Saat Xu Qing melihat sekeliling di tengah riuh teriakan dan pekikan, gerbang besar yang baru saja mereka lewati terbanting menutup, menerbangkan kepulan debu ke segala arah. Suara itu terdengar seperti tiupan sangkakala, memantik semangat para pemulung di sekitarnya hingga menjadi semakin liar dan bersemangat.
Xu Qing juga melihat sebuah panggung tinggi tepat di depan sana. Seorang paruh baya dalam balutan jubah brokat tampak berjalan menaiki panggung, diikuti oleh sekelompok pengikut di belakangnya.
Jaraknya begitu jauh sehingga Xu Qing tidak bisa melihat detail wajahnya dengan jelas. Namun, sangat jelas bahwa pria itu adalah sesosok orang penting. Meskipun ada jarak yang cukup jauh di antara mereka, Xu Qing dapat merasakan fluktuasi kekuatan spiritual memancar dari tubuh pria itu, dan levelnya jauh melampaui tingkat kultivasinya sendiri.
Hal itu saja sudah membuat Xu Qing meningkatkan kewaspadaannya. Meskipun ia tidak bisa memastikannya seratus persen, sangat mungkin pria ini adalah pemilik kamp. Dugaan ini semakin diperkuat oleh fakta bahwa pria berjanggut kambing yang ia lihat kemarin berdiri di sampingnya, membisikkan sesuatu ke telinganya.
Pemilik kamp itu mengangguk, lalu duduk. Pria berjanggut kambing tersebut tetap berdiri di sampingnya, menatap ke bawah ke arah arena.
Satu gerbang kayu besar lainnya terbuka, disusul oleh suara lolongan binatang buas dari baliknya.
Pada saat yang sama, beberapa pemulung bermunculan.
Ada empat kelompok, yang masing-masing terdiri dari tiga orang. Mereka sedang menarik kandang-kandang besi besar, yang di dalamnya berisi buasnya binatang-binatang yang menggeram dan menerkam batangan besi pembatas.
Pandangan mata Xu Qing menyapu melewati kandang-kandang tersebut.
Ia melihat dua ekor serigala raksasa, yang satu lebih besar dari yang lain. Keduanya memiliki taring yang tajam bagai silet, tubuh hitam pekat, dan mata merah darah. Air liur menetes dari rahang mereka saat mereka menatap dengan keganasan brutal ke arah Xu Qing dan keempat peserta pertarungan lainnya.
Ada seekor beruang berbulu merah darah dengan tungkai yang lebih tebal daripada paha manusia dewasa. Ekspresi buas tersungging di wajahnya saat ia berulang kali mengguncang kandangnya. Butuh banyak tenaga dari para pemulung untuk menjaga agar kandang itu tetap stabil.
Di kandang terakhir terdapat seekor binatang buas yang tampak tidak terlalu mengintimidasi dibandingkan yang lain. Itu adalah seekor owa, dengan kulit yang dipenuhi bisul-bisul mengerikan. Dalam pemandangan yang menyeramkan, makhluk itu berulang kali melemparkan dirinya ke jeruji besi, menyebabkan beberapa bisulnya pecah.
Kedatangan binatang-binatang buas itu memicu raungan gemuruh dari kerumunan penonton.
Kedua pemuda di kelompok Xu Qing terlihat semakin pucat, dan gadis itu tampak benar-benar ketakutan. Bahkan pemuda yang lebih tua, yang sebelumnya sudah menjadi pemulung, tampak gugup.
Kenapa hanya ada empat? pikir Xu Qing, melirik kembali ke arah jalan tembusan yang terbuka.
Saat ia memikirkannya, keempat binatang buas yang melolong tadi tiba-tiba terdiam sepenuhnya, seolah-olah mereka telah diintimidasi hingga membisu. Pada saat yang sama, sebuah kandang besi yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dari yang lain muncul, ditarik oleh enam orang pemulung.
Seseorang di tengah kerumunan berteriak, "Anaconda bertanduk raksasa!"
"Aku tidak percaya pemilik kamp membawa seekor anaconda bertanduk raksasa! Yah, kurasa itu masuk akal juga. Baginya, binatang seperti itu tidak ada apa-apanya."
"Siapa pun dari bocah-bocah ini yang mendapatkan ular itu pasti mati. Bahkan jika salah satu dari kita berpapasan dengan makhluk itu di alam liar, kita akan membutuhkan rekan untuk bisa menjatuhkannya. Itu pun belum tentu berhasil."
Anaconda yang lebih tebal dari pinggang orang dewasa itu berwarna abu-abu gelap, dengan corak yang tampak menggambarkan gugusan pegunungan berbentuk tanduk. Ia meringkuk di dalam kandangnya, kepalanya yang besar terangkat dan mata kuningnya menatap dingin ke dunia di sekitarnya. Ketika tatapan sang ular bergeser ke arah serigala-serigala dan juga si owa, makhluk-makhluk lain itu langsung gemetar ketakutan. Adapun si beruang merah, ia meraung ke arah ular itu, namun pada saat yang sama, perlahan-lahan mundur hingga berada di sisi terjauh kandang.
"Jangan biarkan aku mendapatkan ular itu. Aku benar-benar, sangat tidak boleh memilih ular itu...." Di belakang Xu Qing, kedua pemuda itu menggigil dan merapalkan doa dengan permohonan yang sama.
Sementara itu, mata Xu Qing berkilat. Ia pernah melihat jenis anaconda bertanduk raksasa ini sebelumnya. Dulu saat ia masih tinggal di daerah kumuh, ia ingat seorang pemburu pernah membawa bangkai ular jenis ini. Menurut apa yang didengar Xu Qing, ular semacam ini begitu kuat hingga mampu melilitkan tubuhnya pada sebatang pohon dan mematahkannya menjadi dua. Ia memiliki sisik yang sangat keras, memungkinkannya menahan lebih banyak serangan, tetapi di sisi lain, gerakannya tidak terlalu cepat. Selain itu, kantung empedunya memiliki khasiat obat yang luar biasa dan dapat membuang kotoran dari tubuh. Daging ular itu sendiri juga sangat menutrisi.
Sesampainya pada alur pemikiran itu, Xu Qing teringat pada Sersan Guntur dan bagaimana pria itu pernah menyebutkan bahwa ia suka makan daging ular.
Kemudian Xu Qing teringat bagaimana ia sering menangkap ular semasa kecil, dan ia pun menjilat bibirnya.
Seiring dengan kemajuan kultivasinya, bercak mutasi di tubuhnya semakin menggelap. Dan selama latihannya semalam, bercak itu bahkan mulai terasa sakit. Ia memiliki firasat bahwa jika ia bisa memakan kantung empedu ular ini, hal itu mungkin akan membantu meringankan kondisinya.
Ia terus memaku pandangannya pada anaconda raksasa itu seiring waktu undian yang semakin dekat.
Pria berjanggut kambing meminta pemulung lain untuk membawa lima batang bambu, yang di atasnya terukir nama-nama binatang buas.
Pemuda tertua adalah yang pertama mengambil undian. Ketika melihat binatang apa yang harus ia lawan, ia mengembuskan napas lega yang terlihat jelas.
Berikutnya adalah kedua pemuda yang lebih muda, lalu si gadis.
Kedua pemuda itu tampak berdoa dengan khusyuk saat mengambil undian mereka. Setelah melihat hasilnya, ekspresi kesakitan terukir di wajah mereka.
Gadis itu hanya menatap putus asa pada hasil yang ia dapatkan. Ia mendapatkan anaconda bertanduk raksasa. Batang bambu terakhir diserahkan kepada Xu Qing. Itu adalah bagian untuk serigala yang lebih kecil dari dua serigala yang ada, yang jelas merupakan yang paling lemah di antara kelima binatang buas tersebut. Melihat batang bambu yang ia pegang, ia mengerutkan kening.
Para pemulung pergi, dan para peserta pertarungan dibawa ke sebuah kandang kecil di pinggir agar mereka bisa menonton dengan aman. Kerumunan penonton meraung saat pertarungan pertama diumumkan.
Yang pertama bertarung adalah salah satu pemuda tadi. Dengan tubuh gemetar, ia melangkah maju ke arena pertarungan untuk menghadapi beruang merah.
Pertarungan itu berlangsung cepat. Pemuda tersebut sama sekali bukan tandingan sang beruang. Ia hanya mampu bertahan selama beberapa pukulan saja, lalu jatuh ke tanah dan dicabik-cabik hingga berkeping-keping.
Darah terciprat ke mana-mana. Sekitar separuh penonton bersorak sorai, sementara separuh lainnya melontarkan caci maki kepada peserta yang tewas itu karena membuat mereka kehilangan uang taruhan.
Pemandangan itu membuat pemuda satu lagi yang seharusnya bertarung setelahnya menjadi gemetar ketakutan, dan memohon agar ia bisa mundur dari pertarungan ini.
Kerumunan penonton mendesis tidak senang saat seorang pemulung menyeret pemuda itu pergi.
Urutan ketiga adalah pemuda yang sudah berpengalaman sebagai pemulung. Ia dipasangkan dengan serigala yang lebih besar. Berbekal pengalamannya sebagai pemulung, ia jauh lebih kejam daripada orang kebanyakan.
Setelah beberapa ronde pertarungan yang sengit, ia berhasil memegang kendali dan membunuh serigala tersebut, meskipun ia terengah-engah di akhir pertarungan. Dengan demikian, ia menjadi pemenang pertama dalam ujian ini. Gerbang terbuka, dan ia berjalan keluar sambil membungkuk menahan sakit.
Urutan keempat... adalah sang gadis.
Saat anaconda bertanduk raksasa dikeluarkan dari kandangnya, ia mengatupkan giginya rapat-rapat dan berjalan melewati Xu Qing dengan kepiasaan di matanya.
Namun, sebelum ia sempat melangkah keluar menuju arena, Xu Qing berkata, "Mari kita tukar."
Gadis itu menghentikan langkahnya dan menatapnya dengan terkejut. Sebelum ia sempat berbuat atau berkata apa-apa, Xu Qing menyerahkan batang bambunya dan mengambil milik gadis itu, yang bertuliskan 'anaconda bertanduk raksasa'. Tanpa memperdulikan tatapan penuh rasa terima kasih di mata sang gadis, ia berjalan keluar menghadapi ular tersebut.
Kerumunan penonton melolong riuh, karena banyak dari penonton yang memang memperhatikan urutan peserta pertarungan.
Kendati demikian, selain orang-orang yang sudah memasang taruhan pada dirinya atau si gadis, tidak ada yang terlalu peduli. Pemilik kamp pun tidak keberatan dan membiarkan semuanya berjalan begitu saja.
Xu Qing terus memaku pandangannya pada ular besar itu saat ia merayap pelan ke area terbuka, sisiknya bergesekan dengan jeruji besi di sepanjang jalurnya.
Meskipun secara instingtif ular itu memfokuskan perhatian padanya, ia berbeda dari mangsa yang biasa dihadapi hewan itu. Alhasil, ia tidak langsung menyerang. Sebaliknya, ular itu melingkar di luar kandangnya, lalu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi ke udara seolah mencoba memutuskan apa yang harus ia lakukan terhadap manusia di hadapannya.
Sorak-sorai penonton semakin membahana, sementara cemoohan mulai mereda.
Ekspresi Xu Qing tetap sama seperti biasa saat ia melangkah maju. Mungkin karena ia telah memasuki jangkauan serangan ular itu, atau mungkin karena atmosfer yang diciptakan oleh para penonton, mata kuning anaconda raksasa itu tampak semakin dingin. Ia menghantamkan ekornya ke tanah hingga menghasilkan suara dentuman keras yang menggema di dalam arena, lalu melompat menerkam dengan mulut terbuka lebar, memperlihatkan barisan taring yang tajam bagai silet. Aroma menyengat berhembus keluar saat ia melesat ke arah Xu Qing untuk melahapnya.
Xu Qing menatap dingin ke arah ular yang meluncur ke arahnya. Tepat saat makhluk itu hendak mengenainya, ia melompat ke samping. Ia tidak langsung melancarkan serangan balasan; sebaliknya, ia mengabaikan kepala raksasa yang melesat lewat di sisinya, lalu fokus mengincar bagian perut sang ular bagaikan seorang pemburu yang terampil.
Rahang raksasa itu hanya menggigit udara kosong.
Ular itu mendesis marah sambil melibas ekornya ke arah Xu Qing. Mengandalkan instingnya, ia menggerakkan kepala dan ekornya seolah sedang berburu di alam liar, membentuk lingkaran seolah berniat melilit tubuh pemuda itu.
Xu Qing tetap tenang dan memfokuskan pandangannya pada bagian perut. Saat ekor itu mendekat, ia mengepalkan tangan kanannya dan melayangkan pukulan.
BAM!
Ia baru melatih Mantra Laut dan Gunung hingga tingkat pertama, tetapi itu saja sudah memberikan dorongan yang signifikan pada kekuatan fisik tubuhnya. Ia menghantam ekor tersebut hingga terpental ke samping. Sang anaconda jelas terluka, tetapi itu bukanlah pukulan yang mematikan. Faktanya, hal itu justru membuatnya semakin marah. Matanya membara, dan ia kembali menyerang Xu Qing dengan rahang raksasa yang menganga lebar.
Namun, saat itulah mata Xu Qing berkilat tajam ketika ia menemukan celah yang telah ia nantikan, dan ia melangkah maju mendekati ular tersebut.
Dengan kepalan tangan kanannya, ia melancarkan pukulan bertubi-tubi yang ganas. Disusul pukulan kedua, dan ketiga....
Hantaman kepalan tangan meluncur deras bagai badai!
Serangan membabi buta itu memaksa sang ular mundur. Ular itu mendesis kesakitan sambil mencoba melilit tubuhnya. Namun, pukulan Xu Qing begitu kuat hingga ia tidak memiliki kesempatan untuk berhasil.
Akhirnya, hantaman yang mendarat telak di bagian perut membuat sisik-sisik lemah di sana hancur berkeping-keping dan darah terciprat keluar. Makhluk itu jelas-jelas terluka parah.
Melihat hal itu, Xu Qing tidak memberinya kesempatan untuk mengubah posisi.
Dengan mata yang memancarkan kilat dingin, tangan kirinya terulur mencabut belati, lalu menancapkannya langsung ke daging sang anaconda.
Ia kemudian merobek bilah pisaunya melintang di tubuh makhluk tersebut.
Darah menyembur ke mana-mana sementara anaconda bertanduk raksasa itu melengking kesakitan. Luka menganga yang mengejutkan dan mengerikan terbuka di perut sang ular, memperlihatkan kantung empedu di dalamnya.
Ular itu memang berukuran raksasa, tetapi itu terjadi akibat mutasi. Alhasil, kantung empedunya sebenarnya berukuran kecil, kurang lebih sebesar telur ayam.
Tanpa ragu sedikit pun, Xu Qing memasukkan tangannya ke dalam luka tersebut, menggenggam organ itu, dan merobeknya keluar. Ular itu melolong kesakitan.
Darah menghujani tanah berpasir di bawah kaki mereka.
Mengabaikan ceceran darah dan kotoran, Xu Qing menggenggam kantung empedu itu sejenak sambil menyapu pandangan ke arah para pemulung. Kemudian ia memasukkan organ tersebut ke dalam mulutnya dan menelannya.
Sementara itu, sang ular yang masih hidup meronta-ronta sambil melolong. Matanya liar, ia kembali menerkam ke arah Xu Qing, seolah berharap bisa menelannya hidup-hidup.
Xu Qing menatapnya dingin, dan pada detik terakhir, ia melompat ke udara. Di tengah udara, tangan kanannya terulur menggenggam sebuah tusuk sate besi hitam.
Dengan mata yang membara oleh niat membunuh, ia meluncur turun dan memanfaatkan momentum serta berat tubuhnya untuk mendorong tusuk sate tersebut, menancapkannya tepat di area jantung sang ular.
Tusuk sate itu menghancurkan sisik-sisik keras bagaikan palu yang memecahkan es batu.
Suara gemuruh bergema di dalam arena saat anaconda bertanduk raksasa itu bergetar hebat. Lalu kepala dan ekornya terkulai lemas di atas tanah disertai lolongan putus asa terakhir. Pada akhirnya, ular itu mengepakkan ekornya sekali lagi menghantam tanah.
Seiring suara itu mereda... debu pun mengendap, dan kerumunan pemulung menatap ke bawah dengan rasa tercengang.
Cukup banyak penonton yang berdiri dari tempat duduk mereka, menatap sang pemuda dengan tusuk sate besi di tangannya yang berdiri di atas bangkai anaconda. Mereka tidak akan bereaksi sedemikian rupa jika ular itu dibunuh oleh seorang orang dewasa yang kuat. Namun, ini adalah seorang anak kurus yang dengan efisien berhasil merengkuh kantung empedu, lalu membunuh sang ular, sembari tetap mempertahankan ekspresi wajah yang dingin dan tanpa emosi.
Bahkan di dalam kamp markas pemulung sekalipun, hal ini adalah pemandangan yang tidak biasa.
Serigala kecil dan beruang merah yang masih berada di dalam kandang mereka begitu ketakutan hingga mereka meringkuk gemetar di sudut.
Rasanya seolah-olah ini bukanlah sebuah ujian, melainkan perburuan sesungguhnya.
Di bawah tatapan para penonton, Xu Qing menyimpan kembali tusuk sate besinya, memasukkan tangannya ke dalam luka menganga di tubuh ular untuk mengangkat bangkainya, lalu berjalan menuju pintu keluar, meninggalkan jejak darah segar yang panjang di belakangnya.
Setibanya di gerbang keluar dan mendapati pintu itu belum terbuka, ia pun menoleh ke belakang.
Saat kemudian, pria berjanggut kambing yang berdiri di panggung atas melambaikan tangannya, dan... gerbang itu pun terbuka perlahan dengan suara bergemuruh.
Di luar, bersandar di dinding dengan tangan bersilang, Sersan Guntur berdiri menantinya. Pria itu menyunggingkan senyum lebar kepada Xu Qing.
"Bolehkah aku tinggal di tempatmu?" tanya Xu Qing.
"Tentu saja."
Sambil mengangguk, Xu Qing melemparkan bangkai ular itu ke atas tanah di antara mereka berdua.
"Kamu suka daging ular, kan? Silakan, makanlah."
Sersan Guntur tertegun sejenak, lalu mendongak dan tertawa terbahak-bahak. Memungut bangkai ular tersebut, ia memimpin jalan bagi Xu Qing kembali ke rumahnya.
Xu Qing telah pergi, tetapi kerumunan penonton di arena masih bersorak sorai. Sementara itu, di salah satu sudut arena, berdiri seorang lelaki tua berjubah ungu. Di sampingnya berdiri seorang paruh baya tanpa ekspresi yang tampak seperti seorang pelayan, dengan tato pentagram di dahinya.
Baik dari pakaian maupun pembawaan mereka, keduanya jelas-jelas berbeda dari orang-orang di sekitar mereka. Faktanya, tidak ada seorang pun yang tampak menyadari kehadiran mereka, bahkan sang pemilik kamp sekalipun.
Lelaki tua itu memiliki rona wajah kemerahan, dan juga tampak memancarkan kekuatan destruktif yang besar. Ia jelas bukan orang sembarangan. Saat ia duduk di sana menyaksikan kepergian Xu Qing, sebuah senyuman terukir di wajahnya.
"Anak muda yang sangat menarik."
Chapter 7 · 9m baca
Please, Eat
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter