Pasangan Gila
oleh nami
Sepuluh tahun. Kebangkitan termuda yang tercatat di seluruh dunia.
Karena kekuatan yang terkandung di dalam dirinya yang tidak sebanding dengan usianya yang masih sangat muda, Woo Taehee harus dirawat di rumah sakit tak lama setelah ia membangkitkan kemampuannya.
Kekuatan yang membuat tubuh mungilnya terlihat begitu rapuh itu memicu kejang-kejang pada Taehee setiap jam, dan ketika tidak ada pemandu (guide) yang cocok yang dapat ditemukan betapapun putus asusnya mereka mencari, pihak keluarga mengambil sebuah keputusan.
Menyembunyikan fakta bahwa Woo Taehee telah bangkit sebagai seorang esper.
Apa yang seharusnya menjadi urusan sederhana bagi Woolim menjadi sangat rumit mengingat kondisi Taehee. Kekuatan luar biasa yang memicu kejang-kejangnya harus dilepaskan di suatu tempat, atau tubuh mudanya tidak akan sanggup menahannya—dan memasuki gate, satu-satunya tempat di mana ia dapat mengeluarkan kekuatan itu secara legal, adalah satu-satunya pilihan.
Memasuki gate, membakar energi tersebut, dan menderita tanpa adanya guiding setelahnya. Lingkaran setan itu terus berlanjut sejak saat itu, selama bertahun-tahun.
Tidak ada hal lain yang lebih diinginkan Taehee selain agar gate-gate itu lenyap sepenuhnya.
Gate telah menciptakan para pemilik kemampuan khusus; jika gate menghilang, bukankah kemampuan itu akan lenyap juga? Spekulasi samar itulah satu-satunya hal yang membuatnya terus bertahan.
Dan kemudian, bagaikan sebuah keajaiban, seorang guide muncul.
Sebuah peristiwa yang kemungkinannya sekecil lenyapnya gate telah mengguncang fondasi kehidupan Woo Taehee.
Guide yang datang kepadanya luar biasa, sama seperti kemunculannya yang begitu tiba-tiba—tetapi wanita itu dengan sengaja mengusik ketenangan seorang pria yang telah bertahun-tahun hidup dengan menolak untuk digoyahkan oleh emosi. Fluktuasi emosi bukanlah sesuatu yang diinginkan oleh Taehee. Bukankah ia telah melihat hal itu lebih dari cukup sejak kebangkitannya?
Dinamika emosional yang rumit antara para esper dan guide. Takdir dari para pengguna kemampuan yang saling berpasangan.
Meskipun ia akhirnya memiliki seorang guide, Taehee sama sekali tidak berniat untuk mengikuti jalan hidup seperti itu.
Memberinya kompensasi berupa uang atas sentuhan fisik guiding yang tak terhindarkan adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan.
"Oh, suhu tubuhnya sudah jauh membaik."
Woo Sangwoo, yang datang berkunjung untuk ketiga kalinya, mengembuskan napas lega. Taehee, yang tengah mentransfer sejumlah uang yang jumlahnya melebihi gaji tahunan kebanyakan guide, melirik sekilas dengan tatapan seolah berkata peduli apa kau.
"Tanda yang bagus. Dengan laju ini, dia akan segera sadar."
Sangwoo menyeringai sambil merapikan tasnya.
Kondisi Yeoun yang membaik dan bukannya memburuk adalah kabar baik baginya juga—itu berarti kunjungannya ke rumah Taehee tidak akan lagi menjadi sebuah siksaan. Selama beberapa hari terakhir, ia telah menyiksa dirinya sendiri dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial mulai dari mengapa aku menjadi seorang dokter hingga mengapa aku dilahirkan sebagai sepupu Woo Taehee—sebuah perenungan diri yang seharusnya tidak perlu ia lakukan—dan rasanya hampir disayangkan telah menyia-nyiakan kepedihan itu.
"Bibi terus bertanya. Bawa dia ke sini untuk diperkenalkan suatu saat nanti."
Seseorang yang menjabat sebagai ketua Woolim menggantikan Taehee adalah bibi mereka, Woo Haeyeon. Ia ingin gate itu lenyap setidaknya sama putus asunya dengan Taehee, jika itu berarti Taehee akan mengambil alih jabatan ketua darinya.
"Siapa yang memperkenalkan seorang guide ke keluarga? Apa kau sudah gila?"
Taehee memotong ucapannya dengan dingin, lalu merapikan selimut yang tadi kusut akibat pemeriksaan Sangwoo. Ujung jarinya menyapu bekas gigitan, yang kini telah berubah menjadi keunguan, di sepanjang leher Yeoun.
Sangwoo memperhatikan gerakan itu dalam diam dan menelan desahan napas. Hah.
Ucapan dan tindakannya berjalan di jalur yang berbeda—dan pria itu sendiri tampaknya tidak menyadarinya. Perhatian yang lembut dan teliti itu sangat jelas terlihat oleh siapa pun yang melihatnya.
Berbeda dengan hari pertama, Sangwoo sekarang melihat rambut putih Yeoun yang tertata rapi, wajahnya yang pucat namun bersih.
Kondisi rambutnya saja sudah menceritakan segalanya kepada Sangwoo.
"Sudah selesai memeriksanya, atau butuh kubetulkan bola matamu itu?"
Sangwoo menyadari bahwa ia telah menatap Yeoun cukup lama dan dengan cepat mengangkat kepalanya. Iris mata yang luar biasa gelap itu diarahkan kepadanya bagaikan bilah pisau.
Ketika seorang pria bertubuh tegap seperti kusen pintu melayangkan tatapan itu kepadamu, bahkan dengan kesadaran bahwa kalian adalah keluarga tetap tidak bisa menghentikan rasa dingin yang menjalar di punggung.
"Jangan menatapku seperti itu. Kau bahkan muncul di dalam mimpiku."
Sangwoo mengeluh sambil berjalan keluar kamar tidur, dan Taehee mengikuti dari belakang, membiarkan pintu itu terbuka setengah.
Akan jadi seperti apa jika sepupu sebayanya itu tumbuh dengan normal? Sangwoo terkadang memikirkan hal itu.
Karena sebelum kebangkitan Taehee—sebelum usianya sepuluh tahun—mereka sering saling mengunjungi, cukup dekat hingga bisa disebut sebagai teman.
Mungkin kepribadiannya tidak akan menjadi separah ini.
"Kapan kau akan kembali bekerja?"
Setelah insiden gate, para pengguna kemampuan telah diberikan cuti. Kebijakan itu diambil akibat cedera parah yang diderita oleh begitu banyak esper. Korban dari gate kali ini sangatlah besar. Mengingat tingginya jumlah korban tewas, para ketua tim dilaporkan tetap masuk kerja terlepas dari cuti yang diberikan, tetapi—
"Aku harus segera pergi."
"Kutahu timmu tidak memiliki korban jiwa—apakah itu benar?"
Sangwoo berhenti di dekat pintu, setengah berbalik untuk mendongak menatap Taehee. Tubuhnya sendiri sebenarnya tinggi, tetapi harus mendongak menatap pria lain selalu berhasil membuatnya kesal.
Taehee memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan miliknya dan mengangkat bahu.
Setiap esper yang terluka di timnya telah pulih, dan ia telah menerima laporan bahwa beberapa di antaranya telah kembali ke pusat pelatihan mulai hari ini.
"Banyak guide yang kehilangan esper mereka telah dirawat di rumah sakit. Tidak ada masalah fisik, tetapi syok psikologis mereka tampaknya cukup parah."
Bahkan mereka yang terikat hanya karena kontrak pun turut terpengaruh. Para guide melaporkan mengalami insomnia, menghabiskan sepanjang hari dengan menangis, dan dihantui oleh rasa bersalah yang tidak rasional karena gagal melindungi esper mereka. Sangwoo mengingatkan Taehee untuk mencabut jarum infus dengan benar setelah cairan infusnya habis—sebuah instruksi yang sebenarnya tidak perlu—lalu pergi.
Setelah Sangwoo pergi, Taehee duduk di kursi yang telah ia letakkan di samping tempat tidur Yeoun, sama seperti yang ia lakukan selama tiga hari.
Suhu tubuhnya memang telah naik, kata Sangwoo, tetapi di mata Taehee wanita itu tetap tampak seperti mayat.
Ia mengawasinya cukup lama, lalu menyelipkan tangannya di bawah selimut dan menggenggam pergelangan tangan wanita itu. Tangannya yang hangat membungkus tulang yang rapuh itu. Ia menutup matanya dan memperluas inderanya—energi wanita itu, selemah bisikan. Pada awalnya, bahkan energi sedemikian rupa pun tidak dapat terdeteksi, jadi Sangwoo benar: kondisinya sedang membaik.
Tangannya melepaskan pergelangan tangan Yeoun dengan cepat.
Untuk menghindari secara tidak sadar menyerap energinya, Taehee dengan sengaja berhati-hati setiap kali ia menyentuhnya.
Ia menyelipkan selimut dengan pas di tubuhnya, mengamati wajahnya cukup lama, lalu bangkit saat jam tangannya berdering. Ia mengenakan seragamnya dan hendak melangkah keluar dari walk-in closet ketika, di belakangnya, kelopak mata Seo Yeoun berkedut.
Ruangan direktur dipenuhi oleh kepulan asap rokok. Bukan hanya sang direktur yang tampak menua satu dekade dalam hitungan hari—kedua kepala pusat juga menunjukkan hal yang sama. Kulit mereka tampak nyaris seperti pasien rumah sakit; mereka menggosok mata yang kering karena kurang tidur. Sang direktur mematikan puntung rokok di asbak yang sudah penuh, berdiri secara tiba-tiba, dan membuka lebar semua jendela.
“Aku nyaris meledak. Sialan.”
Ia kembali menjatuhkan diri ke kursi dengan cemberut. Situasi yang sedang terjadi di pemerintahan sungguh tidak menyenangkan.
Insiden gate ini sangat genting dan parah, namun respons pemerintah terkesan setengah-setengah.
“Sial—orang-orang di luar sana berdarah-darah di medan laga, dan para pejabat di kursi mereka terlalu sibuk membuat intrik hingga tidak peduli.”
Sang direktur meraih sebatang rokok lagi, mendapati bungkusnya sudah kosong, lalu meremasnya dengan geram.
"Suasana hati para esper juga sedang tidak baik, Direktur."
Mendengar perkataan Jeong Seokju, mata direktur pusat guide itu membelalak—kalian juga? Dan kemudian ketukan tegas terdengar, dan Taehee melangkah masuk. Ketiga orang itu melupakan situasi yang sedang mereka hadapi untuk sejenak, terdiam secara bersamaan untuk menatapnya dalam balutan seragam.
Mereka telah mengawasi Woo Taehee sejak hari ia membangkitkan kemampuannya.
Bahkan tanpa guiding sekalipun, wajahnya sudah sangat tampan—tetapi kini wajah itu memancarkan kilau bagaikan permata yang diasah dengan sempurna.
Jadi seperti itulah rupa wajah aslinya. Kesadaran itu membuat ketiga orang tersebut mengangguk tanpa sadar sebelum Taehee duduk di hadapan para direktur pusat, mengangkat sebelah alisnya, dan membuat mereka tersentak kaget seolah baru saja dibangunkan.
"Bukankah kalian seharusnya segera menguasai diri?"
Tanpa menunjukkan kelelahan sedikit pun seperti tiga orang di hadapannya itu, Taehee dengan sengaja mengibaskan asap rokok dengan telapak tangannya. Sang direktur membuka mulutnya untuk berbicara—
Brak.
Pintu terbuka dengan kasar. Seorang sekretaris, dengan wajah pucat pasi, menyambar remote dan menyalakan layar monitor.
"Direktur! Anda harus melihat ini!"
Di atas layar yang menutupi separuh dinding itu, juru bicara kepresidenan tengah menyampaikan sebuah pernyataan.
—...mulai sekarang, dalam setiap kejadian gate, rencana operasi gabungan dan pengerahan bersama militer telah disetujui.