Saat pohon-pohon berwajah itu meratap, patung-patung terbangun, dan pusaran air terbentuk di atas kepala, planet yang menjadi makam kaisar tersebut masih diselimuti oleh badai yang mengerikan. Suasananya begitu apokaliptik, bagaikan hukuman surgawi yang membuat seluruh planet bergetar hebat.
Sialan, bajingan mana yang mengotak-ngatik penjagaan dewa di sini?!
Seseorang saat ini tengah duduk bersila di dalam tenda kulit yang memberikan perlindungan dari terpaan angin. Sulit untuk mengatakan berasal dari buas apa kulit tersebut, namun benda itu membuat tenda tetap berdiri tegak meskipun badai mengamuk. Bahkan, tenda itu berhasil mengurung angin sepenuhnya di area tertentu.
Tentu saja, tenda itu tidak dapat mengurung lubuk hati Fan Shishuang. Sambil duduk di dalam tenda, dia menggertakkan giginya dan menatap ke luar, matanya berkilat penuh kekhawatiran. Dia memiliki dua tujuan utama di dalam domain dewa ini. Yang pertama adalah mendorong basis kultivasinya hingga tingkat lingkaran besar. Yang lainnya adalah memburu makhluk-makhluk yang tinggal di sini. Kedua tujuan tersebut berpusat pada planet yang menjadi makam kaisar. Klamnya telah mempersiapkan acara ini dengan matang dan lama. Oleh karena itu, begitu dia memasuki domain dewa ini, dia langsung bergegas tanpa henti ke tempat khusus ini.
Bagaimana mungkin dia bisa menduga bahwa begitu dia tiba, seluruh planet akan tiba-tiba terbangun? Terlebih lagi, dia bahkan belum menyelesaikan seluruh langkah untuk menjalankan rencananya agar bisa masuk ke dalam.
Aku harus nekat bertaruh habis-habisan!
Sambil menggertakkan gigi, Fan Shishuang menunduk dan melakukan gerakan mantra dua tangan saat dia melepaskan sihir rahasia yang telah dipersiapkan oleh klannya.
Dia bukan satu-satunya yang melakukan hal seperti itu. Ada dua orang di tempat lain di planet ini yang juga mengutuk siapa pun yang telah mengusik penjagaan dewa tersebut.
Mereka adalah Tuan Heavenink dan Tuo Shishan. Yang pertama tiba lebih awal, sementara yang terakhir mengerahkan banyak sekali upaya untuk melarikan diri dari ubur-ubur raksasa itu.
Jika Anda memasukkan Tuan Firedark ke dalam kelompok itu, jelas bahwa lima besar yang terpilih dari eselon Firemoon Darkheavens semuanya telah memilih tempat ini sebagai tujuan mereka. Masing-masing memiliki cara berbeda untuk masuk ke makam kaisar, dan telah bersiap bertahun-tahun sebelumnya untuk saat ini. Namun karena perkembangan dramatis tersebut, mereka semua mengalami kesulitan menghadapi planet ini. Sekarang, mereka harus membayar harga yang jauh lebih mahal dan juga menghadapi bahaya yang jauh lebih besar.
Orang yang mereka kutuk habis-habisan adalah Xu Qing, yang demi menyenangkan perbendaharaan dewa keduanya, telah memasuki pusaran ketujuh di dalam gua.
Saat dia masuk, rasanya seperti melangkah melewati selaput tipis menuju kehampaan yang mahasluas. Tempat itu gelap, dingin, dan asing, serta tampak terbentang selamanya.
Tak satu pun indra yang berfungsi di dunia luar tampaknya ada di sini. Tidak ada arah. Tidak ada jalan. Tidak ada langit dan bumi.
Xu Qing bahkan merasakan kesadarannya perlahan memudar, seolah-olah segala sesuatu di sekitarnya berubah menjadi kegelapan dan suram. Hukum alam dan sihir di sini berbeda dari dunia luar.
Rasanya seolah-olah tidur dan mati suri adalah dao agung di tempat ini, dan setiap orang yang masuk harus menyesuaikan diri dengan kehendak tempat ini.
Xu Qing tidak terkecuali. Dia merasakan fluktuasi niat ilahinya memudar menjadi ketiadaan. Seolah-olah pikirannya sedang tertidur pulas. Satu-satunya hal yang membara dengan intensitas tertentu adalah hasrat dari perbendaharaan dewa keduanya. Hasrat itu bagaikan api terang yang berfungsi sebagai titik fokus bagi indra Xu Qing.
Mengandalkan indra tersebut, Xu Qing maju ke depan berdasarkan insting, bagaikan seekor ikan yang berenang menembus kegelapan.
Dia tidak yakin berapa banyak waktu telah berlalu. Mungkin satu abad. Mungkin hanya sekejap mata. Namun kerinduan dari perbendaharaan dewa keduanya semakin lama semakin kuat, hingga akhirnya ikan kecil itu menerobos permukaan air. Dia telah melewati kehampaan dan kini tiba di langit berbintang yang berkilauan.
Begitu melihat cahaya bintang, semua indranya kembali normal. Niat ilahinya bergejolak lagi, dan pikiran-pikirannya yang tadinya tertidur kembali pulih.
Saat dia menatap ke langit berbintang, dia melihat dua makhluk yang begitu megah hingga hampir mustahil untuk dideskripsikan.
Yang pertama adalah pohon raksasa yang tampak merepresentasikan kehidupan. Yang kedua adalah makhluk megah yang melambangkan teror dan kejahatan.
Pohon itu sangat besar hingga menempati separuh langit berbintang. Permukaannya yang berlekuk-lekuk dipenuhi dengan tanda-tanda mirip pembuluh darah. Cabang-cabangnya terbentang ke segala arah, semuanya dipenuhi dengan garis-garis yang tampak mengandung hukum alam dan dao agung. Terdapat buah-buahan dao di pohon itu, sebesar planet-planet. Atau mungkin lebih tepat dikatakan bahwa buah-buahan itu memang adalah planet.
Dari kejauhan, orang dapat melihat cabang-cabangnya terbentang seolah memenuhi langit berbintang, sementara akar-akarnya menancap kuat pada alam semesta di sekitarnya. Kendati demikian, itu bukanlah pohon yang rimbun. Pohon itu layu, meliputi cabang-cabangnya maupun buah planetnya. Seolah-olah kekuatan hidupnya sedang meredup. Meskipun layu, setiap cabang pohon itu tetap memancarkan kekuatan mengerikan yang menggetarkan langit berbintang dan memengaruhi alam semesta.
Adapun makhluk raksasa itu, ukurannya tidak sebesar pohon tersebut. Kenyataannya, ukurannya hanya sekitar setengahnya. Makhluk itu memiliki tubuh seperti sapi dan dikelilingi oleh miasma beracun. Yang mengerikan, setiap helai bulunya diikat oleh mayat, menciptakan sesuatu yang menyerupai baju zirah. Kepalanya berwarna putih, menciptakan kontras yang aneh dengan langit berbintang. Makhluk itu memiliki satu mata yang menutupi sebagian besar wajahnya, dengan pupil vertikal yang memancarkan sesuatu yang jahat. Selain itu, makhluk itu memiliki ekor berupa ular raksasa yang lolongannya dapat menghancurkan planet.
Makhluk raksasa itu terlibat pertarungan sengit dengan pohon tersebut. Pertempuran itu mendekati puncaknya, dengan setiap benturan meretakkan sebagian langit berbintang dan membuat keadaan tampak seperti hari kiamat telah tiba.
Xu Qing melihat sekeliling dengan terpana.
Baik itu pohon raksasa di langit berbintang maupun makhluk mengerikan itu, bagi dirinya mereka bagaikan dewa-dewa yang sama sekali tidak bisa dia lawan atauengaruhi. Dia tidak yakin mengapa mereka bertarung, namun kerinduan dari perbendaharaan dewa keduanya dengan jelas terfokus pada… makhluk raksasa itu!
Saat tatapan Xu Qing menangkap pertempuran yang sedang terjadi, ekor ular makhluk mengerikan itu meny cambuk dan melirik sekilas ke arah Xu Qing sebelum menyerangnya. Mulutnya terbuka seolah ingin melahap Xu Qing dan segala sesuatu di sekelilingnya.
Pupil matanya menyempit, Xu Qing melesat mundur. Pada saat yang sama, pohon raksasa itu bergerak, dan sehelai daun besar jatuh di depan Xu Qing. Daun itu menyerupai daratan utuh, tetapi sebagian besar sudah layu, dengan hanya sekitar dua puluh persen darinya yang masih mengandung kekuatan hidup.
Saat daun itu lewat di depan Xu Qing, penglihatannya berbinar, dan dia mendengar raungan bergema yang memudar menjadi ketiadaan. Ketika dia dapat melihat dengan jelas lagi… langit berbintang itu telah lenyap. Pohon itu telah lenyap. Makhluk itu pun telah lenyap.
Sebuah dunia membentang di hadapan Xu Qing. Langit dan daratan sama-sama berwarna abu-abu. Dia melihat kabut di setiap arah, tetapi tidak ada satu pun makhluk hidup. Hanya reruntuhan.
Xu Qing melihat sekeliling sementara ribuan pikiran berkelebat di benaknya. Dia ingat apa yang dilihatnya setelah melangkah ke pusaran ketujuh, baik itu kehampaan yang membeku maupun langit berbintang dengan pohon dan makhluk itu. Bahkan sekarang, dunia di hadapannya hampir tidak tampak nyata. Satu-satunya hal yang nyata baginya adalah kerinduan dari perbendaharaan dewa kedua.
Makhluk itu memicu respons dari perbendaharaan dewa racun tabu…. Adapun daun yang jatuh di depannya itu….
Mata Xu Qing menyipit.
Dia tidak yakin apakah dunia ini adalah daun tersebut, atau apakah ini hanya pemberhentian berikutnya dalam perjalanan melalui pusaran itu. Setelah beberapa saat berlalu, dia menjernihkan pikirannya, melihat sekeliling pada warna abu-abu di sekitarnya, lalu melemparkan indranya ke dalam kabut. Kabut itu beracun.
Xu Qing mulai bergerak cepat. Beberapa hari kemudian, Xu Qing berhenti di sebuah menara miring di antara reruntuhan.
Ini adalah dunia yang layu tanpa kehidupan. Aku rasa kemungkinan besar tempat ini sebenarnya adalah daun itu…. Penyebab layunya dunia ini adalah racun. Dahulu kala, dunia ini adalah tempat yang makmur. Tapi sekarang… tempat ini hanya mengumpulkan debu.
Xu Qing menunduk menatap kabut. Dia melihat sekeliling ke arah reruntuhan. Dia melihat jalur-jalur yang hancur, kerangka bangunan, kuil-kuil yang ambruk, dan patung-patung yang runtuh. Dengan meresapi semuanya, dia hampir bisa membayangkan rupa dunia ini pada masa kejayaannya. Sekarang, tempat ini kosong dan suram.
Akhirnya, tatapannya terhenti pada reruntuhan bangunan yang menumpuk di depan menara. Orang dapat melihat tulisan-tulisan berpahat pada beberapa batu tersebut. Dia melambaikan tangannya, dan reruntuhan itu melayang ke udara, menyatu membentuk sebuah prasasti batu raksasa setinggi 30.000 meter. Tidaklah mudah menyatukan semua bagian itu dengan benar, namun lambat laun, prasasti itu mulai terbentuk. Dari kejauhan, prasasti itu tampak bagaikan suar peradaban di dalam dunia yang dipenuhi racun murni.
Saat secercah peradaban itu muncul, simbol-simbol pada prasasti menjadi jelas. Sulit untuk memahami simbol-simbol tersebut hanya dengan melihatnya. Namun dengan memeriksanya menggunakan indra ilahi, simbol-simbol itu menjadi mungkin untuk dipahami.
Simbol-simbol itu menjelaskan sejarah tempat ini.
Dunia ini dulunya bernama Surga Tahun Utara. Tempat itu adalah salah satu dari sembilan surga yang tunduk kepada kaisar abadi. Kaisar abadi menjadikan Greenwood sebagai dao Tahun Utara, yang bertugas melindungi dunia dan seluruh makhluk hidup yang tak terhitung jumlahnya di dalamnya. Namun kaisar abadi tewas. Para dewa menyerbu, sembilan surga runtuh, dan malapetaka mendatangi seluruh dunia.
Kemudian, sesosok roh jahat mencemari dunia. Makhluk itu menyiksa makhluk hidup, menyebabkan wabah menyebar dan memenuhi Tahun Utara, melemahkan dao surgawi di sana dalam upaya untuk melahapnya. Sebagian besar makhluk hidup di dunia jatuh korban akibat wabah tersebut, termasuk para kultivator.
Perlawanan sempat terjadi, termasuk tiga pemberontakan berskala penuh. Namun semuanya berakhir dengan kegagalan.
Pada akhirnya, para pemimpin dunia mengerahkan segala daya upaya untuk mencoba merobek langit. Ketika celah itu terbuka, sesosok makhluk turun. Makhluk itu berkepala putih, berbadan sapi, dan berekor ular. Begitu makhluk itu muncul, seluruh dunia layu dan jatuh ke dalam kehancuran.
Saat Xu Qing berdiri di puncak menara miring dan meresapi informasi dari prasasti tersebut, dia mulai memahami dunia ini, dan alasan mengapa tempat ini layu. Mengenai kaisar abadi yang disebutkan dalam sejarah, tampaknya sangat mungkin dialah sosok yang dimakamkan di dalam makam tersebut.
"Tahun Utara dan Greenwood..." gumamnya, memikirkan pohon raksasa yang dilihatnya tadi.
Deskripsi tentang makhluk jahat itu juga sama persis dengan apa yang dilihatnya di langit berbintang tadi.
Xu Qing menunggu sedikit lebih lama untuk melihat apakah akan terjadi hal lain. Ketika tidak ada yang terjadi, dia bersiap untuk menarik kembali niat ilahinya.
Namun kemudian sebuah suara kuno terdengar, dari langit, tanah, udara, prasasti, dan dari segala hal lain di dunia ini.
"Roh jahat itu punya nama. Hellfei. Ketika dunia abadi runtuh dan para dewa luar menyerbu, tujuh emosi negatif dari seluruh makhluk hidup yang mati menyatu. Teman muda dari luar, kaulah kultivator pertama yang datang ke sini sejak kaisar abadi tewas…. Kumohon. Bisakah kau membantuku?"
Ekspresi Xu Qing tetap netral. Dia sama sekali tidak terlihat terkejut. Sambil mendongak menatap kanopi langit, dia berkata, "Siapa kau?"
"Kaisar abadi memberiku nama Greenwood. Aku bertugas melindungi Tahun Utara sebagai dao surgawi dunia ini."
Chapter 888 · 7m baca
Northyear Greenwood
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter