Malam sepiku air yang mati. Angin setajam mata pedang. Xu Qing membelah malam yang sunyi bak sebilah pedang sabre.
Pertempuran telah pecah, dan Xu Qing tidak peduli lagi pada hal lain. Para kultivator Suku Duyung telah memburunya, oleh karena itu, dia akan membunuh mereka! Tidak peduli apakah mereka berafiliasi dengan Pangeran Ketiga atau tidak. Karena mereka telah menyerangnya, dia sudah siap menghadapi Pangeran Ketiga jika terpaksa. Skenario terburuknya… setelah dia membunuh para Suku Duyung itu, dia bisa meninggalkan Tujuh Mata Darah dan pergi ke lautan lepas. Dia sebenarnya tidak ingin melakukan itu, namun segalanya sudah telanjur berjalan, jadi dia akan melakukannya jika memang harus.
Saat ini, dia melesat maju dengan kecepatan penuh, semakin dekat dan dekat dengan sang putri duyung. Sialnya, basis kultivasinya sangat kuat, ditambah dengan banyak jimat pusaka. Dia juga membakar basis kultivasinya dalam upaya untuk kabur. Saat Xu Qing semakin mendekat, perempuan itu tiba-tiba mengeluarkan tiga jimat pusaka yang tampaknya berfungsi layaknya jimat terbang.
Dalam sekejap mata, dia berakselerasi dengan kecepatan yang mencengangkan, meninggalkan Xu Qing di belakang saat dia melesat menuju dermaga tertentu.
Meskipun berhasil menjaga jarak dari Xu Qing, dia sama sekali tidak merasa tenang. Sejak ketiga pengawalnya tewas dan kakak perempuannya terluka parah, dia dicekam kecemasan yang luar biasa. Kejamnya Xu Qing membuatnya ketakutan setengah mati seperti belum pernah ia rasakan sebelumnya. Yang lebih parah lagi, tatapan dingin di mata Xu Qing membuatnya gemetar hingga ke lubuk hatinya.
Di kejauhan dermaga, dia melihat sebuah perahu-dharma yang familiar, dan barulah rasa takutnya sedikit mereda. Bahkan, secercah harapan terukir di wajahnya. Dia berhenti memikirkan alasan mengapa para pelindung dharmanya tidak datang untuk menolongnya, dan hanya fokus mencapai perahu-dharma itu secepat mungkin. Di sanalah dia bisa menemukan perlindungan.
Kau membunuh sepupuku. Kau membunuh keluargaku. Kau membuatku berada dalam kondisi mengenaskan ini. Xu Qing… Aku akan meminta Pangeran Ketiga untuk mengeluarkanmu dari Tujuh Mata Darah! Dan setelah itu aku akan balas dendam!
Putri duyung itu mengatupkan giginya, matanya memerah saat ia membakar darahnya sendiri demi mendapatkan kecepatan yang lebih tinggi lagi.
Sementara itu, mata Xu Qing sedingin es. Dia bisa melihat bahwa targetnya sedang menuju ke perahu-dharma Pangeran Ketiga, dan bahkan, dia sudah bisa melihat kapal mewah itu di kejauhan. Kapal itu diterangi lentera, dan suara nyanyian serta tarian terdengar dari dalamnya. Hal itu hanya membuat niat membunuh Xu Qing semakin berkobar. Membakar jimat terbang itu secara habis-habisan, dia mempercepat lajunya. Namun, itu masih terlalu lambat.
Beberapa saat kemudian, aksi putri duyung yang membakar darahnya sendiri membuahkan kecepatan yang cukup untuk melompat ke atas perahu-dharma Pangeran Ketiga. Sambil terhuyung saat mendarat, dia menjerit minta tolong.
"Tolong aku, Kanda!"
Hampir seketika, sekelompok pengikut Pangeran Ketiga melompat keluar untuk melingkarinya sebagai bentuk perlindungan.
Pada saat yang sama, Pangeran Ketiga terbang keluar dari kabin menuju sisi sang putri duyung, dengan ekspresi keheranan di wajahnya. Dia melihat kondisi perempuan itu yang mengenaskan, bagaikan bunga begonia yang diterpa hujan badai, dan wajahnya dipenuhi kelembutan.
"Kenapa kau menangis, Cantik? Siapa yang telah menindasmu?" Kemudian dia melihat kakak perempuan sang putri duyung, yang terengah-engah kehabisan napas. Kemarahan muncul di wajahnya. "Bagaimana bisa kau berakhir seperti ini?"
Saat itulah Xu Qing tiba di perahu-dharma Pangeran Ketiga. Melangkah ke dalam air di luar perahu, dia menatap Pangeran Ketiga yang sedang mendekap sang putri duyung.
Sambil mengatupkan giginya karena sedih dan marah, dia menunjuk ke arah Xu Qing dan berkata, "Dia orangnya, Kanda! Xu Qing inilah yang membunuh sepupuku! Kakak dan aku pergi untuk membicarakan baik-baik dengannya, tetapi penjahat keji itu telah menghancurkan raga Kakak dan membunuh para pengawal kita. Aku terpaksa membakar darahku sendiri agar bisa sampai di sini tepat waktu. Kanda harus mengambil tindakan tegas! Entah karena alasan pribadi atau aliansi, kami Suku Duyung tidak akan melepaskan masalah ini begitu saja. Dan lihatlah keadaan kakakku!"
Pada saat ini, mata sang kakak perempuan terbuka, ia menatap Pangeran Ketiga dan melontarkan rentetan kutukan.
Setelah mendengar semuanya, mata Pangeran Ketiga tampak sedingin es saat dia perlahan berucap, "Keberanian yang luar biasa! Ini benar-benar keterlaluan! Apakah kalian sudah bosan hidup?"
Para pengikutnya mulai memancarkan aura pembunuh yang suram.
Xu Qing berdiri di sana dalam diam, jubah daoisnya berkibar tertiup angin laut, dan rambut panjangnya menari-nari di belakangnya. Dia menatap Pangeran Ketiga, lalu mengarahkan pandangannya ke laut lepas di seberang pelabuhan. Dia telah membuat keputusan.
Sementara itu, putri duyung itu menghela napas lega, sembari menatap Xu Qing dengan kebencian yang mendalam. Dia sudah tahu persis bagaimana cara berurusan dengan Xu Qing. Bahkan, dia merasa saran kakak perempuannya tadi terlalu ringan. Dia akan melakukan hal sepuluh kali lebih kejam, dan memastikan Xu Qing menyesal pernah dilahirkan di dunia ini.
"Ribuan terima kasih, Kanda. Tolong, pastikan—"
"Kau salah paham, Sayang," sela Pangeran Ketiga dengan lembut. "Maksudku adalah, kalian memiliki keberanian yang luar biasa."
Tertegun, putri duyung itu mendongak menatap Pangeran Ketiga. "Kanda, kau..."
Dia tampak seperti biasanya; penuh kasih, welas asih, dan lembut. Matanya tampak penuh cinta. Bahkan, perempuan itu bertanya-tanya apakah dia salah dengar, dan hendak memintanya mengulangi ucapannya. Namun kemudian, Pangeran Ketiga mengangkat tangannya seperti biasa untuk mengelus rambutnya, alih-alih melakukannya, dia justru menghantamkan telapak tangannya ke puncak kepala perempuan itu.
Suara letupan terdengar bersamaan dengan tubuh sang putri duyung yang bergetar hebat. Lalu kepalanya meledak. Darah menyembur dalam bentuk kabut, dan jasadnya yang tanpa kepala terjungkal ke lantai.
Melihat hal ini, pupil mata Xu Qing menyusut.
Ini di luar dugaan.
Di sisi lain, sang kakak perempuan yang tadi mengutuk kini tertegun kaku. Ekspresinya berubah dari yang tadinya terlihat lemah dan kesakitan menjadi sangat terkejut dan tidak percaya. Terlebih lagi mengingat Pangeran Ketiga tampak begitu lembut dan penuh kasih seperti biasanya, kecuali noda darah di tangannya. Sang kakak perempuan merasa pikirannya sedang mempermainkannya. Dia sungguh tidak percaya bahwa orang yang baru saja mendekap erat dirinya dan sang adiknya di dalam pelukan, justru baru saja membunuh adiknya. Seandainya ekspresi wajah pria itu berubah, misalnya menjadi dingin dan menyeramkan, mungkin akan lebih mudah diterima. Namun kenyataan bahwa wajahnya tetap penuh belas kasih seperti sediakala membuat sang kakak perempuan gemetar tak terkendali.
"Kanda..." ucapnya, matanya dipenuhi teror.
Sambil menyeka tangannya hingga bersih, Pangeran Ketiga tersenyum hangat kepada sang kakak perempuan, lalu melirik ke arah Xu Qing. "Mohon maaf atas kurangnya kesopanan saya, Saudara Muda. Ada yang bisa saya bantu?"
Bulu kuduk Xu Qing merinding saat melihat Pangeran Ketiga yang tersenyum lembut, lalu beralih pada mayat di geladak kapal, dan kemudian kepada kepala sang kakak perempuan yang ketakutan—yang jelas-jelas telah diracuni dan tidak akan bisa hidup lebih lama lagi.
Xu Qing belum pernah menemui orang seperti ini seumur hidupnya. Perkataan dan tindakan Pangeran Ketiga benar-benar membuatnya gemetar ketakutan. Dia sama sekali tidak bisa memprediksi akhir cerita ini, dan tadinya bahkan sedang merencanakan pelariannya dari Tujuh Mata Darah. Setelah diam-diam menatap senyuman ramah Pangeran Ketiga, Xu Qing menangkupkan tangan dan membungkuk. Kemudian, dengan hati yang dipenuhi kewaspadaan, dia pergi.
Beberapa jarak jauhnya, dia menoleh ke belakang dan melihat Pangeran Ketiga masih berdiri di atas perahu. Menatap pria itu, Xu Qing tidak bisa menahan diri untuk tidak mengenang kembali adegan saat ia dengan lembut membunuh putri duyung muda tersebut.
Jelas sekali, Pangeran Ketiga adalah sosok yang sangat berbahaya!
Setelah melihat Xu Qing menghilang di kejauhan, Pangeran Ketiga yang tersenyum menoleh ke arah kepala sang kakak perempuan. Dengan mata penuh kehangatan yang lembut, dia berkata, "Kau dan adikmu sangat luar biasa, Sayang. Aku tidak akan bisa menyelesaikan misi Guru tanpa kalian. Lagipula, aku bisa melakukan kebaikan kecil untuk si pembunuh iblis kecil dari Pulau Selatkadal. Lumayan. Lumayan sekali. Aku bahkan semakin menyukaimu sekarang."
Menanggapi kata-kata hangat itu, ekspresi sang kakak perempuan berubah menjadi teror mutlak. Kemudian, dia membuka mulutnya untuk berbicara. Namun sebelum dia sempat melakukannya, Pangeran Ketiga mengangkat kakinya dan menginjaknya dengan kuat. Kepala itu meledak.
Sambil memasang ekspresi menyesal, dia berucap, "Huh. Sekarang aku hanya bisa mengenang kelembutanmu di dalam ingatanku."
Para pengikut di sekitarnya tetap menundukkan kepala, tidak berani bahkan sekadar menatap Pangeran Ketiga, dan mulai membersihkan ceceran darah di geladak. Tak lama kemudian, geladak itu kembali tampak bersih seperti baru. Kemudian salah satu pengikut mengeluarkan botol kristal yang diserahkannya dengan penuh hormat kepada Pangeran Ketiga.
"Pangeran Ketiga," ucapnya. "Kami berhasil menangkap basah para pelindung dharma Suku Duyung. Mereka sekarang sudah menjadi tawanan kita."
"Bagus sekali," kata Pangeran Ketiga sambil tersenyum. "Pergilah ke Suku Duyung dan jelaskan bahwa aku bisa membantu mereka menutupi insiden pencurian cetak biru perahu-dharma dari Tujuh Mata Darah. Namun sebagai gantinya, aku ingin air mata purba dari klan kerajaan Suku Duyung. Kirimkan benda itu ke sini sekarang juga!"
Setelah mengatakan itu, dia mengambil botol tersebut dan meminum tonik nutrisi di dalamnya. Usai menyerahkannya kembali kepada sang pengikut, dia melangkah ke udara, lalu melesat ke arah Puncak Ketujuh.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk mencapai puncak. Di sana, di dalam aula megah, Master Ketujuh sedang duduk di depan papan Go, tenggelam dalam pemikiran yang mendalam. Di seberang papan catur itu duduk pelayan yang sama seperti sebelumnya. [1]
Sambil mendongak menatap sang pelayan dengan serius, dia berkata, "Kau salah langkah!"
Pelayan itu menatap papan, mengambil salah satu bidak, lalu meletakkannya di tempat yang berbeda.
"Apakah kau benar-benar mencoba menarik kembali langkahmu?" bentak Master Ketujuh. "Tidakkah kau tahu bahwa menarik kembali langkah dihitung sebagai kalah? Kau baru saja kalah!" Mengibaskan tangannya ke atas papan dan menghamburkan bidak-bidak catur, dia menoleh ke arah Pangeran Ketiga.
"Salam, Guru," ucap Pangeran Ketiga. Nada suaranya benar-benar berbeda dari beberapa saat yang lalu. Dia terdengar sangat hormat saat bersujud.
"Ada apa?" tanya Master Ketujuh dingin.
"Guru, aku telah menyelidiki tuntas situasi Suku Duyung. Segalanya tidak berjalan persis seperti yang direncanakan, namun pada akhirnya, semuanya berhasil diselesaikan dengan baik.
"Mereka benar-benar datang atas suruhan para Zombi-Laut, mencoba mencuri cetak biru perahu-dharma dari Puncak Ketujuh. Kami telah menangkap mereka basah-basah. Aku juga memastikan bahwa, demi menjilat para Zombi-Laut, Suku Duyung diam-diam membangun Menara Mayat untuk dipersembahkan sebagai upeti darah.
"Buktinya ada di dalam slip giok ini. Slip ini juga berisi daftar empat nama, yang merupakan para pengawal kehormatan sekte yang berada di dalam daftar gaji Kepulauan Duyung." Dengan gestur tersebut, Pangeran Ketiga mengulurkan sebuah slip giok dengan kedua tangannya.
Master Ketujuh membuat gestur meraup, dan slip giok itu terbang ke arahnya. Setelah melihat daftar nama tersebut, wajahnya berubah dingin. Namun, dia tidak mengatakan apa-apa.
Selanjutnya, Pangeran Ketiga sedikit bergetar saat dia merendahkan suaranya dan berkata, "Ada sesuatu yang harus saya minta maafkan. Pangeran Suku Duyung itu membunuh beberapa anak rakyat jelata. Dia bekerja sama dengan dua sepupunya yang lebih tua. Saya tidak menyadari apa yang sedang terjadi, dan karenanya, saya menerima hukuman apa pun yang Guru berikan kepada saya."
Master Ketujuh justru terlihat sedikit lega. "Kau telah melanggar aturan, oleh karena itu, kurunglah dirimu di dalam Gua Pengikis-Tulang selama tujuh hari."
Mendengar kata 'Gua Pengikis-Tulang', Pangeran Ketiga bergidik. Sambil menundukkan kepala, dia menyuarakan kepatuhannya lalu pergi.
Menyaksikan kepergian muridnya, Master Ketujuh berdiri dan menatap ke bawah gunung ke arah pelabuhan. Sepertinya dia sedang memfokuskan pandangannya ke Dermaga 79.
Saat berikutnya, dia mengalihkan pandangannya ke arah laut lepas.
Di sisi lain, pelayannya berkata dengan tenang, "Suku Duyung bukan orang bodoh. Sepertinya tidak mungkin mereka begitu lancang mencoba mencuri cetak biru perahu-dharma kita..."
"Saudara Ketiga serakah akan keuntungan," ucap Master Ketujuh, "dan aku tahu dia tidak asing dengan permainan licik. Tapi dia tidak akan berani memalsukan bukti tentang Menara Mayat. Suku Duyung... belakangan ini menjadi terlalu akrab dengan para Zombi-Laut, yang merupakan musuh bebuyutan Tujuh Mata Darah. Suku Duyung memiliki ambisi liar, hal itu sudah sangat jelas. Sepertinya semua bantuan finansial yang kita kirimkan kepada mereka, dan semua murid yang mati demi kepentingan mereka... sama sekali tidak ada artinya. Kalau begitu, kita akan mengambil kembali apa yang menjadi hak kita. Pokok beserta bunganya." [2]
Mata Master Ketujuh berkilat dingin saat dia menatap ke arah laut lepas.
1. Jika Anda pernah membaca novel xianxia, wuxia, atau xuanhuan, dan terjemahannya menyebutkan bahwa para karakternya sedang “bermain catur,” sangat mungkin (tetapi tidak dijamin secara mutlak) bahwa mereka sebenarnya sedang bermain permainan Go. Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang permainan ini, yang omong-omong sangat seru untuk dimainkan, cari saja di google. Singkatnya, permainan ini melibatkan peletakan bidak hitam dan putih ke atas papan untuk “menguasai wilayah.” Berikut adalah gambar seperti apa tampilannya saat dimainkan dalam latar Tiongkok kuno. ☜
2. Istilah bahasa Mandarin yang saya terjemahkan sebagai “Saudara Ketiga” adalah bentuk sapaan umum yang digunakan untuk merujuk pada urutan anak (atau murid dalam situasi seperti ini). Saudara Sulung adalah anak tertua, Saudara Kedua adalah anak tertua kedua, dan seterusnya. Atau dalam hubungan kemuridan, Saudara Sulung adalah murid dengan peringkat senior tertinggi. ☜
Chapter 98 · 8m baca
One out of Fifty
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter