Beyond the Timescape - Chapter 510 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 510 · 8m baca

Guyue Zhang’an

by Er Gen

Kota Kekaisaran berada dalam genggaman Dark Serenity, tepatnya setinggi dadanya. Di titik yang paling dekat dengan patung itu terdapat sebuah alun-alun publik yang sangat luas, dilapisi lempengan batu kapur, yang dapat menampung satu juta orang. Sembilan puluh sembilan anak tangga membentang dari alun-alun menuju sebuah altar yang memiliki total sembilan ratus sembilan puluh sembilan pilar raksasa berukir bentuk naga.

Hanya beberapa ratus ribu orang yang diizinkan berkumpul di bawah altar. Di antara mereka terdapat para kesatria pedang, para kultivator dari Istana Administrasi dan Keadilan, serta para pejabat daerah. Jubah dan seragam mereka tertata rapi tanpa cela, tetapi ekspresi wajah mereka menyiratkan duka mendalam. Semuanya memegang bunga hitam.

Kedatangan Xu Qing dan Kong Xianglong menarik sedikit perhatian. Orang-orang menoleh ke arah mereka dengan tatapan penuh kesedihan, pertentangan batin, dan kenangan….

Mereka menghampiri para kesatria pedang yang berkumpul, yang kemudian membuka jalan menuju barisan depan. Xu Qing berhenti berjalan, sementara Kong Xianglong, dengan wajah tanpa ekspresi, maju ke barisan paling depan, menundukkan kepalanya, dan berdiri di sana tanpa bergerak. Xu Qing tetap tinggal bersama sang Kapten. Sang Kapten merangkul bahu Xu Qing, dan keduanya berdiri di sana dengan khidmat.

Segala sesuatu terasa senyap. Kesedihan membuncah di dada ratusan ribu kultivator itu, menyebar dan memenuhi kota, ketiga istana, dan pada akhirnya, seluruh Kabupaten Penyegel Laut.

Awan di kubah langit seolah mencerminkan duka dari bumi, dan hujan pun turun. Derai rintiknya menggema di atas lempengan-lempengan batu kapur. Tak seorang pun menggunakan basis kultivasi mereka untuk menghindari guyuran air hujan. Mereka membiarkannya membasahi tubuh mereka.

Setelah waktu yang cukup untuk membakar sebatang dupa, suara gemuruh terdengar di telinga mereka. Tinggi di atas awan, kilat menyambar bersahutan. Sekelompok orang muncul. Semakin mendekat, mereka memasuki alun-alun dan menaiki anak tangga.

Ratusan ribu kultivator itu menundukkan kepala mereka serempak.

Kelompok itu dipimpin oleh wakil penguasa istana berpangkat tertinggi dari Istana Kesatria Pedang, Istana Administrasi, dan Istana Keadilan. Ada pula tiga pria paruh baya yang, meskipun baru saja mengenakan pakaian baru, memancarkan aura mengerikan. Merekalah panglima tertinggi yang ditunjuk oleh pangeran kekaisaran untuk memimpin ketiga istana tersebut. Hadir pula wakil gubernur, yang memasang ekspresi sangat muram.

Memimpin kelompok tersebut adalah seorang pemuda berjubah kuning. Ia memiliki rambut hitam panjang yang menjuntai di punggungnya, kulit yang sangat cerah, garis wajah yang tegas, alis bagai pedang, dan mata yang berkilauan seolah memantulkan cahaya bintang. Tidak hanya berwajah luar biasa tampan, ia juga memancarkan kebangsawanan yang tak terlukiskan. Seolah-olah, dengan kehadirannya saja, langit dan bumi pun redup. Tidak ada yang lebih wajar selain dirinya berjalan di depan, sementara yang lain mengikuti di belakang.

Tentu saja, dialah orang yang telah menyelamatkan Kabupaten Penyegel Laut pada saat krisis melanda. Ia telah menumpas seluruh iblis jahat di kabupaten itu, membawa terang di tengah langit mendung, dan memenangkan kekaguman dari tak terhitung banyaknya ras. Dialah pangeran kekaisaran ketujuh!

Pada hari peringatan di Kabupaten Penyegel Laut ini, hanya dialah yang layak memimpin.

Saat orang-orang di kiri dan kanan membungkuk dalam-dalam, Pangeran Ketujuh menaiki tangga menuju titik tertinggi di altar tersebut. Di sana ia berdiri, seorang diri. Hanya dia yang berhak berdiri di tempat itu. Dari posisi tersebut, ia mendongak menatap patung raksasa Kaisar Kuno Dark Serenity, dan matanya berkilau penuh takzim. Setekah sejenak, ia berlutut dan bersujud.

“Wahai leluhur kekaisaran, aku adalah Guyue Zhang’an, keturunanmu yang ke-3.915. Aku memohon kedamaian dan kemurnian bagimu!”

Saat ia bersujud, wakil gubernur, para panglima tertinggi, para wakil penguasa istana, dan semua orang turut membungkuk dari pinggang. Lebih jauh ke bawah, ratusan ribu kultivator juga membungkuk dengan penuh hormat. Mereka tidak perlu ikut bersujud. Setelah Pangeran Ketujuh berlutut, itu menandakan bahwa tidak ada orang lain yang layak melakukan hal serupa. Setelah bersujud sebanyak sembilan kali, Pangeran Ketujuh bangkit kembali dan menatap kerumunan orang.

Karena hujan, sosoknya sulit terlihat dengan jelas. Namun, patung Kaisar Kuno Dark Serenity di belakangnya tampak jelas di mata semua orang, menciptakan suasana yang begitu suram.

Saat berlalu, lalu ia berbicara dengan suara sarat kesedihan.

“Angin besar bertiup, pasang besar mengalir; naga banjir, totem para deras; burung phoenix terlahir kembali dalam pijaran api.

“Hari ini, dengan ini aku mempersembahkan sebuah kenang-kenangan kepada Kaisar Kuno Dark Serenity, dan sebuah penghormatan kepada Kaisar Dark War. Kami umat manusia, para penjaga Penyegel Laut, pembawa kedamaian dan keberuntungan, telah melindungi Kabupaten ini selama delapan ratus dua belas bulan, dan sangat mendambakan lebih dari sepuluh siklus enam puluh tahun kedamaian dan keamanan yang berkesinambungan.

“Tak terhitung pahlawan kita yang telah gugur, tetapi tiga orang berdiri paling terdepan di antara mereka.

“Penguasa Istana Administrasi adalah lambang kebijaksanaan dan kebesaran jiwa seorang sarjana. Penguasa Istana Keadilan adalah perwujudan kerendahan hati dan keberanian. Penguasa Istana Kesatria Pedang adalah teladan kesetiaan dan tanggung jawab.

“Jiwa para pahlawan Penyegel Laut membangkitkan rasa takjub, meredupkan cahaya bintang dan rembulan. Seiring berlalunya ribuan tahun di tanah kita, para leluhur datang dan pergi. Ada masa kejayaan dan ada masa kehinaan. Ada masa naik dan ada masa turun.

“Kita berduka atas kemunduran langit dan bumi. Kita meratapi jatuhnya bintang-bintang di langit biru. Mereka yang tewas telah pergi, namun peninggalan fisik mereka tetap tinggal; saat mengenang rupa mereka, air mata kesedihan tumpah ruah. Penderitaan yang lahir dari sana mendorong kita melampaui batas kendali diri.”

Perkataan Pangeran Ketujuh hingga titik ini sarat dengan kesedihan, dan ekspresinya tampak muram. Ia berhenti sejenak. Setiap orang di kerumunan merasakan duka yang mendalam, bahkan suara tangisan terdengar bersahutan.

“Namun, kobaran api umat manusia tidak akan pernah padam! Bahkan para dewa pun tidak dapat menundukkan hati manusia! Dengan ini aku bersumpah dengan sungguh-sungguh untuk memohon kepada kaisar kita agar mengabadikan jiwa para pahlawan yang gugur, dan mendirikan tugu peringatan bagi mereka, yang di depannya dupa akan terus menyala dari generasi ke generasi!

“Kita adalah ras yang leluhur kuno-nya bersinar bagaikan bintang-bintang. Dan di antara keturunan kita akan lahir generasi-generasi pahlawan. Alam semesta senantiasa bergerak, yang mewujudkan semangat perbaikan diri yang kekal. Kosmos ini penuh pengampunan, yang memperkuat kebajikan kebesaran jiwa.

“Leluhur kita yang terhormat, yang dipuja oleh khalayak ramai, akan dibuatkan kuil atas nama mereka, saat kita bergabung bersama untuk membangun kemegahan yang menjulang tinggi. Biarlah hal ini menjadi jelas bagi generasi mendatang bahwa semua ini tidak akan pernah dilupakan. Selamanya!”

Seiring bergema pidato duka Pangeran Ketujuh, lonceng-lonceng di seluruh sekte yang tak terhitung jumlahnya di berbagai prefektur Kabupaten Penyegel Laut berdentang nyaring.

Kabupaten itu berduka sebagai satu kesatuan.

Jauh di bawah kota kekaisaran, paviliun pedang tertinggi dari semuanya, yang dulunya milik Penguasa Istana Kong, hancur menjadi abu yang terbawa angin melintasi kabupaten.

Tangisan tak tertahankan terdengar di tengah kerumunan ratusan ribu kultivator itu, dan air mata mereka bercampur dengan air hujan yang jatuh ke tanah.

Xu Qing kesulitan melihat dengan jelas. Sulit untuk mengatakan apakah itu karena rasa pedih di hatinya atau karena pandangan yang kabur akibat air hujan. Bagaimanapun, ia merasa seolah-olah ia hampir dapat melihat Penguasa Istana Kong berdiri di hadapannya, tinggi dan perkasa. Megah. Setelah kematian gubernur, dialah yang menjadi pemimpin Kabupaten Penyegel Laut.

Saat emosi melanda diri Xu Qing, ia tiba-tiba teringat akan sesuatu yang pernah dikatakan oleh Arch-Immortal Plumdark.

“Xu Qing, mungkin ketika kamu mengembangkan sedikit saja rasa kagum terhadap organisasi dan orang-orang di dalamnya, kamu pada akhirnya akan mengubah kekaguman itu menjadi rasa hormat. Dan ketika itu terjadi, kamu akan mengerti segalanya.”

Dulu, Xu Qing sempat merasa sedikit bingung dengan nasihat itu. Bagaimanapun, ia tidak pernah benar-benar menganggap dirinya sebagai seorang kesatria pedang sejati. Namun sekarang, saat ia berdiri di tengah hujan dengan hati yang terluka, ia tiba-tiba merasakan rasa hormat yang mendalam.

Sayangnya, Penguasa Istana Kong tidak sedang berdiri di sana menembus hujan. Ia hanya ada di dalam ingatan Xu Qing. Dan kini jarak di antara mereka sejauh langit dan bumi. Satu-satunya hal yang tertinggal hanyalah medali komando itu. Setelah Penguasa Istana Kong tewas dan Pangeran Ketujuh mengambil alih pimpinan Istana Kesatria Pedang, seluruh kewenangan dalam medali tersebut telah dicabut. Kendati demikian, medali itu masih menyimpan hak untuk menggunakan harta karun tabu ibu kota kabupaten sebanyak satu kali.

Setelah keheningan yang panjang dan penuh duka, Pangeran Ketujuh kembali berbicara. Kali ini, tidak ada kesedihan dalam suaranya. Sebaliknya, ia berbicara dengan tekad yang tak tergoyahkan, dibalut niat membunuh, yang menyebabkan guntur bergemuruh di langit, dan memancing geraman ganas dari naga emas berkuku empat.

“Biarkan seluruh Kabupaten Penyegel Laut tahu bahwa kita telah mengetahui identitas pelaku yang bertanggung jawab atas kematian gubernur, perang yang membawa bencana, gugurnya tiga penguasa istana, dan darah seluruh pahlawan kita!”

Xu Qing mendongak.

“Yao Tianyan, keturunan dari Marquis Surgawi Yao, telah meremukkan hati kita! Sepanjang sejarah Kabupaten Penyegel Laut, ia selalu melindungi para nonmanusia. Dan sekarang, ia telah berkolusi dengan kaum Holytides untuk membunuh gubernur, menyeret kabupaten kita ke dalam kobaran perang, mengkhianati umat manusia, dan membawa kematian bagi tak terhitung banyaknya manusia Penyegel Laut!

“Investigasi kami lebih lanjut mengonfirmasi bahwa dialah pihak yang paling bertanggung jawab atas runtuhnya front utara. Mengingat sifat kejahatannya yang mengerikan, dengan ini aku mengeluarkan surat perintah penangkapan skala kabupaten untuk pengkhianat Yao Tianyan ini. Aku juga akan mengajukan petisi kepada kaisar untuk memperluas surat perintah tersebut ke seluruh wilayah manusia!”

Ledakan kemarahan yang luar biasa meletus dari ratusan ribu kultivator tersebut. Amarah pun membuncah dari sekian banyak rakyat jelata di ibu kota kabupaten yang mendengar perkataan itu. Selama bertahun-tahun, ada banyak orang yang tidak menyukai Marquis Yao. Orang-orang mengutuknya hampir setiap saat. Tidak hanya berulang kali melindungi para nonmanusia, ia bahkan mengizinkan anggota klannya menikah dengan nonmanusia. Hal itu tampak tak jauh berbeda dengan bekerja sama dengan musuh, itulah sebabnya banyak orang mengutuk Klan Yao sebagai kaum yang lebih buruk daripada anjing atau babi. Mereka adalah pengkhianat umat manusia, tidak memiliki nurani, dan orang-orang yang bertekuk lutut di hadapan pihak luar. Kutukan semacam itu telah menjadi hal biasa selama delapan ratus tahun terakhir.

Pandangan umum adalah bahwa Marquis Yao menganggap kaum nonmanusia jauh lebih berharga, dan reputasinya di kalangan nonmanusia jauh lebih penting. Dengan kata lain, manusia tidak begitu penting. Pemikiran semacam itu telah membebani benak para kultivator selama delapan ratus tahun.

Ketika Xu Qing tiba di ibu kota kabupaten, ia telah mendengar tak terhitung banyaknya orang yang mengutuk Marquis Yao secara diam-diam.

Sejauh yang Xu Qing ketahui, sangat masuk akal jika Marquis Yao adalah sang pengkhianat! Nyatanya, sejak gubernur tewas, ada banyak desas-desus tentang Marquis Yao sebagai tersangka utama.

Saat ini, mata para kultivator dari ketiga istana tampak merah menyala. Dalam sekejap mata, niat membunuh mereka mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bagi para kesatria pedang, kematian penguasa istana mereka adalah sumber rasa sakit yang tiada akhir di hati mereka, dan kini mereka semua merasa bahwa misi terpenting mereka adalah membalaskan dendam kematiannya.

“Bunuh Marquis Yao!”

“Balaskan dendam para penguasa istana!”

“Balaskan dendam gubernur!”

“Balaskan dendam para putra Kabupaten Penyegel Laut yang tak terhitung jumlahnya yang telah mengorbankan nyawa mereka dalam perang!!”

“Klan Yao harus dimusnahkan!”

Di bawah sana, pasukan garnisun kekaisaran melangkah maju dengan niat membunuh yang meluap-luap. Kemarahan para perwira dan prajurit begitu hebat hingga mampu menyisihkan guyuran hujan!

Yao Yunhui berada di tengah kerumunan, tubuhnya gemetar, matanya penuh air mata duka. Orang-orang di sekitarnya menatapnya tajam, lalu menjauhinya seolah-olah ia adalah sosok yang menjijikkan. Ia membuka mulutnya untuk berbicara, namun tiada sepatah kata pun yang keluar.

Zhang Siyun berada dalam situasi yang tak jauh berbeda. Beberapa saat kemudian, keduanya digiring pergi oleh pasukan kekaisaran.

Di atas altar, Pangeran Ketujuh menyadari pergerakan di bawah sana. Ia melihat dengan jelas apa yang sedang terjadi, dan ketika tatapannya jatuh pada Zhang Siyun, matanya berkelebat sejenak.

Sementara itu, di Kediaman Yao, saudari perempuan Marquis Yao, Yao Feihe, menangis tersedu-sedu, air matanya membasahi pakaiannya hingga basah kuyup dan menggelap.

“Kakak… apakah semua itu sepadan?”

Ia memejamkan mata saat suara hancurnya bangunan mencapai telinganya. Pasukan yang dikirim oleh Pangeran Ketujuh telah tiba untuk menangkap semua orang, termasuk para orang tua dan anak-anak. Yao Feihe tidak melakukan perlawanan saat ia dijadikan tawanan. Saat para tahanan digiring keluar dari Kediaman Yao, banyak rakyat jelata menatap dengan pandangan merendahkan, melontarkan kutukan dan menuntut darah mereka tumpah.

Li Shitao berada di kejauhan. Ia tiba terlalu terlambat untuk membantu, dan hanya bisa berdiri di sana tak berdaya, dengan ekspresi dipenuhi amarah.

Kemarahan yang membara di ibu kota kabupaten saat itu sudah lebih dari cukup untuk menenggelamkan segala suara lainnya.

Gunakan ← → untuk pindah chapter