Beyond the Timescape - Chapter 447 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 447 · 7m baca

The Act Snowballs (part 1)

by Er Gen

Orang yang mengaku sebagai keturunan Dewa Petaka (Woe-Immortal) itu tidak lain adalah Ning Yan. Xu Qing ingat Kapten pernah menyebutkan bahwa setelah lolos ujiannya, Ning Yan tampaknya menghilang begitu saja. Kapten tidak bisa melacak keberadaannya di mana pun. Padahal awalnya, Kapten berniat membawa Ning Yan dalam tugas kali ini, terutama untuk dijadikan perisai daging dalam situasi berbahaya. Tapi sekarang, sangat jelas kalau bajingan kecil itu benar-benar menyusup masuk ke dalam Sepuluh Usus Dewa Sejati...

Mungkinkah garis keturunan yang dibangkitkannya adalah dari kaum Dewa Petaka? Atau itu hanya kedok yang digunakannya? Meskipun pikiran Xu Qing bergemuruh cepat, dia tidak menunjukkan hal itu melalui ekspresi wajahnya. Dia hanya menatap Ning Yan dengan dingin.

Sementara itu, Chen Erniu tersenyum lebar, sementara Qing Qiu pura-pura tidak mengenali Ning Yan.

Ning Yan... merasa sangat terguncang. Dia tidak mengenali kedua Nightshade itu, namun kehadiran mereka membuat tulang punggungnya terasa dingin. Terutama saat dia melihat salah satu dari mereka tersenyum kepadanya. Dia tiba-tiba merasa sangat cemas.

Untuk apa orang itu tersenyum padaku? batinnya dengan gugup. Lalu dia menatap Qing Qiu. Mereka berdua berasal dari Prefektur Penerima Kaisar, dan telah berpartisipasi dalam acara perekrutan yang sama, memberinya cukup banyak waktu untuk mengenalnya. Meskipun wanita itu tidak mengenakan topiknya, dan juga mengenakan pakaian yang berbeda, auranya tetap sama, jadi hanya butuh sekilas pandang baginya untuk mengenali wanita itu.

Saat ini, dia bahkan tidak ingin tahu apa yang sedang dilakukan Qing Qiu di sini. Sebaliknya, dia merutuki dirinya sendiri dalam hati karena tidak melakukan apa pun untuk mengubah penampilannya.

Kendati demikian, itu bukanlah cara yang dia inginkan. Karena beberapa keadaan unik, dia sebenarnya tidak bisa mengubah penampilan dan auranya. Dia terpaksa menggunakan sebuah artefak magis untuk melakukannya, hanya saja ketika dia ditangkap, artefak itu direbut darinya. Saat ini, hal utama yang ingin dia lakukan adalah keluar dari tempat ini. Bagaimanapun, dia merasakan firasat yang sangat tidak enak.

Saat para Holytide lainnya menggiring Ning Yan dan yang lainnya pergi, Kapten tiba-tiba berkata, "Dewa Petaka? Terdengar menarik. Aku mau yang itu."

Kapten menunjuk ke arah Ning Yan.

Ning Yan merasa batok kepalanya hampir meledak, dan jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.

Jangan bilang dia menyadari siapa aku? Itu tidak mungkin! Ning Yan mendadak diteror oleh berbagai cerita yang pernah didengarnya tentang bangsa Nightshade. Tentu saja, dia tidak punya hak untuk membantah. Para Holytide langsung mengiyakan perintah itu, lalu menyeret Ning Yan menghadap Kapten. Setelah itu, dengan hormat mereka menyerahkan tali yang mengikat Ning Yan.

Kapten mengangguk kecil dan mengambil tali tersebut. Kemudian dia menariknya, memaksa Ning Yan untuk melangkah beberapa langkah lebih dekat kepadanya.

Melihat senyum mengerikan Kapten dari dekat, Ning Yan buru-buru memasang ekspresi hormat di wajahnya.

"Hamba yang hina ini menghaturkan hormat, wahai Yang Agung."

"Aku sangat penasaran seperti apa rasa usus Dewa Petaka," kata Kapten sambil memamerkan giginya lalu menjilat bibirnya.

Jantung Ning Yan berdegup kencang dan wajahnya langsung pucat, ia mencoba mundur namun Kapten kembali menarik talinya. Karena sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari ikatan tali itu, Ning Yan menggigil dan berkata, "Yang Agung, mohon jangan mempermainkan saya... Hamba yang hina ini bau dari ujung kepala sampai ujung kaki. Rasanya pasti benar-benar tidak enak."

Ketika Qing Qiu melihat semua ini, dia menghela napas dalam hati. Sebelumnya, dia tidak menyukai maupun membenci Ning Yan. Pria itu hanyalah orang asing, tidak lebih. Tapi mengingat mereka berada di negeri asing yang jauh, kenyataan bahwa pria itu berada dalam penderitaan seperti itu, dan terancam untuk dimakan, membuat hatinya dipenuhi rasa iba. Bahkan bayangan kesedihan melintas di wajahnya.

Menyadari ekspresi Qing Qiu, Xu Qing menatap Kapten. "Untuk apa kamu menginginkan Dewa Petaka itu? Kamu tertarik pada ususnya?"

"Tentu saja tidak, wahai Anak Dewa yang agung," jawab Kapten sambil menangkupkan tangan dengan hormat.

Ning Yan diam-diam mengembuskan napas lega. Namun, sesudahnya Kapten kembali berbicara.

"Tuan, akhir-akhir ini aku sedang bereksperimen dengan pil garis keturunan," kata Kapten. "Aku sudah melakukan eksperimen dengan hampir setiap spesies yang bisa dibayangkan, tapi belum dengan Dewa Petaka. Aku berharap bisa membawanya kembali dan meracik sebuah pil dari daging segarnya."

Dia mengamati Ning Yan dari atas ke bawah, bahkan mengangkat dagu dan memeriksa gigi Ning Yan. Kemudian mata Kapten berkilat penuh antisipasi, seolah-olah dia sudah bisa membayangkan Ning Yan sebagai sebuah pil obat. Dia menjilat bibirnya.

Pikiran Ning Yan berputar-putar. Sesaat lalu dia merasa lega, tapi sekarang dia gemetar lebih hebat lagi. Faktanya, dia sangat ketakutan hingga air mata keluar dari sudut matanya.

"Yang Agung, aku... aku tahu di mana Anda bisa menemukan banyak orang lain dari spesiessu. Banyak dari mereka bahkan memiliki garis keturunan yang lebih kuat dariku! Bagaimana kalau Anda menukar aku dengan salah satu dari mereka?"

Kapten mengusap dagunya dan tersenyum penuh teka-teki. Namun, dia tidak memberikan tanggapan apa pun. Dia terus saja mengamati Ning Yan.

Rasa takut Ning Yan semakin menjadi-jadi, dan kesedihan memenuhi matanya.

Xu Qing mengalihkan pandangannya dari Kapten dan Ning Yan. Melihat hari sudah semakin larut, dia melanjutkan perjalanan lebih dalam ke dalam hutan mumpung waktu masih memihak mereka. Dia segera menyadari bahwa buah-buahan mentah mencakup lebih dari sembilan puluh persen dari apa yang tersedia di area ini. Dan banyak yang ukurannya begitu kecil sehingga sepertinya tidak mungkin buah-buahan itu akan matang dalam waktu sehari.

Berbalik ke arah Mu Ye yang bersikap menjilat, dia bertanya, "Apakah semua buah itu akan matang besok?"

Mu Ye ragu-ragu sejenak, lalu menjawab, "Yang Mulia, sebagian besar akan siap besok. Tapi berdasarkan beberapa catatan kuno kami, saya cukup yakin bahwa waktu panen buah dao hanyalah sebuah perkiraan. Waktunya tidak dimaksudkan untuk setepat itu. Tapi bahkan jika buah-buahan itu belum matang besok, mereka seharusnya sudah matang dalam waktu sekitar seminggu ke depan."

Xu Qing sedikit mengerutkan kening. Dia tidak ingin tinggal di wilayah Holytide lebih lama dari yang diperlukan, dengan kekhawatiran utamanya adalah penampilan fisiknya. Kendati demikian, dia belum ingin pergi begitu saja.

Aku bisa menunggu tujuh hari lagi jika diperlukan! Berbalik, dia berjalan kembali ke arah Heaven Zenith.

Mu Ye bergegas menyusulnya, diikuti oleh anggota kelompok mereka yang lain.

Ekspresi Kapten tetap sama seperti biasanya saat dia menyeret Ning Yan dengan tali. Ning Yan mengikuti di belakang dengan perasaan campur aduk antara mati rasa, sedih, marah, takut, dan menyesal. Benar-benar tidak ada satupun hal yang berjalan sesuai rencananya. Awalnya, dia berasumsi bahwa bahkan jika rencananya gagal, dia tidak akan berada dalam bahaya besar. Orang-orang berdarah Dewa Petaka yang tertangkap karena mencoba mencuri buah dao biasanya hanya akan dipenjara untuk sementara waktu, lalu dibebaskan.

Bagaimana pun juga, Dewa Petaka terakhir mencapai kenaikan keabadian di tempat ini. Dan mengingat kaum Holytide tinggal di tanah yang dulunya milik para Dewa Petaka, sebenarnya ada banyak orang dengan darah Dewa Petaka di dalam diri mereka. Kaum Holytide adalah pendatang baru, dan karena itu, mereka berusaha menghindari peningkatan ketegangan sebisa mungkin. Faktanya, bahkan jika dia tertangkap, dia cukup yakin akan dilepas begitu saja dengan dibekali satu atau dua buah dao. Mengingat harga jualnya yang tinggi, itu pun sudah sepadan. Tapi bagaimana mungkin dia bisa menduga kalau dirinya akan berpapasan dengan bangsa Nightshade...

Saat Ning Yan diseret dalam kemarahannya, dia sempat melirik ke arah Qing Qiu dan menyadari bahwa wanita itu sepertinya memiliki ekspresi wajah yang sangat mirip dengan ekspresi wajahnya sendiri. Dan begitulah mereka berdua dengan muram mengikuti Xu Qing dan Kapten kembali ke kompleks istana di Heaven Zenith.

Sesampainya di sana, Xu Qing mengikuti rutinitas biasanya yaitu bermeditasi di kediaman istananya. Qing Qiu duduk di sampingnya sambil menggertakkan giginya. Dia sama sekali tidak menerima kenyataan bahwa dirinya harus menjadi seorang pelayan, dan justru terus-menerus mencari kesempatan untuk melarikan diri.

Sebaliknya, Kapten tidak mengikuti rutinitas biasanya, melainkan menyeret Ning Yan ke kediaman istananya sendiri. Ning Yan tidak berdaya untuk melawan. Ekspresinya menunjukkan ketakutan yang semakin mendalam, dan dia terus-menerus memohon ampun.

Tidak lama kemudian, suara jeritan kesakitan Ning Yan bergema dari dalam istana.

"Yang Agung, a-a-apa... apa yang sedang Anda lakukan? Agggghhhhh!"

Raungan kesedihan itu dengan cepat berubah menjadi jeritan kepedihan.

Qing Qiu menggigil. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi di dalam sana, dan tidak punya cara untuk menyelidikinya. Tapi dia bisa merasakan dari kepedihan dalam jeritan itu bahwa sesuatu yang sangat mengerikan sedang terjadi.

Melirik ke arah Xu Qing dan menyadari kurangnya ekspresi di wajah pria itu, dia tiba-tiba merasa seperti jauh lebih memahami bangsa Nightshade yang kejam ini.

Kalian para Nightshade semuanya pantas mati. Terutama kalian berdua!

Hati dan pikiran Qing Qiu dilanda kekacauan hebat.

Xu Qing tidak mempedulikan Qing Qiu. Saat jeritan itu mulai terdengar, sudah sangat jelas baginya bahwa Kapten telah menggigit Ning Yan.

Sebelumnya, Kapten adalah seorang pendekar pedang dan tidak bisa sembarangan menggigit apa pun yang dia inginkan. Tapi sekarang dia memiliki identitas yang berbeda. Mengingat kepribadiannya, dia pasti ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mempelajari sesuatu tentang daging dan darah Ning Yan.

Dengan pemikiran itu, Xu Qing mengarahkan indranya ke patung ilahi Nightshade yang melayang di atas istananya. Itulah hal yang paling menarik perhatiannya selama masa penantian yang panjang ini.

Jika aku bisa membawa benda ini kembali ke County Penyegel Laut bersamaku...

Pemikiran itu saja sudah membuatnya dipenuhi rasa antisipasi.

Patung itu sama sekali bukan benda biasa. Patung itu memiliki kekuatan bulan merah yang melimpah, dan terus-menerus memancarkan mutagen. Meskipun Xu Qing bisa memberikan perintah padanya, membawanya pergi dari tempat ini tampaknya tidak terlalu masuk akal.

Pertama, dia tidak bisa memasukkannya ke dalam kantong penyimpanan. Terlebih lagi, benda itu terlalu mencolok. Di luar itu, jika suatu saat dia berhadapan langsung dengan bulan merah itu, maka patung tersebut akan langsung berbalik melawannya. Dengan kata lain, jika dia membawanya serta, hanya tinggal menunggu waktu sebelum patung itu meledak di luar kendali.

Bagaimana jika aku bisa mengganti kekuatan bulan merah dengan kekuatan bulan ungu milikku?

Itulah arah penelitian yang kini sedang ditekuninya.

Akhirnya, malam pun tiba, dan langit di luar kanopi pohon menjadi gelap. Segera, lentera-lentera berbentuk manusia yang melayang bermunculan di mana-mana.

Di luar kompleks istana di Heaven Zenith, di atas altar tempat patung ilahi Nightshade sebelumnya berada, sekelompok kultivator Holytide yang berjumlah beberapa lusin orang telah berkumpul. Tempat ini telah lama ditutup rapat, dengan formasi mantra yang dipasang untuk mencegah siapapun merasakan apa yang sedang terjadi di dalamnya. Ada beberapa lusin individu yang hadir, kebanyakan dari mereka berada di lingkaran besar tingkat Nascent Soul. Hanya ada lima ahli Alam Roh (Spirit Trove).

Salah satu dari mereka adalah Adipati Heaven Zenith.

Di depan kelompok itu berdiri seorang pria tua berjubah hitam. Dia memiliki kulit merah yang membuatnya terlihat sangat tidak biasa, dan memancarkan tekanan mengerikan dari empat harta rahasia. Pria ini adalah preceptor adipati dari Kadipaten Heaven Zenith. Melihat ke arah kompleks istana, lalu ke arah para kultivator yang berkumpul di sekelilingnya, dia mendengus dingin.

"Ini benar-benar konyol! Kalian semua adalah para adipati, tapi kalian bisa dibodohi semudah ini? Apakah kalian bahkan tidak memiliki sedikit pun akal sehat? Kalian pikir beberapa petinggi Nightshade akan muncul begitu saja di atas karawanan? Dan, secara kebetulan, mereka muncul tepat pada musim panen buah dao? Ditambah lagi, salah satu dari mereka dikatakan memiliki keyakinan yang lemah dan garis keturunan campuran? Bagaimana mungkin mereka benar-benar Nightshade?

"Dan pikirkan tentang pelayan wanita itu. Dia bukan hanya manusia, dia juga salah satu dari kelompok pendekar pedang baru. Namanya adalah Qing Qiu. Bahkan setelah mengetahui hal itu, apakah tidak satupun dari kalian merasa curiga sedikit pun?"

Gunakan ← → untuk pindah chapter