Saat matahari terbit di cakrawala, cahayanya memancar, menyelimuti daratan dan mengusir kegelapan. Jalanan di ibu kota wilayah itu sudah mulai ramai.
Saat Xu Qing berjalan menyusuri jalan, ia dapat merasakan istana surgawi kelimanya di dalam tubuhnya. Tato totem dari teknik kelas kekaisarannya masih ada di punggungnya, dan kehebatan tempurnya tidak menurun akibat memasukkan Golden Crow Assimilates Myriad Spirits ke dalam istana surgawi kelimanya. Teknik kelas kekaisarannya itu masih memberikan kekuatan tempur dari satu istana surgawi. Namun, kini teknik itu terasa lebih mengancam. Hal yang sama juga berlaku untuk istana surgawi kelimannya.
Bahkan, jika ia berpapasan dengan orang lain yang memiliki lima istana surgawi, selama teknik dan pusaka magis tidak menjadi faktor penentu, secara mendasar ia akan berdiri di tingkat yang sama dengan para anggota paling elit dari tak terhitung banyaknya spesies yang ada. Dan jika melihat orang-orang yang bukan golongan elit, pada tingkat fondasi, kelima istana surgawi miliknya akan dianggap jauh melampaui mereka.
Bagaimanapun, setiap istana surgawinya sangat menakjubkan dan unik. Meskipun mungkin tidak bisa dibilang benar-benar tak tertandingi, kemampuannya sudah mendekati itu. Dua istana surgawinya terbuat dari pelita kehidupan. Satu berasal dari pil racun tabu. Satu lagi adalah bulan ungu. Dan kini ia memiliki istana kereta naga gagak emas.
Itulah kekuatan cadangan yang telah dibangun Xu Qing saat ia menapaki jalannya. Semuanya adalah hasil dari pertaruhan hidup-matinya. Sebagian besar orang tidak akan menjadi kuat dalam semalam. Mereka harus meluangkan waktu dan membangun kekuatan itu perlahan-lahan. Hal yang sama berlaku bagi Xu Qing. Itulah sebabnya ia mampu melawan orang-orang yang memiliki istana lebih banyak darinya.
Suasana hati Xu Qing sedang sangat baik. Saat ia berjalan, aroma cakwe dari para penjual sarapan membuatnya teringat pada Seven Blood Eyes.
"Entah kapan aku bisa kembali," gumamnya, memandang ke arah Prefektur Penerima Kaisar. Ia merindukan Tuan Ketujuh dan Tuan Bloodsmelter, serta para penjual sarapan yang dulu sering ia kunjungi baik di Seven Blood Eyes maupun di Koalisi Delapan Sekte.
Memilih salah satu penjual, ia duduk dan memesan sarapan. Meskipun rasanya tidak persis sama seperti di kampung halaman, rasanya tetap enak.
Saat Xu Qing makan, bocah lelaki itu berjongkok dengan tidak sabar di kejauhan, mengawasinya. Ia tampak bosah, sampai-sampai ia terus menoleh ke arah kerumunan orang yang lalu-lalang di jalanan. Akhirnya, sesuatu menarik perhatiannya di lantai dua sebuah bangunan di dekat sana. Di jendela lantai itu, sesosok bayangan sempat muncul sekilas dan tampak menatap ke arah Xu Qing dengan penuh kebencian. Karena penasaran, bocah itu pun menghilang.
Ketika ia muncul kembali di dalam bangunan itu, ia melihat seorang wanita cantik sedang memarahi seorang pemuda.
"Payah! Xu Qing itu bukan sekadar sekretaris jenderal, tapi dia juga seorang algojo di Divisi Pemasyarakatan! Sementara kau, hanya mendapatkan jabatan sipil rendahan sebagai seorang panitera? Dan kau begitu saja menerimanya?? Di mana harga dirimu? Bukankah kau orang terbaik di generasimu di Prefektur Penerima Kaisar? Kenapa kau tidak meminta bantuan dari Kakek Sektemu?"
Tentu saja, orang yang sedang dimarahi adalah Zhang Siyun, sedangkan orang yang memarahinya adalah ibunya, Yao Yunhui. Mengingat sifat jabatannya yang sensitif di Istana Keadilan, ia tidak bisa menyampaikan kata-kata seperti itu melalui sebuah slip giok. Oleh karena itu, ia telah mengatur agar Kakek Sekte Zhang Siyun datang berkunjung. Sayangnya, di tengah jalan ia menerima pesan dari klannya, yang berisi detail peringatan dari penguasa istana. Pada gilirannya, klan tersebut telah memperingatkannya secara tegas untuk tidak memprovokasi Istana Swordsage.
Yao Yunhui sama sekali tidak senang mendengarnya. Dan kemudian ia kebetulan melihat Xu Qing di jalan, membuat rasa jijiknya meluap-luap. Karena alasan itu, melihat putranya saja sudah membuatnya marah.
Zhang Siyun menundukkan kepalanya. Di dalam lubuk hatinya, ia sangat membenci Xu Qing. Setiap kali ibunya membandingkan dirinya dengan Xu Qing, energi menyimpang di dalam hatinya tumbuh semakin kuat. Kenyataannya adalah ia memang menemui Kakek Sektemu, namun ia justru disambut dengan tatapan yang aneh. Kendati demikian, mengingat betapa marahnya sang ibu, ia tidak memberikan penjelasan apa pun. Ia hanya menelan amarahnya dalam diam di bawah omelan sang ibu. Lagi pula, ia tidak merasa bahwa pekerjaannya sebagai panitera itu tidak berguna. Setidaknya, selama sebulan ia bekerja di posisi itu, ia telah menemukan sejumlah kesalahan administrasi yang justru membuatnya mendapat pujian dari atasannya. Tentu saja, ia tidak bisa menceritakan hal itu kepada ibunya.
Sebenarnya, nasibku jauh lebih baik saat di Prefektur Penerima Kaisar.
Wanita itu terus mengomel sejenak hingga slip giok transmisinya bergetar. Mengeluarkannya, ia memeriksa pesan terbaru, yang seketika membuat ekspresinya berubah sangat kelam. Suara retakan terdengar saat ia mematahkan slip giok itu menjadi dua.
"Dia sibuk dengan urusan resmi? Aku sudah mengatur pertemuan ini sejak beberapa hari lalu, dan sekarang dia baru membatalkannya? Aku yakin ini semua karena dekrit dharma yang dikeluarkan oleh penguasa istana itu! Tidak seorang pun dari Perhormatan Abadi Supreme Arbiter yang memiliki tulang punggung. Mereka semua adalah orang-orang bodoh!"
Yao Yunhui kian terlihat murka.
Sambil mendesah dalam hati, Zhang Siyun berkata, "Ibu—"
"Segera enyah dari pandanganku!" ucap Yao Yunhui dingin.
Zhang Siyun tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia berdiri, membungkuk kepada ibunya, lalu pergi. Ekspresinya tampak lebih kesepian dari biasanya, dan kebenciannya terhadap Xu Qing membara lebih panas dari sebelumnya. Setelah berjalan cukup jauh menyusuri jalan, tiba-tiba sebuah getaran melintasi tubuhnya dan pandangannya berbinar-binar. Ia mengulurkan tangan dan menempelkan telapak tangannya ke dinding untuk menopang tubuhnya. Bayangan bulan merah berkedip di matanya, dan ekspresi kejam memenuhi wajahnya. Kejadian itu hanya berlangsung sedetik, lalu ia kembali normal.
Apakah ada yang salah dengan teknik ini? Ini sudah ketujuh kalinya aku merasa pusing seperti itu.
Dengan ekspresi tidak sedap dipandang, Zhang Siyun melanjutkan perjalanannya.
Kembali di dalam gedung tadi, bocah lelaki itu sama sekali tidak mempedulikan Zhang Siyun. Ia kini berdiri di sebelah Yao Yunhui, dengan ekspresi penasaran di wajahnya saat ia mencoba memastikan apakah wanita ini memiliki niat jahat terhadap Xu Qing.
Saat Yao Yunhui duduk di sana, kemarahan di wajahnya perlahan-lahan memudar. Akhirnya, ia menyeruput sup biji teratai yang ada di mejanya. Gerakannya begitu anggun. Ia tampak seperti orang yang sama sekali berbeda dari wanita yang baru saja memarahi Zhang Siyun dengan marah.
Yun’er, aku bersikap keras padamu untuk mengeluarkan tekad dan keteguhanmu. Aku ingin kau sukses. Bertahun-tahun yang lalu, ayahmu tidak pernah memiliki cukup keberanian, dan dia tidak pernah menyadari bahwa niatku baik.
Cahaya dingin muncul di matanya.
Xu Qing, kau telah merampas keberuntungan Yun’er-ku, dan menghancurkan prospek masa depannya. Aku tidak akan membiarkan hal begitu saja. Aku memang tidak bisa berbuat apa-apa padamu di ibu kota wilayah ini. Tapi begitu kau berada di luar, aku akan mencari cara untuk membuatmu membayar kejahatanmu. Aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya akan memastikan Yun’er bisa menyaksikan takdir akhirmu, dan mungkin mendapatkan sedikit kepercayaan diri karenanya.
Bocah itu dapat merasakan apa yang dipikirkan oleh Yao Yunhui. Ia tiba-tiba tampak khawatir. Ia telah berjanji kepada gadis itu bahwa ia akan melindungi Xu Qing. Namun, ia tidak bisa membunuh siapa pun. Setelah berpikir sejenak, ia menghadap ke arah Yao Yunhui dan menghembuskan napasnya dengan lembut. Napasnya mendarat tepat di wajah wanita itu.
Sendok Yao Yunhui berhenti bergerak di dalam mangkuk sup. Entah mengapa, ia mendapati dirinya berpikir secara berbeda dari sebelumnya. Seolah-olah, tiba-tiba saja ia ingin fokus pada sisi positif dari orang lain.
"Xu Qing itu tidak seburuk itu," gumamnya. Setelah kata-kata itu meluncur dari mulutnya, matanya langsung terbelalak. Sambil melihat sekeliling dengan curiga, ia bangkit dari kursinya.
Ada yang tidak beres! Ia dengan cepat melakukan gerakan mantera untuk memindai area tersebut, tetapi tidak menemukan sesuatu yang aneh.
Bocah itu, yang tampak sedikit kesal karena ide sebelumnya tidak bekerja dengan baik, kembali menghembuskan napasnya.
Yao Yunhui bergidik, lalu ekspresi penuh pertimbangan muncul di matanya.
"Xu Qing sebenarnya tidak keterlaluan." Mata Yao Yunhui membelalak menyadari betapa tidak masuk akalnya kata-kata yang baru saja ia ucapkan. Tanpa ragu-ragu, ia langsung melakukan gerakan mantera sekali lagi, memunculkan pertahanan di sekeliling tubuhnya. Pada saat yang sama, ia memeriksa pikiran dan jiwanya. Semuanya tampak normal. Meskipun begitu, ia segera meninggalkan bangunan itu, muncul sesaat kemudian di sebuah gang di luar. Sambil berjalan, ia merenungkan kembali apa baru saja terjadi.
Meskipun Xu Qing tidak sepenuhnya menjijikkan, aku tetap harus memberinya sedikit pelajaran.
Begitu pikiran itu terlintas di benaknya, bocah yang mengikutinya itu tampak marah. Kali ini, ia menghela napas sembilan kali berturut-turut.
Yao Yunhui bergetar dari ujung kepala sampai ujung kaki dan mulai bernapas tersengal-sengal saat rasa bencinya terhadap Xu Qing memudar, digantikan oleh perasaan yang baik.
Saat berlalu.
Xu Qing sebenarnya tidak bersalah dalam semua ini. Dan Yun’er memang telah melakukan beberapa hal yang kurang pantas...
Dengan ekspresi puas, bocah itu menepuk kedua tangannya dan berjalan pergi dengan langkah ringan.
Sementara itu, Xu Qing telah selesai sarapan dan kembali ke Divisi Pemasyarakatan. Seperti biasa, ia menuruni tangga ke Lantai 57 dan memasuki sel D-132. Suasana di dalam sangat gelap, tetapi begitu ia masuk, ruangan itu sedikit menjadi lebih terang. Selain itu, tidak ada perubahan dibandingkan sebelumnya. Troll awan itu masih membelakanginya. Wanita manusia itu masih menidurkan orang-orangan sawah. Dan Manusia Batu terus berputar. Adapun kepala itu, ia menatap Xu Qing dengan putus asa dan mengulangi kata-kata yang selalu diucapkannya.
"Jangan menginjakku. Aku tidak suka diinjak..."
Xu Qing menyusuri jalan di sekitar sel-sel tahanan, memeriksa semua penghuninya. Setelah melewati tiga belas dari mereka, ia tiba di hadapan Tuan Inkwell.
Tuan Inkwell dengan hormat menangkupkan tangan memberi salam. "Selamat pagi, Algojo yang mulia."
Wajah Xu Qing benar-benar tanpa ekspresi. Setelah mengedarkan pandangan dingin ke sekeliling, ia kembali duduk di dekat pintu. Bayangan dan sang patriark muncul untuk menikmati porsi "kesenangan" harian mereka.
Bocah itu turut muncul, duduk di dekatnya agar Xu Qing bisa melihatnya. Ada sedikit kebingungan di matanya, karena ia tahu tidak akan lama lagi sebelum Xu Qing terbangun dari "kondisi" itu.
Ia benar. Setelah Xu Qing bermeditasi sejenak, ia melihat sekeliling dengan curiga.
Sepertinya aku melupakan beberapa hal. Kenapa segalanya terasa tidak biasa dan damai...? Kenapa aku merasa tempat ini seharusnya berwarna merah? Apa yang dikatakan penguasa istana kepadaku? Kenapa bocah ini tampak begitu tidak berdaya? Dan kenapa kepala itu terus menyuruhku agar tidak menginjaknya? Kenapa ingatanku tiba-tiba menjadi begitu buruk? Apakah karena aku bertugas di sini...? Jangan-jangan ada sesuatu yang diam-diam memengaruhiku?
Ia membuka tas penyimpanan miliknya dan menggeledahnya. Semuanya tampak normal. Sambil mengerutkan kening, ia menatap blok sel tersebut, ekspresinya kian terlihat suram dan tidak sedap dipandang. Ia tiba-tiba merasakan sensasi yang sangat kuat bahwa ada sebuah tabir yang menghalangi pandangannya. Dengan tatapan mata yang menajam, ia mengerahkan kekuatan inti racun tabunya dan istana surgawi bulan ungunya. Aura tubuhnya berubah, dan setiap bagian dari dirinya menjadi semakin kuat.
Sementara itu, kepala di dalam sel mulai melolong. "Dia bangun lagi! Dia bangun! Tolong, kumohon jangan menginjakku! Bisakah kau melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda untuk sekali saja?"
Tuan Inkwell mendesah, menutup matanya, dan bersiap untuk dibakar sampai mati sekali lagi.
Dengan ekspresi suram, Xu Qing bangkit berdiri dan melangkah maju.
Sesaat kemudian, semuanya menjadi senyap. Selain jari dewa itu, Xu Qing telah menghancurkan segalanya. Menatap jari tersebut, ia dapat merasakan fluktuasi mengerikan yang memperjelas bahwa ia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap benda itu. Jarak eksistensi mereka begitu jauh, hingga ia tahu bahwa menyentuhnya saja sudah cukup untuk membunuhnya.
Sesaat berlalu dan ia mengeluarkan slip bambu. Setelah mencatat semua detail kejadian itu, ia berjalan ke arah pintu, lalu berdiri di sana untuk waktu yang lama. Tanpa menoleh ke belakang, ia bertanya dengan tenang, "Aku selalu terbangun setiap hari, bukan? Setiap hari aku masuk ke sini dan menyadari bahwa tahanan di sini bukanlah empat belas orang, melainkan enam. Dan lima dari tahanan itu abadi, tidak peduli berapa kali aku 'membunuh' mereka."
Bocah itu muncul dan mengangguk.
"Sebelumnya, aku telah mencatat pengingat untuk diriku sendiri, dan mengambil langkah-langkah lain untuk membantuku mengingatnya. Tapi begitu aku keluar, kekuatan dewa itu menghapus hal-hal tersebut dari eksistensi. Dan benda apa pun yang aku gunakan untuk mencatat informasi akhirnya akan lenyap."
Bocah itu mengangguk lagi.
"Begitu aku membuka pintu ini, aku akan melupakan semuanya, bukan? Para penguasa istana tahu tentang semua ini, bukan? Ini adalah berkah sekaligus ujian, bukan?"
Bocah itu hanya terus mengangguk.
Bagi Xu Qing, sudah jelas bahwa ingatan Patriark Golden Vajra Warrior dan bayangan itu juga sedang dimanipulasi.
Beberapa saat kemudian, ia tersenyum. "Kalau begitu, mari kita lanjutkan. Aku hanya berharap suatu hari nanti saat aku membuka pintu ini, aku tidak melupakan segalanya. Dan saat itulah aku akan mendapatkan berkah sejati."
Bocah itu mengangguk tak berdaya.
"Aku yakin aku sudah mengucapkan hal yang sama berulang-ulang kali, kan?"
Xu Qing kembali tersenyum sambil menatap catatan informasi yang telah ia tulis di atas slip bambu. Pada saat itu, matanya berkilau.
Mungkin ada cara lain. Aku bisa menanam karma di sini, dan menunggu karma itu berkembang...
Setelah berpikir lebih lama, ia meremukkan slip bambu itu dan melemparkannya ke lantai.
"Bolehkah aku meminta tolong padamu?" ujarnya. "Simpan slip bambu yang hancur ini untukku. Gabungkan pecahan-pecahannya dengan yang lain. Aku mungkin sudah mengukir banyak dari benda-benda ini."
Sambil mengangguk, bocah itu mengangkat beberapa jarinya seolah ingin memberi tahu Xu Qing berapa banyak slip bambu yang ia miliki.
Xu Qing tersenyum, menarik napas dalam-dalam, lalu mendorong pintu hingga terbuka dan melangkah keluar. Di tangga, ia mulai melangkah naik, sambil terus memikirkan tentang kredit militer.
Ada empat belas tahanan di D-132. Selalu sama. Aku benar-benar harus mulai memikirkan cara untuk mendapatkan beberapa kredit militer.
Beberapa hari berlalu.
Rutinitas Xu Qing berubah. Ia menghabiskan siang hari untuk tugas penjagaan di D-132, sementara pada malam hari, ia akan pergi menjalankan berbagai misi untuk mendapatkan kredit militer. Ia akan menangkap para penjahat, melakukan misi pencarian dan penyelamatan, atau membantu departemen lain. Selalu ada saja pekerjaan yang harus diselesaikan.
Tiga hari setelah Kong Xianglong dibebaskan, Xu Qing mendapat pesan darinya ketika ia baru saja menyelesaikan tugas jaga.
"Xu Qing, aku mendapatkan pekerjaan besar yang akan menghasilkan banyak kredit militer. Kau ikut?"
Chapter 415 · 9m baca
Think Better of Him, Yao Yunhui
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter