Beyond the Timescape - Chapter 28 — NovelArc
Request novel bisa langsung di tab request ya, bebas request semua novel dari novelupdates

Chapter 28 · 7m baca

You Don’t Need Light to Travel the Night

by Er Gen

Malam itu, Tingyu, yang tumbuh besar di Tanah Ungu tanpa tahu apa-apa tentang kerasnya kehidupan, bermimpi tentang Chen Feiyuan yang mempersulit hidup Xu Qing. Mimpi itu membuatnya sangat murka. Ketika terbangun di pagi hari, suasananya hatinya sedang tidak biasa. Setibanya di tenda Grandmaster Bai, dia duduk di tempat biasa untuk membaca kitab obatnya, tetapi sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Dia mendapati dirinya terus-menerus mendongak menatap ke arah pintu masuk tenda.

Akhirnya pandangannya menangkap sosok... Chen Feiyuan.

Dia mengerjap tiba-tiba sembari mengenang mimpinya semalam.

Menerobos masuk lewat pintu tenda, Chen Feiyuan menguap sambil menggosok matanya, lalu bersiap untuk duduk di sebelah Tingyu. Sebelum dia sempat melakukannya, gadis itu mendorong bantalan duduknya hingga bergeser.

Chen Feiyuan menatap ke bawah dengan kaget. "Apa yang sedang kau lakukan?"

Tanpa repot-repot meliriknya, Tingyu menunjuk ke tempat duduk Xu Qing biasanya dan berkata, "Duduklah di sana."

"Tapi, kenapa?" tanya Chen Feiyuan, bergeming sedetik pun tidak.

Tingyu mendelik ke arahnya. "Kenapa? Karena kau tidak belajar dengan benar. Dan kau selalu minta izin tidak masuk. Keberadaanmu di sebelahku itu menyebalkan. Apa alasan itu sudah cukup?"

Di tengah rentetan kalimatnya yang cepat, Chen Feiyuan hanya bisa menatapnya. Usai Tingyu selesai bicara, dia bergumam pelan dan, jelas berusaha agar tidak memancing amarah gadis itu lebih jauh, menghempaskan pantatnya di tempat Xu Qing biasa duduk.

Setelah duduk di sana sejenak, Chen Feiyuan bergumam, "Ya ampun. Tingyu, kau—"

"Jangan panggil aku ya ampun!" bentak Tingyu. "Bagaimana kalau ada orang yang mendengarnya dan salah paham?"

"Hah? Aku tidak memanggilmu ya ampun!" Chen Feiyuan memasang ekspresi sangat kebingungan, tetapi sebelum hal lain sempat terjadi, penutup tenda tersingkap dan Xu Qing masuk.

Begitu melihatnya, Tingyu tersenyum hingga dua cerukan lesung pipi samar muncul di pipinya. Kemudian dia membersihkan bantalan duduk yang tadinya hendak diduduki Chen Feiyuan.

"Adik Seperguruan Kecil, duduklah di sini," ujarnya.

Xu Qing tampak terkejut. Chen Feiyuan membelalakkan mata tak percaya.

"Apa yang kau perhatikan?" kata Tingyu. "Guru akan segera tiba. Cepatlah!"

Xu Qing ragu-ragu, pertama-tama menatap Tingyu, lalu ke tempat duduk yang dipersiapkannya, kemudian beralih ke Chen Feiyuan. Waktunya Grandmaster Bai tiba memang sudah dekat, jadi setelah berpikir sejenak, dia duduk di sebelah Tingyu, tepat di tempat yang biasanya diduduki Chen Feiyuan.

Dengan ekspresi canggung, Chen Feiyuan menunjuk ke arah Xu Qing dan hendak mengatakan sesuatu ketika Tingyu melotot tajam ke arahnya dan membentak, "Diam!"

"Aku tidak bilang apa-apa!" cicitnya, berwajah muram seolah hendak menangis. Baginya, semua ini sangat tidak adil, dan dia hendak melancarkan protes ketika penutup tenda terbuka dan Grandmaster Bai melangkah masuk.

Chen Feiyuan tidak punya pilihan selain menelan ludah dan duduk di sana dalam diam menahan amarah. Di seberangnya, Tingyu tampak sangat bahagia, sementara Xu Qing terlihat sangat tidak nyaman.

Setelah melangkah beberapa langkah ke dalam, Grandmaster Bai menyadari di mana Xu Qing duduk. Dia menatap Tingyu, lalu beralih ke Chen Feiyuan yang malang. Tersenyum tipis, dia duduk dan memulai pelajaran.

Seperti biasa, Chen Feiyuan tergagap-gagap saat menjawab pertanyaan, dan mendapat ceramah panjang lebar dari sang grandmaster. Tingyu tampak sangat puas diri saat menjawab pertanyaannya sendiri, lalu menatap Xu Qing dengan penuh antisipasi.

Pemuda itu menjawab pertanyaannya dengan sempurna, bahkan mengajukan pertanyaan lanjutan yang sangat berbobot.

Sepanjang sesi tanya jawab di kelas itu, Chen Feiyuan tampak sangat terpukul. Usai pelajaran selesai, dialah orang pertama yang bergegas keluar tenda, merasa sangat didiskriminasi.

Sementara itu, Xu Qing merasa tidak nyaman sepanjang kelas berlangsung. Begitu kelas usai, dia berdiri, membungkuk kepada Grandmaster Bai, lalu bersiap untuk pergi. Sebelum dia sempat melangkah keluar, Tingyu bersuara, "Adik Seperguruan Kecil, kenapa wajahmu kotor lagi?"

Bangkit berdiri, dia mengeluarkan saputangannya dengan antusias. Namun, Xu Qing telanjur keluar dari tenda dan menghilang. Selepas kepergiannya, Tingyu tampak kecewa. Menoleh kepada Grandmaster Bai, yang baru saja duduk menikmati pemandangan itu, dia berkata, "Guru, kenapa Anak itu selalu terlihat kotor? Aku kan hanya ingin membantunya."

Grandmaster Bai mendongak dan tertawa. Lalu dia menepuk kepala gadis itu dan berkata, "Karena, bagi orang-orang yang menjalani kehidupan yang pahit dan berbahaya, menarik perhatian bukanlah hal yang baik."

Tingyu mengangguk penuh pemikiran.

Xu Qing tidak bisa mendengar perkataan Grandmaster Bai, tetapi dia memikirkan hal yang persis sama. Semasa di daerah kumuh, dia telah belajar bahwa semakin sedikit perhatian yang kau tarik, semakin aman dirimu. Jika semua orang di sekitarmu kotor, dan kau tidak, itu membuatmu tampak seperti obor di malam tanpa bulan. Dan hal itu akan mendatangkan lebih banyak bahaya. Sejak kecil, dia selalu menghindari perhatian. Orang-orang yang tidak melakukannya entah jauh lebih kuat daripada yang lain, atau umur mereka tidak panjang. Alasan itulah yang membuatnya tidak punya kebiasaan mandi; hal itu memudahkan dirinya untuk membaur dengan lingkungan sekitar. Dia bagaikan pemburu terampil dalam persembunyian yang baru menunjukkan kemampuannya di saat melancarkan serangan.

Saat ini, dia sedang menuju ke wilayah terlarang, dan dia melakukan hal yang sama di sana. Begitu berada di dalam hutan, dia memungut segenggam daun busuk, meramiknya menjadi pasta, dan melumurinya ke seluruh tubuh. Dengan penyamaran alami itu, dia memasuki wilayah terlarang.

Meskipun Sersan Thunder telah pindah ke kota, Xu Qing tidak memupus harapannya untuk menemukan Bunga Harapan Hidup.

Peningkatan basis kultivasinya membuatnya semakin kuat, dan dia kini memiliki lebih banyak pengalaman. Selain itu, dia tahu lebih banyak tentang tanaman dan vegetasi. Ditambah dengan kewaspadaannya yang tinggi, hal itu memastikan bahwa dia nyaris tidak menemui bahaya di pinggiran wilayah terlarang.

Kini, dia tidak lagi membatasi penjelajahannya di area sekitar kuil saja. Sebaliknya, dia menjelajah melewatinya hingga ke dalam hutan yang lebih lebat. Semakin jauh dia masuk, semakin banyak bahaya yang mengintai. Namun, latihan semacam itu meningkatkan kecakapan bertarungnya, dan juga memperkaya pengetahuannya tentang tumbuh-tumbuhan.

Mirip dengan apa yang ditemukannya di tempat lain, ada banyak tanaman obat di pedalaman wilayah terlarang, meski sebagian besar di antaranya adalah tanaman yin tidak sehat yang penuh racun. Semakin banyak tanaman beracun yang bisa dipelajarinya, semakin pengetahuan Xu Qing tentang tanaman dan vegetasi condong ke arah racun. Seiring kemajuannya, dia menyempurnakan serbuk racunnya menjadi beberapa variasi yang berbeda.

Karena alasan itulah dia membeli mantel yang memiliki banyak saku. Di setiap saku, dia menyimpan jenis obat beracun yang berbeda.

Terlebih lagi, dia mulai menggunakan sepasang sarung tangan hitam yang ditemukannya di dalam kantong Kapten Bloodshadow. Semakin sering dia bertarung menggunakannya, semakin mahir pula dia menguasainya.

Sarung tangan itu membuat serangan tinjunya semakin kuat, dan juga memberikan tingkat perlindungan tambahan terhadap racun. Kini, senjata andalannya meliputi sepasang sarung tangan tersebut, belati yang diberikan oleh Crucifix, serta tusukan besi setianya.

Matahari sudah terbenam saat dia menyelesaikan hari latihannya dan meramu racun. Meninggalkan laboratoriumnya di dalam jurang, dia merapikan semua senjata dan serbuk racunnya, lalu mulai berlari menuju kompleks kuil dengan kecepatan penuh.

Sudah menjadi kebiasaannya untuk mengunjungi kuil demi mencari kristal penghilang bekas luka sebelum kembali ke perkemahan. Meskipun dia belum juga membuahkan hasil, dia telah bertanya sana-sini dan tahu lebih banyak tentang ciri-ciri benda yang harus dicari. Dia tahu bahwa benda itu terbentuk secara alami dan berpendar dalam tujuh warna. Kristal itu langka, tetapi orang-orang memang menemukannya dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, dia tidak menghentikan pencariannya. Dan kali ini...

Sesampainya di kompleks kuil, bangunan itu bermandikan cahaya senja. Mungkin karena alasan itulah, dia langsung melihat sebuah patung batu di kejauhan, serta pendar tujuh warna yang berasal dari bagian keningnya.

Menyipitkan mata, dia dengan cepat mengamati area sekitar untuk memeriksa jebakan-jebakan yang telah dipasangnya. Tak satupun yang terpicu. Melompat ke atap kuil terdekat, dia berjongkok dan mengamati situasi lebih lanjut.

Setelah memastikan bahwa area tersebut aman, dia melesat ke arah patung itu.

Begitu berada di depannya, dia mendongak dan melihat bahwa di dalam sebuah retakan di bagian kening, terdapat kristal tujuh warna yang tumbuh secara alami. Sebelumnya, patung itu tampak biasa saja. Namun di kuil misterius ini, aliran waktu yang aneh memastikan bahwa pada hari ini, patung itu berubah menjadi berbeda.

Xu Qing dengan sigap memanen kristal tersebut, lalu menyapu area sekitar dengan harapan bisa menemukan lebih banyak lagi. Untung tak dapat ditolak, dia menemukan lima kristal lagi.

Setelah selesai, dia berdiri sambil menatap kristal-kristal di telapak tangannya, lalu menghela napas panjang. Dia telah lama mencari Bunga Harapan Hidup maupun kristal penghilang bekas luka, dan kini dia akhirnya berhasil menemukan setidaknya satu dari dua hal tersebut.

Dengan hati-hati menyimpan keenam kristal itu, Xu Qing memandang sekeliling kompleks kuil, lalu membungkuk dalam-dalam. Setelah itu, dia melesat pergi ke dalam hutan.

Tak lama kemudian, dia melompat dari satu puncak pohon ke puncak pohon lainnya. Seiring malam yang turun, deru para binatang buas membahana di udara. Xu Qing mempertahankan kecepatan yang sama sepanjang perjalanan.

Suatu ketika, saat dia mendarat di atas dahan dan bersiap melompat ke udara, seekor anaconda bertanduk raksasa menerobos keluar dari dalam tanah di bawahnya, melesat ke atas dengan rahang menganga ke arah Xu Qing.

Ular ini jauh lebih besar daripada ular yang pernah dilawannya di perkemahan, tetapi ekspresi wajah Xu Qing sama sekali tidak berubah. Dia hanya mengulurkan tangan dan menjentikkan jarinya, menghantam kepala bagian atas anaconda tersebut.

Sebuah dentuman bergema, lalu anaconda itu menjerit nyaring. Makhluk itu sama sekali tidak sanggup menandingi kekuatan Xu Qing, dan langsung meledak menjadi gumpalan daging serta darah.

Kendapi demikian... kantung empedunya tertinggal utuh. Xu Qing merangsek ke dalam kabut darah, meraihnya, and melesat pergi.

Sesaat sebelum fajar menyingsing, Xu Qing meninggalkan hutan dan tiba kembali di perkemahan utama. Hari masih gelap, tetapi sudah ada beberapa lampu dan kobaran api di perkemahan saat Xu Qing berjalan melaluinya. Dia tadinya merasa sangat gembira karena menemukan kristal penghilang bekas luka, tetapi semakin dekat dia dengan tempat tinggalnya, semakin merosot suasana hatinya.

Satu-satunya hal yang menunggunya di dalam gelap adalah beberapa ekor anjing liar. Begitu menyadari kedatangannya, mereka mengibas-ngibaskan ekor. Dia berjalan memasuki halaman, melirik kamar lama Sersan Thunder karena kebiasaan, lalu pergi menuju dapur. Dia menghangatkan sisa makanan kemarin untuk mengisi perutnya, lalu kembali ke kamarnya.

Dia menghela napas.

Aku ingin tahu bagaimana kabar Sersan Thunder di kota itu. Dia seharusnya baik-baik saja. Jika aku tidak bisa segera menemukan Bunga Harapan Hidup itu, mungkin aku bisa membelinya dengan koin roh.

Menutup matanya, dia mulai berkultivasi.

Keesokan harinya, dia menjalani rutinitas seperti biasa.

Tingyu tampak bertindak lebih normal, meskipun dia tetap menyisihkan tempat duduk yang sama untuknya. Chen Feiyuan telah menerima takdirnya, dan hanya bisa menatap tak berdaya pada Xu Qing yang duduk di tempat asalnya. Selepas pelajaran usai, Tingyu tidak lagi mengangkat topik cuci-muka. Tampaknya penjelasan Grandmaster Bai telah meresap ke dalam kepalanya.

Xu Qing menyadari hal itu. Menundukkan kepala, dia menangkupkan tangan memberi hormat kepada Grandmaster Bai dan pamit undur diri.

Di luar tenda, dia meraba kantongnya, tempat di mana kristal-kristal penghilang bekas luka disimpan, lalu melangkah menuju toko umum tempat gadis itu bekerja.

Setibanya di dekat sana, dia menyadari ada sekelompok orang asing yang berkumpul di sekitar toko! Mereka mengenakan pakaian tidak biasa, termasuk jubah hitam bersulam matahari berwarna darah. Namun, yang paling mencolok adalah aura muram, suram, dan haus darah yang terpancar dari diri mereka.

Gunakan ← → untuk pindah chapter