Beyond the Timescape - Chapter 542 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 542 · 7m baca

Three Women, One Snake, One Man (part 2)

by Er Gen

Dengan ekspresi tanpa emosi, Xu Qing membuat gerakan meraup dengan tangan kanannya, membuat salah satu Roh Asap terbang ke arahnya. Begitu benda itu berada di genggamannya, ia mengirimkan aliran energi dingin yang menyelimuti Roh Asap tersebut dan memadat menjadi balok es di sekelilingnya.

Xu Qing melambaikan tangannya, dan salah satu jarum Yanyan terbang mendekat. Dengan memperkuat jarum itu menggunakan basis kultivasinya, ia menusuk menembus es ke arah Roh Asap yang sedang meronta-ronta. Jeritan kesakitan yang memilukan bergema dari dalam balok es itu. Tak lama kemudian, sebuah pisau terbang mengiris Roh Asap tersebut menembus es. Karena dalam keadaan beku, Roh Asap itu tidak dapat membentuk wujudnya kembali. Sebelum lama berlalu, makhluk itu telah teriris menjadi belasan bagian yang diletakkan Xu Qing berderet di tanah di depannya tanpa ada satu bagian pun yang saling bersentuhan.

Jelas sekali bahwa sensasi tercincang-cincang namun tidak bisa membentuk wujud kembali mendatangkan penderitaan mental yang luar biasa. Jeritan itu semakin menjadi-jadi.

Sementara itu, mata Yanyan bersinar terang dan ia bernapas tersengal-sengal. Tubuhnya gemetar, dan ia tampak kembali bergairah.

Melempar potongan-potongan es itu kepada Yanyan, Xu Qing kembali membuat gerakan meraup, memanggil Roh Asap kedua untuk terbang ke arahnya. Kali ini, ia tidak menggunakan es. Ia menggunakan racun. Saat racun-racun itu meresap ke dalam Roh Asap, zat itu mulai menimbulkan korosi, tidak hanya pada tubuh asapnya, tetapi juga pada jiwanya. Raungan kesedihan memenuhi kapal Dharma tersebut.

Yanyan menjadi semakin bersemangat; tampaknya raungan kesakitan itu terdengar bagaikan alunan melodi alam yang menenangkan.

Meskipun demikian, Xu Qing belum selesai.

"Robek sedikit kain dari pakaianmu," ucapnya dingin.

Dengan sikap yang terlihat sangat patuh, Yanyan langsung merobek sehelai bagian dari pakaiannya, memperkapkan lebih banyak daging yang dipenuhi bekas luka di baliknya.

Ia bahkan tidak menyadari hal itu. Merangkak mendekati Xu Qing bagaikan seekor anak anjing, ia menyerahkan kain tersebut kepada Xu Qing.

Xu Qing mengambilnya, lalu melambaikan tangannya, membasahi kain itu sekaligus menambahkan kekuatan segel ke dalamnya. Berikutnya, Xu Qing menaruh Roh Asap ketiga ke atas kain tersebut. Kain itu berubah menjadi gelap saat Roh Asap itu tersedot ke dalamnya.

Xu Qing melemparkan kain itu kepada Yanyan.

"Dengan begitu, makhluk itu kehilangan kebebasannya, baik jasmani maupun rohani," kata Xu Qing tenang. "Mengejar kekejaman fisik, baik terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri, hanyalah sarana untuk mencapai tujuan. Bukan tujuan itu sendiri. Dan saat kau menggunakannya, hasil yang kau dapatkan amatlah kekanak-kanakan. Siksaan mental adalah sesuatu yang jauh berbeda."

Yanyan menggigil. Semakin Xu Qing menegurnya, semakin bahagia perasaan yang menyelimutinya. Dengan mata yang membara penuh rasa puja, ia memasukkan jarinya ke dalam mulut, menggigitnya, lalu mengulurkannya kepada Xu Qing.

Tatapan mata pemuda itu berubah dingin.

Menundukkan kepalanya, ia menarik kembali tangannya dan mengulum jarinya sendiri di dalam mulut. Energi aneh di lautan kesadarannya mulai mereda, dan fluktuasi basis kultivasinya tumbuh semakin kuat. Rupanya, istana surgawi pertamanya hampir terwujud sempurna, meski belum sepenuhnya sempurna saat ini.

Melihat hal itu, Xu Qing menghela napas dan mengangkat jari telunjuknya.

Begitu ia melakukannya, Yanyan merangkak mendekat, menggigit jarinya, dan menghisapnya dalam-dalam. Matanya menyipit seolah berada dalam ekstase, dan ia tampak jauh lebih puas daripada sebelumnya. Ia telah menantikan hari ini sejak lama sekali. Pada saat itu, istana surgawinya pun terwujud! Pikirannya lantas mulai berputar begitu hebat hingga ia jatuh pingsan.

Setelah itu, Guru Eastnether menghela napas dari luar kapal Dharma. "Terima kasih banyak."

Yanyan lenyap setelah dibawa pergi oleh Guru Eastnether.

Kapal itu pun terdiam sunyi.

Tak lama kemudian, Ling'er menjulurkan kepalanya dan menatap Xu Qing, lalu beralih ke tempat Yanyan tadi menghilang. Xu Qing tampak sedikit salah tingkah dan hendak memberikan penjelasan ketika Ling'er tiba-tiba menarik napas tajam.

"Dia adalah sesosok monster, Kak Besar Xu Qing! Dia bahkan jauh lebih buruk daripada wanita sebelumnya. Aku tidak percaya dia benar-benar menggigit jarimu! Kau benar-benar harus berhati-hati padanya!"

Sebelum Xu Qing sempat membalas, sebuah tawa lembut bergema di dalam kapal Dharma.

"Sungguh gadis muda yang manis."

Begitu mendengar suara itu, tubuh Xu Qing langsung menegang.

Ketika Ding Xue muncul, ia bisa mengabaikannya. Ketika Yanyan muncul, ia bisa menempatkannya di tempat yang semestinya. Namun, ada satu wanita di Koalisi Delapan Sekte yang selalu membuat Xu Qing merasa salah tingkah di dekatnya. Entah itu saat pertemuan pertama mereka ketika wanita itu mengangkat dagunya, atau kepribadiannya yang mudah berubah saat mereka menyusuri sungai, atau saat tatapan mereka berpapasan di ibu kota prefecture, atau ketika ia melepaskan jubahnya di depan wanita itu...

Saat suara wanita itu mencapai telinga Xu Qing—sementara tubuhnya sendiri terasa tak mampu digerakkan—sesosok wanita berparas jelita melangkah keluar dari udara kosong.

Ia mengenakan gaun putih yang disulam dengan mawar merah muda keunguan. Sabuknya senada dengan warna bunga tersebut, dihiasi dengan motif bulan. Rambut hitamnya digelung rapi dan diikat dengan jepit rambut mutiara yang jumbaiannya terjurai di bagian depan.

Wajah cantiknya memiliki alis bagaikan lukisan, dan matanya berkilauan laksana bintang. Senyum tipis di wajahnya adalah jenis senyuman yang mampu menggetarkan hati siapa pun yang melihatnya, namun di saat yang sama, ia tampak anggun dan berkelas, bagaikan bunga kembang sepatu yang mengapung di atas air, bersih dari segala noda. Ada pula sesuatu yang penuh teka-teki dari cara wanita itu tersenyum kepada Xu Qing, seolah senyumnya menyimpan kepedihan tersembunyi sekaligus sedikit kesedihan.

Dia, tentu saja, Arch-Immortal Plumdark yang tak tertandingi dan tiada bandingannya.

Mata Ling'er membelalak lebar, dan secara insting ia menyusutkan diri untuk bersembunyi kembali.

Menarik napas dalam-dalam, Xu Qing bangkit berdiri lalu membungkuk. "Salam, Arch-Immortal."

Plumdark tersenyum saat berjalan mendekatinya. Mengulurkan tangan, wanita itu menepis debu di bahu pemuda tersebut, seolah ingin memastikan tidak ada satu pun kotoran yang mencemarinya. Ia merapikan beberapa kerutan di pakaian Xu Qing, lalu menatap lekat-lekat ke dalam matanya.

"Selama kau selamat, hanya itu yang penting," ucapnya singkat. Kata-katanya menyiratkan rasa khawatir, perhatian, kecemasan, kepedulian, dan semua emosi itu terpancar jelas dari kalimat yang diucapkannya.

Kehangatan merayap memenuhi diri Xu Qing, membuatnya menggigil saat perasaan itu menyebar ke seluruh tubuh, melunakkan hatinya. Ia tidak lagi merasa kaku, melainkan menjadi rileks. Ia membiarkan Arch-Immortal Plumdark menggandeng tangannya saat wanita itu duduk di sisinya. Ia bisa mencium aroma parfum wanita itu yang sudah sangat akrab, dan memperhatikan bagaimana jumbai jepit rambutnya bergoyang setiap kali wanita itu bergerak. Pemandangan itu saja sudah cukup untuk menggoyahkan pikiran seseorang.

Xu Qing merasa sedikit terbuai, dan oleh karena itu, ia bersikap agak waspada.

Sambil menatapnya, Plumdark berkata, "Aku tahu apa yang ingin kau lakukan, dan ke mana kau ingin pergi. Aku tidak akan menghentikannya. Tapi aku ingin memberitahumu sesuatu. Seandainya aku tahu apa yang sedang terjadi, aku pasti akan berdiri di sisimu. Seperti yang kau tahu, aku tidak pernah berdusta. Aku adalah orang yang tegas, dan ketika aku membuat keputusan tentang sesuatu, aku tidak akan mengubah pendirianku. Tidak peduli siapa pun yang mencoba mengubah kepikiranku, aku tidak akan melakukannya, bahkan jika langit runtuh dan bumi hancur."

Suara Plumdark memicu riak-riak emosi yang menyebar ke lubuk hati Xu Qing.

Ia mengerti. Ia tidak mengingat segala hal yang telah ia saksikan di dalam kuil di daerah Terlarang oleh Dewa. Namun, ia mengingat pelita itu. Dan ia mengingat sosok yang tampak persis seperti Plumdark. Sekarang, saat Plumdark berbicara, ia tiba-tiba merasakan sebuah bayangan bangkit di dalam benaknya. Meskipun ia tidak dapat menangkap detailnya, bayangan itu membawa serta perasaan yang begitu akrab. Wanita itu benar. Ia adalah tipe orang yang tidak akan pernah mengubah pendiriannya, tidak peduli apa pun yang dikatakan orang lain.

Sesaat berlalu dalam keheningan, sebelum Xu Qing berkata pelan, "Aku tahu."

Senyuman wanita itu kian merekah. "Gurumu mengundangku untuk membawa Sekte Ketenangan Kelam ke ibu kota prefecture bersama sebagian anggota Sekte Tujuh Darah. Beliau menyarankan agar kita menggabungkan sekte dan membentuk sekte baru. Aku menyetujuinya. Beliau berkata aku yang harus memilih nama baru untuk sekte tersebut. Itulah sebabnya aku berada di sini. Bagaimana pendapatmu jika kita menamakannya Sekte Kelam Hijau?"

Xu Qing tertegun sejenak, lalu mengangguk.

Tatapan lembut wanita itu beralih dari wajahnya ke bagian lengan bajunya. Ia tertawa kecil, lalu melanjutkan dengan menceritakan sedikit tentang masa depan yang menanti Sekte Kelam Hijau. Ia menjaga agar percakapan tetap berkisar pada urusan resmi, tetapi suaranya begitu merdu hingga orang akan dengan mudah kehilangan jejak waktu hanya dengan mendengarkannya berbicara.

Xu Qing berangsur-angsur menjadi semakin rileks.

Hari sudah larut malam ketika Plumdark berkata, "Ada alasan lain mengapa aku datang. Aku ingin melukis totem pertahanan di tubuhmu. Lepaskan jubahmu."

Xu Qing yang tadinya rileks mendadak kembali menegang bagaikan sebatang papan. Plumdark tertawa. Dengan mata yang berbinar jenaka, wanita itu bangkit dan beranjak pergi. Sambil melangkah keluar, ia berucap, "Sampai jumpa lagi di ibu kota prefecture, Ah Qing."

Kapal itu kembali sunyi.

Setelah sekian lama, Xu Qing mengembuskan napas panjang, lalu secara naluriah menundduk menatap lengan bajunya. Ling'er menjulurkan kepala dan menatapnya penuh kecemasan.

"Kak Besar Xu Qing! Wanita itu adalah yang paling berbahaya di antara semuanya! Dia adalah ratu iblis!! Itu tadi sungguh menakutkan! Kak Besar Xu Qing, semua wanita sebelumnya berada di level yang sama sekali berbeda dibandingkan ratu iblis itu!"

Xu Qing berdehem untuk menjernihkan tenggorokan lalu mulai menenangkan Ling'er, meski gadis itu tampak belum sepenuhnya yakin.

Beberapa hari berlalu.

Yanyan masih berada dalam pengasingan. Plumdark tidak muncul lagi. Namun, Ding Xue kembali datang. Kendati demikian, gadis itu tidak mampu melanjutkan rencananya.

Dan itu semua karena Zhao Zhongheng juga turut muncul. Meskipun ia terlihat sangat gugup di dekat Xu Qing, pemuda itu menggertakkan giginya dan terus membuntuti Ding Xue dengan ekspresi penuh tekad di matanya. Saat melihat betapa bertekadnya Zhao Zhongheng untuk memenangkan hati Ding Xue, Xu Qing hanya bisa mendesah dalam hati.

Karena Xu Qing telah pergi selama dua tahun, ada begitu banyak urusan yang harus diselesaikan. Hal itu terutama berlaku mengingat betapa statusnya telah berubah drastis. Terlebih lagi, sekte-sekte dari seluruh Prefecture Penerima Kaisar mengirimkan utusan untuk menyampaikan salam resmi kepada Guru Ketujuh. Dan Guru Ketujuh sering kali meminta Xu Qing untuk hadir mendampingi.

Sepuluh hari kemudian, demi kekecewaan Ding Xue, Xu Qing memutuskan untuk meninggalkan sekte tersebut.

Ia berencana pergi ke Phoenix Selatan untuk memberikan penghormatan di makam Sersan Guntur.

Sebelum ia berangkat, Guru Ketujuh memberinya sebuah kotak giok. "Ini adalah tulang ikan dari dewa itu. Aku telah mengubahnya menjadi senjata dewa. Kau bisa mencobanya selama perjalanan nanti. Benda ini sangat luar biasa, dan bisa kauandalkan sebagai garis pertahanan utama bagimu. Terlebih lagi, benda ini berasal dari sumber yang sama dengan tubuhmu, sehingga sangat cocok khusus untukmu."

Di dalam kotak giok itu terdapat sebuah duri hitam, setebal jari tangan. Permukaannya dipenuhi guratan alami, memancarkan aura yang menakutkan serta fluktuasi keilahian yang kuat. Meskipun benda itu tidak bernyawa, saat Xu Qing menatapnya, ia mendapat sensasi seolah benda itu bernapas selaras dengannya. Rasanya seolah benda itu memang merupakan bagian dari dirinya sendiri. Saat Xu Qing merasakan betapa mengerikannya duri tersebut beserta sisa-sisa rasa takut yang menyertainya, Guru Ketujuh kembali berbicara.

"Di mata para dewa, hal-hal dari dunia fana sangatlah lemah. Namun, senjata ini... dapat melukai seorang dewa. Benda ini memiliki otoritas ilahi berupa kemalangan di dalamnya. Oleh karena itu, aku memilihkan nama khusus untuknya. Namanya adalah Duri Kemalangan."

Gunakan ← → untuk pindah chapter