Istana Phoenix mendadak sunyi senyap. Berbagai pasang mata tertuju pada Xu Qing. Sementara itu, ekspresi Putri Anhai sedikit berubah.
Lonceng kekaisaran hampir tidak pernah berdentang sebanyak sembilan kali. Namun baru saja, lonceng itu berbunyi sembilan kali, menandakan bahwa sesuatu yang sangat penting telah terjadi. Jelas akan ada dampak besar setelahnya. Kemudian, di saat yang hampir bersamaan, sepasukan pengawal kekaisaran muncul dan memerintahkan Xu Qing untuk ikut dengan mereka ke istana kekaisaran. Meskipun hal itu tampak seperti sebuah undangan, aura suram dan dingin dari para pengawal tersebut memperjelas bahwa itu lebih dari sekadar undangan.
Hal yang paling krusial di tengah pusaran peristiwa ini adalah—meskipun terkesan mengada-ngada—kurangnya kehati-hatian bisa berujung pada kematian. Tidak peduli bahwa Xu Qing memiliki latar belakang yang mengejutkan dan juga menguasai satu setengah wilayah. Jika sesuatu yang sangat dramatis terjadi dan berkaitan dengan kelangsungan hidup umat manusia secara keseluruhan, maka tidak diragukan lagi mana di antara keduanya yang akan dianggap lebih penting oleh sang kaisar.
Awalnya, Putri Anhai tampak bingung. Namun kemudian matanya dipenuhi tekad. Sambil bangkit berdiri, dia berkata dengan dingin, "Lancang sekali!"
Para pengawal kekaisaran berlapis baja emas itu tidak bergeming sedikit pun menanggapi ucapannya. Mereka terus menatap Xu Qing. Namun, salah satu dari mereka melangkah maju, menghadap ke arah Putri Anhai, lalu membungkuk.
"Yang Mulia, ini adalah perintah langsung dari kaisar."
Sambil mengerutkan kening, Putri Anhai bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi sehingga Penguasa Wilayah Xu harus pergi ke istana kekaisaran?"
Dia berharap bisa mendapatkan lebih banyak informasi untuk Xu Qing mengenai alasan di balik situasi ini. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Jika Xu Qing tahu alasannya, setidaknya dia bisa mempersiapkan diri menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Pengawal yang melangkah maju itu sempat ragu-ragu, menoleh ke sekeliling, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah Putri Anhai yang sedang mengerutkan kening. Sambil maju beberapa langkah, dia mengirimkan pesan batin kepada Putri Anhai yang tidak bisa didengar oleh orang lain. Mendengar pesan itu, Putri Anhai tersentak kaget dan tubuhnya bergidik. Wajahnya pucat pasi, dan dia menatap Xu Qing dengan ekspresi yang rumit.
Ketika Xu Qing melihat hal itu, dia semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya telah terjadi. Meskipun dia sama sekali tidak tahu, dia tetap mempertahankan ekspresi tencangnya saat bangkit dan berjalan menghampiri para pengawal kekaisaran.
Mereka dengan cepat membentuk formasi di sekelilingnya. Meskipun kelihatannya mereka sedang memberikan pengawalan yang hormat, ada sesuatu dari cara mereka bergerak yang membuatnya tampak seperti sedang menangkapnya.
Tepat saat dia hendak melangkah keluar aula, Putri Anhai mengatupkan giginya erat-erat dan mengirimkan pesan batin kepada Xu Qing.
"Pengawal itu tidak memberitahuku banyak hal. Hanya saja... Divisi Pembuatan telah dikunci total. Tampaknya ada sesuatu yang telah dicuri dari sana!"
Xu Qing berhenti di tempat, berbalik, dan menangkupkan tangan dengan hormat ke arahnya. Setelah itu, dia meninggalkan kediaman sang putri dan berjalan menuju istana kekaisaran.
Hari sudah malam, dan hujan masih turun gerimis. Petir menyambar-nyambar di langit. Dalam keadaan normal, sedikit sekali orang yang akan keluar rumah dalam cuaca buruk seperti ini. Namun malam ini berbeda.
Xu Qing melihat para pengawal kekaisaran berlalu-lalang dengan terburu-buru di berbagai tempat. Mereka semua tampak bergerak ke arah yang berbeda-beda, sedemikian rupa sehingga orang biasa tidak akan punya bayangan sedikit pun tentang apa yang sedang mereka lakukan. Namun, Xu Qing memulai kariernya di Divisi Kejahatan Kekerasan, sehingga dia mampu membaca petunjuk-petunjuk yang ada.
Mereka memperluas cakupan area penguncian. Apakah mereka sedang mengunci seluruh ibu kota kekaisaran?
Mengingat kembali pesan dari Putri Anhai, Xu Qing langsung teringat pada Kakak Tertuanya. Berdasarkan segala hal yang dia ketahui tentang sang Kapten, tampaknya sangat mungkin kalau pria itu nekat mencoba mencuri sesuatu dari Divisi Pembuatan. Namun, jika itu benar, sang Kapten pasti akan berhati-hati agar tidak meninggalkan jejak apa pun yang mengarah ke Xu Qing. Oleh karena itu, Xu Qing mencoret kemungkinan tersebut.
Dengan tersingkirnya kemungkinan itu, aku jadi penasaran, apa sebenarnya yang telah dicuri hingga membuat kaisar memanggilku untuk menghadap?
Satu-satunya hal yang menghubungkan dirinya dengan Divisi Pembuatan adalah Matahari Fajar. Kecuali, dia sudah menjelaskan situasi itu sebelumnya, jadi kecil kemungkinannya itulah alasan mengapa dia dipanggil.
Apakah ini karena orang lain yang memiliki hubungan denganku?
Sayangnya, petunjuk yang dimilikinya terlalu sedikit untuk bisa membawanya mendekati jawaban.
Saat Xu Qing merenungkan situasi tersebut, kilatan petir menyambar di sekeliling mereka. Akhirnya, mereka melewati punggung bukit pelangi dan tiba di istana kekaisaran. Dalam pendar cahaya yang dihasilkan oleh petir, pupil mata Xu Qing menyempit ketika dia menyadari ada orang lain yang juga sedang dikawal masuk ke dalam istana.
Itu adalah Ningyan. Hal itu membuat segalanya menjadi jelas di benak Xu Qing. Ningyan entah bagaimana terhubung dengan Divisi Pembuatan. Dan barang yang dicuri hampir dipastikan adalah sebuah Matahari Fajar.
Namun, ada beberapa hal yang terasa janggal. Pertama-tama, Xu Qing tahu pasti bahwa akhir-akhir ini Ningyan menghabiskan seluruh waktunya untuk berlatih kultivasi. Kedua, basis kultivasi Ningyan terlalu rendah untuk bisa melakukan tindakan dramatis seperti itu dan entah bagaimana berhasil meloloskan diri.
Terlebih lagi, rasanya hampir mustahil sebuah Matahari Fajar bisa dicuri. Matahari Fajar adalah harta berharga umat manusia, dan bukanlah benda yang bisa hilang begitu saja. Benda-benda itu pasti dijaga dengan sangat ketat. Dan rasanya tidak perlu menyimpan benda-benda itu di dalam gedung Divisi Pembuatan itu sendiri.
Sambil memikirkan hal-hal tersebut, tatapan matanya berubah tajam. Melangkah masuk ke dalam istana kekaisaran, dia segera tiba di Alun-Alun Resepsi Abadi di depan aula utama istana. Ada para kultivator berlapis baja emas di mana-mana, semuanya memancarkan niat membunuh yang pekat. Suasana yang tercipta sangat menyesakkan. Hal itu, ditambah dengan suara petir yang menggelegar, menciptakan tekanan yang membuat tetesan air hujan pun seakan-akan ikut bergetar.
Ningyan juga sedang gemetar. Dua orang pengawal mencengkeram bahunya dan memaksanya berlutut di alun-alun. Hujan turun dengan deras, membasahi tubuhnya. Dia merasa gugup sekaligus bingung. Dia sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi, karena dia tadinya sedang berlatih kultivasi di aula kuil ibunya ketika seorang pengawal mendobrak masuk dan menyeretnya pergi.
Dia bukan satu-satunya orang di sana. Ada orang-orang lain. Semuanya adalah para kultivator dari Divisi Pembuatan, yang jumlahnya mencapai beberapa lusin orang.
Hadir pula Pangeran Kesembilan, yang bernasib sama—dipaksa berlutut oleh dua pengawal kekaisaran. Kepalanya tertunduk, dan ekspresinya menyiratkan kepahitan yang mendalam.
Ketika Xu Qing tiba, tatapan dari banyak pengawal kekaisaran langsung terkunci padanya saat dia dikawal menuju ke arah ‘tamu-tamu’ lainnya.
Begitu Ningyan melihat Xu Qing, matanya berbinar memancarkan secercah harapan sekaligus keterkejutan.
Xu Qing memandangnya dan mengangguk pelan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia berdiri di samping.
Para pengawal di belakangnya hendak menempatkan tangan mereka di bahunya ketika Xu Qing menoleh ke belakang menatap mereka dengan pandangan tenang. Tatapan itu membuat para pengawal tersebut spontan menangkupkan tangan dan mundur beberapa langkah.
Xu Qing kini menjadi satu-satunya pendatang baru yang tetap berdiri. Air hujan bahkan tidak menyentuh tubuhnya.
Waktu berlalu, dan suara gemuruh petir semakin menggelegar.
Sesekali, orang-orang tampak terburu-buru memasuki istana dan masuk ke dalam aula. Di dalam aula, cahaya lampu menunjukkan bahwa sebuah prosesi atau penyelidikan sedang berlangsung. Formasi mantra agung ibu kota kekaisaran telah diaktifkan sepenuhnya, menutupi seluruh kota sehingga orang-orang diizinkan masuk, tetapi tidak bisa keluar.
Xu Qing memejamkan mata dan merenungkan masalah itu lebih jauh, mencoba mengonfirmasi dalam hatinya apakah dugaannya selama ini benar.
Hadirnya fajar menyingsing di ufuk timur. Akhirnya, ketika langit mulai terang, seorang pria tua keluar dari aula istana. Dia adalah perdana menteri. Pria tua itu menatap ke bawah ke arah alun-alun dan semua sosok yang sedang berlutut di sana.
"Tadi malam," ucapnya dengan suara berat, "Divisi Pembuatan telah disatroni pencuri. Sebuah Matahari Fajar, yang telah ditempatkan di dalam formasi mantra khusus di sini untuk keperluan penelitian, telah hilang. Kalian semua yang berada di sini adalah tersangka dalam penyelidikan awal ini. Terutama sekali Pangeran Keduabelas."
Kalimat terakhirnya bertepatan dengan sambaran petir yang sangat keras hingga menggetarkan segalanya.
Ningyan bergidik ngeri, ekspresinya dipenuhi rasa tidak percaya. "Itu tidak mungkin! Aku bahkan belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Divisi Pembuatan. Aku—"
Ucapannya dipotong oleh deheman dingin dari dalam aula istana. Suara itu bahkan lebih keras daripada suara petir, mengguncang alun-alun dan membuat kesadaran semua orang yang hadir menjadi berputar-putar.
"Perdana Menteri, tunjukkan buktinya kepada anak durhaka ini!"
Perdana menteri melambaikan tangan kanannya, menyebabkan secarik batu giok terbang keluar. Saat batu giok itu melayang di udara, benda itu memproyeksikan sebuah bayangan atau rekaman cahaya yang bisa dilihat oleh semua orang. Gambar tersebut memperlihatkan suatu lokasi yang sangat rahasia. Sebagian besar gambar tampak kabur, tetapi ada sosok seseorang, yang terlihat jelas dari belakang. Orang itu tampak sangat mirip dengan Ningyan. Bahkan, tepat saat rekaman gambar itu hampir berakhir, sosok tersebut perlahan berbalik, memperlihatkan sisi wajahnya.
Wajahnya persis seperti Ningyan! Kemudian bayangan itu lenyap. Selanjutnya, perdana menteri melakukan gestur mantra, menyebabkan seberkas energi muncul. Itu adalah energi milik Ningyan.
"Gambar itu diekstrak dari masa lalu menggunakan sihir ramalan raja surgawi. Rekaman itu menunjukkan persis apa yang terjadi di Divisi Pembuatan. Energi ini dikumpulkan oleh formasi mantra agung ibu kota kekaisaran, yang juga diekstrak dari masa lalu Divisi Pembuatan. Sang kaisar sendiri yang menjadi saksi atas proses tersebut."
Setelah perdana menteri selesai berbicara, sang kaisar kembali berfirman dengan suara dingin. "Apa pembelaanmu, hai anak durhaka?"
Ningyan yang tertegun kehilangan kata-kata. Dia sama sekali tidak melakukan apa pun, tetapi rekaman gambar dan energi itu benar-benar mengarahkannya sebagai pelaku utama.
Jauh di ufuk sana, matahari mulai terbit. Meskipun masih banyak awan serta hujan gerimis, cahaya matahari tetap menyebar, akhirnya mencapai Alun-Alun Resepsi Abadi. Di saat kegelapan dan cahaya saling bertukar tempat, sebuah lonceng muncul di udara di atas alun-alun. Itulah Lonceng Penginterogasi Abadi.
Jika Ningyan ingin berbicara, dia bisa melakukannya di hadapan Lonceng Penginterogasi Abadi. Namun, bukti yang melawan dirinya begitu telak hingga yang bisa dilakukannya hanyalah tersenyum pahit.
Xu Qing mendongak menatap aula istana. Dia telah melihat rekaman gambar tadi, namun tetap merasa ada sesuatu yang mencurigakan yang sedang terjadi. Dia menolak percaya bahwa kaisar akan cukup ceroboh hingga mengabaikan bukti-bukti penting. Oleh karena itu, dia melangkah maju hingga berdiri di samping Ningyan.
Namun, sebelum Xu Qing sempat berbicara, Ningyan mencengkeram erat ujung jubahnya sendiri. Dia perlahan mendongak, dengan ekspresi terdistorsi dan mata yang dipenuhi kekecewaan sekaligus kemarahan atas situasi yang tidak masuk akal ini.
"Ayah, aku tahu Ayah tidak menyukaiku," ucapnya lantang. "Aku tahu di dalam hati Ayah, Ayah menganggap putra keduabelasmu ini sebagai sosok yang tidak berguna. Aku tidak memiliki bakat alami yang hebat. Aku tidak pandai bicara. Aku tidak menarik dan karismatik. Tidak ada orang yang ingin terlalu dekat denganku. Baiklah, aku tidak peduli dengan semua itu!"
Emosi Ningyan bergejolak saat dia perlahan bangkit dari posisi berlututnya hingga berdiri tegak! Tindakannya untuk berdiri membawa makna yang sangat mendalam. Hal itu menunjukkan bahwa dia telah menepis segala rasa takut atau rasa hormat yang berlebihan yang selama ini dia miliki terhadap ayahnya. Dia telah meruntuhkan kecenderungannya untuk selalu menjadi penjilat, dan di tengah guyuran air hujan, dia menyuarakan tekanan yang telah bersarang di hatinya selama bertahun-tahun.
"Ayah," serunya lantang, "Ayah berada di tempat yang tinggi di atas semua orang, bagaikan awan di langit. Bagi Ayah, aku hanyalah orang tidak berguna yang tiada artinya. Aku tidak ada bedanya dengan lumpur. Tapi... lalu kenapa? Tempat ini adalah rumahku, tapi di saat yang sama, tempat ini bukanlah rumahku. Aku justru jauh lebih menyukai Negeri Penyegel Laut. Aku tahu semua pangeran kekaisaran bermarga Guyue, tapi aku lebih memilih menjadi sekadar Ningyan biasa!
"Jika Ayah tidak memaksaku untuk kembali, aku tidak akan pernah datang! Oleh karena itu, jika Ayah ingin menuduhku melakukan kejahatan ini tanpa dasar yang kuat... maka aku tidak akan tinggal diam! Aku, Ningyan, sama sekali tidak tahu apa-apa tentang hal ini! Dan aku akan membuktikannya menggunakan Lonceng Penginterogasi Abadi!"
Ningyan melompat ke atas dan menghantamkan buku-buku jarinya dengan penuh amarah ke lonceng tersebut. Lonceng itu berdentang, menghasilkan suara yang dalam dan bergema. Lonceng itu mampu mengonfirmasi kebenaran dari setiap kata, dan mampu memverifikasi kondisi sesungguhnya dari sebuah hati.
Chapter 771 · 8m baca
Stolen Dawning Suns!
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter