Nyanyian opera melayang keluar dari kios pedagang yang remang-remang. Pemiliknya adalah hantu melayang yang seluruh tubuhnya terdiri dari mata. Ketika hantu bermata banyak itu menyadari Xu Qing sedang melihat ke arahnya, sekitar separuh matanya beralih menatap pemuda itu.
Xu Qing tidak peduli. Sambil berjalan mendekat, ia melihat sebuah botol perunggu kecil di antara barang-barang yang dijual.
Ia langsung mengenali benda apa itu.
Itu adalah botol rekaman.
Ia pernah mendapatkan botol rekaman yang digunakannya untuk merekam suara hantu tak terhitung jumlahnya yang merundung malam, yang digunakannya saat memanggil raksasa dan kereta kekaisaran matahari. Begitulah cara ia mendapatkan Golden Crow Assimilates Myriad Spirits. Sayangnya, karena tekanan luar biasa yang dipancarkan oleh sang raksasa, botol itu hancur.
Nyanyian opera itu berasal dari botol ini. Setelah merenungkan masalah sejenak, Xu Qing menunjuk botol itu, lalu melemparkan sekantong jiwa tanpa raga kepada hantu bermata banyak tersebut.
Hantu bermata banyak itu mengambil kantong tersebut dan memeriksanya. Kemudian seluruh matanya terpejam seolah sedang berpikir. Sesaat kemudian, hantu itu menggelengkan kepala.
Xu Qing menatap sang hantu. Ia tahu bahwa penghuni bangsal hantu itu serakah, karena itu, ia menyerahkan satu kantong lagi. Pada saat yang sama, matanya memancarkan ketajaman dingin yang mengerikan yang tidak mungkin dilewatkan oleh hantu bermata banyak itu. Entah karena jumlah jiwa kini sudah cukup, atau karena ekspresi suram Xu Qing, kali ini hantu bermata banyak itu mengangguk.
Xu Qing mengambil botol itu lalu menutupnya, membuat nyanyian itu berhenti. Kemudian ia berbalik dan pergi. Kembali ke kedai, sembari menunggu fajar tiba, Xu Qing menatap curiga pada botol perunggu kecil tersebut.
Suara itu pastinya sama dengan wanita di kabin kayu segi lima di lubang ghast. Seseorang jelas mengumpulkan suara itu di dalam botol rekaman ini.
Xu Qing mengenang kembali insiden di lubang ghast itu. Ia teringat nyanyian wanita itu, serta mata dewa di kedalaman jurang yang perlahan-lahan terbuka. Ia tidak yakin apakah lagu itu khusus dinyanyikan untuk dewa tersebut, atau apakah lagu itu hanya mengandung semacam kekuatan tak dikenal untuk menjaga mata dewa tetap tertutup. Terlepas dari itu, Xu Qing yakin bahwa keputusannya membeli botol tersebut adalah keputusan yang tepat.
Tidak lama kemudian, ia mendengar suara langkah kaki di luar. Menyimpan botol itu dan merapikan pakaiannya, ia membuka pintu dan melangkah keluar.
Para murid Koalisi Delapan Sekte telah berkumpul di ruang utama kedai, kecuali Sang Kapten yang sama sekali tidak terlihat.
Xu Qing tidak terkejut. Murid-murid lain mungkin ragu-ragu untuk menjelajahi bangsal hantu, tetapi mustahil bagi Sang Kapten untuk menolak kesempatan tersebut. Namun, Sang Kapten tampaknya masih fokus untuk pergi ke ibukota kabupaten; tepat ketika sepertinya ia akan kehabisan waktu, ia menerobos masuk dari luar.
Bergegas mendatangi Xu Qing, ia berkata dengan antusias, "Apakah kau menjelajahi bangsal hantu, Ah Qing kecil? Biar kuberitahu, ada beberapa barang bagus yang dijual."
Xu Qing hendak menjawab ketika ekspresinya tiba-tiba berubah. Hal yang sama terjadi pada murid-murid lain yang hadir. Tekanan luar biasa tiba-tiba membebani kedai dari luar. Tekanan itu begitu suram dan ganas yang tak terlukiskan, membuat rasanya seolah-olahinapan tersebut mendadak tenggelam di dalam sungai kuno yang membeku. Pada saat yang sama, perasaan teror yang luar biasa mendadak bangkit tanpa diundang di dalam hati dan pikiran semua murid.
Xu Qing tidak asing dengan sensasi tersebut. Rasanya persis seperti saat pertama kali ia berpapasan dengan sesosok grue. Terlebih lagi, ia pernah mengalami perasaan serupa saat mengintip ke kedalaman berbagai wilayah terlarang selama masa kerjanya sebagai penjaga harta karun selama tiga bulan.
Saat semua orang menggigil, Arch-Immortal Plumdark keluar dari kamarnya, berjalan menuju pintu depan kedai, lalu mendorongnya dengan lembut.
Ketika pemandangan di luar tersingkap... tempat itu terlihat sangat berbeda dari saat Xu Qing keluar tadi. Bangsal hantu itu masih ada, tetapi kota biasa juga ada di sana. Seolah-olah terang dan gelap, yin dan yang, keduanya eksis pada saat bersamaan. Keduanya saling bertumpuk, menciptakan sesuatu yang samar dan kabur.
Dan di dalam keburaman yang samar itu, tinggi di kubah langit... terdapat sebuah kapal hitam sepanjang sekitar 3.000 meter, yang mengapung dalam diam. Kapal itu sangat hitam dan sudah sangat bobrok. Layarnya robek dan compang-camping, seolah-olah telah ada selama bertahun-tahun yang tak terhitung jumlahnya. Dan seluruh kapal itu berdenyut dengan aura kematian yang kuat. Kapal itu adalah sumber tekanan dingin yang membebani kedai. Itu adalah sebuah galiung hantu.
Saat kapal itu melayang di langit, ia membuat kota di bawahnya tampak seperti pelabuhan, dan kapal itu sedang menunggu orang-orang untuk naik ke atasnya....
"Naiki kapal itu!" ucap Arch-Immortal Plumdark dengan tenang. Sambil melangkah maju, ia melayang naik menuju galiung hantu yang sangat menyeramkan tersebut.
Xu Qing dan Sang Kapten saling bertukar pandang, lalu secara bersamaan terbang ke udara. Murid-murid lainnya menguatkan diri dan ikut menyusul. Begitu saja, delegasi Koalisi Delapan Sekte naik ke atas galiung hantu.
Begitu berada di atas kapal, hawa dingin yang suram terasa semakin nyata. Bagi Xu Qing, keadaan galiung hantu yang bobrok terlihat semakin jelas dari dekat. Dek kapalnya setengah membusuk, dan ada lubang-lubang di banyak tempat lainnya. Bagian buritannya sangat lapuk sehingga tampak bisa runtuh kapan saja. Kendati demikian, tampaknya tidak ada hantu di atas kapal tersebut.
Xu Qing segera menyadari bahwa ada orang lain yang naik ke kapal selain para kultivator koalisi. Ada beberapa belusin orang dari kota yang juga memilih naik ke kapal tersebut. Di antara mereka adalah dua pendekar pedang yang mereka temui di jalan. Mereka melihat Xu Qing dan Sang Kapten, dan sama sekali tidak terlihat terkejut. Mereka mengangguk memberi salam, lalu pergi ke dek bawah.
Di dek bawah, kondisinya sama bobroknya dengan di atas. Xu Qing mendapati ada tempat duduk untuk semua orang. Arch-Immortal Plumdark dan Master Fifth duduk sendirian agak jauh dari yang lain.
Menemukan sudut yang sesuai, ia duduk. Sang Kapten melihat-lihat sejenak sebelum duduk di sebelah Xu Qing.
"Di mana ada bangsal hantu, di situ ada galiung hantu." Arch-Immortal Plumdark tidak hanya memproyeksikan kata-katanya kepada Xu Qing, tetapi juga kepada Sang Kapten dan semua murid koalisi lainnya. "Galiung hantu adalah salah satu fenomena supernatural paling umum di daratan Revered Ancient. Kapal-kapal ini dapat membawamu menempuh jarak yang sangat jauh, dan bergerak jauh lebih cepat daripada kapal terbang biasa. Bagaimanapun, kapal terbang bergerak melalui ruang angkasa, tetapi galiung hantu meluncur menembus alam baka.
"Di tempat mana pun di mana kematian itu ada, galiung hantu dapat mengunci benang-benang kematian dan bepergian ke sana. Selama sebulan ke depan, kita akan melintasi berbagai negeri di atas galiung hantu ini. Selama waktu itu, selama galiung hantu ini bergerak, kalian tidak boleh membuka mata dalam keadaan apa pun.
"Itu adalah hal yang dilarang di atas galiung hantu."
Semua orang mengangguk sebagai tanggapan.
"Xu Qing, Chen Erniu, keluarkan daging dari troll awan yang kalian bunuh dan letakkan di dek atas. Daging itu berfungsi sebagai tiket kita."
Xu Qing mengangguk. Bersama Sang Kapten, mereka pergi ke dek utama, mengeluarkan bangkai troll awan yang telah mereka bunuh, lalu meletakkannya di sana. Kedua pendekar pedang itu melakukan hal yang sama. Begitu pula dengan para penumpang lainnya.
Xu Qing kembali ke dalam, saat itulah ia menyadari Sang Kapten tidak bersamanya.
"Pergi dan seret dia kembali ke sini, Xu Qing," kata Arch-Immortal Plumdark dengan dingin. Selama seluruh perjalanan, begitulah cara wanita itu berbicara kepadanya. Hanya ketika mereka berdua saja matanya akan berkilat saat menatap pemuda itu.
Ia sudah terbiasa dengan hal itu. Sambil berbalik, ia kembali ke dek utama. Setelah melihat-lihat sejenak, ia menemukan sang kapten di dekat pintu masuk salah satu lambung kapal.
Sang Kapten berjongkok di sana dengan ekspresi penasaran. Tampaknya ia berencana untuk masuk dan melihat-lihat. Menyadari kehadiran Xu Qing, ia berbisik, "Ah Qing kecil, galiung hantu ini pasti memiliki beberapa harta karun di dalamnya yang bisa kita gunakan untuk mempercepat kultivasi kita. Aku baru saja mendengar suara yang memanggilku! Suara itu bilang ingin berdagang!"
Xu Qing berhenti sejenak, lalu berjongkok di sebelah Sang Kapten dan menajamkan pendengarannya. Serenta berlalu. "Kemungkinan besar itu penipuan."
"Kuduga ada peluang delapan puluh hingga sembilan puluh persen bahwa ia ingin memancingku turun ke sana. Aku hanya sedang memutuskan apakah aku harus mengambil risiko dan mencari tahu." Sang Kapten menyeringai. Inilah salah satu alasan mengapa ia sangat menyukai Xu Qing. Pemuda itu tidak perlu memberikan penjelasan panjang lebar tentang berbagai hal. Xu Qing selalu langsung mengerti maksudnya.
"Jangan sekarang," kata Xu Qing. "Mungkin kau bisa mencobanya saat kita tiba di tempat tujuan."
Sang Kapten mengangguk. "Baiklah. Kurasa jika terjadi sesuatu yang salah sekarang, galiung hantu ini mungkin tidak akan membiarkan kita tetap di atas kapal. Dan itu akan merepotkan."
Setelah itu, mereka berdua kembali ke dek bawah.
Setibanya mereka di sana, Arch-Immortal Plumdark melemparkan tatapan tajam yang penuh kebencian ke arah Sang Kapten. "Galiung hantu memiliki hantu Void Returning yang disegel di dalamnya. Apakah kau ingin membuat dirimu terbunuh?"
Dengan memasang wajah terluka, Sang Kapten melirik kesal ke arah Xu Qing, seolah-olah seluruh kejadian itu adalah ide pemuda tersebut....
Xu Qing duduk bersila dan pura-pura tidak memerhatikan.
Tak lama kemudian, matahari muncul di cakrawala, dan galiung hantu itu bergetar lalu mulai memudar dari pandangan.
Hal terakhir yang didengar para murid adalah suara Arch-Immortal Plumdark di dalam benak mereka.
"Tutup mata kalian!"
Semua orang mematuhinya.
Xu Qing merasakan galiung hantu itu bergetar di bawahnya. Kapal itu tampaknya sedang bergerak.
Saat matahari terbit, galiung hantu itu lenyap dari pandangan di kubah langit. Bangsal hantu di bawah memudar sepenuhnya, hanya menygalkan kota biasa. Sementara itu, niat yang suram dan menyeramkan tersapu bolak-balik di atas galiung hantu. Semuanya sunyi senyap kecuali suara decitan kapal.
Xu Qing memejamkan matanya, tetapi berkat bayangannya, ia bisa melihat segala sesuatu di sekitarnya.
Mereka berada di ruang penumpang kapal. Semua orang memejamkan mata, kecuali Sang Kapten.... Di balik pakaiannya di bagian dada terdapat sebuah mata yang terbuka. Itu adalah mata yang sangat mirip grue, berwarna biru terang dan tampak sangat garang serta menyeramkan. Bahkan, mata itu sangat cocok dengan suasananya, seolah-olah itu adalah sejenis mata hantu.
Xu Qing tidak terkejut dengan hal itu. Mengirim bayangannya ke dek atas menuju daging troll, ia melihat segerombolan sosok bayangan, semuanya bermata merah menyala, dengan lahap melahap bangkai-bangkai tersebut. Sesekali mereka saling menggertak, atau menatap dengan serakah ke arah orang-orang di ruang penumpang. Mereka jelas adalah sesosok iblis yang brutal dan ganas, namun ada sesuatu yang menahan mereka agar tidak memasuki ruang penumpang.
Beberapa dari mereka, setelah selesai makan, tampak tidak bisa menahan diri, lalu bergegas menuju para penumpang.
Saat melewati Arch-Immortal Plumdark, salah satu dari mereka lenyap. Saat mencapai Master Fifth, yang lain lenyap.
Satu bayangan muncul di dekat Xu Qing. Ia menatap pemuda yang duduk dengan mata tertutup itu, lalu membuka mulutnya. Namun kemudian Xu Qing menarik napas, dan hantu bayangan itu menggigil lalu terserap ke dalam salah satu istana surgawinya.
Bayangan hantu lain muncul di hadapan Sang Kapten dan sedang menatap mata hantunya. Namun kemudian bayangan itu menyadari rekan-rekannya menghilang, dan karena panik, ia berbalik untuk pergi. Kendati demikian, saat itulah mata hantu di dada Sang Kapten berubah menjadi mulut menganga. Mata itu melahap hantu bayangan tersebut, lalu berubah kembali menjadi mata. Mata itu menatap Xu Qing dan berkedip.
Di dek utama, tidak satu pun dari bayangan hantu lainnya menyadari bahwa rekan-rekan mereka telah mati. Akhirnya, ketika sisa daging terakhir telah habis dimakan, hantu-hantu itu berhamburan ke berbagai bagian galiung hantu, dan mengambil berbagai posisi layaknya para pelaut. Tidak lama kemudian, kapal itu mulai menambah kecepatan.
Di sekelilingnya adalah alam baka yang sangat gelap gulita, tempat kapal itu terbang melesat.
Chapter 389 · 7m baca
Hitching a Ride Through the Netherworld
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter