Ini adalah Perguruan Xeno-Abadi!
Mata Xu Qing berkilat. Sepotong batu giok itu memang tidak berisi banyak informasi, tetapi apa yang dikandungnya sungguh luar biasa. Batu giok itu merangkum dasar-dasar dari Perguruan Xeno-Abadi secara ringkas. Meskipun batu giok tersebut tidak merinci teknik khususnya, deskripsi yang ada sudah cukup untuk memberi Xu Qing pemahaman secara umum.
Teknik ini tampaknya mirip dengan Perguruan Peleburan Dewa. Salah satunya mengumpulkan keilahian, sedangkan yang lain melebur dengannya. Teknik pertama melibatkan penggunaan tubuh manusia seutuhnya, lalu menciptakan garis besar seorang dewa di lautan kesadaran. Tujuannya adalah menggunakan teknik penyimpanan dewa tersebut untuk mengubah diri sendiri menjadi sesosok Xeno-Abadi.
Teknik yang kedua melibatkan pelepasan tubuh manusia seseorang, lalu menggantinya dengan tubuh dewa. Tujuan akhirnya adalah mencapai kenaikan kemurnian dewa dan menjadi dewa berwujud manusia.
Cara berpikir seperti ini... sangat mencengangkan. Pantas saja Debu Langit mengatakan bahwa Perguruan Xeno-Abadi dulunya adalah aliran pemikiran nomor satu di Universitas Kekaisaran.
Dengan pemikiran tersebut di benaknya, Xu Qing melihat sekeliling perguruan yang kosong itu dan menyadari ada satu kelemahan yang sangat fatal. Kelemahan fatal itulah yang menyebabkan runtuhnya Perguruan Xeno-Abadi.
Persyaratan untuk melatih kultivasi semacam ini sangat tinggi hingga mengerikan! Kau harus menggunakan jiwamu untuk menciptakan benang-benang, lalu menggunakannya untuk membentuk garis besar seorang dewa atau entitas keilahian. Hal itu saja sudah sangat berbahaya. Terlebih lagi, kemajuannya akan sangat lambat.
Itulah sebabnya Debu Langit mengatakan bahwa teori perguruan ini tidak realistis. Atau jangan-jangan, memang tidak ada seorang pun yang pernah berhasil dengannya?
Setelah berpikir dan menganalisis lebih lanjut, Xu Qing beralih kepada sang kepala perguruan yang masih mengotak-atik batu-batu giok. "Apakah benar tidak ada seorang pun yang pernah berhasil menggunakan teknik kalian?"
"Siapa bilang tidak ada yang pernah berhasil?" ucap sang kepala perguruan dengan nada tidak senang. Ia mendengus dingin, lalu melanjutkan dengan bangga, "Delapan ribu tahun yang lalu, Li Xuanfeng dari Perguruan Xeno-Abadi kita berhasil menenun sesosok anak bumi yang bermanifestasi secara fisik, sehingga mendongkrak kemampuan bertempurnya ke tingkat yang sangat mencengangkan."
Hampir bersamaan dengan sang kepala perguruan berhenti berbicara, salah satu dari tiga murid pemalas itu berkata, "Benar sekaaaali. Patriark Li Xuanfeng butuh waktu seribu tahun kultivasi hanya untuk menenun anak bumi yang ilahi itu. Waktu yang dihabiskan begitu lama hingga usianya hampir habis. Dia benar-benar hebat!"
Kepala perguruan berbalik dan memelototi murid tersebut. "Meskipun butuh waktu lama, setelah Patriark Li Xuanfeng berhasil, ia menggunakan teknik penyimpanan dewa di lautan kesadarannya untuk mendongkrak kekuatan bertempurnya secara drastis!"
"Tepat sekali!" seru murid yang lain. "Tepat sekaliii!! Dan kemudian dia dibunuh oleh seorang nonmanusia Perbendaharaan Roh yang baru berkultivasi selama lima tahun ratus tahun. Luar biasa!"
Jelingan sang kepala perguruan menjadi semakin tajam. Ia jelas sangat tidak senang. "Lagi pula, bukankah baru lima ribu tahun yang lalu Patriark Chen Daoze dari perguruan kita juga berhasil? Hanya dengan satu pikiran, ia bisa memanggil entitas dewa dari dalam dirinya, yang berujung pada transformasi yang menggoncangkan langit dan bumi."
"Oooh, benar!" ucap murid yang duduk di tengah di antara kedua murid lainnya. "Hanya saja setelah itu, dia tidak bisa berubah kembali... Kita masih menyimpan tubuhnya di sini di menara. Guru, Perguruan Peleburan Dewa tadi bilang mereka ingin membelinya. Kenapa kita tidak jual saja kepada mereka?"
"Jangan pernah sebut-sebut Perguruan Peleburan Dewa di depanku. Teori mereka itu sekumpulan omong kosong. Apakah monyet yang mengenakan pakaian manusia itu benar-benar manusia?" Sang kepala perguruan mengibaskan lengan jubahnya, memperlihatkan dengan sangat jelas betapa ia meremehkan Perguruan Peleburan Dewa.
Ketiga murid itu menghela napas bersamaan. Kemudian, murid yang di tengah menatap Xu Qing dan berkata, "Kuharap kau segera pergi dari sini mumpung masih bisa. Kami bertiga terjebak. Bertahun-tahun yang lalu, kami dengan bodohnya datang ke sini mengira akan ada barang-barang berharga yang terlewatkan oleh orang lain. Kami bahkan berpikir bisa membalikkan keadaan tempat ini dan meraup untung besar dalam prosesnya... Tapi kemudian orang tua bangka ini menipu kami dengan dalih bahwa hanya 'murid konklave' yang bisa belajar darinya. Pada akhirnya, seumur hidup kami terikat kontrak!"
"Itulah kenapa kami selamanya terjebak sebagai anggota. Kau sepertinya bukan berasal dari ibu kota kekaisaran, ya? Kalau iya, kau pasti sudah tahu semua hal ini. Serius deh, kau tidak mau terlibat dengan tempat ini."
Mungkin karena sang kepala perguruan tahu ekspresi wajahnya tersembunyi di balik topeng, ia jadi terbiasa sering mendengus dingin. Disertai dengusan dingin seperti itu, ia kembali berjongkok dan mulai mengotak-atik batu giok lagi.
Menara itu kembali sunyi.
Xu Qing menatap ketiga murid itu, lalu beralih ke sang kepala perguruan. "Aku pamit undur diri sekarang," ucapnya.
Setelah berjalan sekitar tiga ratus meter jauhnya, ia berbalik dan menatap kembali Perguruan Xeno-Abadi. Mengingat lokasinya yang berada di bagian timur Universitas Kekaisaran, ia bisa membayangkan betapa ramainya tempat ini di masa lalu. Namun sekarang tempat ini kosong, hanya tinggal cangkang dari kejayaannya dulu yang hampir tidak pernah dimasuki orang.
Hanya ada tiga murid di sana. Dari apa yang bisa Xu Qing simpulkan, kisah mereka tampak nyata. Mereka benar-benar tertipu untuk bergabung dengan perguruan itu, itulah sebabnya mereka tampak penuh dengan energi kebencian. Mengenai sang kepala perguruan, ia mungkin memiliki hati nurani yang bersalah, dan itulah sebabnya ia terus-menerus mendengus dingin, berharap bisa mempertahankan sisa-sisa terakhir martabatnya sebagai kepala perguruan.
Jadi, ada dua orang yang berhasil di masa lalu, dan mampu menenun proyeksi dewa di lautan kesadaran mereka, lalu mewujudkannya secara eksternal. Aku ingin tahu seperti apa bentuknya?
Memikirkan hal-hal tersebut, Xu Qing menghilang ditelan kerumunan orang.
Dalam sekejap mata, setengah bulan berikutnya berlalu.
Xu Qing telah mengunjungi sebagian besar aliran pemikiran di Universitas Kekaisaran, dan telah mengumpulkan banyak pengetahuan. Kendati demikian, sebagian besar pengetahuannya itu kurang mendetail. Mengingat waktu yang dimilikinya, ia tidak bisa mendapatkan pemahaman yang mendalam.
Pada akhirnya, ia memilih untuk tidak secara resmi bergabung dengan perguruan mana pun. Alasan utamanya adalah karena ia tidak bisa berhenti memikirkan para Abadi Musim Panas. Istilah itu seolah memiliki kekuatan aneh yang membuat pikirannya tidak bisa lepas darinya.
Pada akhirnya, Xu Qing tidak bisa melupakan apa yang disebutkan oleh Master setelah meningkatkan Prajurit Vajra Emas Patriark.
"Aku menempa ulang artefak itu menggunakan sihir Abadi Musim Panas yang kutemukan di beberapa catatan kuno. Hasilnya, sekarang kau bisa menyebutnya sebagai senjata abadi!"
Bulan bersinar terang saat ini, membuat bintang-bintang tidak begitu terlihat. Xu Qing duduk di halaman kediaman Ningyan, menengadah ke langit memandangi bulan dan memikirkan segala hal.
Dulu saat Master pertama kali menyebut istilah Abadi Musim Panas, aku tidak mengerti maksudnya. Aku berasumsi itu adalah semacam teori khusus yang berkaitan dengan benda-benda magis. Namun setelah datang ke ibu kota kekaisaran, dan mengobrol dengan Putri Anhai, aku mulai curiga ada lebih banyak hal di baliknya. Dan kecenderungan itu berlanjut selama sebulan terakhir yang kuhabiskan untuk belajar di Universitas Kekaisaran, terutama setelah pergi ke Perguruan Xeno-Abadi...
Cahaya bulan jatuh menimpa Xu Qing bagaikan selubung tipis, membuatnya tampak seolah-olah diselimuti oleh cahaya rembulan. Meskipun, cahaya yang memancar darinya dengan cepat berubah menjadi ungu.
Bagaimana mungkin Master tahu tentang teknik Abadi Musim Panas... Dan bagaimana ia bisa mahir menggunakannya? Kalau dipikir-pikir sekarang, sepertinya ia sedang menanamkan sebuah konsep ke dalam pikiranku melalui apa yang ia ucapkan. Sebuah benih yang akan bertunas seiring berkembangnya pemahamanku di sini, di ibu kota.
Xu Qing mengeluarkan Jarum Ketidakberuntungan dan memeriksanya.
Waktu berlalu. Sekitar dua jam kemudian, ia mendengar suara langkah kaki yang diiringi seseorang bersenandung kecil.
Kapten melenggang keluar sesaat kemudian. Ia sedang berada dalam suasana hati yang baik, dan jelas baru saja minum-minum. Saat melihat Xu Qing di bawah cahaya bulan, ia menyeringai.
"Ah Qing Kecil! Bagaimana keadaan di Universitas Kekaisaran? Rasanya aku sudah berhari-hari tidak melihatmu. Biar kuberitahu, aku baru saja menemukan tempat yang sangat bagus. Pernahkah kau dengar tentang Paviliun Debu Merah?"
Xu Qing bisa mencium bau alkohol saat sang Kapten duduk di sebelah bahunya dan menepuknya.
"Nah," lanjut sang Kapten, "Paviliun Debu Merah itu luar biasa."
Xu Qing mendongak menatapnya. "Aku pernah ke sana. Aku sedang dalam perjalanan pulang ketika upaya pembunuhan itu terjadi. Sudah kukatakan padamu."
Kapten mengerjap beberapa kali lalu tertawa. "Tentu saja aku ingat! Maksudku, aku pergi ke sana dengan tujuan khusus untuk menyelidiki upaya pembunuhan itu."
Kapten mengeluarkan kendi berisi alkohol dan menyerahkannya kepada Xu Qing.
Agar tidak merusak suasana hati sang Kapten, Xu Qing memutuskan untuk tidak membahas rubah tanah liat itu. Ia meneguk sedikit alkohol tersebut, dan hampir seketika merasa sedikit pusing. Itu tentu saja adalah Abadi Mabuk, minuman terkenal dari Paviliun Debu Merah.
"Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya sang Kapten sambil mengambil kembali kendi alkoholnya dan meneguk isinya.
Xu Qing berpikir sejenak. "Kakak Sulung... apakah kau tahu latar belakang Master kita?"
Sang Kapten tadinya hendak memiringkan kendi untuk minum lagi, tetapi ia berhenti dan menatap Xu Qing.
Menyadari ekspresi serius di wajah Xu Qing, sang Kapten terkekeh. "Orang tua itu? Latar belakangnya misterius. Maksudku, lihat saja murid-murid yang ia ambil. Ada aku, murid terpilih nomor satu di seluruh Daratan Kuno."
Xu Qing mengerjap beberapa kali lalu mengangguk dengan sungguh-sungguh.
Dengan ekspresi sangat puas, sang Kapten melanjutkan, "Lalu ada kau, murid terpilih nomor dua di seluruh Daratan Kuno. Saudara Seperguruan Kedua, heh heh. Yah, dia memang ditakdirkan untuk menikah, yang mana itu bagus. Kau mungkin sudah menebaknya, kan? Aku sempat merasa agak ragu, jadi terakhir kali saat aku kembali ke Kabupaten Penyegel Laut, aku memeriksanya untuk memastikan."
"Terakhir, ada Saudara Seperguruan Ketiga, si bajingan terkutuk itu. Percayalah, meskipun dia tampak bersikap rendah hati, orang itu adalah seorang perencana ulung luar dalam. Dan dia punya banyak rahasia. Faktanya, aku curiga... bahwa dia ada hubungannya dengan Kaisar Hantu!"
"Masalahnya adalah tidak ada yang tahu spesies apa Kaisar Hantu itu, atau dari mana asalnya. Namun senjatanya berisi tanda segel domain dewa, dan dia membunuh para kultivator domain dewa. Jadi, katakan padaku. Bagaimana mungkin seorang ahli top seperti itu tidak memiliki sejarah yang luar biasa? Oleh karena itu, berdasarkan semuanya, aku memiliki spekulasi yang sangat liar, yaitu bahwa dia sebenarnya berasal dari..."
Sang Kapten menunjuk ke arah kubah langit.
Pupil mata Xu Qing menyempit. Kubah langit berisi wajah dewa yang hancur, dan di baliknya terdapat langit berbintang. Dan masih ada lagi.
"Tanah suci!" Sang Kapten bersendawa lalu tertawa. "Pokoknya, itu murni spekulasi dariku. Mengenai Master, yah, biar kuberitahu sebuah rahasia kecil. Di salah satu kehidupanku di masa lalu, aku pernah bertemu seseorang yang sangat mirip dengan orang tua itu. Mereka tidak berwajah sama. Rasanya lebih mirip ke suatu perasaan..."
Mata Xu Qing menyipit.
"Satu hal lagi. Di kehidupan ini, saat aku baru saja menjadi seorang murid, aku ingat merasa seolah-olah aku pernah melihatnya sebelumnya lebih dari satu kali. Kendati demikian, aku kehilangan banyak ingatannya." Sambil menggelengkan kepala, sang Kapten berdiri dan meregangkan tubuhnya. "Jangan terlalu dipikirkan, Ah Qing kecil. Jadilah sepertiku. Fokus saja untuk berbahagia. Jalani setiap hari sebaik-baiknya. Itulah cara terbaik untuk hidup."
Sambil berjalan agak sempoyongan, sang Kapten berjalan menuju kamarnya. Namun, setelah melangkah sekitar tujuh atau delapan langkah di bawah cahaya bulan, ia berhenti dengan punggung menghadap ke arah Xu Qing.
"Ah Qing kecil, apakah kau ingat apa yang kukatakan kepadamu dulu di Tujuh Darah Mata Hujan saat kau menjadi seorang murid?
"Satu sujud untuk Kaisar Kuno. Tiga sujud untuk langit dan bumi. Sembilan sujud untuk Master.
"Kaisar Kuno Ketenangan Kelam adalah pendiri agung. Semua manusia berhutang satu sujud penghormatan kepadanya.
"Langit, bumi, surgawi, terestrial. Mereka menanggung beban segalanya. Semua manusia berhutang tiga sujud penghormatan kepada mereka.
"Betapa pun hebatnya Kaisar Kuno, ia tidak pernah melimpahkan nikmat kepadamu. Langit dan bumi, serta semua makhluk hidup lainnya di lautan penderitaan ini, tidak melakukan apa pun untuk menyelamatkanmu. Hanya Master yang akan naik ke surga dan turun ke neraka demi dirimu. Hanya dia yang akan melimpahkan nikmat kepadamu. Hanya dia yang akan menyelamatkanmu. Hanya dia yang akan mengerahkan seluruh tenaganya agar kau bisa menempuh jalur agung. Oleh karena itu, kau berhutang sembilan sujud penghormatan kepadanya!"
Saat cahaya bulan menyinari halaman tersebut, suara sang Kapten seolah bergema dari masa lalu yang kuno ke dalam kehidupan saat ini.
"Dalam kehidupan ini, bukan hanya kau dan aku yang akan menjelajahi dunia bersama. Kita akan melakukannya bersama Master juga."
Chapter 769 · 8m baca
Favor in This Life leads to Success in the Next
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter