Xu Qing tahu betul bahwa ia telah cukup menekan bayangan itu hingga tingkat kecerdasannya menurun, dan karenanya bayangan itu berhasil ditipu oleh Leluhur Golden Vajra Warrior. Meskipun begitu, ia tetap merasakan dorongan untuk menindasnya lagi atas apa yang baru saja ditunjukkan oleh bayangan itu. Namun, melakukan hal tersebut tidaklah masuk akal, jadi ia mengurungkan niatnya lalu menatap tajam sang leluhur.
Tampak sangat patuh, sang leluhur menghentikan usahanya untuk membuat bayangan itu semakin menjengkelkan bagi Xu Qing.
Sambil menatap bayangan itu, Xu Qing berkata, "Kenapa kau bisa menarik perhatian raksasa yang menarik kereta naga itu? Sebenarnya apa kau ini? Dan berapa banyak makhluk lain sepertimu di luar sana?"
Menggigil, bayangan itu melakukan yang terbaik untuk mengekspresikan dirinya.
"Melalui... bayangan...." Setelah selesai berbicara, ia menatap sang leluhur dengan mendesak.
Sang leluhur, yang masih berjongkok di sebelah bayangan itu, mulai berbisik-bisik. Setelah serangkaian kedipan dan anggukan dari sang bayangan, sang leluhur menoleh ke arah Xu Qing, menangkupkan tangan, dan berkata dengan hormat, "Tuan, Bayangan Kecil mencoba mengatakan bahwa ia tidak tahu apa dirinya. Sejak saat ia mendapatkan kesadaran, ia hanyalah bayangan yang mampu hidup seperti parasit di dalam bayangan makhluk inang."
Pada titik ini, sang leluhur mengedipkan matanya beberapa kali. Sesaat yang lalu ketika Xu Qing bertanya apakah ada makhluk lain di luar sana seperti bayangan itu, ia telah merasakan niat membunuh yang tersembunyi di dalam pertanyaan tersebut.
Merendahkan suaranya, sang leluhur berkata, "Bayangan itu juga mengatakan bahwa ia tidak pernah merasakan keberadaan makhluk lain yang mirip dengan dirinya. Kendati demikian... hamba menduga bahwa hanya ada sedikit hal di dunia ini yang benar-benar satu-satunya.
"Mengenai raksasa yang menarik kereta naga itu, bayangan itu juga tidak mengetahui detailnya. Ia hanya tahu bahwa saat melihat raksasa itu, ia bisa mengeluarkan suara yang sama dengannya, dan karenanya memanggilnya. Setelah memikirkannya sendiri, hamba menduga bayangan itu mungkin ada kaitannya dengan kereta tersebut."
Mata Xu Qing menyipit. Ia hanya setengah percaya pada penjelasan bayangan itu. Namun mengingat bayangan itu telah mengatakan begitu banyak hal, ia merasa mengancamnya dengan penindasan lebih lanjut tidak akan ada gunanya.
Fakta bahwa ia bisa menarik perhatian sang raksasa dan kereta itu saja sudah cukup. Hal itu saja sudah bisa menjadi kartu truf.
Xu Qing duduk bersila di atas skif dharma miliknya, memandang ke arah laut dan merenungkan segalanya. Hari sudah sore, dan meskipun matahari bersinar terang, tanda-tanda menjelang petang sudah mulai terlihat. Ia terus memikirkan apa yang dikatakan Penatua Zhao kepadanya tentang raksasa dan kereta itu. Dan semakin ia memikirkannya, semakin besar pula hasratnya tumbuh.
Jika ia melihat benda itu sekali, dan tidak pernah melihatnya lagi, maka ia tidak akan terlalu memikirkannya. Tapi sekarang ia telah melihatnya dua kali. Terlebih lagi, bayangan itu memiliki kemampuan untuk membawanya kembali. Dan hal itu membuat Xu Qing bertanya-tanya apakah ia bisa menyusun sebuah rencana untuk mendapatkan kesempatan yang ditakdirkan untuk teknik tingkat kekaisaran.
Tentu saja, itu akan sangat sulit. Hanya dengan melihat raksasa dan kereta itu dari kejauhan, ia sudah merasa seolah-olah jiwanya hampir tidak sanggup menahan tekanannya. Jika ia mendekat, tubuhnya mungkin akan hancur. Itu adalah tekanan yang berasal dari tingkat kehidupan yang lebih tinggi, hal yang sama yang pernah dialami Xu Qing pada lukisan dinding di Kepulauan Manusia Ikan. Meskipun basis kultivasinya saat ini lebih tinggi, raksasa dan kereta itu memiliki keilahian yang melampaui lukisan dinding tersebut. Ia tidak bisa mendekat, apalagi naik ke atas kereta. Dan bahkan jika ia berhasil melakukannya entah bagaimana caranya, jika raksasa itu menoleh ke belakang, Xu Qing tahu ia tidak akan mampu menahan tingkat kekuatan sebesar itu.
Aku ingin tahu bagaimana presiden Koalisi Tujuh Sekte berhasil melakukannya dulu.
Xu Qing merasa bahwa kecuali raksasa itu sedang tidur, sama sekali tidak mungkin untuk naik ke atas kereta.
"Bayangan, kuberi kau kesempatan untuk menebus beberapa dosamu. Panggil raksasa dan kereta naga itu kepadaku. Lalu menyelinaplah ke dalam dan buat salinan teknik tingkat kekaisaran itu."
Bayangan itu langsung memancarkan fluktuasi ketakutan. "Sangat... takut...."
Sang leluhur tidak perlu didesak oleh Xu Qing. Terlihat sangat bersemangat, ia mulai berkomunikasi dengan bayangan itu. Sesaat kemudian, ia mendapatkan penjelasannya.
"Tuan, Bayangan Kecil bilang raksasa itu memiliki fluktuasi keilahian yang aneh, yang membuatnya tidak mungkin untuk didekati. Selain itu, raksasa tersebut tidak memiliki bayangannya sendiri, yang akan membuatnya semakin sulit.
"Tentu saja, hal ini membuatku bertanya mengapa bayangan itu memanggil raksasa dan kereta jika memang begitu. Jawabannya adalah Bayangan Kecil berharap kekuatan kereta itu akan membunuhmu, Tuan. Bayangan Kecil tidak bisa menahan tingkat tekanan itu terlalu lama, dan ia tahu jika kau mati, itu berarti kebebasan baginya. Aduh, Bayangan Kecil, bagaimana bisa kau begitu keblinger?"
Mendengar hal itu, Xu Qing teringat saat bayangan itu menyerangnya, dan langsung menindas bayangan tersebut. Bayangan itu menjerit, lalu memancarkan emosi ketakutan sekaligus memohon.
Mengalihkan pandangannya dari bayangan itu, Xu Qing menatap langit yang perlahan-lahan merangkep senja. Banyak pikiran berkelebat di benaknya. Pada akhirnya, matahari terbenam dan langit pun menjadi gelap. Saat itulah Xu Qing teringat pertama kalinya ia melihat kereta naga, dan juga saat ia melihat hantu-hantu yang tak terhitung jumlahnya menghantui malam pada pelayaran pertamanya ke laut.
"Ada simfoni fantastis di laut yang tak berujung; manusia fana tidak dapat mendengarnya; simfoni itu mengiringi Yang Yang Merah sang gagak emas; gerakan yang tak terhitung jumlahnya menjadi sebuah lagu; itu disebut Suara Alami Menyambut Sang Bulan.
"Dewa menyukainya; mata sang dewa menatapnya; laut yang tak berujung menjadi terlarang; gerakan yang tak terhitung jumlahnya menjadi menyeramkan."
Baris-baris kalimat itu berasal dari tawarikh laut, dan kalimat-kalimat itu menggambarkan 'hantu-hantu yang tak terhitung jumlahnya yang menghantui malam.'
Saat Xu Qing mengingatnya kembali, jantungnya mulai berdegup kencang, dan pikiran-pikiran baru muncul dibenaknya.
Penatua Zhao mengatakan bahwa kereta naga itu sebenarnya adalah kereta kekaisaran matahari. Kalau begitu, pemuda dalam ukiran itu pastilah matahari. Dan ukiran itu menjelaskan bagaimana ia berubah menjadi matahari.
Hal itu sesuai dengan apa yang digambarkan dalam tawarikh laut. Matahari adalah seekor gagak emas yang biasanya berwujud seorang pemuda, menunggangi langit di atas kereta naga pada siang hari sebagai wujud penjelmaan matahari. Kemudian, pada malam hari, kereta naga itu akan kembali, dan di istananya, sang gagak emas akan mendengarkan gerakan-gerakan harmonis yang tak terhitung jumlahnya yang menyambut bulan dengan suara-suara alam.
Jika semua itu benar, maka raksasa itu pasti menemani sang matahari untuk mendengarkan simfoni tersebut. Dan sekarang, meskipun telah binasa, ia tetap menarik kereta itu melintasi Laut Terlarang. Jika sebagian dari insting raksasa itu masih tersisa, maka jika ia mendengarkan simfoni suara alam yang menyambut bulan itu, bukankah ia akan kehilangan kesadaran dalam alunan musiknya...?
Sesampainya pada pemikiran ini, mata Xu Qing bersinar penuh antisipasi.
Jika ia ingin mewujudkan rencana ini, maka ia harus menemukan hantu-hantu yang tak terhitung jumlahnya yang menghantui malam, dan pada saat yang sama, memiliki cara untuk merekam musik mereka. Aspek terakhir itulah yang paling penting, dan hal itu membuat Xu Qing menunduk menatap kantong penyimpanan miliknya, di mana di dalamnya terdapat botol rekaman tersebut. Begitu ia berhasil menangkap musik itu, ia harus menemukan sang raksasa dan kereta tersebut.
Laut Terlarang sangatlah luas, dan raksasa beserta keretanya berada di dasar laut. Siapa pun yang berhasil melihat sekilas sosok mereka akan dianggap beruntung, dan mencari mereka pada dasarnya adalah hal yang mustahil.
Dengan asumsi pemikiranku benar, maka aku pasti bukan orang pertama yang menyadari hal ini. Mungkin presiden dari Koalisi Tujuh Sekte mendapatkan teknik itu dengan cara yang serupa. Bagaimanapun juga, tidak masalah jika orang lain telah memikirkan ide ini, bukan? Bahkan jika mereka melakukannya, mereka tetap harus mencari raksasa dan kereta itu, sementara aku bisa memanggil keduanya datang kepadaku dengan bayanganku. Satu metode bersifat aktif, satu lagi pasif, dan perbedaan peluang keberhasilan di antara keduanya sangatlah besar.
Meski begitu, ia merasa harus segera melaksanakan sesegera mungkin rencananya. Bisa jadi, sudah ada seseorang di luar sana yang mencoba melakukan hal yang sama seperti dirinya.
Xu Qing juga teringat ucapan Penatua Zhao bahwa setiap kali kereta naga menemukan seseorang untuk mewarisi warisannya, dan orang itu mendapatkan pencerahan atas teknik tingkat kekaisaran, maka sang raksasa akan pergi tidur di suatu tempat di dasar laut. Bertahun-tahun kemudian, setelah mengumpulkan cukup kekuatan untuk mewariskan warisan itu lagi, ia akan muncul kembali.
Hal ini sepertinya menunjukkan bahwa warisan dari teknik tingkat tinggi tersebut tidak dapat diwariskan kepada penerus terpilih begitu saja, melainkan hanya bisa diperoleh melalui cara ini. Kurasa hal itu belum bisa dibuktikan sampai nanti, sih.
Pada titik ini, Xu Qing bertekad untuk mencoba ide-idenya.
"Hal pertama yang harus dilakukan," gumamnya, "adalah menemukan hantu-hantu yang tak terhitung jumlahnya yang menghantui malam!"
Ia tahu bahwa kemunculan hantu itu hanya akan terjadi pada malam hari, dan tidak akan berlangsung lama. Dan oleh karena itu, tanpa ragu sedikit pun, ia menerbangkan skif dharmanya melintasi Laut Terlarang untuk mencari para hantu tersebut.
Hari-hari berlalu, dan pencarian Xu Qing tidak membuahkan hasil. Bagaimanapun juga, Laut Terlarang sangatlah masif. Mencari hantu yang menghantui malam bagaikan mencari jarum di lautan, dan sepenuhnya bergantung pada keberuntungan. Namun, Xu Qing adalah orang yang sabar.
Selama sebulan yang berlalu, ia menjadi semakin akrab dengan penggunaan tusukan besi hitam miliknya. Dengan Leluhur Golden Vajra Warrior yang telah berubah menjadi roh petir, tusukan itu kini menjadi jauh lebih cepat dan mematikan. Sekarang tusukan itu ditutupi dengan simbol-simbol petir, tusukan itu meledakkan kekuatan yang bahkan mengejutkan Xu Qing. Dan kecepatan tusukan itu melampaui kecepatan kultivator Pendirian Yayasan dengan satu nyala api kehidupan, serta mendekati tingkat kultivator dengan dua nyala api. Meskipun tidak persis sama dengan dua nyala api, jika digabungkan dengan basis kultivasi Xu Qing, hal itu membuat kemampuan bertarungnya mencapai tingkat yang luar biasa.
Selain itu, Xu Qing dapat dengan jelas merasakan kemampuan bayangannya. Ia memiliki kemampuan untuk mengendalikan kekuatan bayangan itu untuk melahap bayangan lain, dan telah mengujinya pada seekor hiu taring raksasa. Setelah bayangannya melahap bayangan hiu tersebut, hiu itu dengan kejam menggigit tubuhnya sendiri menjadi dua.
Itu adalah pemandangan aneh yang membuat Leluhur Golden Vajra Warrior tercengang, sekaligus merenung bahwa ia bersyukur dirinya adalah roh automaton yang tidak memiliki bayangan. Satu-satunya kelemahan adalah proses melahapnya berlangsung lambat.
Selain itu, bayangan itu juga dapat menghasilkan mata bayangan, yang sangat menyenangkan hati Xu Qing. Di bawah kendalinya, bayangan itu dapat menghasilkan lebih dari seratus mata bayangan, dan ketika dilekatkan pada berbagai makhluk laut yang berbeda, mata-mata itu memberi Xu Qing kemampuan untuk melihat jauh dan luas. Sebagian besar waktu, ia melekatkan mata bayangan pada makhluk laut nokturnal. Dengan begitu, ia memiliki peluang lebih besar untuk menemukan hantu yang menghantui malam. Sebulan lagi berlalu.
Pada suatu malam tertentu ketika Xu Qing sedang memantau keadaan melalui bayangannya, jantungnya berdegup kencang saat ia memfokuskan perhatian pada satu mata bayangan tertentu.
Melalui mata tersebut, tampak sesosok makhluk mengerikan yang tak terhitung jumlahnya bangkit dari dalam air di satu wilayah tertentu di laut.
"Hantu-hantu yang tak terhitung jumlahnya menghantui malam!"
Chapter 173 · 7m baca
Destined Opportunity for Imperial-Class
by Er Gen
Gunakan ↠→ untuk pindah chapter