Pada bulan keempat tahun 2.932 Kalender Perang Gelap, gubernur Kabupaten Segel-Laut tewas. Selain itu, pasukan Pasang Suci menyerbu tiga prefektur, sementara Pasukan Bayangan Malam melancarkan serangan besar-besaran ke ibu kota kekaisaran.
Kabupaten Segel-Laut terjatuh ke dalam kekacauan hebat dan berada di ambang kehancuran total.
Pada bulan keenam di tahun yang sama, Kabupaten Segel-Laut, setelah mengerahkan seluruh kekuatan kabupaten dan melakukan perahanan selama dua bulan, gagal mempertahankan garis depan utara. Li Rongyu, kepala Istana Administrasi, gugur dalam pertempuran. Zhang Hengxin, kepala Istana Keadilan, juga gugur dalam pertempuran. Yao Tianyan hilang. Pasukan sekutu menderita korban jiwa yang tak terhitung jumlahnya dan terpaksa mundur sejauh 100.000 kilometer.
Sehari setelah kekalahan di garis depan utara, garis depan barat juga runtuh. Kong Liangxiu, kepala Istana Pendekar Pedang, gugur dengan gagah berani dalam pertempuran.
Dalam situasi paling krusial bagi umat manusia di Kabupaten Segel-Laut itu, pangeran kekaisaran ketujuh, yang sangat mengkhawatirkan keadaan tersebut, berjuang melawan segala rintangan untuk menerobos blokade Bayangan Malam dan tiba dengan membawa pasukan bala bantuan.
Pangeran Ketujuh merintis jalan di tengah duri dan semak belukar, lalu menyerang bagaikan sambaran petir yang didukung oleh kekuatan ratusan ribu pon. Di bawah komandonya terdapat pasukan kekaisaran yang kuat dengan jumlah 60.000.000 prajurit, termasuk pasukan dari lima Divisi Surgawi serta 49 panglima tertinggi dari Keagungan Timur. Dengan kekuatan-kekuatan itu, ia menyapu bersih garis depan utara.
Ia membantai 7.000.000 kultivator musuh dari dua kerajaan Pasang Suci, Angin-Surgawi dan Tanah-Pijar. Menggunakan darah para musuh itu, ia mendirikan perimeter pertahanan yang tak tembus di garis depan utara.
Setelah itu, ia maju ke tengah malam bersama 27 panglima tertinggi, 113 jenderal, dan sejumlah kultivator prajurit berpengalaman dari ibu kota kekaisaran. Menunggangi kereta kekaisaran naga emas, ia membuat penampilan pertamanya di garis depan barat.
Pada saat garis depan barat runtuh dan seluruh manusia di Kabupaten Segel-Laut menghadapi ancaman kepunahan yang sudah di depan mata, Pangeran Ketujuh menghentikan laju dua dinasti kerajaan Pasang Suci, Roh-Merah dan Kabut-Bulan. Dengan terjun langsung ke medan pertempuran, ia menimpakan luka parah pada kaisar dari kedua dinasti tersebut.
Pangeran Ketujuh tidak hanya melukai dua kaisar secara serius. Di bawah kepemimpinannya, pasukan umat manusia membantai lebih dari 6.000.000 musuh di garis depan barat. Darah kekaisaran menodai kubah langit ketika Pangeran Ketujuh, dengan kerja sama para panglima tertinggi, mengabaikan keselamatan dirinya sendiri untuk melepaskan sihir terlarang guna menyegel separuh dari seluruh kabupaten dan menghentikan efek dari harta pusaka domain Bayangan Malam. Dengan cara itu, ia berhasil menyelamatkan pasukan yang telah kalah di garis depan barat.
Ia kemudian mengerahkan pasukan yang selamat untuk membentuk garis pertahanan yang bersatu. Ia mengerahkan 10.000.000 prajuritnya sendiri, beserta para kultivator Kabupaten Segel-Laut yang selamat, untuk menjaga perbatasan. Kemudian ia menugaskan tiga panglima tertinggi dan sepuluh jenderal untuk memimpin para kultivator prajurit dari ibu kota kekaisaran menuju jantung Kabupaten Segel-Laut guna memburu para penyusup Pengawal Hitam.
Semangat setiap orang di Kabupaten Segel-Laut bangkit kembali, dan selama masa itu, para iblis dan setan gemetar ketakutan, sementara roh-roh jahat menciut dalam teror! Semua penjahat di Kabupaten Segel-Laut dibasmi sampai ke akar-akarnya, dan umat manusia memasuki periode kedamaian serta ketenangan. Berbagai spesies sekutu bersorak gembira, dan tak terhitung spesies lainnya membungkuk memberikan penghormatan.
Pada bulan ketujuh di tahun yang sama, setelah Pasang Suci berhasil dikalahkan sepenuhnya, umat manusia meluncurkan serangan balik besar-besaran, mengerahkan pasukan bersenjata yang mengerikan untuk merebut kembali tanah prefektur mereka yang hilang.
Pangeran Ketujuh adalah seorang ahli strategi yang andal dan memiliki reputasi sebagai sosok dengan pemikiran militer yang luar biasa. Ia mengubah kemunduran menjadi serangan dan memasang jebakan licik bagi musuh. Dengan meledakkan api bumi di Prefektur Hujan dan Pencerahan, ia menggunakan gunung berapi yang tak terhitung jumlahnya sebagai senjata. Tanah bergetar dan gunung-gunung berguncang. Dampaknya bahkan merambah hingga ke Prefektur Air-Surut dan Ketenangan. Empat prefektur dilalap api.
Langit di sana berubah menjadi gelap, dengan satu-satunya sumber cahaya yang berasal dari api bumi yang terus menyala.
Pasukan Pasang Suci di negeri-negeri itu menjerit kesakitan saat mereka dibantai dalam jumlah besar. Dengan cara itulah invasi Pasang Suci berakhir. Ketika berita kemenangan tersebut menyebar ke seluruh Kabupaten Segel-Laut, seruan kegembiraan bergema di mana-mana.
Wakil gubernur melakukan beberapa kunjungan resmi kepada sang pangeran kekaisaran, untuk memohon secara resmi agar ia datang ke ibu kota kabupaten dan mengambil alih kendali. Semua permohonan tersebut ditolak. Namun, setelah kemenangan besar diraih, Pangeran Ketujuh, atas pertimbangan semua perwira dan prajurit dalam pasukan manusia, mengumumkan rencana perjalanannya ke ibu kota kabupaten. Itu terjadi pada bulan ketujuh tahun tersebut.
Tiga hari sebelum sang pangeran kekaisaran berencana berangkat ke ibu kota kabupaten.
Di perbatasan Prefektur Pencerahan, tempat jajaran pegunungan membentuk benteng alami sepanjang jutaan kilometer, Xu Qing duduk di atas batu gunung sambil memandang ke arah langit dan bumi.
Ia tampak sangat berbeda jika dibandingkan dengan masa lalu.
Alih-alih mengenakan seragam pendekar pedangnya, ia mengenakan pakaian zirah yang babak belur. Ia tidak lagi memiliki rambut panjang yang terurai. Rambutnya dipotong pendek. Ia kotor dan berbau darah serta bau anyir. Bibirnya kering dan pecah-pecah. Kelelahan yang mendalam memenuhi matanya. Saat ia menatap ke arah senja, ia melihat asap di mana-mana. Apa yang dulunya merupakan pegunungan yang subur dan hijau kini telah hangus dan gundul. Ia melihat kegelapan atau api di mana-mana. Dan di balik semua asap serta api itu terdapat mayat-mayat hangus yang tak terhitung jumlahnya….
Xu Qing meresapi semuanya dalam keheningan.
Pada suatu titik, ia mendengar suara langkah kaki di belakangnya. Itu adalah Kong Xianglong.
Kong Xianglong mengenakan pakaian yang sama dengan Xu Qing, dan tampak sama lelah serta kesepiannya. Ia mendekat lalu duduk di samping Xu Qing.
"Kembalilah dan beristirahatlah, Xu Qing," ujarnya dengan nada datar tanpa emosi saat menatap langit dan bumi. "Aku akan menggantikanmu untuk saat ini. Ngomong-ngomong, aku melihat Kakak Sulungmu dalam perjalanan ke sini. Dia ingin kau segera menemuinya. Tadi pagi wakil kepala istana mengatakan bahwa pasukan utama kita akan kembali ke ibu kota kabupaten dalam tiga hari. Dia menyebutkan ingin kau ikut serta. Divisi Kesekretariatan sudah tidak ada lagi, jadi tidak ada gunanya kau terus tinggal di sini. Aku telah menyetujui atas namamu untuk kembali."
Xu Qing berdiri dan menatap ke arah yang kini menjadi garis depan pertahanan. Pasukan di sini terdiri dari para kultivator Kabupaten Segel-Laut dan prajurit kekaisaran. Jauh di kejauhan tampak markas besar yang mengawasi garis pertahanan kedua.
Sesaat berlalu dalam keheningan, dan kemudian Xu Qing menepuk pundak Kong Xianglong. Mengeluarkan sebotol kendi berisi alkhohol, ia meletakkannya di sisi samping. Itulah satu-satunya kendi yang tersisa setelah ia berjaga di tempat ini sepanjang hari dan sepanjang malam.
Kong Xianglong mengambil kendi itu lalu meneguknya dalam-dalam. Saat Xu Qing berbalik untuk pergi, ia kembali berbicara.
"Xu Qing, apakah kau melihat sosok bayangan itu…?"
Xu Qing memejamkan mata lalu mengangguk.
Kong Xianglong terdiam sejenak. "Bagaimana pendapatmu tentang pangeran kekaisaran?"
"Dia kejam," jawab Xu Qing dengan suara serak.
Ia teringat kembali pada saat jaring besar harta pusaka terlarang runtuh dan naga emas berkuku empat muncul di langit. Dan ia teringat pada sosok yang menunggangi naga tersebut.
"Dia meledakkan api bumi di dua provinsi," ucap Kong Xianglong. "Orang tua itu—eh, maksudku, kepala istana juga berencana melakukan hal itu, itulah sebabnya ia berusaha mengevakuasi provinsi-provinsi tersebut. Tapi pangeran kekaisaran ini sangat kejam sampai-sampai dia tidak mau repot-repot melakukannya. Yang dia pedulikan hanyalah kemenangan dan reputasi. Dia sama sekali tidak peduli pada nyawa!"
Xu Qing tidak mengatakan apa pun.
"Apa kau membaca laporan perang, Xu Qing? Yang mereka bicarakan hanyalah pencapaian gemilang sang pangeran. Dia melukai dua kaisar! Oh, betapa luar biasanya! Tapi kenapa dia tidak datang lebih awal? Bahkan waktu selama sebatang dupa saja sudah bisa membuat perbedaan besar…." Kong Xianglong terkekeh pahit lalu tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Setelah meneguk kembali kendi itu dalam-dalam, ia melambaikan tangan mengisyaratkan kepergian.
Xu Qing berdiri di sana untuk waktu yang cukup lama, lalu berjalan pergi.
Sebulan telah berlalu sejak kematian Kepala Istana Kong.
Kini setelah Pangeran Ketujuh tiba, tidak ada lagi gunanya mempertahankan Divisi Kesekretariatan. Faktanya, kebanyakan orang bahkan telah melupakannya. Para pendekar pedang yang direkrut Xu Qing ke divisi lamanya telah ditugaskan ke pos-pos lain.
Kehidupan terus berjalan. Seiring perang yang terus berlanjut, Xu Qing secara pribadi menjadi lebih mengenal kepribadian Pangeran Ketujuh dan cara kerjanya. Sang pangeran tampaknya hanya peduli pada kemenangan, tanpa peduli berapapun harga yang harus dibayar. Hal itu persis seperti yang dikatakan Kong Xianglong. Baginya, nyawa tidak ada artinya. Sebagian besar manusia, non-manusia, dan makhluk fana di Prefektur Hujan dan Pencerahan tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengevakuasi diri.
Ketika momen strategis yang tepat tiba, Pangeran Ketujuh meledakkan api bumi. Banyak prajurit Pasang Suci yang tewas selama sebulan terakhir. Namun, banyak pula manusia yang turut tewas.
Hal yang sama juga terjadi pada pasukan yang awalnya ditempatkan di garis depan barat. Mereka biasanya bertempur sebagai garda depan dalam pertempuran. Tidak banyak yang selamat, dan mereka yang selamat dikirim untuk bergabung dengan pasukan kekaisaran yang lebih besar. Sepanjang jalannya perang, masing-masing dari mereka telah menemppa diri menjadi prajurit elit, veteran dari berbagai pertempuran.
Xu Qing dan Kong Xianglong tidak terkecuali. Pada akhirnya, wakil kepala istana dan para pemimpin kabupaten lainnya berhasil mengecualikan mereka berdua dari misi-misi paling mematikan. Saat ini, mereka adalah anggota pasukan agung kekaisaran, bertugas di bawah Pasukan ke-17 yang dipimpin oleh Jenderal Ketiga. Pasukan tersebut bertanggung jawab atas bentangan perimeter pertahanan ini.
Saat ini hari sudah petang. Awan gelap dan asap tebal membuat segalanya tampak berwarna kecoklatan saat Xu Qing berjalan dalam diam menyusuri jalan setapak gunung.
Ia berjalan langsung menuju markas garnisun, yang telah didirikan di sebuah lembah terdekat. Ada ratusan kultivator di sana. Beberapa berasal dari garis depan barat yang lama. Jumlah mereka tidak banyak, namun kelompok itu juga tidak bisa dibilang kecil. Kendati demikian, situasinya sangat sunyi. Setiap orang menderita luka-luka dalam berbagai bentuk. Beberapa orang duduk merawat luka mereka. Yang lain sedang bermeditasi. Sementara yang lainnya duduk dengan tatapan kosong di wajah mereka. Tak jauh dari sana terdapat tumpukan mayat yang belum sempat dikuburkan.
Kedatangan Xu Qing menarik perhatian beberapa orang yang menoleh ke arahnya. Beberapa adalah pendekar pedang, beberapa adalah murid sekte. Ia bahkan melihat beberapa kultivator dari bekas Divisi Kesekretariatan.
Di sisi samping, di depan sebuah tenda tertentu, tampak sang Kapten. Penampilannya tampak kusut, dan baju zirahnya rusak parah. Namun, ia tampaknya sedang bersemangat tinggi. Tubuhnya telah lama pulih kembali seperti semula. Ia berjongkok di depan tenda, mengunyah sebuah tanduk berwarna hitam seolah-olah sedang menguji ketangguhannya. Di hadapannya terdapat sebuah wajan militer yang dipanaskan oleh batu api. Ada daging yang sedang direbus di dalamnya, mendidih dan meletup-letup. Aromanya tercium sangat harum.
"Kakak Sulung. Aku kembali." Xu Qing melangkah melewati pria itu dan masuk ke dalam tenda.
Tenda itu adalah tempat tinggal bersama mereka. Meskipun Pangeran Ketujuh adalah seorang komandan yang tegas di medan pertempuran, pada akhirnya ia mengalah pada permohonan berulang kali dari wakil kepala istana dan sesepuh agung Pengadilan Pendekar Pedang untuk mengizinkan para pendekar pedang kembali ke sekte masing-masing, yang semuanya mengalami kekurangan kultivator secara parah.
Meskipun begitu, ia tidak mengizinkan semuanya untuk kembali. Hanya sebagian saja.
Tuan Pelebur-Darah, yang terluka parah, serta beberapa murid Tujuh Mata Darah lainnya, diizinkan untuk kembali. Mereka berada dalam gelombang keempat warga lokal kabupaten yang diperbolehkan pulang.
Sebagai seorang pendekar pedang, sang Kapten tidak dapat bergabung dengan mereka. Sebelumnya ia telah ditugaskan ke lokasi yang berbeda, namun entah bagaimana ia berhasil memanipulasi keadaan hingga akhirnya dipindahkan ke legiun yang sama dengan Xu Qing.
Sang Kapten menoleh untuk melihat Xu Qing dan menyeringai. "Kau kembali tepat saat aku memperhitungkan kedatanganmu, Adik Junior kecil. Ayo, mari kita makan!" Sambil tertawa, ia memberi gestur agar Xu Qing bergabung dengannya di dekat wajan. "Tadi pagi aku pergi ke garnisun kekaisaran dan mendapati mereka memiliki makanan yang sangat lezat di sana. Kebetulan sekali aku mendapatkan sedikit untukku dan kau. Apa kau tahu mereka memiliki binatang buas pertempuran Pasang Suci di sana?" Ia menunjuk ke arah wajan. "Mau coba?"
Xu Qing melirik sang Kapten, dalam hati merasa takjub dengan kepiawaian pria itu dalam mencari teman. Sejak kedatangan pasukan kekaisaran, sang Kapten rutin mengunjungi garnisun kekaisaran setiap hari. Ia telah berteman dengan banyak orang, dan juga memperoleh banyak informasi. Sesekali, ia bahkan membawa pulang perbekalan yang sangat bergizi.
Xu Qing mengambil sepotong daging lalu memasukkannya ke dalam mulut. Rasanya lezat. Terlebih lagi, setelah ditelan, makanan itu menebarkan kehangatan ke seluruh tubuhnya, disertai dengan sedikit energi spiritual yang bermanfaat bagi basis kultivasinya.
"Lumayan, kan?" kata sang Kapten sambil menyeringai lagi. Bersandar ke belakang, ia mulai memakan potongan dagingnya sendiri. "Aku dengar dari Tua Kong bahwa kita akan kembali ke ibu kota dalam tiga hari. Rasanya sudah sangat lama kita tidak ke sana. Begitu kita kembali, kau dan aku harus mulai menukar beberapa buah dao yang kita dapatkan itu."
"Aku sempat bertanya-tanya dan mendapati bahwa benda-benda tersebut sangat dihargai bahkan di ibu kota kekaisaran." Sang Kapten melirik sekeliling, lalu merendahkan suaranya dan melanjutkan, "Menurut rumor yang kudengar, perang di Wilayah Kekaisaran masih terus berlangsung. Pasukan Bayangan Malam menyerang dengan kekuatan penuh. Dan spesies-spesies lain mulai bertingkah gelisah. Kabupaten Segel-Laut adalah satu-satunya tempat di mana manusia meraih kemenangan."
"Aku dengar kemenangan besar di sini telah membuat beberapa spesies mayoritas di dekat Wilayah Kekaisaran mengurungkan niat mereka untuk bergerak. Sebaliknya, mereka menunggu untuk melihat apa yang akan terjadi…. Setiap orang di dunia ini membicarakan Pangeran Ketujuh dan kemenangan besarnya."
"Aku juga mengetahui bahwa sang kaisar memiliki dua belas putra dan tiga putri, namun tidak ada sedikit pun tanda-tanda perebutan kekuasaan. Sang kaisar berada di puncak masa kejayaannya, dan bertindak dengan kekuatan serta ketegasan. Terlebih lagi, dia adalah sosok yang suram dan tak kenal ampun. Dia tidak terlalu peduli pada keluarga, dan hanya tertarik pada apa yang menguntungkan umat manusia secara keseluruhan."
"Kau bisa melihat bahwa Pangeran Ketujuh berasal dari cetakan yang sama. Rupanya, sang pangeran bahkan tidak berencana untuk kembali ke ibu kota kekaisaran. Pikirkan tentang semua yang telah dia lakukan sejak tiba di sini; semuanya tampak seperti persiapan untuk menjadikan Kabupaten Segel-Laut sebagai wilayah pribadinya."
Sang Kapten tampak sangat termenung.
"Ini semua adalah permainan Go yang sangat besar. Siapa yang tahu langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya? Satu hal yang pasti: Kabupaten Segel-Laut memiliki pemimpin baru…. Oleh karena itu, Adik Junior kecil, jangan terlalu terikat pada bagaimana keadaan di masa lalu. Hanya ada satu kepastian di dunia ini, dan itu adalah kematian. Oleh karena itu, tetap hidup adalah hal yang paling penting."
"Ibarat daging di dalam wajan ini. Meskipun butuh waktu lama untuk merebusnya, jika kau memberinya waktu yang cukup, daging itu akan menjadi sangat empuk. Tidak ada emosi negatif yang tidak akan mereda seiring berjalannya waktu. Jika kau masih memilikinya, itu hanya berarti waktu yang berlalu belum cukup lama."
"Sebelum sang patriark pergi, dia menyuruhku untuk bekerja keras meningkatkan kultivasiku, dan tidak perlu mengkhawatirkan wanita. Dia bilang masih akan ada banyak wanita di sekitar setelah aku mengangkat basis kultivasiku ke tingkat yang sangat tinggi. Aku memikirkan hal itu secara mendalam, dan aku menyadari perkataannya masuk akal."
"Prinsip yang sama juga berlaku untuk Kabupaten Segel-Laut. Jika mereka tidak menginginkan kita, kita akan pergi. Nanti, ketika kita menjadi lebih kuat, kita bisa kembali dan unjuk kekuatan. Spesies lain akan berbaris untuk bekerja bagi kita."
Tampak sangat bangga pada dirinya sendiri, sang Kapten mengambil sepotong daging lagi dari wajan dan menyerahkannya kepada Xu Qing.
Xu Qing mengunyah daging itu perlahan-lahan, suap demi suap.
Sekitar waktu ketika invasi Pasang Suci ke Kabupaten Segel-Laut diakhiri oleh kobaran api bumi di empat prefektur, keempat kaisar Pasang Suci berkumpul di tanah suci pasir putih. Di sana, di kuil kaisar leluhur, mereka bersujud di hadapan sebuah singgasana khusus yang terbuat dari kristal darah.
Duduk di atas singgasana tersebut adalah sesosok figur yang diselimuti kegelapan buram, membuat mustahil untuk melihatnya dengan jelas. Satu-satunya hal yang terlihat adalah aliran energi hitam yang merembes keluar dari sosok tersebut dan menyatu ke dalam kristal darah. Tampaknya pembuluh darah figur itu sedang dimurnikan dengan cara tersebut.
Kaisar Roh-Merah telah menumbuhkan kembali tubuh jasmaninya. Namun, ia tampak pucat, seolah-olah energi dan darahnya tidak stabil. "Yang Mulia Leluhur," ujarnya, "semuanya berjalan sesuai rencana. Namun, Pasukan Bayangan Malam tampaknya mulai curiga."
Di samping Kaisar Roh-Merah berdiri ketiga kaisar lainnya, Angin-Surgawi, Kabut-Bulan, dan Tanah-Pijar. Semuanya menundukkan kepala.
Ketika mereka tidak mendapatkan tanggapan atas penjelasan Roh-Merah, Kaisar Angin-Surgawi berkata, "Yang Mulia Leluhur, kita kehilangan 30.000.000 pasukan dalam konflik ini. Pangeran Ketujuh bersikap kejam sekaligus tegas. Dia bukanlah individu biasa. Jika orang yang bekerja sama dengan kita… sedang memperdaya kita, atau jika Pangeran Ketujuh mengingkari janjinya—"
"Angin-Surgawi," sela Kaisar Kabut-Bulan, "semua ini telah diatur oleh sang kaisar leluhur. Yang harus kita lakukan hanyalah menyelesaikan tugas. Berhentilah terlalu banyak khawatir."
Kedua kaisar lainnya tidak mengungkapkan apa yang sedang mereka pikirkan, dan hanya tetap diam di tempat.
Saat kemudian, sebuah suara kuno bergema dari sosok di atas singgasana.
"Kalian berempat tidak perlu menyelidiki informasi. Aku tahu kalian penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Sebagian dari kalian menginginkan kemerdekaan. Sebagian dari kalian masih menganggap diri kalian sebagai manusia. Sebagian dari kalian mengkhawatirkan posisiku. Dan sebagian dari kalian menginginkan pemimpin yang lebih kuat. Di masa lalu mungkin aku akan mengabaikan semua itu, namun kali ini, aku dapat memberitahu kalian bahwa siapa pun yang mendatangkan masalah bagi spesies kita akan langsung dibunuh. Aku akan menggantikan mereka dengan kaisar yang baru."
Keempat kaisar menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
"Roh-Merah."
Ekspresi Kaisar Roh-Merah berubah semakin serius.
"Kau telah melakukan pengorbanan besar, dan kau akan diberi kompensasi. Meskipun dao-mu telah terputus, aku bisa memulihkan kerugianmu!"
Dengan tubuh gemetar, Kaisar Roh-Merah membenturkan dahinya ke tanah saat ia bersujud.
"Mengenai kecurigaan Pasukan Bayangan Malam yang kau sebutkan tadi, itu karena sesuatu yang kusampaikan kepada mereka. Bagaimanapun juga, kebenaran hanya dapat disembunyikan jika kebenaran lain diungkapkan." Ketika keempat kaisar mendengar hal itu, berbagai ekspresi ganjil muncul di wajah mereka.
"Angin-Surgawi."
Kaisar Angin-Surgawi menarik napas dalam-dalam.
"Aku mengerti keraguanmu. Kendati demikian, pangeran kekaisaran manusia itu jelas ingin menjadi semacam pahlawan. Lagipula, sudah jelas bagi semua orang bahwa, meskipun dia memang membunuh 30.000.000 prajurit Pasang Suci kita, hal itu harus dibayar dengan tewasnya manusia yang tak terhitung jumlahnya. Tapi siapa yang peduli? Tidak ada. Manusia menginginkan seorang pahlawan, jadi mereka hanya memerhatikan pencapaian-pencapaian gemilang. Mengenai mana yang salah atau benar, selain anggota keluarga dari mereka yang tewas, siapa yang akan memerhatikan? Sedikit sekali orang yang tahu berapa banyak tulang yang terkubur di dalam bayang-bayang."
"Dia akan tetap melanjutkan rencana untuk memperluas wilayahnya dan membangun kejayaan selama seribu tahun. Jika dia berhasil, siapa yang akan memerhatikan berapa banyak orang yang tewas di sepanjang jalan? Siapa yang berani menentangnya?"
"Sebagaimana pepatah mengatakan, reputasi seorang jenderal dibangun dari sepuluh ribu mayat. Mengingat dia ingin menjadi pahlawan bagi umat manusia, dia pasti tidak akan menarik kembali kata-katanya sebelum mencapai tujuannya. Dan dia akan mengirimkan kepada kita apa yang telah kita minta."
"Sedangkan kalian berempat, kalian harus memiliki sikap yang sama dalam menghadapi masa depan spesies kita. Akan mustahil untuk menghindari pengorbanan. Sekarang langkah pertama dari rencana ini telah selesai, mari kita tunggu untuk melihat langkah apa yang akan diambil oleh sang mediator yang menghubungkan kita dengan Pangeran Ketujuh. Yang terpenting, kita harus melihat apakah metode yang mereka sarankan efektif."
"Perintah Anda akan kami patuhi!" ucap keempat kaisar dengan nada penuh semangat sekaligus hormat.
Chapter 508 · 13m baca
An Elegy to Sea-Sealing
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter