Aku akhirnya berhasil menerobos.
Xu Qing berdiri, mengepalkan tinjunya, dan melancarkan pukulan uji coba. Suara retakan terdengar, dan embusan angin kencang berkelebat di dalam ruangan. Matanya melebar. Hanya dengan berdiri di sana saja, dia merasa jauh lebih kuat daripada sebelumnya.
Seandainya dia harus melawan anaconda bertanduk raksasa yang sama, dia yakin dia bisa menghancurkan makhluk itu hanya dengan satu pukulan ke bagian perut. Tidak hanya itu, dia juga bisa merasakan indranya menjadi jauh lebih tajam. Penglihatannya lebih jernih dan pendengarannya lebih peka; dan saat itulah dia menyadari seseorang sedang mengetuk pintu bambu kamarnya dengan pelan.
Dengan terkejut, dia berjalan mendekati pintu dan mengintip ke luar. Tipis sekali, dia bisa melihat siluet seorang gadis berdiri di bawah cahaya bulan di luar gerbang bambu halaman. Gadis itu tampak terluka, dan tubuhnya juga terlihat jelas bergetar.
Dia mengerutkan kening, dan memutuskan untuk mengabaikannya saja. Namun, gadis itu terus-menerus mengetuk pintu.
Akhirnya, dia membuka pintu dan melangkah keluar.
Gadis itu tampak gugup melihat Xu Qing tiba-tiba berdiri di sisi lain gerbang bambu, tetapi dia tidak mundur. Sebaliknya, dia hanya berdiri di sana menatapnya.
"Ada yang bisa kubantu?" kata Xu Qing.
Sambil sedikit terbata-bata, gadis itu menjawab, "A... aku m-mendapatkan izin tinggal. Dan... dan aku mendapat pekerjaan di perkemahan."
"Baguslah kalau begitu," balasnya, lalu berbalik untuk kembali ke kamarnya.
"Tunggu!" seru gadis itu spontan. "Terima kasih. Aku datang ke sini karena aku ingin berterima kasih kepadamu."
"Tidak perlu berterima kasih. Aku ingin memakan makhluk itu. Itu tidak ada urusannya denganmu." Xu Qing kembali masuk ke dalam kabinnya.
Melihat punggung Xu Qing, gadis itu meninggikan suaranya dan berkata, "Tidak apa-apa. Aku tetap ingin berterima kasih. Dan... aku akan membalas budimu suatu hari nanti."
Sambil berbalik, dia berjalan tertatih-tengah menjauh ke dalam kegelapan malam.
Xu Qing memerhatikan kepergiannya lalu menutup pintu, tidak yakin gadis itu akan menepati ucapannya. Sambil menarik napas dalam-dalam, dia meluangkan waktu lagi untuk memeriksa perubahan di dalam tubuhnya. Dia sekarang merasa jauh lebih percaya diri untuk bisa bertahan hidup.
Kendati demikian, rasa sakit di lengannya, yang dia duga berasal dari mutagen, terasa semakin intens. Bahkan memakan kantung empedu ular itu pun tidak banyak berbuat untuk meredakan efek mutagen tersebut.
Suasana begitu sunyi larut malam itu. Dia tidak mendengar suara buas apa pun yang bergema di seantero perkemahan. Berjalan ke tempat tidur, dia menatap selimut bersih di atasnya, lalu beralih pada pakaiannya yang penuh kotoran. Setelah berpikir sejenak, dia melepas selimut itu, menggulungnya, dan meletakkannya di samping. Kemudian dia berbaring di atas bilah-bilah kayu tempat tidurnya.
Bertindak berdasarkan insting, dia mengeluarkan tusuk besi hitam miliknya dan mencoba untuk tidur.
Tusuk besi itu adalah rekan setianya yang paling dipercaya. Dia menemukannya bertahun-tahun yang lalu saat mengaduk-ngaduk tumpukan sampah. Berpikir bahwa benda itu tampak tajam dan kuat, dia menyimpannya di sisinya sejak saat itu, dan kini benda itu menjadi senjata andalannya.
Aku harus mencari tempat yang menjual bolus putih.
Dia meraba kantung pinggangnya, yang berisi seluruh barang bawaan dan tabungannya, termasuk beberapa batu permata yang ditemukannya di kota reruntuhan. Kendati demikian, dia tidak mau membawa terlalu banyak batu permata di tubuhnya. Itu hanya akan menjadi cara untuk mencari masalah. Dia telah mempelajari hal itu sejak usianya masih sangat muda.
Tenggelam dalam pikirannya, dia akhirnya memejamkan mata.
Namun, dia tidak pernah melepaskan genggamannya dari tusuk besi tersebut.
Malam berlalu, dan akhirnya cahaya matahari merembes masuk dari luar.
Xu Qing terbangun. Melangkah keluar, dia melirik ke arah kabin Sersan Thunder, hanya untuk menyadari bahwa pria tua itu telah pergi. Menyadari ketiadaannya, Xu Qing berjalan keluar menuju perkemahan. Mungkin karena penampilannya saat membunuh ular kemarin, banyak pasang mata tertuju padanya saat dia berjalan berkeliling.
Orang-orang tidak lagi memandangnya sebagai anak kecil yang bisa ditindas begitu saja. Mereka mengenalinya. Dan beberapa tampak mewaspadainya. Terlebih lagi, para anak muda seusianya yang berkeliaran di lorong-lorong tampak iri padanya.
Satu-satunya cara mendapatkan rasa hormat adalah dengan merebutnya.
Sambil mencari toko yang menjual bolus putih, Xu Qing membiasakan diri dengan tata letak perkemahan tersebut.
Ada banyak anjing liar, yang kebanyakan saling menggeram dan meributkan makanan. Banyak di antaranya yang kurus kering dan tinggal tulang berbalut kulit, tetapi beberapa tampak sehat dan kuat. Xu Qing terus mengawasi gerak-gerik anjing-anjing itu selama menjelajah.
Akhirnya, dia memiliki pemahaman umum tentang bagaimana perkemahan itu diatur. Dan di bagian lingkar dalam perkemahanlah dia menemukan toko yang dicarinya.
Tempat itu tergolong cukup besar, dengan banyak pelanggan yang keluar masuk.
Dia meluangkan waktu beberapa menit untuk mengamati dari luar saja, dan saat itulah dia menyadari gadis dari semalam bekerja sebagai pelayan di sana. Dia tampak melakukan pekerjaan serabutan, terburu-buru kesana-kemari dengan kening yang dibasahi butiran keringat.
Ketika Xu Qing akhirnya masuk, gadis itu langsung mengenalinya dan hendak mengatakan sesuatu ketika seorang pemulung menanyainya tentang beberapa barang yang dijual.
Mulanya, Xu Qing tidak melihat-lihat barang dagangan. Sebaliknya, dia mengamati para pelanggan lainnya.
Ada tujuh orang di dalam sana, beberapa dari mereka sedang melihat-lihat barang yang dijual, beberapa berdiri melamun, sementara yang lain sedang tawar-menawar. Ada dua orang yang tampaknya datang bersama, seorang pria bertubuh gemuk dan seorang lagi berbadan kurus.
Pria gemuk itu bulat, sedangkan yang kurus berwajah mirip kuda, dan keduanya tampak tangguh dengan fluktuasi kekuatan spiritual yang kuat. Si kurus sedang membentak gadis itu karena tidak menjawab pertanyaannya dengan memuaskan. Saat gadis itu meminta maaf berulang-ulang, Xu Qing mulai melihat-lihat barang dagangan.
Berdasarkan apa yang dilihatnya, ini adalah sebuah toko serba ada. Di sana terdapat pil obat, senjata, pakaian, makanan, dan hampir segala macam hal lainnya. Setelah melihat-lihat sekeliling, dia berjalan menuju salah satu konter penjualan, di mana di baliknya terdapat seorang penjaga toko yang sedang mengisap pipa panjang.
"Berapa harga bolus putih?" tanya Xu Qing.
Penjaga toko itu membuka matanya dan memindai Xu Qing dari atas sampai bawah. Mungkin karena dia mengenalinya dari pertarungan kemarin, dia menjawab dengan nada yang relatif sopan. "Persediaannya terbatas. Aku hanya mendapat pasokan sekitar lima butir sehari, dan hari ini aku sudah menjual dua. Sepuluh koin spiritual per butir."
Xu Qing sebenarnya sudah siap mental untuk harga yang tinggi, tetapi mendengar harganya mencapai sepuluh koin spiritual membuat keningnya berkerut.
Seluruh tabungan hidupnya hanya berjumlah dua puluh tiga koin spiritual. Namun, bercak mutasi di lengannya, serta rasa sakit yang memancar darinya, mendorongnya untuk segera mengeluarkan dua puluh koin spiritual dan menyerahkannya.
Penjaga toko itu menerimanya, membuka lemari, dan mengeluarkan bungkusan kain yang kemudian diserahkannya kepada Xu Qing.
Xu Qing membukanya dan mendapati dua pil obat berwarna putih di dalamnya. Keningnya kembali berkerut. Pil-pil itu sudah mulai berubah warna menjadi agak kehijauan, yang mana itu bukanlah warna aslinya. Pil-pil itu tidak segar, dan bahkan tidak memancarkan aroma pengobatan sama sekali. Jelas sekali itu adalah pil berkualitas rendah.
"Bolus putih di markas besar semuanya memang seperti itu," kata penjaga toko itu dengan senyum kaku. "Kami tidak punya barang berkualitas bagus di sini. Mungkin kondisinya sudah hampir rusak, tapi pil itu tetap berkesan. Tenang saja, aman untuk dikonsumsi."
Xu Qing terlalu berhati-hati untuk langsung percaya begitu saja. Sebaliknya, dia memutuskan untuk membawa pil-pil itu kembali kepada Sersan Thunder dan meminta informasi lebih lanjut. Menyimpan pil-pil itu, dia bersiap untuk pergi. Namun, dia tiba-tiba melompat menghindar ke samping.
Pada detik yang sama, sebuah tangan menyambar turun tepat ke tempat dia berdiri tadi.
Sambil melirik dengan dingin, dia melihat pemulung berwajah kuda yang tadi sempat membentak gadis itu sebelumnya. Dengan ekspresi terkejut, pria itu menarik kembali tangannya. Pada saat bersamaan, rekan gemuknya bergeser mendekati pintu keluar toko, memblokir jalan keluar dan menatap Xu Qing dengan senyum menyeringai memperlihatkan giginya.
Para pelanggan lain di dalam toko melihat apa yang sedang terjadi dan langsung bereaksi.
"Itu Gunung Gemuk dan Kuda Empat dari Pasukan Darah Bayangan!" seru seseorang.
Kemudian penjaga toko itu berkata dengan dingin, "Anak itu kembali bersama Sersan Thunder. Aku tahu Tepuntur dan Darah Bayangan tidak akur, dan aku tidak berencana ikut campur. Tapi jangan buang-buang waktu. Aku punya bisnis yang harus diurus."
Para pejalan kaki di luar memperhatikan keributan itu dan memanjangkan leher karena penasaran. Gadis itu tampak sangat cemas, tetapi tidak yakin bagaimana cara membantu Xu Qing.
"Tenang saja, ini tidak akan lama," kata Kuda Empat, menatap Xu Qing dengan mata dingin dan senyuman yang lebih dingin. "Anak manis, aku sudah membunuh banyak anaconda bertanduk raksasa, jadi aku tidak berniat membuat masalah untukmu. Tapi aku butuh bolus putih. Serahkan dua butir yang baru saja kaubeli. Jika kau melakukannya, kau bisa pergi dengan tenang. Tapi jika tidak, aku akan mematahkan lehermu dan merampas pil-pil itu dari mayatmu."
Tatapan mata Xu Qing menggelap. Matanya melirik ke arah tenggorokan pria itu, lalu ke arah rekan gemuknya. Dan terakhir dia melirik ke arah kerumunan yang mulai berkumpul di jalanan. Kedua orang ini memiliki fluktuasi kekuatan spiritual yang kuat, dan keduanya tampak berada di tingkat kedua. Dia yakin bahwa jika bertarung satu lawan satu, dia bisa mengalahkan salah satu dari mereka dalam waktu sepuluh detik atau kurang.
Jika mereka menyerangnya bersamaan, dia tetap yakin bisa menang, tetapi itu akan memakan waktu lebih lama.
Belum lagi ini adalah pasar umum; jika pertempuran pecah, mungkin akan ada rekan satu pasukan mereka yang datang untuk membantu.
Xu Qing tidak akan menggantungkan segalanya pada harapan bahwa Sersan Thunder akan datang untuk menyelamatkannya. Memang begitulah tipe orang seperti dirinya. Dia tidak suka bergantung pada orang lain, dan lebih memilih mengendalikan takdirnya sendiri.
Sekali lagi melirik ke arah tenggorokan Kuda Empat, dia mengeluarkan bungkusan berisi bolus putih tersebut dan melemparkannya ke arah pria itu. Pria tersebut menangkapnya, menatapnya, dan tertawa puas. Rekannya, Gunung Gemuk, juga mendongak dan tertawa. Sementara itu, Xu Qing hanya mulai melangkah pergi.
Kerumunan orang baik di dalam maupun di luar toko tampak menganggap semua ini sebagai hal yang lumrah. Semua orang tahu bahwa yang lemah adalah mangsa bagi yang kuat. Itu adalah hukum alam. Dan ketika yang lemah bisa beradaptasi dengan keadaan, itu berarti mereka tahu cara untuk tetap hidup.
Gadis itu mengembuskan napas lega, menyeka keringat kecemasan dari dahinya, dan melanjutkan pekerjaannya.
Adapun Gunung Gemuk dan Kuda Empat, mereka berjalan keluar toko dengan angkuh, saling berseloroh dan tertawa sambil menyusuri jalan.
Namun... tidak ada satupun dari mereka yang menyadari bahwa mereka sedang diikuti. Xu Qing tetap berada di belakang mereka dalam bayang-bayang, dengan sabar menjaga jarak, berhati-hati agar tidak menampakkan keberadaannya. Matanya bagaikan mata seekor serigala yang mengintai mangsanya.
Waktu berlalu. Akhirnya, malam pun tiba.
Gunung Gemuk dan Kuda Empat mengunjungi sejumlah lokasi di perkemahan. Tidak sekalipun mereka menyadari bahwa mereka sedang dibuntuti.
Tak lama kemudian, bulan tergantung tinggi di langit, dan saat itulah mereka akhirnya berpisah jalan.
Gunung Gemuk duduk di dekat api unggun di dekat tempat tinggal mereka, sementara Kuda Empat berjalan santai menuju pinggiran perkemahan dan deretan tenda yang tertutup bulu, dengan senyuman mesum terukir di wajahnya.
Tepat sebelum dia tiba di tempat tujuannya, dia mendengar suara gemerisik dalam kegelapan di belakangnya. Dia menoleh ke belakang dengan penuh kecurigaan, tetapi tidak melihat apa pun. Kemudian keterkejutan memenuhi wajahnya dan dia berniat untuk bergerak, melainkan semuanya sudah terlambat.
Sebuah tangan kecil mengulur dan membekap mulutnya rapat-rapat. Tangan lainnya muncul, menggenggam sebuah belati. Tanpa ragu-ragu sedikit pun, sang pemilik belati menyayatkan senjata itu menembus tenggorokan Kuda Empat.
Suara cipratan terdengar, dan semburan darah memancar keluar ke dalam kegelapan malam. Mata Kuda Empat membelalak lebar.
Dia mencoba meronta, tetapi tenaga tangan itu terlalu kuat. Kemudian, sosok yang mencengkeramnya menyeretnya mundur ke belakang.
Dia meronta-ronta dengan kakinya, tetapi tidak menemukan pijakan di atas tanah. Beberapa saat kemudian, dia diseret bagaikan seekor ayam ke atas tanah di sebuah lorong yang gelap.
Tangan itu terus membekap mulutnya, dan selang beberapa waktu kemudian, dia tidak bisa meronta lagi, tersedak oleh darahnya sendiri. Akhirnya, dia dilemparkan begitu saja ke atas tanah.
Saat itulah, di tengah keputusasaannya, dia melihat seorang pemuda berwajah dingin berdiri di atasnya di bawah naungan cahaya bulan.
Yang bisa dilakukannya hanyalah mengeluarkan suara isakan dan tersedak. Bagaimana mungkin dia bisa menduga bahwa pemuda yang dengan patuh menyerahkan bolus putih tadi siang... bisa begitu kejam?
Dia ingin berbicara. Dia ingin mengatakan bahwa dia tadi hanya menggertak. Bahwa dia sebenarnya tidak berniat membunuh siapapun.
Tetapi darah yang menyumbat tenggorokannya membuat dia tidak mampu berbicara. Dia hanya bisa terpekik tertahan sambil menatap tanpa harapan ke arah pemuda yang sedang menggeledah kantung pakaiannya.
Akhirnya, Xu Qing menemukan bolus putih miliknya, ditambah lima butir lagi. Dia juga menemukan beberapa koin spiritual dan beberapa barang acak lainnya. Setelah mengambil semuanya, dia mengabaikan ekspresi ketakutan Kuda Empat dan mengeluarkan kepala ular buntung miliknya. Setelah membukanya secara hati-hati, dia memperlihatkan taringnya dan menancapkannya ke kulit Kuda Empat.
Kuda Empat mulai kejang-kejang. Kemudian kulit di sekitar bekas tusukan itu mulai meleleh sementara rasa sakit luar biasa menyebar ke seluruh tubuhnya.
Akhirnya, Xu Qing membungkuk dan memejamkan mata pria itu. Sejak saat itu, Kuda Empat tidak lagi melihat apa pun di dunia ini.
Tubuhnya meleleh, berubah menjadi genangan darah yang meresap ke dalam tanah.
Belajar dari kesalahan masa lalu, Xu Qing mengeluarkan sebuah kantung lalu memasukkan pakaian Kuda Empat ke dalamnya. Setelah itu dia berbalik dan pergi.
Tak lama berselang, dua orang tiba-tiba muncul di tempat di mana Kuda Empat dibunuh.
Mereka adalah pria tua berjubah ungu yang sama beserta pelayannya yang tidak terlihat oleh kerumunan orang sehari sebelumnya. Pria tua itu menatap ke tanah, lalu beralih menatap punggung Xu Qing yang kian menjauh di kejauhan.
"Anak itu punya potensi," kata pria tua itu. "Dia sabar, tapi membunuh dengan tegas. Di saat yang sama, dia kejam. Dia juga membereskan jejaknya sendiri. Lumayan sekali."
Pelayan itu tampak terkejut. Dia telah melayani pria tua ini selama bertahun-tahun, dan jarang sekali mendengarnya memuji orang lain dengan kalimat 'lumayan sekali'. Baru kali ini saja, pria tua itu sudah memuji pemuda ini dua kali.
"Pemuda yang menarik memang," kata pria tua itu sambil tersenyum. Kemudian dia bertanya santai, "Berapa lama lagi sampai Maha Guru Bai tiba?" [1]
Mengalihkan pandangan dari Xu Qing, pelayan itu berkata, "Tuan Ketujuh, menurut jadwal perjalanan Maha Guru Bai, beliau seharusnya tiba dalam satu atau dua hari ke depan."
"Jadi dia sudah hampir tiba. Kalau begitu, aku akan melakukan yang terbaik untuk meyakinkannya tentang kebenaran ini. Di Daratan Violet sana, mereka selalu ngoceh terus tentang mengikuti aturan. Dia akan jauh lebih baik bergabung dengan kita di Tujuh Mata Darah." Pria tua itu tertawa puas sambil memerhatikan Xu Qing yang perlahan menghilang di kejauhan. "Ayo pergi. Aku ingin melihat apa yang akan dilakukan anak serigala ini selanjutnya."
1. Nama keluarga Bai ini agak langka dan tidak muncul dalam daftar 100 nama keluarga Tionghoa yang paling umum. Nama ini juga berarti 'pohon cedar, cemara'. Di Tiongkok daratan, nama ini dibaca Bai, tetapi di Taiwan dibaca Bo. Aku kebetulan tahu ini karena, ketika aku tinggal di Chinatown Manhattan, aku mengenal beberapa sesama pelajar bahasa Mandarin non-Tionghoa yang diberi marga ini, dan hal itu selalu menimbulkan kebingungan, karena beberapa orang memanggil mereka Bai, sementara yang lain memanggil mereka Bo. Ini bukan marga yang sama dengan Bai Xiaochun. ☜
---
Terjemahan oleh platform resmi.
Chapter 9 · 10m baca
Consequences of a Threat
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter