Siapa pun yang membunuh ketua markas itu akan mendapatkan 80 batu spiritual. Dan tentu saja, mereka juga akan mendapatkan catatan jasa bagi sekte tersebut. Jika Xu Qing tidak kebetulan bertemu dengan ketua markas itu dan mulai bertarung dengannya, hal itu mungkin bukan masalah besar. Namun, ia sudah melukai pria itu dengan parah dan hendak menghabisinya. Tepat pada saat itu, kapten bangsa Merfolk ini meluncurkan serangan diam-diam, yang jelas-jelas merupakan upaya untuk merebut hasil kerja Xu Qing.
Mata Xu Qing menyala oleh niat membunuh.
Namun, karena tangan raksasa berwarna biru yang dipanggil oleh jimat pusaka itu, ia tidak sempat melakukan apa pun.
Tepat saat pemuda bangsa merman itu hendak melancarkan pukulan maut terakhirnya, Xu Qing merapalkan mantra. Seketika itu juga, sekumpulan tetesan air muncul di sekeliling merman tersebut, berubah wujud menjadi seekor ubur-ubur.
"Sampah apa ini?" cibir pemuda merman itu, sambil langsung mengerahkan perisai pertahanan untuk menangkis serangan ubur-ubur tersebut. Namun, begitu ubur-ubur itu menghantam perisai, perisai itu langsung hancur berkeping-keping.
Pemuda merman itu jelas telah meremehkan ubur-ubur milik Xu Qing.
Saat perisai itu runtuh, ubur-ubur tersebut kembali berubah menjadi sekumpulan tetesan air, yang kemudian membentuk jaring raksasa dan mengunci pergerakan pemuda merman itu di tempatnya. Merman itu mengerutkan kening saat kesempatan untuk menculik ketua markas buruannya melayang. Faktanya, ketua markas itu sudah kabur sejauh sembilan meter.
Xu Qing memanfaatkan momen itu untuk melesat maju, sementara di saat yang sama membiarkan tangan raksasa itu menghantam punggungnya dari belakang.
DUARRR!
Darah menyembur keluar dari mulut Xu Qing. Namun, ia menggunakan momentum hantaman itu untuk mempercepat lajunya, melesat melewati merman tersebut dan meninggalkan rentetan bayangan kelam saat ia mendekati ketua markas.
Begitu mendekat, ia mengangkat tangan kanannya, tempat tusuk sate besi hitam miliknya berkilau tajam.
Sekitar waktu itu, pemuda merman berhasil membebaskan diri dari jeratan. Dengan mata berkilat dingin, ia mencibir dan melambaikan tangannya, membuat cakra miliknya melesat melewati Xu Qing menuju sang ketua markas.
Dalam sekejap mata, senjata itu hampir mencapai sasarannya….
Namun, tepat pada saat krusial itu, tusuk sate besi berubah menjadi garis hitam yang melesat dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Bagaikan sambaran petir hitam yang merobek udara, senjata itu mendahului cakra dan menghujam bagian belakang kepala ketua markas, lalu menembus keluar dari dahinya! Kemudian sebuah jeritan terdengar seiring datangnya cakra, yang menebas leher sang ketua dan membuat kepalanya terpelanting di tengah cipratan darah. Pria itu tewas!
Mengabaikan cakra tersebut, Xu Qing menerjang maju dan menangkap kepala yang melayang itu. Lalu ia berputar dan menatap dingin ke arah pemuda merman yang tampak sangat frustrasi.
Tanpa menunggu Xu Qing berbicara, pemuda merman itu menggeretakkan giginya dan mendesis, "Kira-kira siapa dirimu berani-beraninya merbut hasil kerjaku?"
Dengan mata bernyala-nyala penuh niat membunuh, ia mengulurkan tangan untuk menangkap cakra yang terbang kembali padanya, lalu melangkah maju ke arah Xu Qing.
Xu Qing berdiri tegak dengan kepala ketua markas di tangannya, matanya memancarkan niat membunuh yang tak kalah intens. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia sudah siap untuk bertarung, bahkan telah menghancurkan pil racun dan menebarkan abunya ke embusan angin.
Di saat yang sama, bayangannya memanjang ke depan. Yang harus dilakukan pemuda merman itu hanyalah melangkah satu langkah lagi ke depan, dan ia akan menginjak bayangan tersebut. Begitu ia melakukannya, bayangan itu akan melepaskan gelombang mutagen, dan Xu Qing akan langsung menyerang.
Xu Qing yakin bahwa di tengah situasi yang memanas itu, ia akan mampu menghabisi lawannya dengan cepat. Namun, bahkan saat kaki pemuda merman itu melayang di udara, tepat sebelum menginjak bayangan Xu Qing, sebuah suara dingin terdengar dari balik kepulan asap di sekitarnya.
"Dan kira-kira siapa dirimu berani-beraninya merebut hasil kerja Unit Enam?"
Sang Kapten berjalan santai keluar dari kepulan asap, sebuah apel tergenggam di tangannya. Di belakangnya berdiri sekitar empat petugas tambahan dari Unit Enam, semuanya membawa kepala buronan yang terpenggal. Sementara sang Kapten sendiri berlumuran darah, dan tatapan matanya begitu dingin seolah mampu membekukan udara.
Pemuda merman itu menghentikan gerakannya. Kakinya tidak jadi menyentuh bayangan tersebut. Sebaliknya, ia perlahan mundur, menjaga kewaspadaannya pada para petugas Unit Enam di sekelilingnya. Beberapa detik kemudian, beberapa petugas dari Unit Tiga tiba di lokasi.
Ketegangan kian meningkat, hingga akhirnya pemuda merman itu tertawa dingin. Sambil menatap Xu Qing dengan niat membunuh yang telanjang, ia berkata, "Kau bisa menyelamatkan nyawamu untuk saat ini. Tapi aku tidak akan melupakan ini."
Sambil mengibaskan lengan jubahnya, ia pergi, diikuti oleh para petugas lain dari unitnya.
Mata Xu Qing sama sekali tidak menunjukkan apa yang sedang ia pikirkan saat ia berdiri dengan tenang di sana.
Setelah pemuda merman itu pergi, sang Kapten tersenyum pada Xu Qing, melirik kepala buntung yang diegangnya, dan berkata, "Kerja bagus." Ia menawarkan sebuah apel kepada Xu Qing. "Traktiran dariku."
Xu Qing menerima apel itu dan menggigitnya. Rasanya manis, tetapi juga menyisakan sedikit rasa darah. Xu Qing menelannya, lalu menatap punggung pemuda merman yang sudah berada di kejauhan.
Para petugas Unit Enam tampak sangat bersemangat.
"Kapten membunuh satu ketua markas, dan Xu Qing membunuh ketua markas lainnya! Kita bakal kaya!"
"20 batu spiritual itu baru permulaan. Taruhan kita terbayar sudah!"
"Xu Qing, biarkan kami membantumu membawa semua kepala buntung itu. Mudah sekali mengenali mana yang kau bunuh. Semuanya ditebas di bagian leher."
Biasanya, para petugas itu bersikap dingin dan tertutup. Namun saat ini, mereka benar-benar merasa gembira. Rasanya sungguh seperti menjadi bagian dari sebuah tim. Sang Kapten tampak puas, dan sepertinya telah melupakan para petugas yang gugur dalam pertempuran tadi. Sambil melambaikan tangan, ia berseru, "Ayo kita tarik pasukan!"
Sambil membawa hasil buruan perang mereka, mereka meninggalkan mansion itu dan menerobos malam kembali menuju Divisi Kejahatan Kekerasan. Seluruh petugas Unit Enam menatap Xu Qing dengan rasa hormat yang baru.
Bukan sembarang orang yang bisa membunuh ketua markas seperti cara sang Kapten. Dan bukan sembarang orang pula yang berani berdebat dengan kapten unit lain demi memperebutkan jasa.
Mengenai siapa yang sebenarnya berniat mencuri hasil kerja siapa, itu tidak lagi penting. Fakta bahwa Xu Qing lah yang akhirnya keluar sebagai pemenang menunjukkan betapa kuatnya dia.
Seperti biasa, Xu Qing berjalan di barisan paling belakang kelompok itu. Namun, pada suatu titik, sang Kapten memperlambat langkahnya hingga ia berjalan berdampingan dengan Xu Qing. Di tangannya tergenggam sebuah jimat pusaka berwarna biru, jimat yang sama yang digunakan oleh ketua Merpati Malam untuk memanggil tangan hantu raksasa. Kini setelah sang ketua tewas, jimat itu dianggap sebagai trofi pertempuran. Meskipun sudah cukup compang-camping, jimat itu mungkin masih bisa digunakan satu atau dua kali lagi.
"Ambil ini. Kau yang mendapatkannya."
Xu Qing sedikit terkejut, namun ia tetap menerimanya. Kemudian ia menoleh dan mendapati sang Kapten menatapnya dengan pandangan yang penuh arti.
"Apakah kemunculanku tadi terlalu cepat?" tanya sang Kapten.
Xu Qing tidak menjawab.
"Ada terlalu banyak orang di sekitar," lanjut sang Kapten. "Bukan hanya orang-orang dari Divisi Kejahatan Kekerasan. Ada juga para pelindung dharma nonmanusia. Aku tidak bilang kau tidak bisa membunuhnya. Tapi bangsa Merfolk itu memang sekutu kita. Meskipun begitu, mereka punya tabiat suka memberontak. Kudengar beberapa tahun lalu, mereka sempat merencanakan pemberontakan bersenjata. Orang-orang Puncak Ketujuh mengetahuinya, dan menggunakan Kompetisi Besar untuk menumpas mereka. Tapi pada akhirnya, sekutu tetaplah sekutu. Kau harus berpikir dua kali sebelum bertindak secara terang-terangan terhadap mereka.
"Aku tidak tahu apa rencana ikan itu sebenarnya, tapi yang kutahu ia terkadang mengabaikan para pelindung dharmanya dan bertindak sendiri…." Sang Kapten tersenyum lebar sebelum menghentikan ucapannya.
Xu Qing menyimpan jimat itu, lalu mengeluarkan dua buah pir dari kantongnya. Ia memberikan salah satunya kepada sang Kapten, yang tampak terkejut. Sambil menggigit pir satunya lagi, Xu Qing bertanya, "Kapten, apakah struktur tubuh nonmanusia berbeda dari kita manusia?"
"Ada beberapa perbedaan. Misalnya, mari kita bicara soal racun. Ada beberapa racun yang tidak bisa ditangani manusia, tapi tidak mempan pada nonmanusia. Begitu pula sebaliknya. Ada beberapa zat yang merupakan obat mujarab bagi kita manusia, tapi justru bisa membunuh nonmanusia."
Keduanya saling bertukar pandang, namun tidak mengatakan apa-apa lagi.
Saat Xu Qing berjalan, sesuatu yang dingin bergejolak di dalam matanya. Ia memiliki satu batasan prinsip yang ia pegang teguh, dan jika ada yang berani melewati batasan itu, ia akan memikirkan cara untuk membunuh mereka, bagaimanapun caranya. Bahkan jika ia merasa belum cukup kuat, atau tidak memiliki cara untuk langsung membunuh orang tersebut. Selama orang itu belum mati, masalah itu akan terus terasa seperti duri ikan yang tersangkut di tenggorokannya.
Siapa pun yang mengancam nyawanya… berarti telah melewati batas.
Begitulah aturannya di daerah kumuh. Begitulah aturannya di kamp markas pemulung. Dan begitulah pula aturannya di Tujuh Darah Merah.
Satu-satunya perbedaan adalah ia harus jauh lebih berhati-hati di sini. Ia harus mencari kesempatan yang tepat untuk melancarkan serangan mematikan.
Pemuda merman itu telah melewati batas dengan cara yang bahkan lebih parah daripada penjaga kedai dari Jalur Plankspring. Faktanya, tingkat bahaya pemuda merman itu kurang lebih setara dengan Patriark Prajurit Vajra Emas.
Oleh karena itu, Xu Qing harus memikirkan cara untuk membunuhnya. Secepat mungkin.
Setelah Unit Six kembali ke Divisi Kejahatan Kekerasan dan operasi tersebut resmi berakhir, semua orang membubarkan diri. Namun, Xu Qing tidak langsung kembali ke perahudaranya. Sebaliknya, ia bersembunyi di dekat sana dan menunggu.
Sekitar dua jam kemudian, ia melihat sosok pemuda merman tersebut.
Namun, ia tidak sendirian. Dan saat Xu Qing mengamatinya dengan cermat, ia menyadari bahwa fluktuasi energi terkuat di sekitar kelompok itu berada di tingkat Pendirian Fondasi. Kewaspadaan Xu Qing semakin meningkat.
Di sisi lain, sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa pemuda merman itu telah terkena racun.
Xu Qing yakin ia telah melepaskan racun tersebut, sehingga hal itu mengonfirmasi apa yang dikatakan sang Kapten tadi. Pemuda merman itu juga memiliki orang-orang kuat yang melindunginya, jadi Xu Qing tidak mendekatinya. Setelah memastikan arah umum ke mana pemuda itu pergi, Xu Qing pun berlalu.
Malam itu, perangkap yang dipasang untuk Merpati Malam oleh Puncak Ketujuh diaktifkan, dan operasinya sukses besar. Tujuh belas markas di Distrik Pelabuhan semuanya berhasil ditaklukkan, dan kelompok mana pun yang bekerja sama dengan Merpati Malam turut dibasmi tanpa sisa.
Beberapa wakil direktur bahkan ikut terjun langsung dalam aksi tersebut. Banyak ahli kuat dari Merpati Malam yang tewas. Hal serupa juga terjadi di distrik-distrik lain di dalam kota.
Hampir 2.000 anggota Merpati Malam tewas. Dan jika menyangkut organisasi kaki tangan, jumlah korban jiwa bahkan jauh lebih banyak lagi. Kepala para pemimpin mereka digantung di dinding kota keesokan harinya, dan pemandangan berdarah itu mengejutkan seluruh wilayah.
Korban jiwa di pihak Divisi Kejahatan Kekerasan pun tidak sedikit. Tiga ratus murid tewas. Dua di antaranya adalah pemuda dan pemudi yang ditemui Xu Qing pada hari pertama ia melapor untuk bertugas.
Namun secara keseluruhan, operasi itu adalah sebuah kesuksesan besar. Pembersihan besar-besaran tersebut membuat situasi kota menjadi sedikit lebih tenang pada hari-hari berikutnya. Bahkan perselisihan antar-murid di dalam sekte pun mereda.
Ketika hadiah dibagikan, Xu Qing mendapatkan 138 batu spiritual, jumlah kekayaan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Tentu saja, hal itu membuatnya semakin waspada terhadap para penyusup yang serakah. Jika ada yang mencoba merampoknya, maka ia akan membunuh mereka.
Dengan begitu banyak batu spiritual di tangannya, Xu Qing mulai berpikir bahwa bahan-bahan yang tadinya ia anggap sangat luar biasa ternyata tidak memiliki kualitas yang begitu bagus. Dan kemudian ia mulai memikirkan bahan-bahan berkualitas lebih baik apa yang bisa ia beli untuk memperkuat perahudaranya.
Selama dua hari yang berlalu setelah operasi tersebut, Xu Qing terus mengawasi pemuda merman itu. Ia mengikutinya dalam beberapa kesempatan, namun para pelindung dharmanya selalu berada di sisinya. Xu Qing sama sekali tidak mendapatkan kesempatan untuk bergerak.
Untungnya, ia adalah orang yang sabar.
Pada sore hari ketiga, ia sedang libur dan tengah berlatih kultivasi di dalam perahudaranya ketika seseorang mengiriminya pesan. Itu adalah sebuah undangan. Dan orang yang mengirimkannya tidak lain adalah Zhou Qingpeng, salah satu murid dalam kelompoknya ketika ia resmi menjadi murid Puncak Ketujuh.
"Adik Seperguruan Xu Qing, aku akhirnya berhasil mendapatkan kepiting tapal kuda perindu hantu itu. Tidak banyak. Hanya dua ekor. Tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Aku berpikir bahwa kelompok kecil kita yang bergabung dengan sekte bersama-sama ini sudah mulai jarang berkumpul. Jadi aku mengundang Li Zimei dan Xu Xiaohui untuk makan malam nanti malam. Kenapa kau tidak bergabung dengan kami? Aku akan membawakan kepiting tapal kuda perindu hantu itu untuk kuberikan kepadamu."
Pesan itu tampak tulus.
Saat Xu Qing memikirkannya, ia teringat bagaimana pemuda merman itu tidak mempan terhadap racunnya, dan menyadari bahwa kepiting tapal kuda perindu hantu itu mungkin akan sangat berguna. Setelah memeriksa jadwal kerjanya untuk memastikan ia tidak mendapat giliran jaga malam, ia membalas pesan tersebut dan mengatakan bahwa ia akan datang. Kemudian ia melanjutkan kultivasinya.
Tidak lama kemudian, malam pun tiba. Xu Qing membuka matanya dan memperkirakan waktu, lalu meninggalkan perahudaranya dan menuju ke restoran untuk menemui Zhou Qingpeng.
Itu adalah tempat yang cukup terkenal yang terletak di sebuah bangunan dua lantai berpenampilan mewah tidak jauh dari pelabuhan. Xu Qing belum pernah masuk ke dalamnya, tapi ia pernah melihat nama tempat itu di daftar registrasi komersial Divisi Kejahatan Kekerasan. Berdasarkan hal itu, ia tahu bahwa restoran tersebut dimiliki oleh Divisi Penjaga Pantai.
Divisi Penjaga Pantai sangat berbeda dari Divisi Kejahatan Kekerasan. Mereka sebenarnya lebih mirip dengan Divisi Patroli, hanya saja mereka berpatroli di lautan alih-alih di daratan.
Mendekati restoran tersebut, Xu Qing mengamati sekeliling dengan waspada sebelum masuk. Seorang pelayan langsung menyadari kehadiran Xu Qing dan menyambutnya dengan ramah. Ketika Xu Qing mengatakan bahwa ia hendak menemui teman-temannya di salah satu ruangan pribadi, pelayan tersebut mengantarnya naik ke lantai dua.
Ruangan yang dipesan Zhou Qingpeng berada di bagian paling belakang dan tidak dibuka untuk umum. Hanya murid Tujuh Darah Merah yang bisa menggunakannya.
Menjelang tiba di ruangan tersebut, Xu Qing mendengar suara Zhou Qingpeng dan yang lainnya sedang tertawa dan mengobrol.
"Kakak Senior Zhou, ini pertama kalinya aku ke sini. Kudengar sangat sulit untuk mendapatkan reservasi, bahkan mereka tidak mengizinkan murid biasa memesan ruangan pribadi. Mereka punya tiga menu andalan, kan? Katanya, semuanya sangat berkhasiat untuk basis kultivasi."
"Ah, mudah saja kok dapat reservasi. Tempat ini milik Divisi Penjaga Pantai, dan karena aku adalah murid dari sana, sangat mudah bagiku memesan tempat. Kalau kau kapan-kapan ingin reservasi, Xiaohui, bilang saja padaku. Aku yang akan mengurusnya untukmu."
"Wah, terima kasih, Kakak Senior Zhou! Bersulang!"
Pelayan itu membuka pintu ruangan pribadi tersebut, dan Xu Qing melihat ke dalam untuk mendapati sebuah meja yang dipenuhi dengan berbagai macam hidangan. Tiga orang sudah duduk di sekelilingnya. Dua wanita dan seorang pria. Pria itu jelas adalah Zhou Qingpeng, yang tersenyum lebar sambil mengangkat gelasalkoholnya ke arah Xu Xiaohui yang tampak memesona, yang sedang menawarkannya siulan bersulang. Terakhir adalah Li Zimei, yang tampak sama pendiam dan berhati-hatinya seperti dulu. Bahkan, ia tampak agak gugup. Saat Xu Qing muncul, kedua wanita muda itu menatapnya dengan terkejut.
"Dan… siapa kau, Kakak Senior?" tanya Xu Xiaohui, matanya berbinar-binar. Ia jelas menyadari ketampanan wajah Xu Qing dan fluktuasi kekuatan spiritualnya yang kuat.
Zhou Qingpeng menyeringai dan bangkit berdiri, namun tidak mengatakan apa-apa.
Justru Li Zimei yang, setelah menatap Xu Qing sejenak, bertanya dengan ragu-ragu, "Apakah itu kau… Kakak Senior Xu Qing?"
Ternyata, ia langsung mengenalinya pada pandangan pertama.
Chapter 67 · 10m baca
Crossing the Line!
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter