Beyond the Timescape - Chapter 754 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 754 · 8m baca

Romance and Drunken Immortal in the Red Dust

by Er Gen

Di dalam surga duniawi di Paviliun Debu Merah itu, obrolan, tawa, dan musik mengalir seiring berinteraksinya para pria dan wanita muda, membuat suasana kian hanyut dalam emosi.

Indra tajam Xu Qing menangkap bahwa saat emosi semakin menggelora, ada formasi mantra yang sedang bekerja. Formasi-formasi itu mirip dengan formasi konvergensi energi dari masa-masa awal kultivasinya. Semuanya dirancang untuk menghimpun tujuh emosi dan enam hasrat indrawi.

Xu Qing memandangi minuman beralkohol di dalam cangkir di depannya dengan penuh pertimbangan. Warnanya amber pekat dan memiliki aroma yang sangat khas. Dari seteguk yang tadi ia kecap, ia tahu bahwa minuman ini luar biasa.

"Itu adalah kekhasan dari Paviliun Debu Merah kami," ucap wanita muda yang duduk di sampingnya. "Manusia biasa tidak bisa meminumnya. Bahkan satu teguk saja bisa merenggut nyawa mereka. Namanya Adalah Dewa Mabuk, dan meskipun mengandung bahan-bahan yang menakjubkan, mereka yang berada di bawah Alam Pemulangan Kekosongan akan kesulitan mencernanya. Faktanya, bagi mereka, minuman ini bisa dianggap sebagai racun."

"Kendati demikian, minuman ini tidak akan melukiskanmu. Justru ini dianggap sangat berharga. Seperti yang kau tahu, proses kultivasi mengubah tubuh fisik kita menjadi sesuatu yang luar biasa, dan terkadang, hal itu membuat kita sulit mabuk. Dewa Mabuk adalah satu-satunya minuman beralkohol yang benar-benar bisa membuatmu merasakan kemabukan. Dan itu membuat pelepasan emosi menjadi lebih mudah."

"Formasi mantra di Paviliun Debu Merah ini memang dirancang dengan mempertimbangkan tujuan kultivasi."

Xu Qing mengamati sekeliling dan mencoba mencerna apa yang baru saja ia dengar. Baginya, racun adalah sesuatu untuk membunuh orang. Terasa aneh melihat orang-orang menggunakannya untuk mabuk. Hal semacam itu tidak pernah ia jumpai di Phoenix Selatan maupun Wilayah Penyegel Laut.

Mungkin begitulah cara kerja berbagai hal di ibu kota kekaisaran.

Xu Qing tidak begitu menyetujuinya, tetapi ia juga tidak berniat untuk mengungkapkan pendapatnya. Ia sudah merasakan bahwa formasi mantra di tempat ini sedang mengumpulkan emosi, dan ia juga bisa merasakan para wanita dari Paviliun Debu Merah sedang menyerap kekuatan dari emosi-emosi tersebut.

Lingkungan ini benar-benar tidak cocok untuk Xu Qing. Saat mengedarkan pandangan, ia melihat Meng Yunbai sedang minum dan bersenang-senang. Huang Kun berada di sisi lain, alisnya menari-nari naik turun saat ia berbisik kepada gadis di sebelah kanannya.

Xu Qing merasa dirinya tidak cocok berada di sini. Tak ingin membuang-buang waktunya, ia bersiap untuk pergi ketika tiba-tiba, sebuah cahaya menyilaukan muncul. Sebuah portal teleportasi merah terang terbentu di atas permukaan pemandian air panas abadi, dan dua sosok pun muncul darinya. Keduanya adalah wanita. Sosok yang memimpin di depan adalah seseorang yang dikenali oleh Xu Qing. Dialah 'nenek' yang telah memandu jalan mereka ke tempat ini.

Kehadiran sosok kedua seketika membuat seluruh surga duniawi itu redup dan kehilangan warna karena pancaran pesonanya semata. Semua mata langsung tertuju padanya. Kaisar Muda dari Sekte Keunggulan Kaisar Bintang menatapnya dengan pandangan yang membara penuh gairah. Dialah alasan mengapa ia datang ke sini. Kerudung katun di wajahnya hanya menampakkan sepasang matanya yang berkilau bagaikan telaga di musim semi. Ia mengenakan pakaian tipis berwarna merah muda dengan jubah luar tanpa lengan berbahan sutra merah dan hijau, bersulamkan burung phoenix. Pakaian itu dengan sempurna menonjolkan pinggangnya yang ramping serta pergelangan tangannya yang gemulai.

Bentuk tubuhnya samar-samar terlihat dibalik balutan kain tersebut, membuatnya tampak sangat memikat. Ia membawa sebuah pipa antik, dan rambutnya dicepol ke atas lalu disematkan dengan hiasan bunga Peony.

Ia adalah seorang wanita berparas luar biasa, tipe kecantikan yang mampu membuat segala bunga kehilangan warna dan menghidupkan seluruh makhluk hidup. Ia berjalan dengan anggun menuju tepi pemandian air panas abadi, lalu mendekati perkumpulan itu. Setelah membungkuk hormat, ia duduk di atas sebuah pilar giok kecil dan mulai memetik dawai musik dengan jemarinya yang lentik.

Lagu itu bermula dengan lembut dan dibayangi oleh rasa penyesalan, seolah-olah sedang menceritakan sebuah kisah yang takkan pernah usai... Seiring berjalannya waktu, iramanya semakin cepat, bagaikan kupu-kupu yang menari gemulai dihembuskan angin, atau gemercik air musim semi yang mengalir menuruni gunung. Seolah-olah wanita muda itu sedang mengenang masa-masa indah yang dihabiskan bersama kekasih hatinya. Semua orang tersentuh oleh keindahannya.

Namun kemudian, alunan lagu itu berubah, bertransisi menjadi kisah tentang perpisahan dan kepedihan meninggalkan. Rupanya, sang kekasih harus pergi berperang. Ia tidak punya pilihan selain pergi, dan tidak meninggalkan apa pun selain kenangan. Nada musik itu berubah menjadi duka luhur, seolah senandung itu sedang berbisik kepada sang kekasih... "Ke mana pun kau pergi, auramu tetap tinggal. Saat kau di sini, musik mengalun. Saat kau pergi, musik itu menjelma menjadi dirimu."

Semua orang semakin dibuat terenyuh.

Lambat laun, alunan musik pipa itu kembali berubah. Kali ini, nadanya menjadi hidup dan bernuansa kepahlawanan. Bahkan terasa agresif. Alunan itu memicu kemunculan butiran salju yang berhembus melayang. Atap surga duniawi itu berubah menjadi gelap gulita, lalu bintang-bintang gemerlapan muncul, berputar-putar menyatu hingga menjelma menjadi sebuah batu nisan.

Emosi para penonton bergemuruh tatkala mereka menyadari bahwa wanita itu mendapati kabar kekasih hatinya gugur di medan perang. Musik itu memancarkan kemarahan, memuat kebencian yang tak berdaya terhadap dunia.

Laksana bait puisi:

Sepuluh ribu mil jauhnya, tiada siapa yang datang mengumpulkan tulang-belulang. Semua rumah di kota memanggil jiwa-jiwa untuk dikuburkan.

Sang suami gugur di medan perang saat anak dalam kandungan belum terlahir; sang istri masih bernyawa, namun bagaikan lilin di siang hari.

Pemandian air panas abadi dan surga duniawi itu diselimuti keheningan total. Sebagian orang teringat pada Kaum Nightshade. Sebagian teringat pada umat manusia. Yang lain lagi teringat pada para leluhur klan mereka.

Pada akhirnya, alunan musik itu berhenti, dan nada terakhirnya bergetar perlahan hingga bertransformasi menjadi nada yang sama persis seperti awal mula lagu itu dimainkan. Seolah-olah melodi tersebut telah melintasi ruang dan waktu, kembali ke masa lalu untuk sekali lagi mendesah saat kehidupan dimulai kembali...

"Luar biasa!" seru sang kaisar muda sambil bangkit berdiri, matanya berkilat-kilat. Semua orang ikut berdiri menyusulnya, melontarkan pujian bertubi-tubi.

Bahkan Xu Qing pun ikut tersentuh. Ia pernah mendengarkan musik sebelumnya, tetapi tidak pernah yang seperti ini. Rasanya bagaikan menyimak sebuah kisah utuh yang berhasil menariknya masuk sepenuhnya ke dalam alur cerita.

Wanita muda itu menundukkan kepala, lalu mengangkat piala berisi minuman beralkohol di depannya, mengangkatnya ke arah kerumunan, dan meneguknya.

Tindakan itu membuat kerudungnya bergeser ke samping, menyingkapkan wajahnya. Kulitnya seputih giok dan secantik bunga, dan kulit mulus di pergelangan tangannya saat ia mengangkat wadah minum itu tak kalah memikatnya. Bibirnya merah bagaikan cinnabar, dan saat ia meletakkan kembali wadah minum itu, ia tersenyum memikat.

Semua orang yang memperhatikan merasa kesulitan untuk menjaga ketenangan diri.

Melihat gejolak emosi yang tercipta, sang 'nenek' tersenyum. "Para Tuan Muda sekalian, makhluk abadi yang cantik ini adalah Nona Ling Yao. Secara normal, Nona Ling Yao tidak pernah menampakkan diri di muka umum, tetapi setelah mendapati ada tamu istimewa hari ini, aku mengeluarkan undangan kepadanya dan ia menerimanya. Para Tuan Muda sekalian, aku yakin kalian semua tahu aturan yang dipegang oleh Nona Ling Yao."

Mendengar itu, Kaisar Muda Peng mengangguk. "Tentu saja kami tahu. Nona Ling Yao akan duduk di sebelah siapa pun yang menarik perhatiannya. Tidak ada seorang pun yang bisa memaksanya untuk duduk di tempat yang tidak ia inginkan."

Begitu kata-kata itu meluncur dari bibirnya, ia melirik penuh makna ke arah Ling Yao. Ia datang ke tempat ini hari ini demi wanita itu, dan ini bukanlah kali pertama ia menunjukkan ketertarikan. Terlebih lagi, berdasarkan informasi yang bisa diaksesnya, wanita itu juga menaruh minat padanya.

Yang terpenting, para kultivator wanita di Paviliun Debu Merah semuanya mengkultivasikan jalan penekanan emosi. Tentu saja, sebelum seseorang bisa menekan emosi, mereka harus melepaskannya terlebih dahulu. Dan pelepasan emosi tidak bisa terjadi begitu saja secara acak. Dalam kaitannya dengan kali pertama mereka berlatih kultivasi ganda, kaum pria bisa sangat berguna bagi para wanita ini. Dan semakin tinggi tingkat basis kultivasi yang terlibat, semakin luar biasa pula kegunaan tersebut.

Dengan meminjam kekuatan dari Ling Yao, aku akan memiliki peluang yang jauh lebih baik untuk melangkah dari lingkaran besar Kumpulan Roh ke Alam Pemulangan Kekosongan. Faktanya, peluangku akan meningkat secara eksponensial.

Saat Kaisar Muda Peng memikirkan hal-hal tersebut, Ling Yao memetik kembali pipa di pangkuannya. Mata gelapnya berkilau, pesonanya meluap-luap, merebut jiwa siapa pun yang memandang. Ia menyapu pandangan ke arah kerumunan, lalu memusatkannya pada Xu Qing. Sambil tersenyum, ia berjalan menghampiri dan, di bawah tatapan semua orang yang terpaku, duduk di sebelah pria itu.

Xu Qing menegang kaku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pada saat yang sama, ia meningkatkan kewaspadaannya. Ia tidak mengenali wanita ini, dan mengingat mereka belum pernah bertemu sebelumnya, pasti ada maksud tersembunyi di balik tindakannya duduk di sampingnya. Sambil mengerutkan kening, ia menoleh untuk menatapnya.

Mata Ling Yao berbinar saat ia menatap balik ke arahnya dan berucap pelan, "Untuk apa kau menatapku seperti itu, Tuan Muda?"

Suaranya yang lembut membuat jantung Meng Yunbai berdegup kencang. Sementara Kaisar Muda Peng, ia memalingkan wajah tanpa ekspresi, meneguk minumannya, lalu meletakkan cangkirnya dan memejamkan mata. Semua orang yang hadir menunjukkan ekspresi yang beragam saat mereka bergantian memandangi Xu Qing, lalu sang kaisar muda. Mereka saling bertukar pandangan penuh makna.

Tak lama kemudian, pemuda yang duduk di sebelah kaisar muda menatap Xu Qing dan tertawa lepas. "Saudara Xu, kau benar-benar naga di antara para pria. Ini adalah kunjungan pertamamu ke sini, tetapi Nona Ling Yao sudah telanjur terpikat padamu. Aku harus menyampaikan ucapan selamat, Saudara Xu. Mari, izinkan aku menawarkan siulang untukmu. Ke depannya, kita harus terus menjaga hubungan baik!"

Ia mengangkat wadah minumnya dengan sopan dan meneguk isinya.

Baik pilihan kata maupun sikapnya sangatlah santun, sehingga Xu Qing tidak memiliki alasan yang bagus untuk menolak siulang tersebut. Sambil mengangkat wadah minumnya, ia pun turut meneguk minumannya. Begitu ia selesai, tamu lainnya bangkit mengangkat cangkir.

"Saudara Xu, kau adalah pria berpenampilan memukau dan penuh bakat. Kau juga pelaksana tugas gubernur dari salah satu wilayah perbatasan. Aku telah banyak mendengar tentangmu selama bertahun-tahun ini, dan sekarang setelah bisa melihatmu secara langsung, aku semakin terkesan. Izinkan aku bersulang untukmu tiga kali berturut-turut."

Pemuda itu minum bersama Xu Qing sebanyak tiga kali berturut-turut. Xu Qing menyadari apa yang sedang terjadi. Tak lama kemudian, semua orang ikut bersulang dengannya, semuanya berbicara dengan sangat santun dan mempertahankan ekspresi yang hangat serta ramah. Tujuan mereka sudah sangat jelas, dan tidak banyak yang bisa dilakukan untuk menghentikannya. Pada suatu titik, Meng Yunbai tampak siap berdiri dan melakukan intervensi, namun Xu Qing mencegahnya.

Minuman beralkohol yang telah 'diracuni' ini mungkin bisa membuat orang lain mabuk, tapi tidak dengan Xu Qing. Selama sesuatu itu mengandung 'racun', ia sama sekali tidak perlu mengkhawatirkannya. Oleh karena itu, ia tidak menolak siulang apa pun, melainkan menenggak demi segelas demi segelas. Setelah semua minuman habis, banyak tamu lain yang mulai terhuyung-huyung ke kiri dan ke kanan, sementara Xu Qing tetap terlihat sama seperti biasa. Semua orang kini menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.

Sementara itu, Xu Qing telah mengingat dengan baik nama dan wajah setiap orang yang hadir. Kemudian ia tersenyum.

"Aku sangat senang bisa bertemu dengan kalian semua, para pahlawan luar biasa hari ini," ujarnya. "Kalian adalah pilar-pilar umat manusia, dan kalian semua adalah para jenius. Orang-orang seperti kita memikul tanggung jawab untuk meneruskan kejayaan seluruh umat manusia. Mengingat hal itu, bagaimana jika kita mulai minum satu kendi sekaligus?"

Ia menatap sang 'nenek'.

Wanita paruh baya itu jelas terkejut, namun ia langsung memanggil seorang pelayan dan memerintahkannya untuk membawakan kendi-kendi minuman beralkohol yang cukup untuk semua orang.

Para tamu lainnya ragu-ragu. Tak seorang pun dari mereka yang berani meminum terlalu banyak minuman beralkohol ini. Terkadang, alkohol itu sendiri bisa dianggap sebagai sebuah senjata.

Menjaga ketenangan di dalam hatinya, Xu Qing tersenym seperti yang diajarkan oleh Kakak Tertuanya.

"Silakan diminum!"

Banyak dari para tamu yang lain ragu-ragu. Akhirnya, sang kaisar muda membuka matanya, menatap Xu Qing, lalu bangkit berdiri.

"Aku lelah. Mari kita berkumpul lagi lain waktu."

Semua orang ikut berdiri. Melihat itu, Meng Yunbai melirik meminta maaf ke arah Xu Qing, lalu mengerutkan kening dan membuka mulutnya untuk berbicara.

Sebelum ia sempat bersuara, cahaya berkilauan di atas pemandian air panas abadi saat seorang wanita tua berambut putih melangkah keluar. Ekspresinya tampak suram, dan matanya memancarkan ketegasan. Semua orang terpana melihat kemunculannya. Seluruh kultivator wanita berdiri dan membungkuk hormat kepadanya.

"Pimpinan Besar."

Bahkan sang kaisar muda beserta rekan-rekannya tampak begitu serius saat membungkuk kepadanya. Hal itu menunjukkan betapa pentingnya kedudukan wanita tua tersebut. Dia sebenarnya adalah seorang tetua agung di Paviliun Penekanan Emosi Debu Merah, dan memegang kendali atas seluruh urusan sekte di kota ini. Ia mengangguk kepada sang kaisar muda dan yang lainnya. Bagi wanita tua itu, mereka pada dasarnya hanyalah anak-anak kecil yang tidak layak untuk diberi perhatian. Tatapannya dengan cepat beralih ke arah Xu Qing, dan seketika ekspresinya berubah menjadi hangat.

"Kau pasti Tuan Muda Xu?"

Gunakan ← → untuk pindah chapter