Tanah bergetar ketika sebuah suara meledak dari bawah, terdengar seolah baru saja direnggut dari tidur yang lelap.
“Ibu Kemerahan!”
Tak terhitung istana hancur berkeping-keping, dan daging yang memenuhi Tanah Larangan Keabadian bergidik. Kedua puluh tujuh duri itu mulai memancarkan cahaya terang. Di bagian yang menjadi letak jantung, daging yang menggeliat itu terbuka untuk menampakkan mata emas raksasa berukuran 30.000 meter di dalamnya, yang terbuka lebar. Tanah bergetar hebat, langit bergelombang, dan mutagen meledak ke mana-mana. Seluruh dunia menjadi kabur. Sosok-sosok yang bersujud di sekelilingnya menjerit dan berhamburan. Dan target dari tatapan mata itu, formasi mantra segi delapan di langit, langsung hancur menjadi abu.
360 sosok berjubah hitam mengalami mutasi instan, lalu meledak, menjadi hujan darah yang mengguyur turun. Mengejutkannya, titik-titik air hujan itu bermutasi di udara! Mereka berubah menjadi banyak mata emas yang berputar mengelilingi mata raksasa berukuran 30.000 meter tersebut. Dan mereka menatap ke atas, ke satu-satunya entitas yang tersisa di langit!
Mereka menatap sosok yang sedang berlutut, melayang di sana dengan kedua tangan menutupi matanya. Sosok itu hampir menyerupai sebuah patung.
Dia tak lain adalah Zhang Siyun. Keberadaannya sangat mencolok saat mata dewa itu menatapnya. Namun, hal itu tampaknya sama sekali tidak memengaruhinya, seolah kekuatan dari tatapan tersebut tidak ada apa-apanya. Bulan merah di belakangnya berkilau dengan cahaya berwarna darah, menjadi satu-satunya hal yang terlihat jelas di seluruh Tanah Larangan Keabadian. Sudut bibirnya terangkat semakin tinggi. Meskipun sudah sewajarnya jika ia tampak menyeramkan dan menakutkan, ada juga keanggunan yang terpancar darinya. Dengan tetap meletakkan kedua tangan di depan matanya, ia perlahan bangkit berdiri. Saat ia melakukannya, sesuatu pada dirinya berubah.
Fluktuasi mengerikan berembus darinya, memenuhi langit dan bumi. Rambut hitam panjangnya berubah semerah darah, menyebar untuk menutupi daratan dan memenuhi langit. Sebuah mahkota duri bertengger di kepala ‘Zhang Siyun’; terlihat jelas di atasnya tiga wajah keji, yang tersegel di dalam sana, melolong dalam penderitaan. Dari fluktuasi yang terpancar dari mahkota itu, sudah sangat jelas bahwa ketiga wajah tersebut adalah milik para dewa. Mereka telah digunakan untuk menciptakan mahkota tersebut.
Pembuluh darah di wajahnya mengalir bersamaan, menyatu di dahi dalam bentuk bulan merah. Rongga matanya kini bagaikan lautan darah yang berpendar dengan cahaya yang sangat mengganggu. Jubah Tao hitam yang menutupi tubuhnya hancur menjadi abu, dan digantikan oleh jubah emas yang mengalir, begitu longgar hingga menyebar ke segala arah, menutupi daratan di sekitarnya.
Dari kejauhan, pemandangan itu sangat spektakuler sekaligus mengejutkan. Rambut memenuhi langit. Pakaian menutupi bumi. Ia melayang di antara langit dan bumi, bagaikan penguasa dunia. Ketampanan ‘Zhang Siyun’ tampak begitu suci. Cukup dengan melihat pemandangan ini saja, siapa pun akan merasa pembuluh darah mereka runtuh, dan siapa pun yang mendengarkan apa yang sedang terjadi akan terjerumus ke dalam lautan penderitaan yang tak berujung.
Satu-satunya cara untuk tetap hidup adalah dengan bersujud. Pada saat ini, kekuatan dewa mengamuk. Distorsi yang tercipta oleh mata raksasa di bawah disapu bersih dari eksistensi dan digantikan. Mutagen yang memancar berubah, menjadi kabut merah yang menempel pada jubahnya, membentuk pola merah yang rumit.
“Betapa menghiburnya,” ucap Ibu Kemerahan lembut.
Semua rencana manusia kini mulai membuahkan hasil sekarang setelah ia terbangun. Para dewa tidak perlu duduk-duduk membuat dugaan dan analisis. Hanya dengan satu lirikan, seorang dewa bisa memahami apa pun dan segalanya. Semua informasi tersimpan di dalam diri seorang dewa. Tidak ada sesuatupun dari dunia fana yang dapat disembunyikan dari pandangan makhluk semacam itu. Semuanya tampak transparan.
Kendati demikian, skema sang kaisar manusia masih bekerja. Ketika Ibu Kemerahan terbangun dan melihat dewa yang sedang tidur di Tanah Larangan Keabadian, dewa itu bagaikan sepotong daging lezat yang siap untuk dilahap.
“Tubuh yang unik. Bagus sekali.” Ibu Kemerahan tidak berbicara dalam bahasa manusia, tetapi itu tidak masalah. Semua spesies dapat memahami kata-kata yang diucapkan oleh suara surgawi. Hal itu menyebabkan Tanah Larangan Keabadian menunjukkan tanda-tanda keruntuhan instan. Retakan menyebar di atas tanah, dan langit tampak seolah-olah akan pecah berkeping-keping. Tanah hitam tersingkap di luar, tetapi dengan cepat berubah menjadi kemerahan. Seolah-olah Tanah Larangan Keabadian sendiri tidak mampu menahan gema suaranya.
Saat tanah bergetar, darah emas mengalir keluar dari mata di istana kekaisaran. Kedua puluh tujuh duri memancarkan fluktuasi yang berkedip-kedip, dan raungan menggelegar bergema keluar.
“Dewa Agung Ibu Kemerahan, tuan dan penguasa saya adalah Neraka Sempurna, Pengelola Langit dan Bintang Kelima Kekejaman, yang kepadanya api dewa dari Negeri Murka Kejam telah dibakar, sangat layak menyandang gelar Dewa Agung!”
Ibu Kemerahan menunduk, mata berwarna darah itu terpaku pada mata raksasa di bawah. Air liur keemasan merembes keluar dari sudut mulutnya. Setiap tetesan yang jatuh berubah menjadi meteor emas yang menghantam tanah dan melubangi tanah menjadi kawah-kawah menganga yang sangat besar. Segala sesuatu yang disentuh oleh air liur emas itu langsung meleleh.
Seolah-olah Ibu Kemerahan mengabaikan begitu saja kata-kata yang diucapkan oleh mata raksasa tersebut. Saat air liur itu berjatuhan, ia mengulurkan tangan kanannya, lalu mendorongnya ke bawah menuju tanah. Gerakan itu menyebabkan tanah di Tanah Larangan Keabadian bergetar dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berawal dari istana kekaisaran di bagian tengah, lima celah menganga yang sangat besar muncul.
Masing-masing memiliki panjang yang berbeda, dengan yang terpendek sekitar 100-150 kilometer, dan yang terpanjang sekitar 250 kilometer. Ngarai-ngarai itu membentang dalam bentuk seperti kipas, mengarah ke barat laut, utara, dan timur laut. Bentuknya menyerupai lima jari! Di belakangnya, sebagian besar daratan ambles hingga kedalaman 30.000 meter, dan dipenuhi oleh tak terhitung selokan yang lebih kecil di barat daya, selatan, dan tenggara.
Jika dilihat langsung dari atas ke bawah, bentuk itu jelas merupakan cetakan telapak tangan raksasa berukuran sekitar 500 kilometer. Seolah-olah sebuah tangan masif sedang jatuh dari langit ke tengah-tengah tanah terlarang. Kelima jari raksasa itu terlihat tepat di tempat kedua puluh tujuh duri itu membentang.
Saat tanah bergetar dan berguncang, tangan kanannya yang terbuka perlahan-lahan mengepal. Pada saat yang sama, kelima jari dari tangan raksasa itu melakukan hal yang sama, menggali alur-alur raksasa ke dalam tanah. Debu tanah meledak ke mana-mana, dan Tanah Larangan Keabadian bergoncang hebat.
Dewa dari Tanah Larangan Keabadian melolong, dan saat tangisan itu melayang ke mana-mana, kedua puluh tujuh duri itu berpendar dengan cahaya dewa yang menyilaukan, berubah menjadi sinar-sinar yang melesat ke atas. Dari kejauhan, terlihat jelas bahwa setiap duri tunggal memiliki kekuatan untuk menembus langit dan bumi. Mereka bagaikan dua puluh tujuh senjata surgawi, semuanya membidik Ibu Kemerahan.
Bulan merah di dahi Ibu Kemerahan berkilau, dan bulan merah yang lebih tinggi di langit memancarkan cahaya yang menyilaukan. Cahaya itu berubah menjadi lautan darah yang menghantam kedua puluh tujuh sinar emas, dan bertransformasi menjadi dua puluh tujuh pusaran air berwarna darah.
Pusaran-pusaran air itu berputar tanpa henti dan tidak dapat ditembus. Kedua puluh tujuh sinar emas itu jelas-jelas akan berasimilasi ke dalam pusaran merah tersebut.
Kehendak ilahi yang dilingkupi rasa teror meletus dari dalam tanah. Air liur terus menetes dari mulut Ibu Kemerahan, sementara tatapannya yang semerah darah memancarkan fluktuasi keserakahan dan kelaparan. Kemudian ia mengangkat tangan kanannya dengan kekuatan penuh. Suara retakan terdengar saat lima alur raksasa semakin mendalam, hingga mencapai wujud asli dewa di bawah sana.
Emas dan merah saling berbenturan, meluluhlantakkan tak terhitung istana dan gundukan daging. Hancur berkeping-keping tanah itu ketika dewa yang beristirahat di bawah permukaan bumi meronta-ronta dengan beringas. Suara gemuruh yang memekakkan telinga bergema sementara tanah meledak ke mana-mana. Senyuman di wajah Ibu Kemerahan terus mengembang saat ia merenggut tangan kanannya ke atas.
Tanah seluas 500 kilometer ke segala arah runtuh saat tangan tak kasat mata yang masif itu mencengkeram dewa di Tanah Larangan Keabadian. Saat daratan-daratan itu runtuh, sesuatu yang sangat besar muncul. Itu adalah sesungut daging raksasa, hampir menyerupai ular, yang mencambuk liar saat ditarik secara paksa keluar dari dalam tanah.
Suara benturan keras bergema saat sebuah jurang selebar 5.000 kilometer terbentuk.
Tak terhitung sambaran petir merah memenuhi langit gelap saat dewa dari Tanah Larangan Keabadian ditarik ke tempat terbuka. Dewa itu menyerupai ular atau naga, tanpa bersisik, melainkan memiliki tubuh yang terbentuk dari daging berwarna magenta. Saat dewa itu meliuk-liuk dan menggeliat, segerombolan dua puluh tujuh duri tampak jelas, dengan jarak 500 kilometer di antara masing-masing duri. Mereka bagaikan barisan dua puluh tujuh jarum yang berderet di sepanjang punggungnya.
Inilah dewa yang tertidur di Tanah Larangan Keabadian. Saat dewa itu melolong, kedua puluh tujuh duri menghujam ke arah tangan tersebut, namun tidak mampu menembusnya. Kendati demikian, duri-duri itu berhasil mengepung tangan tersebut dan dengan demikian memperlihatkan bentuk umum dari tangan itu.
Pemandangan tersebut sangat mengejutkan siapa pun yang dapat melihatnya. Bahkan bagi para kultivator, hal itu tampak seperti sesuatu yang keluar dari mitos atau legenda, dan memenuhi hati mereka dengan rasa takjub yang mendalam. Karena gelombang kejutnya, sebagian besar daratan di belakangnya hancur. Namun, tempat yang paling sedikit terkena dampaknya adalah distrik timur. Jelas sekali, itulah alasan mengapa manusia memilih untuk menjadikan tempat itu zona aman mereka. Semuanya… telah menjadi bagian dari rencana.
Xu Qing dan sang Kapten sama-sama tertegun. Begitu aksi dimulai, sang Kapten telah membuka tangannya, dan mereka dapat menggunakan matanya untuk melihat peristiwa tersebut dari berbagai sudut, memberikan pandangan yang sangat komprehensif. Namun, kekuatan para dewa terlalu besar bagi mata khusus sang Kapten, dan mata itu terus-menerus meledak. Oleh karena itu, pemandangannya tidak sejelas yang seharusnya. Kendati demikian, hal itu tidak mengubah rasa teror yang mereka rasakan terhadap Ibu Kemerahan. Jika ada, rasa teror itu justru semakin bertambah. Bagi mereka, dewa dari Tanah Larangan Keabadian tampak begitu perkasa, hingga pada titik di mana terlalu mendekat pun berarti menantang maut. Namun, Ibu Kemerahan mampu menyeret dewa itu keluar dari tanah dengan begitu mudahnya.
Perlawanan dari dewa tersebut memperjelas betapa lebarnya jurang perbedaan kekuatan antara para dewa yang satu dengan yang lain.
Dengan mata yang berkilau, sang Kapten menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Para dewa di daratan Revered Ancient jauh, jauh lebih kuat daripada yang bisa dibayangkan oleh kebanyakan orang. Sangat kuat di luar pemahaman. Dan entitas-entitas yang bahkan disebut dewa oleh para kultivator ini, bagi kaum fana, adalah sang pencipta. Masing-masing dari mereka! Aku benar-benar ingin memakan bulan merah itu, Adik Perguruan kecil….”
Jantung Xu Qing berdegup kencang karena ketakutan, tetapi ia tidak memperlihatkannya. Ia sama sekali tidak terkejut mendengar sang Kapten mengatakan hal seperti itu. Itu hanyalah jenis kegilaan yang selalu diucapkannya.
“Tentu,” ucap Xu Qing. “Semoga berhasil dengan itu.”
“Tidakkah kau bisa mendukungku sedikit lagi, Adik Perguruan kecil? Aku sedang merancang rencana baru yang luar biasa. Sebenarnya… aku menyusun rencana serupa di kehidupan sebelumnya. Hanya saja itu tidak berhasil.”
Dengan mata yang berkilau, sang Kapten menjilat bibirnya.
Chapter 524 · 7m baca
Crimson Mother Arrives (part 2)
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter