Beyond the Timescape - Chapter 982 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 982 · 8m baca

A Slight Time Advantage

by Er Gen

Suara-suara alam berderu samar di dasar laut.

Aura kematian semakin mendekat. Di depan. Di belakang. Semuanya terasa sama.

Namun, di dalam wujud Gagak Emasnya, tatapan mata Xu Qing memancarkan tekad membaja. Mencengkeram tangan buntung itu erat-erat, ia melesat maju mengikuti Irama suara alam. Saat ia bergerak, matanya berkilau, dan api gagak emas berkobar di sekelilingnya. Ia tampak seperti sekuntum bunga yang terbuat dari jilatan api saat menyusur dasar laut. Alhasil, dasar laut pun berpendar oleh cahaya yang menyilaukan dan memikat mata.

Saat ia melesat semakin dekat ke kereta naga itu, hatinya terasa kosong. Ia membiarkan pikirannya tetap terfokus ke luar. Seluruh perhatiannya terpusat pada wujud Gagak Emasnya serta alunan musik dari tangan buntung tersebut. Ia nyaris menyerupai wujud gagak emas yang sesungguhnya seiring langkahnya yang kian mendekati kereta naga perunggu itu.

Endapan lumpur di dasar laut terdorong ke samping sementara air laut berwarna hitam bergolak hebat. Xu Qing, yang dikelilingi oleh kobaran api, tampak paling mencolok ketika tatapan Fiend Penguasa Mengapung (Floating Fiend) tertuju padanya.

Begitu tatapan itu mendarat di tubuhnya, Xu Qing dalam wujud Gagak Emas bergidik ngeri. Ia kembali dapat merasakan kedahsyatan dari tatapan seorang Sovereign Kekaisaran. Atau mungkin, lebih tepatnya, ia merasakan beratnya otoritas yang terpancar dari kedua mata itu.

Kekuatan pelenyapan tersebut memunculkan retakan-retakan baru. Tatapan itu membuat api hitam di tubuhnya mulai meredup. Tubuhnya bergetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki seiring meluasnya retakan-retakan tersebut. Darah menyembur keluar dari mulutnya.

Tepat pada detik yang sama, Xu Qing dalam wujud Gagak Emas melihat sesuatu yang sangat mengerikan di dalam air pada jarak tertentu. Itu adalah sesosok raksasa yang megah. Ukurannya sangat masif dan dipenuhi oleh tak terhitung banyaknya tentakel yang bergoyang serta menggeliat. Disampirkan di salah satu bahunya adalah rantai masif yang membentang ke belakang.

Di ujung rantai tersebut terdapat sebuah kereta naga perunggu. Kereta itu tampak sangat bobrok, dipenuhi karat dan tanda-tanda usia yang amat tua. Kendati demikian, bodi kereta tersebut dihiasi ukiran-ukiran indah yang masih memancarkan aura kekaisaran.

Sang raksasa menyeret kereta perunggu di belakangnya saat ia melangkah melintasi dasar laut. Setiap langkahnya menimbulkan gelombang endapan lumpur yang membubung dan mengirimkan riak ombak hingga ke permukaan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara hantaman gigi-gigi mengerikan yang saling bergemeretak.

Begitu Xu Qing mendengarnya, rasa takut yang membekas bangkit di dalam dirinya. Meskipun ia memiliki tingkat kultivasi yang jauh berbeda dibandingkan saat terakhir kali ia berhadapan dengan kereta dan raksasa itu, tekanan yang ia rasakan tetap saja membuat tubuhnya bergetar secara naluriah. Kendati demikian, ia tidak memperlambat lajunya. Sebaliknya, ia justru melaju semakin kencang. Sedetik kemudian, ia menembus arus, melewati endapan lumpur, dan muncul tepat di hadapan raksasa masif serta kereta tersebut.

Sebagai perbandingan, wujud Gagak Emas Xu Qing tampak sangat kecil. Akan tetapi, aura gagak emas ditambah dengan musik dari tangan buntung itu... menciptakan sebuah karma khusus yang tidak dapat dipangkas oleh gunting tersebut. Tiba-tiba, sang raksasa berhenti di tempat dan mendongak, membiarkan Xu Qing yang berwujud gagak emas melintas melewati kepalanya. Hal itu membuat sosok masif sang raksasa bertindak sebagai penghalang bagi Fiend Penguasa Mengapung.

Xu Qing telah bertaruh dengan tepat. Namun... tepat saat Xu Qing mendekati raksasa dan kereta itu, Fiend Penguasa Mengapung mengalihkan pandangannya darinya.

"Tubuhmu yang berkilau menyilaukan memudahkan mataku untuk menguncimu," ucap Fiend Penguasa Mengapung dengan dingin. "Kau berniat menggunakan raksasa dan kereta ini untuk menghalangi jalanku. Jika tatapan niat membunuhku menyentuh raksasa ini, bukankah ia akan memenuhi kondisi tertentu dan memicu komplikasi yang tak terduga?

"Putramu memiliki jarum pusaran milik Grand Emperor, dan sekarang kau yang memilikinya, bukan? Sayangnya, kau tidak bisa terhubung dengan karmaku. Kau cukup cerdas, harus diakui. Tapi tidak cukup cerdas."

Selesai berkata demikian, ia melangkah ke samping untuk menghindari kereta tersebut. Hal itu bukanlah sesuatu yang sulit baginya.

Bagaimana pun juga, tidak peduli betapa mengejutkannya kereta dan naga tersebut di masa lalu, raksasa itu kini hanyalah sesosok mayat. Tidak masalah jika makhluk itu masih bisa bergerak berdasarkan naluri. Tanpa memicu sesuatu padanya, benda itu pada dasarnya tidak berguna.

Kendati demikian, meskipun musuh Xu Qing langsung menyadari apa yang coba dilakukannya, mengingat betapa krusialnya saat-saat krisis tersebut, mana mungkin rencananya sesederhana seperti yang baru saja diucapkan oleh Fiend Penguasa Mengapung?

Saat Xu Qing melesat melewati kepala raksasa yang masif itu, mata dari tangan buntung yang ia pegang berubah menjadi merah terang. Tak terhitung banyaknya hantu bermunculan. Kemudian, musik yang beberapa saat lalu terdengar seperti suara alam yang indah, berubah menjadi lolongan para hantu.

Nadanya tetap sama, namun suaranya melengking dan begitu menyayat hati. Irama itu telah berubah menjadi suara jutaan hantu yang menghantui kegelapan malam. Terlebih lagi, bulan busuk yang sebelumnya pernah digunakan oleh tangan buntung itu pada Xu Qing kini muncul kembali.

Seketika itu juga, dasar laut berada dalam kekacauan. Sebuah bulan busuk terbit di hadapan sang raksasa, tepat di dekat Fiend Penguasa Mengapung. Wajah kejam wanita muda itu tampak di sana, dengan mata terbuka lebar dan menatap langsung ke arah Fiend Penguasa Mengapung! Perlindungan dewa yang menyerupai kutukan leluhur menyebar dengan cara yang mengejutkan. Kekuatan dewa melimpah ruah. Sang raksasa menggigil, menundukkan kepalanya, lalu memaku tatapannya yang keruh pada Fiend Penguasa Mengapung.

Fiend Penguasa Mengapung mengerutkan kening dan berhenti di tempat, matanya berbinar tajam.

Sementara itu, Xu Qing mengerahkan seluruh tenaganya dengan membakar lebih banyak benang jiwa untuk melarikan diri menggunakan Teknik Menghindar Cahaya (Light Evasion). Dalam sekejap mata, ia menghilang dari posisinya di belakang sang raksasa.

Ketika ia muncul kembali, ia berada sejauh 5.000 kilometer di atas permukaan air. Darah menyembur keluar dari mulutnya, dan semakin banyak merkuri abadi yang merembes keluar dari retakan di permukaan tubuhnya. Bersamaan dengan itu, darah dan merkuri tersebut menetes ke laut di bawahnya. Saat ini ia terhuyung-huyung dan nyaris tidak mampu berdiri tegak. Aura kematian menyebar dari jiwanya yang terdistorsi dan membusuk.

Itu adalah kekuatan kutukan dari bulan busuk tersebut. Meskipun kutukan yang menyebar dari proyeksi bulan itu tidak menargetkannya, bahayanya tetap saja begitu besar hingga berdampak pada dirinya. Untungnya, ia tahu cara menetralkan kutukan tersebut.

Oleh karena itu, begitu ia muncul, ia langsung meminta tangan buntung itu untuk memainkan lagu yang sesungguhnya, yaitu Suara Alam Menyambut Bulan. Saat alunan lagu itu merasuki jiwanya, hal itu membuat tekad kebusukan tersebut memudar. Tak lama kemudian, ia dengan cepat mengirimkan pesan suara, hanya saja sedetik kemudian... ekspresi wajahnya berubah sangat suram.

Aku masih berada dalam jangkauannya!

Tanpa ragu sedikit pun, ia mengatupkan giginya dan kembali menggunakan Teknik Menghindar Cahaya. Ia pun lenyap.

Waktu berlalu.

Ombak bergulung-gulung di atas Laut Terlarang. Lautan itu berwarna hitam pekat dan tampak tak bertepi. Terlihat tidak ada bedanya dari biasanya. Spesies-spesies di pulau-pulau, perahu-perahu di permukaan air, dan makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya semuanya menjalani kehidupan seperti biasa. Para cultivator berkultivasi. Para pemburu berburu. Suara aktivitas yang sibuk dapat terdengar di banyak pulau seiring kedatangan senja.

Sisa-sisa cahaya senja menyebar di atas ombak hitam. Langit secara bertahap berubah menjadi kelam. Malam telah tiba.

Tidak seorang pun yang dapat mendeteksi atau merasakan bahwa pengejaran sengit sedang terjadi di Laut Terlarang. Segala jejaknya telah dihapus. Otoritas pelenyapan milik Fiend Penguasa Mengapung memastikan bahwa para cultivator yang tidak memiliki tingkat kultivasi yang sama dengannya tidak akan mampu mendeteksi apa yang sedang terjadi.

Adapun gunting yang ditinggalkan oleh Vivifiend Grand Emperor yang dahulu kala pernah mengikuti Kaisar Kuno Kegelapan Ketenangan (Ancient Emperor Dark Serenity)... itu adalah artefak leluhur milik tanah suci Vivifiend, dan kekuatannya mendekati tingkat otoritas. Benda itu telah diserahkan kepada Fiend Penguasa Mengapung oleh leluhur spesies tersebut, di mana benda itu melayang di atas kepalanya selama seratus tahun terakhir, berulang kali memangkas kemalangan dari kegagalan terobosan. Namun, ada hal yang jauh lebih penting dari itu. Yaitu bagaimana terobosan Fiend Penguasa Mengapung menjadi Sovereign Kekaisaran memungkinkannya memperoleh otoritas pelenyapan.

Begitu Fiend Penguasa Mengapung berhasil, berkat dari gunting pusaka tersebut memungkinkan kekuatan pelenyapannya mencapai tingkat yang sangat tinggi. Meskipun indra Grand Emperor tidak dapat dipangkas dengan mudah, gunting tersebut mampu melenyapkannya untuk sementara waktu. Dan itu memperluas jangkauannya secara drastis.

Sebelumnya, Xu Qing sempat muncul di hadapan orang-orang, namun mereka tidak dapat mendeteksinya, seolah-olah ia berada di dimensi ruang-waktu yang berbeda. Begitu pula yang terjadi saat ini. Dari awal hingga sekarang, pengejaran ini selalu berlangsung seperti ini: senyap dan tak terdeteksi.

Saat senja tenggelam ditelan malam, jumlah benang jiwa Xu Qing telah merosot begitu rendah hingga tersisa sedikit di atas 3.000.000 helai. Ia hampir mencapai batas dari apa yang mampu ia lakukan. Dan bahkan sekarang, kekuatan suaranya pun tidak berfungsi.

Seolah-olah seluruh langit dan bumi berada dalam jangkauan Fiend Penguasa Mengapung. Tentu saja, hal itu tidak mungkin terjadi secara nyata. Namun seiring malam menjelang, situasi itu seolah memadamkan segala harapan.

Aku hanya punya satu kesempatan Teknik Menghindar Cahaya yang tersisa...

Malam telah tiba saat Xu Qing mencapai lokasi yang tidak jauh dari kaum Manusia Lobster (Lobsterfolk). Wajahnya pucat pasi, dan baik tubuh fisik maupun jiwanya telah mencapai batas kemampuan mereka.

Kendati demikian, hatinya tetap merasa sangat tenang. Seorang Sovereign Kekaisaran sedang memburunya untuk membunuhnya. Ini adalah saat-saat krisis yang mematikan. Namun, ia telah mengalami banyak situasi yang berpotensi fatal seperti ini. Situasi ini mungkin jauh lebih berbahaya daripada situasi-situasi lainnya, tetapi bukan berarti ia akan membiarkan dirinya menyerah pada keputusasaan.

Menarik napas dalam-dalam, ia mengambil sisi kemanusiaannya yang telah ia sengaja singkirkan selama pengejaran tadi, lalu meredupkannya sepenuhnya. Sifat keilahian yang dingin dan rasional kemudian memenuhi seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Matanya tiba-tiba menjadi jauh lebih dalam saat ia menoleh ke belakang.

Ia mulai menganalisis segala sesuatunya secara rasional. Ia tahu bahwa sang raksasa dan kereta naga dapat memengaruhi seorang Sovereign Kekaisaran, namun kemungkinan besar, pengaruh itu tidak akan bertahan lama. Bagaimanapun juga, sehebat apa pun kereta, raksasa, dan bulan busuk itu, semuanya adalah benda mati.

Aku yakin orang ini punya alasan mengapa ia membiarkanku kabur. Dari kelihatannya, tindakanku justru mempercepat efek pelenyapan. Dia pada dasarnya sudah setengah jalan menuju kesuksesan.

Xu Qing menunduk menatap seekor makhluk laut yang berenang di dalam air di bawahnya. Secara normal, jika makhluk ini bahkan merasakan auranya dari jarak jauh, ia akan kabur dengan gemetar. Namun sekarang, makhluk itu bahkan tidak menyadari keberadaannya.

Dia pasti takut pada karmaku, jadi dia tidak ingin langsung membunuhku. Rasanya melanjutkan pelarian ini pun sudah tidak ada gunanya.

Xu Qing tidak mengetahui seluruh detail dari otoritas orang tersebut, dan sangat sulit untuk mempersempit cakupan serta prinsip-prinsipnya melalui analisis. Yang bisa ia lakukan hanyalah menggunakan petunjuk yang dimilikinya untuk menyusun rencana tindakan. Setelah beberapa saat berlalu, Xu Qing menunduk menatap dasar laut.

Dia butuh waktu untuk melenyapkanku. Dan aku juga butuh waktu bagi dunia luar untuk menyadari apa yang sedang terjadi. Tapi secara teoretis, dia butuh waktu yang jauh lebih sedikit. Oleh karena itu, yang harus kulakukan adalah memperlambat gerakannya. Dan di pada saat yang sama, memberiku lebih banyak waktu... Itu artinya ada satu tempat yang sangat cocok.

Setelah menilai sisa benang jiwanya dengan kepala dingin, tanpa ragu ia mulai membakarnya, seolah-olah benang jiwa itu bukanlah miliknya sendiri.

Menggunakan Teknik Menghindar Cahaya untuk terakhir kalinya, ia lenyap. Ketika ia muncul kembali, ia berada di kedalaman laut di sebuah palung laut. Pada saat yang sama, tingkat keparahan luka-lukanya melewati ambang batas krusial. Tubuh fisiknya mulai hancur berkeping-keping. Tak terhitung banyaknya serpihan daging dan darah yang berserakan. Untungnya, merkuri abadi dan tanda-tanda segel berhasil menyatukan semuanya kembali.

Meski begitu, saat ini Xu Qing hampir tidak terlihat seperti manusia. Jiwanya pun turut hancur. Terlepas dari keilahian yang menopang pikiran dan kesadarannya, ia tetap jatuh pingsan. Namun, tepat sebelum tak sadarkan diri, ia dengan tenang mengirimkan perintah kepada tanaman merambat dewa.

Saat ia pingsan, tanaman merambat dewa itu langsung membelifnya dan melesat ke dalam palung laut, memasuki gelembung pelindung, dan melaju kencang menuju pagoda bobrok. Setelah waktu yang cukup untuk membakar setengah batang dupa berlalu, Fiend Penguasa Mengapung muncul di luar palung laut tersebut dengan mata yang berbinar tajam.

Jadi, bocah itu datang ke sini untuk pertahanan terakhirnya? Fiend Penguasa Mengapung melangkah maju dan muncul di luar gelembung. Saat ia mencoba masuk, kekuatan penolakan gelembung itu meletus, mendorong Fiend Penguasa Mengapung dengan kekuatan yang mampu meruntuhkan gunung dan menguras lautan. Setelah mundur lebih dari sepuluh langkah, Fiend Penguasa Mengapung berhenti. Menatap pagoda bobrok yang hanya berjarak beberapa puluh langkah di depannya, ia mengerutkan kening.

Kemudian, ia melanjutkan langkahnya masuk.

Gunakan ← → untuk pindah chapter