Suara Arch-Immortal Plumdark terdengar menggoda sekaligus memikat. Bagaikan nyanyian burungorio atau jeritan burung phoenix, suaranya terdengar jernih, tegas, lembut, dan merdu secara bersamaan. Terlebih lagi, suaranya itu sangat memikat hati.
Xu Qing bergidik ngeri dan kulit kepalanya merinding saat dia berdiri terpaku di tempatnya tanpa bergerak sedikit pun. Dia tidak menghentikan wanita itu saat ia mengangkat dagunya, dan bahkan hanya menatap mata wanita itu yang berbinar jenaka. Merasa agak pusing namun di saat yang sama gugup, dia menyadari aroma tak biasa yang tiba-tiba memenuhi area tersebut. Aroma itu berasal dari Arch-Immortal Plumdark, dan itu membuat jantungnya berdegup kencang.
Ini adalah pertama kalinya dia mengalami hal seperti ini seumur hidupnya. Rasanya seperti krisis mematikan yang membuatnya mustahil untuk berbicara atau mengekspresikan diri. Dia merasa seperti camilan lezat yang hendak disantap oleh seseorang. Terutama mengingat tingkat kultivasi wanita ini, serta tatapannya yang tampak seperti pemangsa yang sedang mengincar mangsanya.
Di sisi lain, Sang Kapten terkesiap. Huang Yikun, bajingan! Ini kan cuma Teknik Jari Ketenangan Gelap! Apa kamu benar-benar harus membawa ketua sekte kalian untuk bala bantuan??
Bahkan saat Sang Kapten tertegun, dia juga menyadari ada sesuatu dari prediksinya yang tidak masuk akal. Huang Yikun memang seorang tokoh unggulan, tapi bukan berarti dia bisa menyuruh ketua sekte-nya untuk menghadapi dua orang tingkat rendah seperti Sang Kapten dan Xu Qing. Satu-satunya cara dia bisa memiliki pengaruh sebesar itu adalah jika dia seperti Tuan Muda Shengyun yang merupakan cucu dari seorang tokoh pimpinan di sekte tersebut.
Berdasarkan apa yang diketahui Sang Kapten, Huang Yikun tidak seperti itu. Tiba-tiba menjadi tenang, dia mengamati Arch-Immortal Plumdark. Dia memperhatikan cara wanita itu membawakan diri, lalu mengingat kembali kata-kata yang baru saja diucapkannya. Kemudian matanya membelalak saat sebuah kemungkinan liar menyambarnya bagaikan sambaran petir.
Ya ampun, ya ampun, ya ampun! Sang Kapten langsung memejamkan mata dan pura-pura tidak melihat apa pun. Gelombang keterkejutan menghantam batinnya. Wajah si Kecil Ah Qing… telah melancarkan pukulan telak yang membawa kemenangan!
Sementara itu, dua orang sedang terbang di kaki gunung. Yang satu adalah Huang Yikun, dan yang lainnya adalah seseorang yang sangat mirip dengannya, hanya saja sedikit lebih tua. Mereka bergerak bagaikan bintang jatuh di atas tanah.
Sambil mengertakkan gigi, Huang Yikun berkata, "Kakak, Kakak harus memastikan aku mendapatkan keadilan hari ini. Orang-orang itu benar-benar kelewatan. Mereka benar-benar merobek jari-jariku dari tanganku! Itu sangat kejam! Tindakan seperti itu akan membuat para dewa dan manusia murka! Sungguh membuat bulu kuduk berdiri karena marah!!"
"Jangan khawatir, Adik kecil. Sebagai kakakmu, aku— eh?"
Pemuda yang lebih tua itu adalah Huang Lingfei, kakak Huang Yikun, seorang kultivator Inti Emas dengan satu istana surgawi. Saat mereka mendekati lokasi pertemuan, dia hendak mengatakan sesuatu ketika dia tiba-tiba menghentikan kata-katanya. Matanya membelalak.
Berhenti di tempat, dia melihat pemandangan yang tersaji di kejauhan, ekspresinya dipenuhi rasa tidak percaya. Jelas terlihat di depan sana adalah ketua sekte mereka, yang dengan menggoda mengangkat dagu Xu Qing menggunakan tangannya. Berdiri di sebelah Xu Qing adalah Yang Mulia Agung dari Puncak Ketujuh, yang jelas-jelas memejamkan mata karena tidak berani melihat sang ketua sekte dan objek godaannya, yaitu Xu Qing. Namun, keterkejutan di wajah Yang Mulia Agung itu sangat jelas terlihat, dan itulah yang juga dirasakan oleh Huang Lingfei.
Meskipun Huang Lingfei berhenti di tempat dan terkesiap, Huang Yikun lebih lambat menyadari situasinya.
"Itu Xu Qing!" teriaknya. "Kakak, bantu aku pergi ke sana dan—"
Kedatangan mereka menarik perhatian Sang Kapten, yang membuka matanya dan menatap ke arah mereka. Secara bersamaan, Arch-Immortal Plumdark yang memikat perlahan menurunkan tangannya dan menoleh ke arah Huang Lingfei dan Huang Yikun.
Begitu wanita itu menatap Huang Lingfei, jantung pemuda itu berdegup kencang, dan dia langsung berbalik lalu menepuk kepala adiknya, memotong ucapannya dan membuatnya pingsan.
Mana mungkin aku mau membantumu! jerit Huang Lingfei dalam hati. Adik bungsunya itu memang selalu sedikit bermasalah di kepalanya. Tidak begitu cepat tanggap. Itulah salah satu alasan kenapa adiknya ditugaskan dalam misi Tujuh Darah Beracun. Tidak ada satu pun orang lain dari Sekte Ketenangan Gelap yang ikut dalam misi tersebut. Tapi Huang Yikun dengan bodohnya dan sangat antusias justru bergegas untuk bergabung. Hal itu saja sudah cukup buruk, tetapi jika dia kehilangan beberapa jari, ya sudahlah. Namun setelah kembali, dia malah membiarkan dirinya ditipu dengan cara yang paling konyol….
Jantung Huang Lingfei berdegup kencang saat dia mengingat kembali apa yang baru saja dilihatnya, dan dia mengutuk Huang Yikun dengan kejam. Dari semua orang di dunia ini yang bisa diajak berurusan, kenapa adiknya harus memprovokasi seseorang yang disukai oleh sang ketua sekte?
"Sedang apa kalian berdua di sini?" tanya Arch-Immortal Plumdark.
Huang Lingfei adalah orang yang cepat tanggap, dan oleh karena itu, tanpa ragu sedikit pun dia menyambar Huang Yikun yang tidak sadarkan diri, terbang mendekat, dan melemparkannya ke tanah. Sambil bersujud, dia berkata dengan lantang, "Ketua Sekte, aku mengatur pertemuan dengan, eh… R-Rkan Daois Xu Qing! Adik kecilku yang tidak tahu diri ini benar-benar telah memprovokasi Rekan Daois Xu, jadi aku membawanya ke sini untuk menerima hukuman yang pantas dia terima."
Karena gugup, Huang Lingfei sempat terbata-bata. Di tengah situasi yang mendesak itu, dia lupa apakah harus memanggil Xu Qing dengan sebutan 'Junior' atau 'Senior'. Keduanya terdengar kurang pas, dan karena khawatir sang ketua sekte akan salah paham, dia menggunakan satu-satunya sapaan yang terlintas di benaknya saat itu: rekan daois.
Sambil mendongak menatap Xu Qing dengan ekspresi yang sangat tulus, dia melanjutkan, "Rkan Daois Xu Qing, adik kecilku ini otaknya kurang encer. Sebenarnya, dia itu bodoh."
Di sisi lain, mata Huang Yikun mengerjap terbuka, dan dia melihat sekeliling dengan bingung. Lalu dia mendengar kakaknya berbicara. Namun, sebelum dia sempat sepenuhnya sadar, Huang Lingfei dengan cepat menepuknya lagi, membuatnya kembali pingsan.
"Tolong, jangan diambil hati, Rekan Daois Xu Qing." Huang Lingfei berkeringat dingin, dan jantungnya berdegup kencang. Dia tidak berani bangkit berdiri.
Arch-Immortal Plumdark yang memikat tersenyum. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebagai tanggapan, dia melangkah maju dan melayang ke udara. Saat cahaya bulan menyinari bentuk tubuhnya yang memikat dan kulitnya yang seputih salju, dia tampak seperti bunga ungu yang indah.
Dia memiliki kecantikan yang matang, namun di saat yang sama sangat menawan dan anggun. Saat dia melayang di udara, dia perlahan berbalik, menunduk, dan tersenyum.
"Datanglah berkunjung ke Sekte Ketenangan Gelap kapan saja, Nak."
Bulan membingkainya, menyempurnakan keindahannya, menonjolkan pinggang rampingnya, dan membuatnya tampak seperti sesosok makhluk abadi dari kahyangan tertinggi, dengan senyuman yang setara dengan cahaya bintang. Bahkan sebelum kata-katanya sempat bergema, dia sudah menghilang.
Setelah ketua Sekte Ketenangan Gelap pergi, Xu Qing bisa bergerak kembali. Dia terhuyung-huyung mundur beberapa langkah, terengah-engah. Memikirkan kata-kata yang baru saja diucapkannya, dan statusnya yang begitu mengerikan, pikirannya menjadi kalut. Dia benar-benar tidak bisa menenangkan dirinya.
Di sisi lain, Sang Kapten bereaksi serupa.
Begitu pula dengan Huang Lingfei.
Mereka bertiga berdiri dalam keheningan untuk waktu yang sangat lama. Tidak ada suara sama sekali dari Huang Yikun.
Akhirnya, Sang Kapten berdehem. "Jadi… apakah kesepakatannya masih berlanjut?"
Huang Lingfei menarik napas dalam-dalam saat dia perlahan-lahan kembali menguasai dirinya. Sambil menggelengkan kepala, dia menangkupkan tangan kepada Xu Qing dan Sang Kapten, kemudian menyambar adiknya dan bergegas pergi. Huang Lingfei merasa sangat khawatir. Dia yakin dirinya telah melihat sesuatu yang Seharusnya tidak dia lihat, dan telah mengganggu ketua sekte di saat-saat yang menyenangkan…. Pikiran itu membuatnya sangat cemas.
Saat Xu Qing melihat Huang Lingfei pergi, dia masih merasa gelisah. Kemudian Sang Kapten berkata bahwa mereka harus pergi. Setelah mereka kembali ke Tujuh Darah Beracun, Sang Kapten menghela napas panjang.
"Aku tidak percaya kita berpapasan dengan ketua Sekte Ketenangan Gelap. Arch-Immortal Plumdark!"
Xu Qing tidak menjawab. Dia sedang memikirkan kembali apa yang baru saja terjadi, terutama tatapan mata Arch-Immortal Plumdark. Hanya dengan memikirkannya saja sudah membuatnya bernapas tersengal-sengal. Ini adalah pertama kalinya dia mengalami sensasi seperti itu.
"Kecil Ah Qing, aku harus berterima kasih kepadamu hari ini," kata Sang Kapten sambil menghela napas lagi. "Aku tahu sedikit tentang Arch-Immortal Plumdark. Dulu saat dia masih muda, namanya mengguncang seluruh Prefektur Penerima Kaisar. Tak terhitung banyaknya orang yang mengejarnya, tapi bahkan hingga hari ini, dia tidak pernah memiliki satu pun rekan dao. Tentu saja, ada banyak cerita tentangnya, dan sulit untuk mengatakan mana yang benar dan mana yang tidak."
"Kupikir dia merasakan kehadiran kita berdua, tapi dia tertarik padaku. Dia mungkin mengangkat dagumu untuk menarik perhatianku. Kamu benar-benar menanggung banyak penghinaan tadi, kecil Ah Qing." Tanpa sedikit pun rasa malu, Sang Kapten menepuk bahu Xu Qing.
Xu Qing menatap Sang Kapten. "Kakak, mulai sekarang kamu harus lebih banyak makan jeruk bali!"
"Eh? Kenapa?" Sang Kapten tampak tertegun.
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Xu Qing pergi menuju tempat tinggalnya di distrik pelabuhan. Saat berikutnya, dia melompat ke atas perahu dharmaskiff miliknya.
Sang Kapten menghela napas sambil melihat Xu Qing pergi. Kemudian dia mulai memikirkan apa maksud dari perkataan Xu Qing. Kenapa aku harus makan lebih banyak jeruk bali?
Sementara itu, Xu Qing menyebarkan lebih banyak racun di sekitar dharmaskiff-nya, dan juga mengaktifkan beberapa lapis pertahanan. Barulah dia bisa menghela napas lega. Sambil duduk bersila, dia menganalisis kejadian yang baru saja berlangsung. Kejadian itu sangat aneh, tidak mirip dengan apa pun yang pernah dia lalui sebelumnya atau bahkan yang pernah dia bayangkan. Dorongan pertamanya adalah berpikir bahwa pasti ada semacam ilmu hitam yang terlibat.
Seseorang dengan tingkat kultivasi seperti itu pasti tidak melakukan sesuatu tanpa alasan. Apakah Arch-Immortal Plumdark menyadari ada yang tidak beres dengan diriku? Dia dan Guru berasal dari angkatan yang sama, bukan? Mungkin ada hubungannya dengan itu?
Setelah memikirkannya cukup lama, dia bahkan tidak bisa menemukan satu pun teori yang masuk akal. Akhirnya, dia mengeluarkan medali identitasnya dan mengirimkan pesan suara kepada Gurunya untuk meminta pendapat. Butuh waktu agak lama sebelum akhirnya ada balasan.
Ketika Guru Ketujuh akhirnya mengirim pesan balasan, dia berkata, "Bertahun-tahun yang lalu Arch-Immortal Plumdark dengan gigih mengejarku. Aku menolaknya lebih dari tiga ratus kali. Mungkin melihatmu membuatnya teringat padaku. Masuk akal juga. Pokoknya, jangan sebarkan berita tentang ini. Semua itu sudah berlalu. Aku sedang sibuk sekarang, jadi aku tidak bisa membahasnya lebih detail lagi. Kita ngobrol lagi nanti."
Mata Xu Qing menyipit penuh curiga. Tanggapan Guru tampak… sangat mirip dengan penilaian Sang Kapten sebelumnya.
Sementara itu, di puncak markas besar pegunungan Sekte Ketenangan Gelap, di sebuah aula megah, Arch-Immortal Plumdark duduk di atas tikar jerami sambil meregangkan tubuh. Pelayannya, seorang wanita tua, baru saja menyajikan 'sup biji teratai salju awan' yang diseduh dari embun pagi seratus bunga teratai. Tepat saat sang ketua sekte dengan anggunnya menyesap sup tersebut, dia mengerutkan kening dan menoleh ke samping.
Pelayan tua itu tidak bergerak sama sekali, seolah-olah dia membeku di tempat, dengan ekspresi bagaikan batu. Di belakangnya, sesosok figur terwujud dari udara tipis.
Dia adalah seorang pria paruh baya berjubah hijau, dengan rambut yang terurai melewati bahunya. Dia tampak terpelajar dan tenang, dengan mata yang berkilauan, membuatnya tampak seolah-olah ada lapis-lapis bintang di dalamnya. Faktanya, tatapannya saja tampaknya memuat kekuatan yang luar biasa, seolah-olah siapa pun yang menatapnya akan tertarik masuk ke dalamnya. Dia adalah presiden Koalisi Delapan Sekte.
"Waktumu tidak banyak lagi, Junior," ucapnya. "Sudahkah kamu memutuskan bagaimana menanggapi lamaranku?"
Sambil mengerutkan kening, Arch-Immortal Plumdark menjawab, "Kamu menanyakannya setiap bulan, dan setiap bulan aku menjawab tidak. Tidakkah kamu akan pernah menyerah?"
"Kenapa kamu selalu bilang tidak? Kamu masih mencari seseorang yang memiliki 'cahaya di dalam hatinya'? Orang seperti itu tidak ada di dunia yang kacau ini. Dan bahkan jika ada, begitu mereka menyadari betapa kejamnya manusia sebenarnya, kebrutalan dunia akan mengubah mereka. Cahaya itu akan pudar, dan itu tidak akan menjadi seperti yang kamu cari. Yang harus kamu lakukan adalah setuju untuk menerima sebagian dari kehendak ilahi-ku. Pinjam kekuatanku untuk menambal sisa hukum magis terakhir yang kamu lewatkan. Ketika kamu mencapai lingkaran besar 1.000 Dao Penghancur Ruang, kamu akhirnya akan memiliki harapan untuk menerobos ke tahap kedua."
"Carilah orang lain saja jika kamu menginginkan kuali pil," kata Arch-Immortal Plumdark dengan tenang, tidak mau mengalah sedikit pun. "Orang lain mungkin tidak tahu sifat aslimu yang sebenarnya, tapi aku tahu."
Presiden itu menatapnya lekat-lekat, lalu tersenyum tipis. "Umurmu tidak banyak tersisa, Junior. Aku akan kembali bulan depan untuk menanyakannya lagi."
Presiden itu berubah menjadi bintik-bintik cahaya bintang yang tak terhitung jumlahnya dan memudar hingga tak bersisa.
Setelah dia pergi, wanita tua itu mulai bergerak kembali. Dia jelas tidak tahu sama sekali tentang apa baru saja terjadi.
Arch-Immortal Plumdark menatap ke dalam mangkuk kaldu dan sedikit mengerutkan kening.
Chapter 279 · 8m baca
Seductive
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter