga tahun setelah ia datang untuk tinggal bersama Ji Garyeong.
Yeoun sendiri merasa linglung dengan kebangkitannya yang tidak biasa ini, dan Ji Garyeong terus menjaga kata-katanya agar tetap sedikit. Yeoun menyadari kenyataan bahwa gurunya itu tidak merasa senang dengan kebangkitannya sebagai seorang guide.
"Benar, itu bukan masalah besar. Dulu ada tes fisik ringan dan tes gelombang—entah apakah sekarang masih seperti itu."
"Begitulah kata mereka."
Ujar Yeoun sambil tersenyum tipis. Kedua tangan Ji Garyeong yang berkerut dan memainkan tumbler tampak begitu kecil hari ini. Yeoun tahu bahwa Ji Garyeong menantikan kematian setiap harinya.
Ibulah—yang merupakan teman Ji Garyeong—yang mengirim Yeoun kepada Ji Garyeong, yang hidup tanpa membiarkan siapa pun mendekat, bahkan seorang pengurus rumah tangga sekalipun. Ibu Yeoun, yang tinggal tidak jauh dan selalu menjenguk Ji Garyeong setiap hari, menitipkan Yeoun kepada sahabatnya itu ketika ia harus pergi bertugas ke luar negeri.
"Sepertinya Yeoun-ku sangat bersemangat?"
"Ah, apa itu terlihat, Seonsaeng-nim?"
Tanpa alasan yang jelas, Yeoun menepuk kedua pipinya sendiri dengan telapak tangannya. Ia pernah mendengar cerita dari mulut ke mulut tentang teman dari temannya yang mengalami kebangkitan, tetapi tidak ada seorang pun di lingkaran terdekatnya yang pernah bangkit sebagai esper. Jadi, mendengar bahwa dirinya sendiri adalah seorang guide—sejujurnya, Yeoun masih merasa seperti bermimpi.
Setelah kemampuannya bermanifestasi, ada aliran energi yang sangat besar mengalir melalui tubuhnya. Ketika ia mengatakan bahwa rasanya menyesakkan, Ji Garyeong memberitahunya bahwa energi itu seharusnya disalurkan kepada seorang esper. Kata-kata bahwa pelatihan akan memberinya kemampuan untuk menangani energi tersebut membuatnya gugup, tetapi diam-diam juga membuatnya berdebar.
Terlebih lagi, seorang guide adalah sosok yang sangat dibutuhkan oleh para esper.
Sejujurnya, Seo Yeoun merasa limbung, seolah-olah ia telah menjadi seseorang yang hebat yang benar-benar bisa berguna bagi negaranya.
"...Apa kamu senang menjadi seorang guide?"
Tanya Ji Garyeong dengan tenang, matanya terpaku pada arah wajah Yeoun. Sebuah senyuman menghiasi sudut bibirnya, tetapi matanya yang kosong tampak menegang.
Yeoun, yang tidak mengetahui detail kisah hidup Ji Garyeong, tahu bahwa gurunya tidak dapat melihatnya, namun ia tetap berusaha merapikan ekspresinya.
"Begini, Seonsaeng-nim. Para esper yang tadinya hanya bisa kulihat di artikel-artikel terasa seperti orang dari dunia lain, kan? Dan sekarang mereka bilang aku bagian dari itu. Rasanya... luar biasa sekali. Memikirkan bahwa aku juga bisa berguna bagi negara membuatku merasa, apa ya namanya, bangga? Sulit diungkapkan dengan kata-kata."
Yeoun mengatakannya secara jujur tanpa menyembunyikan apapun.
Para esper adalah pahlawan negara. Publik memuja mereka dan memberikan segala dukungan yang mereka bisa.
Para esper bahkan lebih populer daripada selebriti, dan beberapa dari mereka memiliki kepulern yang sangat luar biasa hingga menembus langit—dan orang yang memegang kepopuleran tertinggi di antara mereka adalah esper bernama Woo Taehee.
Kira-kira aku akan bisa melihat esper Woo Taehee atau tidak ya. Tepat saat pikiran Seo Yeoun melayang-layang, suara Ji Garyeong kembali terdengar.
"Mm... begitu ya. Dulu, aku... sepertinya juga begitu. Aku pasti begitu."
Pandangan Ji Garyeong melayang dari wajah Yeoun, bergerak ke sana kemari seolah sedang merunut kembali kenangan masa lalu.
Karena Ji Garyeong sangat jarang mengungkit masa lalunya sendiri, Yeoun menyambut percakapan sekecil ini pun dengan antusias. "Anda juga, Seonsaeng-nim?" katanya gembira. Untuk sedetik, secercah cahaya berbinar di mata Ji Garyeong yang keruh dan meredup, lalu lenyap begitu saja secepat kilat.
"Aku juga penasaran esper mana yang akan menjadi pasanganku nanti."
Seo Yeoun mengusap ujung jarinya dengan lembut di kepala Dongdong, yang membuka matanya sambil terus mendengkur.
Dongdong, kenapa kamu sangat suka dielus begini sih? Seiring suara dengkuran yang semakin keras, sudut bibir Yeoun terangkat naik.
"...Yeoun-ku akan menjalani masa-masa yang berat."
Ucapannya terlalu pelan hingga tidak tertangkap oleh telinga Yeoun, membuat gadis itu terlambat mengerjap-ngerjapkan matanya yang besar dengan bingung, tetapi Ji Garyeong sudah telanjur membuang muka menatap ke luar jendela.
Ketika Seo Yeoun tiba—perjalanan tiga puluh menit yang molor menjadi satu jam sepuluh menit—waktu menunjukkan lima belas menit tersisa sebelum jadwal tesnya dimulai. Seo Yeoun, yang sangat payah dalam hal arah, selalu menyisakan banyak waktu luang setiap kali memiliki janji. Teman-temannya sering tertawa takjub melihat ia bisa tersesat padahal stasiun kereta bawah tanah berada tepat di depan hidungnya. Yeoun melihat gedung-gedung berdesain sama yang saling berhadapan itu, lalu mulai berjalan lagi.
Ia telah menemukan gedungnya, jadi tidak perlu khawatir tersesat, namun ia pikir akan lebih tenang jika bisa duduk sekitar sepuluh menit lebih awal.
Pandangan orang-orang yang berlalu-lalang tertuju pada Seo Yeoun, tetapi ia tidak punya waktu untuk memedulikan hal semacam itu.
Rambut seputih salju yang diikat tinggi di puncak kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan, shhh shhh, mengikuti setiap gerakannya.
Ada dua perubahan fisik yang terjadi pada Yeoun setelah kebangkitannya sebagai guide, dan salah satunya adalah rambut hitamnya yang berubah menjadi putih.
Saat ia melewati gerbang depan dan melangkah masuk ke lobi gedung, tatapan yang terang-terangan menunjukkan rasa penasaran langsung menghujannya.
Tanpa sempat memeriksa orang-orang berseragam seragam itu, Seo Yeoun mencari lift. Untuk sekarang, ia harus pergi ke ruang kepala Pusat Guide di lantai delapan belas.
Orang mungkin mengira tatapan-tatapan itu akan membuat wajahnya terasa tertusuk, namun Seo Yeoun masuk ke dalam lift dengan santai. Tepat saat ia merasa lega karena pintu lift perlahan menutup, sebuah suara gedebuk berat terdengar dan pintu lift terbuka kembali.
Aroma parfum memikat yang mengingatkan pada hutan lebat bercampur dengan sedikit bau darah. Tepat pada saat itulah Seo Yeoun mengangkat wajahnya yang tadinya menunduk.
Seketika melihat wajah pria yang melangkah masuk ke dalam lift, Seo Yeoun langsung membekap mulutnya dengan tangan tanpa berpikir.
...Woo Taehee?
Orang pertama yang kutemui begitu aku tiba di pusat ini adalah Woo Taehee?
"Kamu seorang esper?"
"..."
Yeoun, yang tangannya masih menutupi mulut, menggelengkan kepalanya dengan kuat ke kiri dan ke kanan. Merupakan sebuah keajaiban bahwa ia bahkan bisa memahami ucapan pria itu di tengah keterkejutannya. Woo Taehee, dia bicara padaku—!
"Haah, kurasa begitu. Belum pernah melihat atau mendengar esper yang bentuknya mirip bokong anak rusa."
Bokong yang seperti apa?
Kalimat selanjutnya nyaris berupa gumaman, namun entah mengapa telinga Seo Yeoun menangkapnya dan merekamnya dengan baik.
"Kuberi kamu tiga detik. Enyah sana."